Wanita Licik

1088 Kata
“Yunda, kamu jangan dengerin Vivian, dia hanya cemas dengan sahabatnya itu.” Ini suara Riani yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang. Kali ini suaranya cukup lembut. Ayunda menoleh, wanita cantik itu menyunggingkan senyumnya. “Kalian ingin bermain-main?” Ini suara hati Ayunda yang mulai muak dengan situasi saat ini. “Oh, ya! Hanya sebatas sahabat? Atau ada sesuatu antara Axel sama Lina?” Vivian terdiam, jika tidak ingat dengan kemarahan tantenya tadi, dia pasti sudah membuka rahasia Axel. “Hubungan mereka ‘kan hanya sekertaris dan bos.” Riani tersenyum saat mendengar jawaban Vivian. “Itu memang benar, lagian mana mungkin dia mau sama Lina yang jelas-jelas sudah bersuami.” “Kalian berisik sekali!” Ini suara Febian yang tiba-tiba saja sudah muncul di tempat itu. Pria itu berjalan mendekati mereka. Hendro yang dari tadi mengawasi kejadia itu ikut datang mendekat. “Kamu sudah datang dari tadi, Nak?” tanya Hendro. Febian tersenyum sinis. “Aku sudah datang dari tadi. Apa sambutan seperti ini yang kalian berikan kepadaku?” Hendro terlihat salah tingkah, Ayunda terlihat gugup saat berhadapan dengan Febian. Bahkan Riani dan Vivian bisa terlihat tegang menghadapi sosok Febian yang aura gelapnya sangat kental. Ini menurut pemikiran Ayunda tentang Febian. “Oh, ini hanya ada salah paham saja. Ayo kita makan saja sekarang, nanti aku tegur Axel.” Hendro menoleh ke arah Ayunda. “Yunda jangan khawatir, nanti Papa tanya Axel. Kenapa dia seperti itu.” “Oh, bisa-bisanya diam saja saat menantu keluarga ini ditindas.” Febian kembali bersuara. “Eh, ini salah paham seperti kata papamu, Bian. Ayo kita makan saja, kami sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Riani bersikap sangat ramah. “Selalu salah paham, ya. Anda memang suka sekali membuat kesalah pahaman, Nyonya Riani.” Febian sengaja menyindir perempuan licik itu. Riani menghela nafas, jika bukan karena ancaman dari suaminya, dia tidak akan bersikap seperti ini kepada anak tirinya. “Kamu kenapa tidak berubah, aku ini tetep ibu kamu meskipun hanya ‘ibu tiri’.” “Oh ya, apa harus aku ingatkan semuanya?” sindir Febian. Hendro berusaha mencairkan suasana. “Sudahlah, semua sudah berlalu. Ayo kita makan.” Hendro menepuk pelan lengan putranya. Febian melirik ke arah Ayunda. “Ayo, Yunda!” ajak pria itu dengan ekspresi yang sudah berubah. Ayunda gugup, Vivian hanya bisa tersenyum sinis, dia ingin melihat Febian yang memang dari dulu sudah dia sukai. Dia tidak peduli meskipun dia sudah bersuami, terlalu sayang untuk menyia-nyiakan pria sempurna seperti Febian. “Bian! Kamu lupa sama aku?” ucap Vivian manja, dan itu berhasil mendapatkan teguran dari Riani lewat bahasa matanya. Febian lagi-lagi tersenyum sinis. “Nggak! Dan itu nggak penting!” ucap pria itu ketus. Ayunda hampir saja tertawa mendengar ucapan judes Febian. “Oh, si gunung es yang nggak mudah mencair.” Ini batin Ayunda yang berbicara. “Huh!” Vivian terlihat menghentakkan kakinya, dia terlihat sebal dengan jawaban Febian. Wanita itu berjalan kesal menuju meja makan. “Intinya, ini malam khusus untuk menyambut kepulangan kamu. Aku tidak ingin berdebat mengmasa lalu.” Riani sengaja berlalu dari hadapan mereka, menyusul Vivian menuju meja makan. Ego perempuan itu terlalu tinggi, tidak ada kata tunduk untuk seorang Riani. “Ayo!” ajak Hendro, berjalan menuju meja makan. Febian sengaja berjalan ke arah Ayunda, mengajak Ayunda dengan sedikit berbisik. “Ayo ....” Ayunda masih tidak bergeming dari tempatnya. “Apa perlu aku gendong ...,” bisik Febian. Ayunda gelagapan, kok bisa ada pria seperti ini, terang-terangan di depan keluarganya menggoda adik iparnya sendiri. Ayunda yang takut omongan Febian sampai terdengar oleh yang lainnya, dia buru-buru berjalan menuju meje makan, berlalu begitu saja dari hadapan Febian yang masih berdiri tepat di depannya. “Sinting ...,” bisik Ayunda pelan. Febian menyunggingkan senyumnya, tidak peduli degan kata-kata Ayunda, ikut berjalan menuju meja makan. “Yunda, tolong kamu panggilin Axel ke sini.” Ini suara Hendro yang menyuruh Ayunda ketika wanita cantik itu baru saja mau duduk bersama mereka. Febian yang sudah duduk di meja makan ikut bersuara, “Emang nggak masalah kalau Yunda melihat kemesraan mereka!” Nada yang diucapkan oleh Febian terdengar begitu sinis. Riani tidak terima dengan ucapan Febian. “Axel nggak seperti itu! Dia hanya peduli sama Lina karena dia sedang hamil!” Dia tidak bisa membayangkan jika Axel sampai ketahuan berselingkuh dengan mantan kekasihnya dulu. “Hamil ...?” Febian tersenyum sinis. “Wow! Sampai sejauh ini.” “Diam kamu, Bian!” teriak Riani. “Bisa jaga sikap kamu, Ma!” Hendro ikut bersuara. Ayunda merasa tidak enak. “Aku akan memanggil Axel.” Ayunda berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Wanita cantik itu mulai berjalan menuju kamar milik Axel dulu. Dia yakin sekali jika Axel membawa Lina ke kamar milik Axel yang memang terletak di lantai bawah. Langkah kaki Ayunda tiba-tiba saja berhenti di depan sebuah kamar yang bukan milik Axel. Dadanya bergemuruh saat dia tanpa sengaja mendengar suara desahan dari dalam kamar yang memang tidak ditutup dari dalam. Ayunda mengepalkan tangannya. “Bahkan di acara seperti ini kalian nekat berbuat m***m!” Batin Ayunda. “Sudah, Lin. Jangan sampai ada orang tahu, apalagi Yunda ...,” bisik Axel di tengah-tengah adegan panas keduanya. “Cuman sebentar, Xel. Di sini nggak ada orang, mereka sibuk di ruang keluarga ...,” Suara Lina ikut terdengar juga. “Sudah kubilang, aku nggak mau ketahuan apalagi sama Yunda ...,” Suara Axel terdengar cukup tegang. “Yunda, Yunda! Aku muak mendegar nama itu, mau sampai kapan?” “Dia akan tetap menjadi istriku selama aku membutuhkan kerjasama dengan keluarganya.” Hati Ayunda terasa nyeri, dia sudah tidak tahan lagi mendengarkan ucapan mereka. Mengapa dia selalu tidak segaja mendengar ucapan yang begitu menyakitkan. Pria yang dulu pernah dia cintai dengan jiwa dan raganya, ternyata hanya memanfaatkan dirinya demi kepentingan bisnisnya. Ayunda berjalan pelan, membalikkan badannya, meninggalkan ruang itu tanpa sepengetahuan siapapun. Pergi sebentar untuk menenangkan dirinya. Di meja makan, mereka terlihat masih menunggu kehadiran Axel dan Ayunda yang belum juga muncul. Tapi siapa duga, ternyata Axel duluan yang sampai di sana, dia berjalan sendiri tanpa Lina dan Ayunda. Hendra yang penasaran membuka suaranya. “Yunda mana?” Dia yang tidak peduli dengan Lina, hanya menanyakan keberadaan menantunya. “Yunda ...?” tanya Axel penasaran. “Bukannya Yunda di sini?” Kembali pria itu memastikan. “Dia tadi nyari kamu.” Ini suara Vivian yang ikut nimbrung. Wajah Axel seketika pucat. Dia takut sekali jika perbuatannya dengan Lina tadi sampai kepergok Ayunda. “Apa mungkin ....” “Apa maksudmu, Xel!” seru Riani, terlihat panik dengan perubahan wajah putranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN