Keesokan harinya, Meli Benar-benar datang ke rumah Ayunda, kedua sahabat itu tampak sibuk di sebuah ruangan yang memang tersedia untuk tamu. Ayunda dan Meli masih terlihat santai, keduanya tengah mengobrol tentang kejadian yang Ayunda alami tadi sore.
“Axel nggak pulang?” tanya Meli.
Ayunda mengangkat kedua bahunya, wanita cantik itu terlihat sangat cuek. “Aku nggak peduli,terserah dia.”
Meli menatap ke arah Ayunda. “Memangnya dia nggak telepon ke kamu?” Gadis ini terlihat penasaran.
Ayunda tersenyum sinis, menunjukkan layar ponselnya ke Meli. “Nih! Hampir seratus panggilan tak terjawab dari satu manusia, plus pesan beruntun yang malas banget aku baca.”
Meli tersenyum geli. “Ternyata CEO cewek lebih dingin dari para CEO dracin.”
Ayunda terlihat geli dengan ucapan sahabatnya. “Dih! Ngomong apaan sih. Ayo kita mulai, jangan sampai kita lengah, proyek yang sedang Axel incar harus jatuh ke tangan kita,” ucap Ayunda penuh semangat.
Meli mengangkat tanganya, seolah memberi hormat untuk Ayunda. “Siap, Boss!”
Baru saja keduanya siap untuk membuka laptop masing-masing, sebuah suara langkah sepatu berjalan mendekati mereka. Ayunda dan Meli kompak menghela nafas, mata keduanya saling bertemu, berbicara lewat tatapan mata. Tidak perlu banyak bicara, keduanya kembali menutup laptop mereka, Ayunda meraih laptop milik Meli, meletakkan laptop miliknya dan Meli di bawah kolong meja yang memang tersedia tempat penyimpanan, keduanya terlihat sedang bersantai, seolah-olah sedang bergibah seperti kebanyakan wanita sosialita di luar sana.
Sebuah suara bariton yang terdengar cukup familiar menapa mereka berdua. “Selamat pagi,” ucap si pria yang ternyata adalah Axel. Pria tampan itu berjalan mendekati Ayunda, dengan percaya dirinya duduk di samping wanita cantik itu, Ayunda menghindar saat Axel hendak memeluk pinggangnya. Penampilan pria itu terbilang cukup rapi, bahkan sepertinya dia sudah bersiap untuk pergi ke kantor.
“Pagi Xel,” jawab Meli, padahal dalam hatinya dia menahan emosi untuk Axel.
“Tumben kamu pagi sekali ke sini, Mel.” Axel terlihat penasaran. Pria itu melirik istrinya yang terlihat sangat cuek. Axel tersenyum, dia paham jika Ayunda marah padanya. “Sayang, aku sudah menemukan pelakunya.”
“Maksud kamu pelaku apa, Xel?” Meli menyela, gadis itu terlihat sangat serius, manatap wajah sahabatnya dengan sangat serius. Aktingnya ini hampir membuat Ayunda tertawa lepas. “Yunda kenapa?” Meli masih berpura-pura.
Axel menghela napas, pria itu meraih tangan Ayunda, memegang kuat tangan istrinya yang berusaha melepas pegangan tangannya. “Saingan bisnisku ternyata mengirim seseorang untuk menyerang Yunda.” Wajah Axel terlihat cukup sedih.
Ayunda dan Meli saling melempar pandang, lagi-lagi mereka berinteraksi lewat tatapan mata. “Dasar manipulati” Kira-kira seperti itulah pemikiran keduanya.
“Saingan bisnis kamu?!” Meli kembali berakting, pura-pura terkejut. “Kok bisa? Emang salah Yunda apa?”
“Emm, ya karena mungkin mereka merasa tersaingi dengan perusahaan aku.” Axel tiba-tiba saja memegang kedua pipi Ayunda, mendongakkan wajah cantik itu, dengan wajah yang begitu serius dia berkata, “Sayang, kamu tenang aja. Aku nggak akan maafin mereka, lihat saja gimana aku membalas mereka.”
Ayunda menepis tangan Axel. “Kamu yakin?” ejek Ayunda.
“Dasar k*****t! Jelas-jelas perusaan pesaing lo, Yunda sendiri. Mana ada orang nyuruh orang buat nyakitin diri sendiri! Lama-lama aku getok tuh pala!” Ini isi hati Meli yang saat ini tengah mengumpat Axel.
Axel mengangguk pasti. “Iya! Jelas-jelas anak buah aku yang ngasih tahu.”
Ayunda tersenyum sinis. “Ya udah, ngapain nggak kamu laporin aja tuh pesaing kamu!”
“Nggak segampang itu, Sayang. Lagian bukti belum kuat.” Axel berusaha mengelak.
“Terserah kamu. Jangan laporin tapi jangan juga suruh bodyguard ngikutin aku!” ucap Ayunda ketus.
Axel tampak ragu. “Ta—tapi ....”
“Ya udah laporin aja!” ketus Ayunda.
“Oke! Aku turuti keinginan kamu.” Axel terpaksa setuju.
“Ya udah, sana pergi kerja. Aku ada urusan sama Meli.” Ayunda tetap cuek, dia sakit hati sekali dengan ucapan Axel yang jelas-jelas berbohong kepadanya.
Axel berdiri, dia terlihat ragu untuk bicara tapi memaksakan diri bersuara. “Sayang, aku laper. Kamu nggak masakin aku?”
Ayunda menghela nafas, dia hampir lupa dengan kebiasaanya tiap hari yang selalu menyiapkan makanan untuk Axel. “Aku nggak boleh bersantai? Harus aku yang masakin buat kamu?” ejel Ayunda.
Axel serba salah. “Enggak! Bukan gitu maksud aku. Aku cuman kangen masakan kamu, kelihatannya kamu sibuk terus sampai lupa masakin aku.”
“Ada bibi!” Ketus Ayunda.
“Baiklah, Aku pergi ke kantor dulu. Jangan lupa untuk nanti malam,” ucap Axel. Pria itu sedikit membungkuk berusaha mencium kening Ayunda. Sekali lagi istrinya kembali menghindari kontak fisik dengannya.
“Hem ...,” ucap Ayunda cuek.
Axel berusaha mmaksakan senyumnya, dengan perasaan yang cukup kecewa, pria itu meninggalkan Ayunda dan Meli.
“Dasar sampah! Apa yang diberikan wanita itu semalaman.” Ayunda terlihat emosi saat Axel sudah tidak terlihat lagi di ruangan itu.
Meli memajukan badannya, dia meraih tangan sahabatnya. “Sabar, Yunda. Kamu jangan terlalu memikirkan kejadian ini,” bujuk Meli.
Ayunda tersenyum sinis, menepuk tangan Meli yang menggenggamnya. Dia berusaha tersenyum ke arah Meli. “Kamu tenang aja, aku hanya kesal. Jelas-jelas dia tahu siapa pelaku p*********n itu, tapi dia sengaja menutupinya.”
Meli menarik tangannya, gadis itu menghela nafas, tiba-tiba saja tatapannya terlihat begitu menakutkan. “Baiklah, mungkin kita terlalu lunak sama Axel. Mari kia beri pelajaran yang setimpal untuk si b******k itu!” ucap Meli penuh semangat.
“Oke! Dia yang mulai perang ini, jangan salahkan aku jika kamu sampai hancur lebur tak berkeping.”
Meli tersenyum saat mendengar ucapan Ayunda, dia berusaha mengalihkan Ayunda supaya tidak bersedih lagi. Hari ini dia akan membuat Ayunda sibuk dengan pekerjaan sampai tidak ada celah untuk memikirkan Axel.
***
Malam yang di tunggu-tunggu Akhirnya tiba juga, Ayunda yang dari tadi siang sibuk dengan pekerjaanya kini terlihat sudah bersiap untuk pergi, wanita itu terlihat cantik sekali dengan gaun mewah pemberian Axel tadi siang. Dengan terpaksa dia mengenakan gaun yang dikirim Axel untuknya tadi siang.
“Wow! Luar biasa!” puji Axel yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan Ayunda. Pria itu terihat sempurna degan setelan jasnya. Jika dulu Ayunda akan terkagum-kagum dengan penampilan Axel, tidak untk sekarang, melirik pun dia tak sudi.
“Ayo kita pergi.” Ayunda mengabaikan kata-kata Axel, dia berlalu begitu saja dari hadapan Axel, berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mereka pergi.
Ini untuk kesekian kalinya Axel harus mengalah dengan sikap ketus Ayunda yang tidak seperti biasanya. Dia dengan terpaksa menyusul Ayunda yang sudah dulu berjalan di depannya.
Tidak butuh waktu yang cukup lama, mobil yang Axel kendarai sudah sampai di depan rumah mewah milik keluarga Kusuma. Ayunda buru-buru keluar dari dalam mobil, Axel hanya bisa melongo, padahal dia ingin sekali membukakan pintu untuk istrinya tapi wanita itu keburu keluar sendiri.
“Sayang, tunggu!” Axel berusaha meyamai langkah Ayunda yang sudah dulu berjalan. Pria itu menggandeng paksa tangan Ayunda.
“Lepasin ...,” bisik Ayunda.
Axel tersenyum. “Simpan saja marahmu, jangan sampai ada orang yang curiga dengan sikapmu.”
Ayunda menghela nafas, berusaha menahan emosinya. Untuk saat ini dia memang harus mengalah, lagi pula mulut ibu mertuanya juga terlalu tajam.
Baru saja Ayunda dan Axel melangkahkan kakinya bersama, tiba-tiba saja mobil mewah warna hitam berhenti di depan mereka. Seorang pria tinggi, tampan, degan postur tubuh yang begitu sempurna keluar dari dalam mobil. Ayunda sampai terpana dengan sosok itu, Axel yang terlihat cemburu buru-buru menarik pinggang ramping Ayunda. “Jaga pandanganmu ...,” Kata-kata itu begitu lembut, tapi terucap begitu menakutkan untuk seseorang yang sedang cemburu.
Axel menatap sinis pria itu, dia berkata dengan nada penuh emosi. “Ternyata kamu masih hidup.”