“Terpaksa ...?” Ayunda menatap Axel dengan tatapan penuh amarah.
Axel mengangguk. “Febian nggak akan pernah pulang saat itu, makanya aku disuruh menikah dengan kamu demi bisnis keluarga kita tetap lancar.”
Ayunda tersenyum ketir. “Meskipun saat itu kamu belum selesai dengan seseorang?”
Axel terlihat gugup dengan pertanyaan Ayunda. “Nggak! Ini nggak ada hubungannya dengan Lina.”
“Hebat! Kamu langsung tanggap. Aku tahu kenapa selama ini kamu memperlakukan aku seperti barang pajangan. Kalian hanya menganggap aku sebagai aset untuk sebuah bisnis!” teriak Ayunda.
Axel menggeleng, matanya berkaca-kaca, untuk kali ini dia begitu takut kehilangan, dia begitu takut cinta Ayunda yang selama ini dia abaikan akan bener-benar hilang. Axel dengan gerakan yang begitu cepat meraih tubuh langsing Ayunda. “Nggak! Kamu segalanya bagiku, aku akan melepas semuanya jika kamu mau, akan kubuktikan aku hanya milikmu.”
Ayunda menggeleng, air matanya kembali menetes, wanita itu teringat dengan kebodohannya selama ini. “Semua sudah berubah. Di mana kamu saat aku mencintaimu dengan setulus hatiku. Selama ini aku selalu menunggu, aku pikir kamu butuh waktu tapi nyatanya tidak.” Ayunda mendorong tubuh kekar Axel dengan sangat kuat. “Aku tidak pernah mengharapkan apupun, aku bahagia karena akhirnya aku bersama dengan anak lelaki kecil yang dulu menolong nyawaku. Hampir tiap malam aku menunggumu, Xel. Kali ini aku sadar, aku hanya menjadi duri untuk hubungan seseorang.” Ayunda membalikkan badannya, dunianya seperti runtuh, selama ini hidupnya seperti sebuah lelucon saja.
Axel berusaha menahannya tapi sebuah tangan halus tiba-tiba saja menahannya, pria itu menoleh, di sana Lina menggeleng, air matanya menetes.
“Kamu akan meninggalkan aku demi dia?” ucap Lina.
Axel menghela nafas, dia terlihat bingung dan juga ragu. “Yunda sedang butuh aku ....”
“Nggak! Dia butuh ruang untuk menenangkan diri. Lihatlah aku, Xel. Ibumu menolak kehadiran anak ini, aku harus bagaimana? Selain Vivian tidak ada yang tahu jika aku sudah bersuami, aku hanya punya kamu, Xel.” Lina menangis pilu.
Hati Axel kembali mencair, dia tidak akan tega melihat perempuan yang selama ini dia cintai bersedih di hadapannya. “Maaf, aku tidak akan membuat kamu bersedih.” Axel memeluk Lina. Kenapa dia selalu lemah di hadapan Lina. “Maafkan aku, Yunda ...,” batin Axel.
Lina tersenyum licik di pelukan Axel. “Lihatlah, Yunda! Axel hanya milikku ....” Ini suara hati Lina yang berbicara.
***
Ayunda sudah sampai di depan pintu gerbang keluarga Kusuma. Sebuah mobil mewah menghampirinya, berhenti tepat di depan Ayunda berdiri, pintu mobil terbuka, menampilkan sosok tampan, Febian. Pria itu berjalan menghampiri Ayunda. “Ayo aku antar pulang.”
Ayunda berniat membalikkan badannya, dia ingin menghindari sosok yang tidak ingin dia temui untuk saat ini. “Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri.”
Febian dengan sigapnya meraih tangan Ayunda. “Lihat bajumu, kamu tidak akan aman pulang sendiri dengan keadaan seperti ini.”
“Bukan urusanmu!” ketus Ayunda.
“Aku memang tidak berhak atas kamu, setidaknya kamu pikirkan gimana orang tuamu akan khawatir.” Seperti tahu sekali dengan Ayunda, Febian sengaja mengucapkan kata-kata yang akan membuat Ayunda untuk berpikir seribu kali.
Ayunda kembali menoleh, menatap tangannya yang masih dipegang oleh Febian. “Apa mau kamu?”
“Tidak ada, hanya ingin memastikan kamu pulang ke tempat yang tepat.” Febian tersenyum manis ke arah Ayunda.
“Kamu pikir aku apa? Aku harus pulang ke tempatmu?!” Ayunda terlihat sangat marah.
Febian menyunggingkan senyumnya, pria itu sedikit membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Ayunda. “Ke rumah Meli ....”
Ayunda melotot, terkejut dengan Febian yang tahu tentang Meli. “Kamu tahu Meli?”
Febian mengangguk, membuat Ayunda semakin emosi. “Aku tahu segalanya tentang kamu.”
Ayunda tertawa, merasa lucu dengan hidupnya. “Lucu sekali!”
Febian melongo. “Kenapa?”
“Kamu memang sama dengan saudara tirimu. Hanya menganggap hidup seseorang sebagai bahan lelucon!”
Febian menggeleng, tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti ini dari Ayunda. “Aku tidak sama dengan dia. Aku punya cara sendiri untuk memperlakukan seseorang. Ayo naik!” Pria itu sedikit memaksa, menarik tangan Ayunda untuk masuk ke dalam mobilnya.
Ayunda berusaha berontak. “Lepasin! Aku nggak akan ikut denganmu.”
“Baiklah, kelihatannya aku harus menggendong kamu.” Febian sudah bersiap menggendong tubuh langsing Ayunda.
Ayunda terlihat sangat kesal, dengan sangat terpaksa dia berkata kepada pria itu. “Baiklah!” Ayunda pun mengalah, melirik tangan Febian yang masih memegang tangannya. “Lepasin tanganku!” ketus wanita itu.
Febian tersenyum, melepas tangan Ayunda yang masih dia pegang, tiba-tiba saja pria itu melepas jas yang dia pakai, dengan lembutnya memakaikan jasnya untuk Ayunda. “Udara sangat dingin,” ucap Pria itu lembut.
Ayunda melirik jas yang dipakaikan oleh Febian, entah kenapa hatinya menghangat. “Seperti inikah dicintai seseorang,” batin Ayunda. Buru-buru dia menghilangkan pikiran itu. “Apa yang kamu pikirkan, Yunda. Nggak mungkin pria yang sesempurna ini akan mencintai janda seperti kamu.” Kembali hati Ayunda berbicara, dia memang belum janda tapi segera OTW menjanda. Kira-kira itulah isi pikiran Ayunda saat ini.
“Kenapa bengong?”
Suara lembut Febian mengagetkannya. Ayunda terlihat gugup, dia berjalan memutar, buru-buru masuk ke dalam mobil Febian tanpa kata sepatah pun, wanita cantik itu duduk di samping pintu kemudi.
Febian tersenyum, masuk ke dalam mobil sebelum Ayunda berubah pikiran, menoleh ke arah Ayunda yang terlihat masih bersedih, pria itu lebih memilih diam, memberikan waktu untuk Ayunda berpikir, tanpa banyak bicara dia melajukan mobilnya, meninggalkan rumah mewah milik keluarga Kusuma.
Suasana dalam mobil hening, keduanya asik tenggelam dengan pikiran masing-masing. Ayunda yang sudah mulai tenang, mulai mengeluarkan suaranya. “Jadi kamu anak lelaki yang menolongku waktu itu,” ucap Ayunda tiba-tiba.
Febian masih diam, dia sengaja menepikan mobilnya tepat di sebuah taman kota.
Ayunda terlihat heran. “Kenapa berhenti?” tanya wanita itu heran.
“Aku nggak mungkin bicara sambil menyetir,” ucap Febian. Pria tampan itu terlihat menghela nafas, menoleh ke arah Ayunda yang terlihat sangat penasaran. “Itu memang aku.”
“Kenapa waktu itu kamu menghilang? Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.” Wajah Ayunda terlihat murung.
“Jalan terbaik harus pergi daripada kita ditindas terus.”
Ayunda memberanikan diri menatap wajah tampan itu, Axel memang tampan tapi pria disebelahnya itu terlalu sempurna. “Kenapa kamu tiba-tiba saja kembali?”