Siapa Kamu

1018 Kata
“Yunda!” Sekali lagi suara Axel terdengar. Febian tiba-tiba menarik tubuh langsing Ayunda ke dalam pelukkannya. “Diamlah kalau kamu tidak ingin dia tahu kamu di sini.” Ayunda berusaha berontak. “Lepasin aku ...,” bisik Ayunda pelan. “Aku bisa bantu kamu dapatkan proyek PT Angkasa ...,” bisik Febian pelan. “Yunda! Kamu ada di dalam!” Axel masih teriak di luar sana. Ayunda cukup terkejut dengan ucapan Febian yang seolah-olah tahu segalanya. “Ka—“ Belum juga Ayunda selesai melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja Febian melepaskan pelukkannya, menarik tangan Ayunda menuju pintu kamar itu, menyembunyikan Ayunda di balik dinding pembatas kamar, tangannya masih memegang tangan Ayunda dengan erat, pria itu membuka pintu kamar dengan santainya, Ayunda terlihat panik dengan aksi Febian yang menurutnya cukup gila. Wajah Ayunda memucat saat pintu kamar terbuka sedikit, hanya menampilkan sosok Febian, sedangkan Ayunda harus bersembunyi di balik dinding kamar itu. “Kamu cari mati!” Itu kata-kata pertama yang keluar dari bibir Febian saat dia melihat Axel yang berdiri di depan pintu. “Kamu?! Aku tadi sepertinya dengar suara Ayunda. Di mana dia?!” Axel terlihat sangat kesal, matanya menatap tajam ke arah Febian. Dengan santainya, satu tangan Febian meremas tangan Ayunda yang saat ini tengah dia pegang. “Kamu pikir aku siapa? Harus ngurusin istri pertamamu!” “Kamu!” Axel mengepalkan tangannya, hampir meninju wajah tampan Febian. “Kenapa?! Aku tahu kebejatan kamu, Xel! Pergi dari sini, jangan cari istri kamu di sini!” Bentak Febian. Ayunda sampai menahan nafas akibat ulah Febian. “Bukannya kamar kamu ada di atas!” Axel masih saja ngeyel. “Terserah aku, ini rumah peninggalan Almarhum Mamaku. Bahkan kalau tidak punya hati aku bisa mengusir kalian sesuka hatiku.” Febian menatap sinis Axel. Tangan Axel menunjuk ke arah Febian. “Aku bisa saja menghabisi kamu kapanpun, ingat itu!” Pria itu pergi begitu saja dari hadapan Febian, dia kembali berusaha mencari keberadaan Ayunda. Febian tersenyum sinis, pria itu kembali menutup pintu dengan cepat, melepas tangan Ayunda yang dari tadi dia pegang, tersenyum ramah ke arah Ayunda. “Kamu boleh pergi.” Ayunda melongo. “Pergi gitu aja? Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu tahu semua tentang aku,” ucap Ayunda. “Cukup kamu setuju saja, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya.” “Bagaimana kamu tahu tentang proyek yang sedang aku kerjakan?” Ayunda kembali mendesak Febian. Tanpa Ayunda duga, Febian tiba-tiba saja maju, membungkukkan badannya, berbisik sesuatu tepat di samping telinga Ayunda. “Bahkan aku tahu jika kamu masih suci ....” Wajah Ayunda memerah, atara malu atau kasihan karena selama satu tahun pernikahan Axel sama sekali belum menyentuhnya. “Itu bukan urusan kamu!” Ayunda terlihat sangat kesal, mendorong tubuh kekar Febian, membuka pintu kamar, wanita cantik itu buru-buru membuka pintu kamar. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Febian yang sangat misterius. Febian menyunggingkan senyumnya, dia hampir saja tertawa geli melihat wajah Ayunda yang memerah. “Aku sudah kembali, Yunda. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu.” Febian kembali merapikan jasnya, dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. *** Ayunda kini sudah kembali lagi ke ruangan sebelumnya, tempat acara keluarga akan diselenggarakan. Axel berjalan menghampirinya, pria itu terlihat sedikit gugup. “Kamu ke mana saja, Sayang? Papa tadi nanyain kamu.” “Aku ke toilet, kenapa? Aku harus denger ejekan keluarga kamu?!” ucap Ayunda sinis. Axel makin salah tingkah. “Bukan seperti itu, Mama nggak sepert yang kamu kira, bahkan dia nggak rela kalau aku—“ “Kenapa, kamu nggak nerusin ucapan kamu. Atau jangan-jangan ada CLBK sama mantan kamu itu!” sahut Ayunda. Wajah Axel memucat, hampir saja dia keceplosan jika dia sudah menikah dengan Lina. “Maksudnya kalau aku sampai sia-siain kamu,” ucap Axel sedikit gugup. “Sudahlah, aku malas berdebat dengan kamu.” Ayunda meninggalkan Axel begitu saja, dia berjalan menuju meja makan. Tiba-tiba saja Lina menghalangi langkah kakinya. “Selamat malam, bu Ayunda.” Perempuan licik itu tiba-tiba saja membekap mulutnya sendiri. “Upsst! Maksud aku Yunda, posisi kita ‘kan sama. Bedanya aku yang hamil duluan.” Wanita itu tersenyum licik ke arah Ayunda. “Aku nggak peduli apa posisi kamu. Yang jelas hanya ada satu istri sah.” Ayunda tersenyum ke arah Lina yang dia tahu betul jika perempuan licik itu tahu arah pembicaraan Ayunda. “Oh ya, kita lihat saja Axel lebih peduli ke siapa ...,” bisik Lina. Wanita cantik itu tiba-tiba saja menarik paksa tangan Ayunda, berakting seolah-olah Ayunda mendorongnya, dengan sengaja Lina menjatuhkan diri ke lantai, wanita licik itu memegang perutnya, pura-pura merintih kesakitan. “Aduh! Ibu Ayunda kenapa dorong aku.” Lina menangis. Ayunda menatap Lina dengan tatapan bingung. “Apa-apaan kamu!” Axel yang tanpa sengaja melihat adegan itu berlari menghampiri Lina, gerakannya begitu refleks, dia terlihat sangat khawatir. “Kamu nggak pa-pa?” tanya Axel cemas. Lina menggeleng, masih memegang perutnya, nyengir pura-pura kesakitan. Wanita licik itu menunjuk ke arah Ayunda. “Aku nggak tahu kenapa, istri Bapak tiba-tiba saja mendorong aku.” Wajah Axel terlihat emosi, matanya memerah, menatap tajam ke arah Ayunda, ini baru pertama kalinya Axel bersikap seperti itu padanya. “Kamu tega sekali, Yunda! Kalau terjadi apa-apa dengan kandungan Lina gimana? Kamu mau bertanggung jawab!” bentak Axel. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung membopong tubuh Lina. Pria itu dengan sengaja menabrak tubuh Ayunda yang masih berdiri terpaku. “Minggir!” Ayunda hampir saja terjatuh karena ulah Axel, sedangkan Lina tersenyum penuh ejekan ke arah Ayunda yang masih terpaku di tempat itu. “Kamu keterlaluan, Yunda! Kamu cemburu sama Lina?” Ini suara Vivian yang menyangka jika Ayunda benar-benar mendorong sahabatnya, Lina. Ayunda melongo, tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Vivian. “Aku nggak medorongnya, kamu bisa cek CCTV di ruangan ini. Ayunda berusaha membela diri. “Jelas-jelas aku lihat kamu mendorong dia!” ucap Vivian emosi. “Untuk apa aku mendorong dia, emang dia siapa?” bantah Ayunda. “Dia mantan kekasih Axel, itu sebabnya kamu cemburu." Vivian masih ngotot. “Terus kalau mantan dia kenapa? Itu hanya masa lalu ‘kan.” “Nggak! Karena Lina bukan hanya mantannya Axel. Lin itu is—“
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN