“Hamil ...,” gumam Ayunda.
Axel terlihat mengepalkan tangannya, diam-diam dia menatap Lina dengan tatapan penuh emosi, perbuatannya ini tidak lepas dari pandangan Vivian.
“Iya! Lina lagi hamil, dia udah punya suami tapi katanya suaminya sibuk, kebetulan suami Vivian juga lagi dinas luar kota, jadi sekalian aja di ajak Vivian ke sini.” Riani terlihat sangat antusias. Wanita itu melirik ke arah Ayunda. “Yunda kapan hamil, biar nggak ngabisin duit suami mulu!” Inilah kata-kata Riani yang membuat Ayunda muak.
Axel sampai geleng kepala, entah kenapa sikap Ayunda akhir-akhir ini membuatnya terus berpikir kenapa sikap istrinya bisa berubah drastis. “Ma, nggak usah ngomong kek gitu. Yunda istri aku. Wajar aku memberikan yang terbaik untuk dia.”
“Wow! Kamu beruntung sekali dapat Axel, Yunda.” Ini sindiran yang keluar dari mulut Lina.
Ayunda menyunggingkan senyumnya, lucu sekali dengan perubahan sikap Lina. Kemarin dengan hormatnya memanggil ‘Pak’ dan ‘Bu’ kepada Axel dan dia. Sekarang hanya menyebut nama, mungkin ada bekingannya di belakang dia. Kira-kira seperti itulah isi pikiran Ayunda. “Beruntung? Apa jangan-jangan kamu ingin posisi itu?” Ayunda mengucapkannya dengan sangat santai.
“Jangan sombong kamu Yunda, tanpa keluarga Kusuma kamu hanya seorang putri dari keluarga yang hampir bangkrut bisnisnya!” Ini suara Vivian yang nggak terima sahabatnya merasa kesindir karena Vivian tahu segalanya tentang Axel dan Lina.
“Vi, jangan terlalu jujur.” Ini suara Riani, yang bukannya membela sang menantu malah ikut-ikutan membela keponakan dan selingkuhan putranya.
Lina menyunggingkan senyumnya, dia merasa bangga sekali melihat sendiri gimana dengan perlakuan keluarga Axel ke Ayunda.
“Cukup! Ayunda istri aku, aku nggak akan ngebiarin siapa pun menghina dia, ngerti!” Axel terlihat cukup emosi.
Ayunda kembali menyunggingkan senyumnya. Dia sudah muak berada di antara mereka. Wanita cantik itu berdiri dari tempat duduknya, mengibaskan tangan Axel yang berusaha menahannya. “Maaf aku permisi ke depan dulu, kalian silahkan lanjutkan ngobrolnya.” Ayunda pergi begitu saja tanpa mempedulikan mereka yang terlihat tidak puas karena Ayunda tidak membalas cemohan mereka.
Axel menunjuk ke arah Vivian setelah kepergian Ayunda, menatap wanita itu dengan tatapan penuh emosi. “Kami itu keterlaluan Vi! Padahal kamu tahu sendiri jika pernikahan kamu juga menguntungkan buat keluarga Kusuma. Jangan tutup mata kamu!” Axel beralih menatap ke Lina. “Kamu juga! Apa tujuan kamu datang ke sini?!” Axel bertanyadengan nada cukup emosi.
“Xel, kamu nggak boleh seperti itu ke Lina, meskipun dulu dia hanya ‘mantan kamu’, sekarang kamu nggak boleh kasar sama dia. Atau kamu cemburu karena Yunda belum juga memberikan momongan untuk dia?” ucap Riani.
“Mama hanya ingin cucu ‘kan?! Aku kabulkan! Aku jamin Yunda akan hamil bulan depan!” ucap Axel kesal.
Lina spontan tidak terima dengan ucapan Axel. “Kamu jangan gila! Bukannya kamu yang ngomong sendiri kalau kamu nggak cinta sama dia?!”
Riani cukup terkejut mendengar kata-kata Lina. “Ini maksudnya apa?” Wanita itu terlihat bingung.
Vivian tersenyum, Axel menunduk, mungkin ini sudah waktunya mamanya tahu hubungan dia dan Lina. “Tante pasti senang, Suami Lina itu Axel.”
Riana melongo, seperti disambar petir di siang bolong, itu bukan suatu kabar gembira yang harus dirayakan. “Nggak mungkin!” Riani menggeleng. Menatap Axel dengan tatapan penuh amarah. “Apa maksud ini semua?! Terus siapa Yunda? Jawab, Xel!” Suara Riani terdengar cukup keras, bahkan Vivian dan Lina cukup terkejut.
“Mereka berdua istri aku.” Itu jawaban singkat yang Axel berikan untuk mamanya.
Riani kembali menggeleng. “Kamu gila! Kamu tahu apa konsekuensinya, jika ini ketahuan papa kamu?! Harusnya kamu mikir!”
“Bukannya Tante senang, sebentar lagi Tante bakalan punya cucu.” Ini suara Vivian yang tidak menyangka dengan respon Riani.
“Diam! Kamu Vi!” Bentak Riani, wajah Vivian seketika murung. “Aku hanya menginginkan cucu dari rahim Ayunda, ngerti!” Riani kembali menatap tajam ke arah Axel. “Jangan salahkan Mama kalau ini awal dari kehancuran kamu!”
“Ma! Jangan ngomong kayak gitu, aku terpaksa menikah sama Yunda di saat aku masih bersama Lina, itu bukan salahku jika aku mencintai Lina sampai detik ini!” Axel berusaha membela diri.
Tanpa mereka berempat sadari, Ayunda ternyata berdiri di balik pintu, wanita cantik itu terpaksa kembali karena Hendro menanyakan Axel, tapi siapa sangka Ayunda tanpa sengaja mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan. Sekuat apapun dia berusaha menahan diri, dia hanya manusia biasa yang punya rasa dan emosi. Ayunda mengepalkan tanganya, dengan luka yang hampir saja menumbangkan dirinya, wanita cantik itu berjalan menuju entah ke mana. Dia hanya berjalan tanpa arah, menyusuri koridor rumah mewah itu, hingga tanpa dia sadari sebuah tangan kekar menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan yang minim cahaya, Ayunda hampir saja berteriak jika saja mulutnya tidak dibekam oleh tangan itu. Bahkan kali ini posisi keduanya sangat dekat, pria itu berdiri di belakangnya, dengan tangan membekap mulut Ayunda, satu tanganya sengaja merangkul pundak Ayunda.
“Ini aku ...,” bisik seorang pria dengan suara baritonnya yang Ayunda tidak asing dengan suara itu.
“Kamu ....” Ayunda ingat suara itu, suara si penolong saat dia hampir celaka karena ulah Lina.
Pria itu melepaskan tanganya, Ayunda berbalik, dia sangat penasaran dengan pria di belakangnya. “Febian!”
Pria tersebut teryata Febian, saudara tiri Axel. Febian tersenyum lembut ke arah Ayunda. “Apa kabar, Yunda. Ternyata kamu masih saja mempesona.”
Ayunda terkejut dengan kata-kata Febian yang merasa akrab dengan dirinya. “Kamu ....” Ayunda menunjuk ke arah Febian.
Pria itu tersenyum simpul. “Menangislah jika kamu sudah nggak kuat.”
Ayunda kembali terkejut, Febian seolah-olah begitu tahu tentang dirinya. “Kamu yang menolongku kemarin?” tanya wanita itu tiba-tiba.
Febian tersenyum simpul. “Aku baru pulang, jangan kamu tanya yang aneh-aneh.”
Ayunda menggeleng. “Nggak! Aku baru ingat suara kamu mirip dengan pria yang menolongku kemarin. Apa maksud kamu? Apa kamu ingin memafaatkan kebodohanku seperti mereka?!”
Wajah Febian berubah sedih, menatap Ayunda dengan tatapan yang sulit diungkapkan. “Aku bukan bagian dari mereka. Aku akan berdiri di belakangmu.” Dengan kurang ajarnya, Febian menarik pinggang ramping Ayunda, membuat tubuh mereka seolah-olah menyatu.
Ayunda berusaha berontak. “Lepasin aku! Semua pria itu b******k! Aku benci mereka!”
Febian tidak tinggal diam, sengaja membenamkan wajah cantik Ayunda di d**a bidangnya. “Menangislah ... kamu nggak sekuat itu ...,” bisik pria itu.
Seperti terhipnotis, Ayunda benar-benar menangis di pelukan Febian, meletakkan kedua tanganya pada d**a bidang pria itu. “Apa kekurangnku? Kenapa Axel tega berbuat seperti ini kepadaku? Apa aku begitu buruk? Wanita itu bahkan tengah mengandung anaknya. Aku ingin pergi ...,”
Febian melepas pelukkannya, memegang kedua bahu Ayunda, pria itu sedikit membungkuk. “Hidup kamu sangat berarti, Axel tidak pantas untuk kamu. Dia yang bodoh sampai menyia-nyiakan kamu.”
“Yunda!”
Ayunda terdiam saat mendengar suara Axel yang tiba-tiba saja memanggilnya.