Kejutan

1253 Kata
Ayunda menatap Axel dengan tatapan yang cukup heran, baru kali ini dia melihat Axel terlihat begitu emosi. “Bukan urusan kamu. Yang jelas aku pulang demi si tua itu.” Pria misterius itu mengucapkannya dengan nada yang begitu sinis. “Jaga mulut kamu, dia ayah kita.” Axel tidak kalah emosinya. “Ayah kita?” Ayunda menunjuk ke arah pria itu. Si pria misterius tersenyum begitu lembut ke arah Ayunda. Sekali lagi Ayunda seperti terhipnotis dengan senyum itu. “Iya, boleh dibilang suami nggak bergunamu itu ‘anak haram’.” “Tutup mulut kamu!” Axel makin terlihat emosi. “Ini mulut aku terserah aku mau ngomong apa.” Si pria tampan melirik tangan Axel yang memeluk pinggang Ayunda. “Istri kamu kayaknya jijik sama tangan kotor kamu.” Ayunda refleks menarik tangan Axel yang masih memeluknya, pria tampan itu tersenyum puas. “Ibu sama anak sama-sama biadap.” Itu kata-kata pedas yang keluar dari mulut si pria. Bahkan dengan langkah santainya dia berlalu dari hadapan Axel yang terlihat sangat murka. “Febian! Aku tidak segan-segan ngancurin kamu!” ancam Axel yang terlihat begitu terganggu dengan kehadiran si pria yang ternyata bernama Febian. “Aku tunggu,” ucap Febian santai, melambaikan tangannya, meninggalkan Axel yang setengah kesurupan. “Dia itu saudara kamu, kenapa kalian nggak rukun?” tanya Ayunda. Axel menghela nafas, dia tidak ingin Ayunda tahu tentang aib ibunya yang dicap sebagai pelakor. “Tadi kamu nggak denger sendiri dia ngomong apa?” Kata-kata Axel terdengar cukup pedas tapi Ayunda tidak merasa gentar sedikitpun. “Nggak ada asap kalau nggak ada api.” Ayunda berlalu begitu saja dari hadapan Axel. Axel cukup terkejut dengan jawaban Ayunda, wajahnya terlihat cukup emosi. “Apa maksud kamu, Yunda!” Pria itu sedikit berlari untuk kembali menyamai langkah kaki Ayunda yang terlalu cepat. Febian yang ternyata masih mengawasi keduanya dari kejauhan tersenyum simpul melihat adegan pasangan suami istri itu. “Kamu memang menarik, Yunda ...,” gumam Febian, kembali berjalan masuk ke dalam rumah lewat pintu yang tidak sama dengan Ayunda dan Axel. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, Ayunda dan Axel sudah sampai di ruang keluarga yang sepertinya sudah disiapkan untuk menjamu seseorang. Ayunda lebih memilih duduk di sudut ruangan, dia tidak ingin seperti biasanya yang selalu bersikap baik dan mengalah dengan keluarga Axel yang sepertinya tidak begitu suka dengan dirinya. Seorang pria paruh baya yang terlihat masih tampan berjalan menuju ke arahnya, pria itu tersenyum lembut ke arah Ayunda. “Kenapa duduk di sini, Nak.” Ayunda tersenyum ramah ke arah pria itu. “Eh, Papa. Nggak pa-pa kok, Pa. Di sini lebih nyaman,” ucap Ayunda lembut. Si pria yang ternyata Hendro, Ayah mertuanya. Tersenyum mendengar jawaban Ayunda. “Kamu jangan merasa jadi orang lain, Riani memang seperti itu tapi dia sebenarnya baik.” “Kata-kata Papa memang benar.” Axel menyahut dari belakang Papanya. Wajah Ayunda tiba-tiba sama berubah masam, dia akui memang hanya papanya Axel yang bersikap baik terhadap dirinya sedangkan yang lainnya penuh dengan kepalsuan. “Ini manusia nongol lagi.” Ini batin Ayunda yang berbicara. Hendro menoleh, tersenyum ke arah Axel. “Kamu temenin Yunda, jangan ditinggal sendirian.” Axel tersenyum mendengar ucapan papanya. “Dia yang tiba-tiba menghilang, Pa.” Pria itu menggaruk rambutnya, terlihat sedikit ragu untuk bicara. “Oh, ya. Pa. Febian kapan pulang?” Hendro kembali tersenyum, sedangkan Ayunda memilih untuk diam. “Mama kamu nggak ngasih tahu acara ini untuk apa?” Axel sedikit berpikir terlihat mulai kecewa di raut mukanya. “Maksud Papa, acara ini untuk menyambut dia.” Hendro mengangguk. “Betul sekali. Aku nggak ingin Febian selalu merasa terbuang dari keluarga ini.” Hendro mengusap pelan punggung Axel. “Kalian juga sudah saatnya berbaikan. Febian itu kakak kamu.” Axel terlihat sangat kesal, meskipun begitu dia tidak berani membantah kata-kata papanya. “Akan ku coba.” Hendro tersenyum mendengar jawaban Axel. “Baiklah, Papa permisi dulu, katanya Bian sudah sampai.” Hendro menatap ke arah Ayunda. “Yunda, kamu jangan sugkan, ya!” Ayunda mengangguk. “Nggak kok, Pa.” Hendro pun pergi, meninggalkan Axel dan Ayunda. Axel berjalan mendekati istrinya, bertanya lembut kepada Ayunda. “Sayang, kamu kenapa milih mojok di sini. Apa kamu kurang nyaman?” “Nggak, kok. Enak aja di sini,” jawab Ayunda. Axel tersenyum, rasa kesalnya tiba-tiba saja hilang begitu dia melihat wajah Ayunda yang menurutnya sangat meneduhkan. Kenapa rasa itu baru muncul sekarang, itulah yang akhir-akhir ini Axel sesalkan. “Ayo kita temuin, Mama!” ajak Axel. Demi menjaga rasa hormatnya, Ayunda setuju dengan ajakan Axel, toh saat ini setatusnya masih menantu sah keluarga itu. “Baiklah,” ucap Ayunda. Diam saja saat Axel menggandeng tangannya, sedangkan adegan itu diam-diam diawasi oleh Febian dari lantai dua. Wajah pria itu terlihat tidak bersahabat, terus mengawasi Axel da Ayunda secara diam-diam. Axel terus membawa Ayunda kesebuah ruangan tempat ibunya sedang bercengkrama dengan bebera orang, ada tiga orang yang Ayunda lihat dari jauh. Mereka terlihat sangat akrab, Ayunda hanya bisa menghela nafas, harus siap menghadapi mulut Riani yang memang sangat pedas. “Ma!” Axel memanggil mamanya. Ketiga wanita itu pun menoleh secara bersamaan. Baik Axel maupun Ayunda sama-sama terkejut. “Eh, yang sedang diomongin sudah datang, sini Xel!” Riani melambai ke arah Axel. Axel menoleh ke arah Ayunda, dia terlihat serba salah. “Ayo, Sayang!” ajak Axel, menarik tangan Ayunda, berjalan ke arah mamanya. Ayunda terlihat sangat kesal, bahkan jika bisa dia ingin sekali memukul wajah Axel yang baginya terlalu b******k. “Aku bisa jalan sendiri!” ketus Ayunda. “Sayang ...,” gumam Axel, menghela nafas, melirik ke arah Ayunda. Kembali mendekati mereka bertiga. “Eh, lihat! Kamu masih ingat dia?” tanya Riani, tanpa mempedulikan Ayunda yang berdiri di samping Axel. Axel mengangguk. “Iya!” Wajah Axel terlihat sulit diungkapkan, dia kelihatannya sedang menahan sebuah emosi. “Tentu saja ingat, dia ‘kan Lina, sekertaris Axel.” Ayunda yang sudah tidak tahan menyahut kata-kata Riani. “Oh, ya!” Wajah Riani tampak berbinar. “Ayo Yunda duduk sini!” tiba-tiba saja Riani menyuruh Ayunda duduk. Axel menarik tangan Ayunda, mengajak Ayunda duduk di sampingnya. “Yunda biar sini saja, dekat aku.” Ayunda tersenyum, cukup puas melihat perubahan wajah Lina yang terlihat menahan api cemburu. “Rasain!” batin Ayunda. Sedikit pun dia tidak takut dengan Lina, meskipun wanita licik itu berusaha menyelakai dirinya. Kali ini Ayunda sendiri yang berinisiatif melingkarkan tangannya di lengan Axel, sontak perbuatan Ayunda membuat Axel melambung tinggi tanpa mempedulikan Lina yang dibakar api cemburu. “Aku duduk di samping ‘suamiku’ Ma!” Ayunda menegaskan kata-katanya. “Kamu nggak tahu ya, Lina itu dulu orang spesialnya Axel!” Kata-kata ini keluar dari mulut salah satu wanita yang duduk di sebelah Lina. Ayunda menatap si wanita yang ternyata adalah Vivian, sepupu Axel. “Oh, mantan ya!” celetuk Ayunda. “Pantas!” Axel terlihat gugup, buru-buru menepuk tangan Ayunda yang masih bergelantung di lenganya. “Itu dulu, Sayang! Dia hanya sekertaris aku.” Pria ini terlihat salah tingkah. Ayunda tersenyum, berusaha menguasai dirinya yang sudah mulai kacau. “Tenang, Sayang. Jangan panik, aku percaya kamu.” ini suara hati Ayunda yang mulai gelisah. Ayunda sengaja menoleh ke arah Axel. “Kecuali kamu ada apa-apa sama dia.” Axel menggeleng. “Nggak! Aku udah cukup kamu aja!” bantah Axel. “Dasar pembohong!” Ini batin Ayunda yang berbicara, melirik ke arah Lina yang terlihat mengepalkan tangannya. “Kamu jangan asal tuduh, lagian Lina sedang hamil!” ucap Riani. Kata-kata ini seperti sebuah bom waktu untuk Ayunda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN