Pantang Nyerah

1209 Kata
Ayunda menoleh menatap tajam ke arah Axel. “Jangan usik mereka!” Ayunda terlihat sangat emosi. “Itu tergantung kamu, Yunda. Selama kamu tetap bertahan di sampingku, bisnis keluargamu dan kedua orang tuamu akan baik-baik saja.” Axel mendekat, membisikkan sesuatu tepat di samping telinga Ayunda. “Jadilah istri yang penurut seperti biasanya ....” Ayunda mengepalkan tangannya, andai dia tidak ingat itu di tempat umum, sudah dipastikan dia akan mencakar wajah Axel. “Sampai kapanpun aku nggak akan sudi di sisimu lagi.” “Oh, ya! Jangan terlalu sombong, Sayang. Yang kamu lawan itu ‘aku’.” Axel mengucapkannya penuh dengan kesombongan. “Memang kenapa? Tunggu saja surat cerai dari aku.” Ayunda tersenyum sinis, dia pergi begitu saja dari hadapan Axel. Pria itu menggertakkan giginya, hari ini sepertinya terlalu sial untuk dirinya, proyek yang dia idam-idamkan selama ini ternyata ada kaitanya dengan Febian, saudara tiri sekaligus musuh bebuyutannya. Sedangkan rumah tangganya terancam hancur karena perselingkuhannya sudah diketahui oleh Ayunda. “Sial!” Axel meninju udara. Dia terlihat sangat frustasi. “Kamu nggak akan aku lepasin, yunda. Meskipun Lina taruhannya.” Pria itu menyeringai. Dia tidak ada niat untuk menyelidiki sebuah gedung mewah di belakangnya tempat Ayunda kerja, karena dia yakin sekali jika istrinya hanya seorang karyawan biasa. *** Ayunda dan Meli sudah sampai di ruangan mereka, keduanya terlihat cukup bahagia. Apalagi Ayunda yang kelihatan sudah tidak ada beban seperti biasanya. “Akhirnya ...,” ucap Ayunda. Meli terlihat sangat penasaran. “Kenapa?” “Rasanya lega banget, Mel. Aku udah nggak ada beban lagi.” “Kamu yakin? Axel akan diam aja.” Meli terlihat cukup khawatir. Ayunda tersenyum sinis, wanita itu mengambil sebuah dokumen yang dari tadi dibawa oleh Meli, menunjukkan dokumen itu kepada sahabatnya. “Lihatlah, dengan ini Axel akan hancur.” “Kamu yakin secepat ini?” Ayunda mengangguk pasti. “Yakin sekali, aku akan bekerja keras untuk proyek ini. Kamu tolong siapkan bukti-bukti tentang perselingkuhan Axel, hari ini juga aku akan menggugatnya.” Ayunda sudah memantapkan langkah selanjutnya. “Ayo semangat! Kita kerja hari ini.” Ayunda terlihat sangat bersemangat, wanita cantik itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil miliknya. Meli mengenyit, heran dengan ulah sahabatnya. “Kamu mau apain itu ponsel?” “Ya aku pakai, masa mau aku buang.” “Bukannya nomer kamu udah nggak kamu pakai lagi, t*i katanya dibuang.” Meli protes. Ayunda tersenyum, mengedipkan satu matanya ke arah Meli. “Bohong! Aku cuman blokir cecunguk itu, setelah itu aku matiiin ponsel aku biar dia nggak bisa ngelacak aku.” Meli geleng kepala, dengan sikap waspadanya Ayunda. “Memang pantas dibilang “ratu bisni”. Urusan perasaan juga sedetail itu. Tega juga ngebohongin Febian, kamu pikir dia tidak punya nomer kamu?” “Nggak! Dia buat apa nyimpen nomer aku, nggak penting banget buat cowok keren kayak dia.” Ayunda mulai menghidupkan ponselnya, toh percuma dia memadamkan ponselnya karena Axel sudah tahu tempat kerjanya. Meli tersenyum. “Cie ... akhinya ngaku juga kalau Bian itu ‘keren’!” Meli mengaskan kata-katanya. Wajah Ayunda memerah, dia terlihat gugup. “Paan sih, nggak jelas banget!” “Cin—“ Belum selesai Meli melanjutkan kata-katanya, ponsel Ayunda sudah dulu berdering. “Siapa?” tanya Meli penasaran. Ayunda mengangkat kedua bahunya. “Nomer nggak dikenal.” “Coba angkat.” Meli meberi saran. Ayunda menggeleng. “Nggak, ah! Siapa tahu itu Axel. Aku malasngomong sama dia.” Baru saja Ayunda diam, sebuah notif pesan berbunyi. Ayunda melihat layar ponselnya, di sana tertera sebuah pesan dari nomer yang menghubunginya tadi. Wanita itu membuka pesan itu. “Ini aku, Bian.” Mata Ayunda melotot, hampir saja itu ponsel terjatuh dari tangannya setelah dia membaca isi pesan itu. “Hah! Gercep banget.” Meli terlihat sangat penasaran dengan reaksi sahabatnya. “Siapa?” “Bian.” Jawaban singkat Ayunda cukup membuatnya terkejut. “Secepat itu?” “Ssstt ....” Ayunda meletakkan jari telunjuknya tepat pada bibir merahnya. Wanita cantik itu memberi isyarat untuk sahabatnya diam. “Dia nelpon.” Ayunda menunjuk layar ponselnya, terlihat dia mengangkat panggilan telepon itu. Meli maju, ikut mendekatkan telinganya di samping ponsel Ayunda. Tanpa wanita itu duga, Ayunda mencubit lengan Meli membuat wanita itu terpaksa duduk kembali seperti posisi sebelumnya. Ayunda mulai bicara dengan Febian lewat sambungan telepon. “Halo ....” “Maaf udah bikin kamu kaget, aku dapat nomer kamu dari papaku.” “Oh, ada apa?” “Aku ingin ngajak kamu survei lapangan.” “Sekarang?” “Iya, aku tunggu depan kantor kamu.” “Hah! Kamu di mana?” “Di depan kantor kamu.” Panggilan diputus sepihak. Ayunda masih terlihat bingung, wanita cantik itu menatap layar ponselnya. “Satu mirip hantu, yang ini malah melebihi siluman.” Meli melongo, tidak paham dengan kata-kata Ayunda. “Kenapa? Malah bahas dunia perhantuan.” Ayunda menghela nafas. “Bian ada di bawah.” “Apa?!” Meli sontak berdiri. Dia lebih shock dari Ayunda. Ayunda menutup telinganya akibat nyaringnya suara Meli, satu mata Ayunda terpejam. “Dih! Pelanin suara kamu, aku kaget!” kesal Ayunda. Meli nyengir, eskpresinya di luar dugaan Ayunda, wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Lah, baru dibicarakan udah gercep banget, jangan-jangan dia mantengin nomer kamu terus, bener-bener tahu bangt kebiasaan calon bininya!” celetuk Meli. Ayunda melotot. “Jangan ngaco! Mana mau dia sama ‘janda’!” Ayunda menegaskan kata-katanya. “Inget! ‘janda kembang’! Masih ori lho!” goda Meli. Ayunda bergidik ngeri, wanita cantik itu bangkit dari kursi kebesarannya, menyambar tas kecilnya, memasukkan ponsel. Berkata dengan nada yang begitiu manis kepada sahabatnya. “Aku pergi dulu, do’ain mami sukses!” Itulah candaan mereka yang kadang bikin geli. Meli tersenyum. “Mudah-mudahan mami dapet papi baru.” Ayunda melotot. “Sialan!” umpat wanita cantik itu. “Udah, ah! Aku pergi dulu.” Kali ini dia terlihat cukup serius. “Kamu nggak ikut?” tanya Ayunda tiba-tiba. Meli menggeleng, mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya. “Nggak, ah! Nggak seru jadi obat nyamuk di siang bolong!” “Meli!” seru Ayunda kesal. “Ihh! Nggak lucu, tahu!” Ayunda berlalu begitu saja dari ruangan itu, berjalan menuju lift yang akan membawanya turun ke bawah. Tidak butuh waktu lama, Ayunda sudah sampai di lantai dasar, para pegawai tak lupa menyapanya jika berpapasan dengannya, wanita cantik itu terlihat keluar dari kantor milik, berjalan ke arah mobil mewah yang dari tadi terparkir di depan kantornya, seorang pria tampan yang tak lain adalah Febian terlihat keluar dari dalam mobil. Pria tampan itu tersenyum ke arahnya, berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil bagi Ayunda. “Silahkan, “ ucap Febian setelah Ayunda sampai di depan mobilnya. “Nggak usah repot-repot,” ucap Ayunda kikuk. “Bukain pintu mobil nggak bikin repot!” Febian mengedipkan satu matanya. Jantung Ayunda berdetak kencang, entah perasaan macam apa yang membuatnya selalu salah tingkah jika bersama pria di depannya itu. Tidak ingin membuang waktunya, Ayunda segera masuk ke dalam mobi, menoleh ke arah Febian yang masih memegang pintu mobil. “Terima kasih,” ucap Ayunda. Febian tersenyum. “Nggak masalah.” Pria itu menutup kembali pintu mobil, berjalan memutar, membuka pintu sebelah, kembali duduk di belakang kemudi. “Kita kemana?” tanya Ayunda tiba-tiba. Febian tersenyum, melirik Ayunda lewat kaca spion mobil. “Kamu takut aku culik?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN