Kebenaran

1004 Kata
“Maaf terlambat,” ucap seseorang dari arah belakang yang ternyata Ayunda. Axel dan Riani terlihat sangat tegang, Ayunda sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Axel. Bersikap seperti biasa seolah-olah tidak terjadi sesuatu. “Kamu dari mana aja, Sayang?” tanya Axel sedikit gugup. Ayunda tersenyum simpul. “Aku tadi suruh manggil kamu. Eh, nggak tahunya tiba-tiba saja pengen ke toilet,” ucap Ayunda bohong. Tanpa Ayunda sadari, Febian terus memperhatikan gerak-geriknya. Axel menghela nafas lega. “Oh ... kirain aku kemana.” Pria itu tiba-tiba saja memegang tangan Ayunda. “Kamu tadi nggak marah ‘kan? Aku hanya menolong ibu hamil.” Axel berusaha mencari alasan. “Iya, Yunda. Kalau nanti kamu yang hamil, Axel juga lebih perhatian sama kamu.” Ini suara Riani yang ingin menutupi kesalahan anaknya. Ayunda memutar bola matanya jengah, tingkahnya tentu saja tidak lepas dari perhatian Febian. “Punya anak sama ‘kunyuk’! Enak aja, nggak sudi aku.” Ini batin Ayunda yang bicara. Gadis itu harus kembali menata hatinya, bersikap normal seperti tidak terjadi sesuatu. “Percaya, deh Ma!” Ayunda tiba-tiba saja mmonyongkan bibirnya. “Oh, ya! Mana mantan kamu?!” Pertayaan Ayunda ini hampir saja membuat Axel keselek. “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Lina. Ngerti!” Kali ini nada bicara pria itu sedikit tinggi. Tau ‘kan artinya jika pria itu tidak jujur, dia akan berbicara dengan nada yang tinggi untuk menutupi kesalahannya. “Ngerti banget!” Ayunda menekankan kalimatnya. “Dia nggak enak badan, katanya mau istirahat aja.” Axel kembali menyahut pertanyaan Ayunda tadi. “Oh, ya. Xel! Apapun alasannya, papa nggak mau tahu kamu sampai mengundang mantan kamu di acara penting keluarga kita.” Hendro mengucapkannya dengan sangat tegas, sarat dengan sebuah ancaman untuk Axel. Vivian menunduk, wanita itu terlihat sedikit takut. “Itu aku yang ngajak dia kemari, Om. Nggak ada hubungannya sama Axel. Aku pikir karena Suamiku nggak bisa ikut, makanya aku ajak dia sekalian.” “Ya sudah. Lain kali jangan diulangi. Hormati Yunda sebagai istri Axel. Ngerti!” ucap Hendro. “Pria sejati memang harus menghormati wanita.” Ini suara Febian yang sengaja menyindir Axel dan juga Hendro. “Sudahlah. Ayo kita icipi hidangan malam ini, ini khusus disiapkan untyk kamu, Bian.” Hendro berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Febian tiba-tiba saja menyendok lauk untuk diberikan kepada Ayunda, perbuatannya ini membuat hati Axel memanas. “Ini untuk kamu, Yunda. Menantu perempuan keluarga Kusuma,” ucap Febian. Baik Riani maupun Vivian terlihat cukup terkejut dengan sikap Febian yang biasanya sangat dingin terhadap siapapun. “Iya, Yunda. Anggap saja ini kebaikan dari kakak ipar kamu,” sahut Riani. “Kebaikan? Mana ada dia tahu kebaikan!” ucap Axel dengan nada yang sangat cemburu. Febian tersenyum sinis. “Hanya orang baik yang pantas diperlakukan baik!” ketus Febian, sikapnya ini berhasil membuat Ayunda tersenyum, Axel terlihat semakin panas karena diam-diam dia melirik istri cantiknya. “Axel!” seru Hendro yang menatap tajam ke arah Axel. Pria tampan itu menunduk, dia tidak pernah berani melawan papanya. Riani pun memberi isyarat untuk Axel. “Baiklah, silahkan ....” Axel pun mengalah. “Oh, ya. Yunda! Dulu Febian suka banget tinggal di vila yang dekat dengan vila milik keluarga kamu.” Ucapan Hendro yang tiba-tiba ini berhasil membuat Ayunda terkejut, wanita cantik itu menatap Febian dengan mata berkaca-kaca. “Kamu ....” Ayunda tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Wanita cantik itu tiba-tiba saja berdiri. “Maaf, saya nggak enak badan.” Ayunda pergi begitu saja dari tempat itu. Febian kembali menyunggingkan senyumnya. Axel ikut berdiri. “Aku temanin Yunda dulu.” Pria itu pergi megejar istrinya. “Silahkan lanjutkan,” ucap Hendro. “Sudahlah, aku nggak selera untuk makan.” Febian berdiri, pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hendro terlihat sangat marah, dia menoleh ke arah istrinya. “Lain kali ajari putramu sikap yang benar!” “Itu ulah Yunda, bukan Axel yang sengaja mau pergi.” Riani berusaha membela Axel. “Febian sudah banyak menderita selama ini! Jangan sampai aku menyerahkan semua asetku untuk Febian!” Hendro berdiri, pria itu terlihat sangat marah, pergi begitu saja dari ruangan itu. “Dasar anak pembawa sial! Sudah bagus tinggal di luar negeri. Kenapa harus kembali ke sini!” ucap Riania tak kalah emosinya. Vivian terlihat cukup takut. “Tante yang sabar aja,” bujuk wanita itu. Riania melotot ke arah Vivian. “Kamu sengaja membawa Lina untuk keributan ini ‘kan?! Ingat Vi! Sampai kapan pun anak haram itu bukan bagian dari keluarga Kusuma!” Riani berdiri, seperti biasanya ... dia harus meredam kemarahan suaminya. “Tapi, Tan!” Riania tidak mempedulikan Vivian yang protes, wanita itu tetap pergi dari ruangan itu, bahkan wanita setengah baya itu sengaja menabrak Lina yang tiba-tiba saja muncul di ruangan itu. Vivian berdiri, sedikit berlari mendekati sahabatnya yang terlihat cukup shock setelah tanpa sengaja mendengar ucapan Riani. “Sabar ya Lin, Tante nggak seperti itu, kamu tenang aja,” bujuk Vivian. “Aku sadar diri kok, Vi!” Sorot mala Lina terlihat penuh dendam dan amarah. *** “Yunda! Tunggu!” Axel berhasil meraih tangan Ayunda. “Lepasin, Aku!” Ayunda berusaha meepaskan pegangan tangan Axel yang memang terlalu kuat. “Jangan marah, aku bisa anterin kamu kalau kamu mau pulang,” Axel berusaha membujuk Ayunda, wajahnya terlihat tegang dan cukup ketakutan. “Pembohong! Kamu pembohong ....” Air mata Ayunda menetes begitu saja. Axel berusaha memeluk Ayunda. “Aku tahu, aku sudah berbohong sama kamu selama ini. Aku benar-benar mencintai kamu, Yunda. Aku pikir itu kebohongan kecil,” ucap Axel pelan. Ayunda tersenyum sinis, hatinya begitu sakit. Sakit kali ini tidak seperti sakit saat dihianati oleh Axel. “Kebohongan kecil? Kamu pikir hati kami begitu kecil di hadapan kamu?” “Itu hanya ucapan anak kecil, kita sudah dewasa. Ayolah, jangan seperti ini, lagian kita sekarang sudah menikah.” Axel terus membujuk Ayunda. “Lepasin aku! Kamu begitu menjijikan, Xel! Sampai identitas seseorang kamu pakai!” Ayunda terlihat kacau, kali ini dia tidak bisa mengontrol dirinya. “Aku terpaksa! Tidak mungkin juga Febian yang menikahi kamu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN