Ayunda tersenyum. “Ngaco!”
Febian ikut tersenyum. “Siapa tahu. Ayo kita berangkat!” Febian menoleh ke arah Ayunda. “Sudah siap?!”
Ayunda mengepalkan tangannya, menunjukkan kepada Febian dengan penuh semangat. “Siap!”
Febian tersenyum, ada perasaan hangat yang selama ini dia kubur di dalam hatinya, pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah mega proyek yang saat ini dia tangani.
Tidak butuh waktu yang cukup lama, mobil yang Febian kendarai sudah sampai di sebuah tempat yang Ayunda yakin itu proyek yang Febian maksud. Keduanya terlihat turun dari dalam mobil. Febian berjalan memutar, mendekati Ayunda yang masih berdiri terpaku di sana.
“Kenapa?” tanya Febian setelah berdiri di samping Ayunda.
Wanita cantik itu tersenyum, dia tidak menyadari jika setiap gerak-geriknya tidak luput dari perhatian Febian. “Pantas saja Axel begitu ngebet pengen dapat proyek ini.”
Febian menghela nafas. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. “Kalau saja dia bersikap sedikit baik, menganggap aku sebagai saudaranya, aku dengan senang hati akan memberikan proyek ini untuk dia.”
Ayunda menoleh, sedikit mendongak, melihat wajah tampan Febian yang terlihat cukup sedih. “Aku pikir kamu juga membencinya.”
Febian tersenyum ketir. “Walaubagaimanapun dia saudara aku. Adik yang harusnya aku lindungi.”
Hati Ayunda berdesir, sebaik inikah Febian. Padahal jika dilihat dari sikapnya kemarin, dia terlihat sangat dingin dan sulit untuk didekati. “Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu benci sekali sama kamu. Apa mereka tidak berlaku adil sama kamu?” Ayunda buru-buru mebuang muka saat Febian menoleh ke arahnya, tatapan mata pria itu bener-bener membuat detak jantungnya tidak aman. “Maaf, jika aku terlalu lancang ...,”
Febian tersenyum simpul. “Nggak, kamu bagian dari keluarga kami, sudah seharusnya kamu tahu urusan dalam di keluarga Kusuma.” Febian menghela nafas, menatap lurus ke depan, ke arah para pekerja yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mata Febian tidak bisa dibohongi, ada luka yang begitu dalam yang selama ini dia pendam. “Axel itu sebenarnya anak yang baik. Dia seperti itu karena ambisi Riani.”
Ayunda kembali menoleh ke arah Febian, cukup terkejut dengan ucapan Febian. “Riani ...?”
Febian menoleh ke arah Ayunda, pria itu mengangguk dengan ekspresi cukup lucu. “Hooh! Memang kenapa?”
Ayunda menepuk mulutnya sendiri, aksinya hampir membuat Febian tertawa lepas. “Eh, maaf. Maksud aku mama Riani.”
“Ha-ha ....” Febian kali ini tertawa, mengusap lembut kepala Ayunda. “Kamu masih sama, Yunda.”
Ayunda terpaku, dia ingat sekali usapan lembut anak laki-laki itu. Anak laki-laki keluarga Kusuma yang menolongnya dari bahaya. “Kamu akan baik-baik saja adik kecil ....” Itu kata-kata yang selalu Ayunda ingat saat itu, belaian lembut dari anak laki-laki itu begitu menenangkannya dari rasa takut, anak kecil dengan tubuh kurus menggendongnya setelah berhasil menyelamatkannya dari maut. Ayunda dulu hampir saja terjatuh ke dalam jurang kalau saja Febian kecil tidak menyelamatkannya. Air mata Ayunda meleleh begitu saja, dia merasa ada dinding pemisah yang begitu tinggi antara dia dan Febian. “Kamu benar-benar dia.” Kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir Ayunda.
Febian tersenyum. Pria itu merubah posisi berdirinya agar bisa berhadapan dengan Ayunda. Dia sedikit membungkuk. “Kenapa adik kecil?”
Entah kenapa, Ayunda reflek mendorong d**a bidang anak laki-laki kecil yang sekarang sudah menjelma menjadi pria tinggi besar dengan wajah yang nyaris sempurna sebagai ukuran seorang pria. “Dih! Aku udah gede!” protes Ayunda.
Febian kembali tersenyum. “Waktu memang benar-benar cepat, ya ....” Febian tiba-tiba saja menggerakkan tangannya seolah sedang mengukur sesuatu. “Dulu kamu segini.” Febian sengaja membandingkan tinggi Ayunda yang dulu dengan sekarang.
“Tetep aja aku kelihatan boncel kalau di dekat kamu.”
Febian sengaja menekuk lututnya agar bisa berdiri seimbang dengan Ayunda.
Aksi Febian membuat Ayunda tertawa, wanita cantik itu tertawa lepas seperti tidak ada beban lagi dalam hidupnya. “Bian! Kamu gila!”
“Aku suka lihat kamu tersenyum kayak gini.” Febian yang merasa pegal kembali berdiri tegak. Ikut tersenyum bahagia melihat Ayunda tertawa lepas.
“Ih! Serius. Kamu kenapa manggil mamanya Axel kayak gitu?” Kali ini Ayunda lebih serius.
“Biasa, namanya juga pelakor. Dia ingin menguasai segalanya, termasuk rumah utama milik almarhum ibuku. Aku dulu pernah memanggil dia ‘mama’ dia sendiri yang muak sama panggilan itu. Panggil nama ‘kan lebih baik.” Febian sengaja mengucapkannya dengan sedikit bercanda, tapi Ayunda tahu betul jika pria itu menyimpan sebuah luka.
Ayunda meraih tangan Febian yang ukurannya memang cukup besar, wanita cantik itu tersenyum ramah. “Nggak pa-pa. Kamu hebat! Bahkan kamu bisa menutupi semuanya dengan sikap tengilmu.”
Febian megernyit, melirik tangan mungil Ayunda yang menggenggamnya. “Emang aku tengil?” tanya Febian tiba-tiba.
Ayunda mengangguk. “Hooh! Aku pikir kamu galak banget, mana ngomong pedes banget, padahal—“
“Udah nggak usah diterusin.” Febian menarik tangannya, wajahnya memerah, terlihat cukup lucu bagi Ayunda. Pria itu pura-pura membetulkan dasinya, kembali bersikap penuh wibawa. “Ayo aku lihatin kamu gimana ke sana.” Padahal jantung Febian berdetak cukup kencang, dia memang terkenal tegas dan dingin di depan karyawannya dan orang-orang yang berusaha memanfaatkannya, tapi di depan Ayunda dia akan berubah seratus persen. Intinya untuk kali ini dia masih ingin jaga image di depan Ayunda.
“Baiklah,” ucap Ayunda. Berjalan mengikuti Febian yang terus masuk ke dalam area proyek.
“Kita pakai safeti dulu,” ucap Febian setelah mereka sampai di suatu tempat yang menyediakan alat-alat keamanan untuk para petinggi dan para pekerja di sana.
Ayunda mengangguk. “Maaf sebelumnya, Bian. Mungkin aku nantinya akan sering merepotkan kamu, ini pertama kalinya aku terjun di bidang properti.”
Febian tersenyum, dia yang paham betul dengan kemampuan Ayunda semakin kagum dengan sikap Ayunda yang tetap merendah. “Aku yakin dengan kemampuan kamu, Yunda. Tinggal aku jelasin dikit, kamu bisa melakukan segalanya.”
Ayunda tersipu, kalau bukan penghianatan yang dilakukan oleh Axel, dia tidak akan mati-matian ikut terjun di dunia bisnis properti yang merupakan bisnis Axel dan keluarganya. “Apa kamu yakin Axel akan mundur sepenuhnya?”
“Aku nggak yakin. Apa langkah kamu selanjutnya?”