Ayunda dan Meli buru-buru masuk kembali ke dalam lift karena barusan Febian menyuruh seseorang untuk memberitahukan kepada Meli dan Ayunda jika Axel sudah pergi dari kantornya. Tidak butuh waktu yang begitu lama, keduanya sudah sampai di lantai bawah. Ayunda dan Meli berjalan mendekati Febian yang masih berdiri di sana.
“Bian!” panggil Ayunda.
Pria itu menoleh, tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya. “Sudah aman,” kata Febian.
Ayunda tersenyum. “Makasih banyak.”
“Nggak masalah.” Febian menyodorkan sebuah kartu nama ke arah Ayunda. “Ini kartu namaku. Jangan lupa disimpan.” Febian mengedipkan satu matanya. “Maksudnya, tambahkan nomerku ke kontakmu.”
Ayunda hanya tersenyum saat menerima kartu nama yang diberikan oleh Febian. “Terima kasih banyak, kami pamit dulu,” ucap Ayunda.
“Mari,” ucap Meli.
“Silahkan,” ucap Febian seraya mengangguk.
Semua karyawan yang berada di situ otomatis pandangan mereka tertuju pada bos mereka yang bersikap tidak seperti biasanya. Febian yang terkenal sangat dingin bisa bersikap hangat terhadap Ayunda.
***
Mobil yang Ayunda dan Meli tumpangi sudah sampai di depan kantor mereka. Keduanya terlihat turun dari dalam mobil.
“Yunda!”
Keduanya menoleh saat mendengar seseorang memanggil nama mereka. Ayunda dan Meli sama-sama terkejut dengan kedatagan Axel yang tiba-tiba, pria itu seperti hantu yang bisa saja muncul di mana-mana.
“Gimana dia tahu tempat ini?” ucap Ayunda tiba-tiba.
Meli mengangkat kedua bahunya. “Mana aku tahu. Terus gimana ini?”
Ayunda menghela nafas, dia berusaha menenangkan diri. “Kayaknya aku harus hadapi semuanya. Kita sudah ada kontrak, Axel udah nggak bisa nekan aku lagi.”
Meli tersenyum, mengacungkan ke dua jempolnya ke arah Ayunda. “Itu baru bestie, aku!”
Axel terlihat sedikit berlari ke arah keduanya. “Syukurlah, kamu baik-baik saja,” ucap pria itu setelah berhadapan dengan Ayunda.
“Kenapa?! Kamu tahu aku di sini dari mana?!” ketus Ayunda.
Pria tampan itu tersenyum. “Dari ponsel Meli,” jawab Axel singkat. Tentu saja jawabannya itu membuat darah Meli sampai mendidih.
Meli menunjuk ke arah Axel, matanya memerah tanda dia kesal sekali dengan perbuatan Axel. “Kamu melacak nomer aku?!” kesal Meli.
Axel mengusap tengkuk lehernya, pria itu nyengir, merasa bersalah kepada Meli. “Maaf, aku cuman khawatir sama istriku.”
“Nggak perlu kamu khawatirin aku.” Ayunda tetap saja bersikap ketus.
Axel mendekat, kali ini dia berusaha memegang tangan Ayunda. “Ayo kita pulang, kita bicarakan ini baik-baik.”
Ayunda berusaha menepis tangan Axel. Wanita cantik itu menatap Axel dengan tatapan penuh kebencian. “Pulang? Aku nggak salah dengar? Bukankah rumah itu selalu dingin, hanya aku yang berusaha meghangatkan rumah itu. Kita cerai!” Kata-kata itu akhirnya terucap dari mulut Ayunda.
Wajah Axel pucat seketika. Pria itu menggeleng, dia berusaha memegang tangan Ayunda, tidak peduli jika wanita itu berontak. “Nggak akan! Kamu selamanya akan menjadi istri aku.”
Ayunda tersenyum sinis. “Kamu pikir aku apa?!” Ayunda mendorong tubuh kekar Axel. “Pajangan?! Jangan mimpi!”
“Nggak! Kamu sangat berarti buat aku, Yunda?” Axel berusaha meyakinkan Ayunda.
“Terus gimana dengan Lina?” Kali ini Ayunda berani bersuara.
Axel terkejut, sepertinya Ayunda tahu sesuatu. “Lina hanya sekertaris aku.”
Ayunda tertawa. “Ha-ha ...!”
Axel terlihat bingung dengan sikap Ayunda. “Kenapa?”
“Tidak selamanya bangke bisa kamu sembunyikan, suatu saat akan tercium juga.” Ayunda sepertinya sudah terlalu muak untuk berpura-pura.
“Kamu jangan percaya omongan orang, itu hanya gosip.” Axel masih saja berkilah.
“Gosip ...? Kamu punya anak dengannya juga gosip!” bentak Ayunda.
Axel semakin terpojok, bagaimana mungkin Ayunda sampai tahu sejauh itu. “Kamu denger sendiri kalau anak yang Lina kandung itu anak suaminya.” Masih saja Axel berusaha membantah.
“Iya, anak suaminya. Karena kamu suaminya!” seru Ayunda.
Wajah Axel semakin memucat, tapi di tetap berusaha meyakinkan Ayunda. “Kamu jangan ngaco!”
“Huh! Masih saja berkilah!” Ini suara Meli yang ikut kesal dengan ulah Axel.
“Ngaco?! Kamu pikir aku ngarang?” Ayunda mengepalkan tangannya, dia ingin sekali memukul wajah Axel. “Perempuan itu yang bilang sendiri.”
Axel kembali menggeleng, dia terus berusaha menenangkan Ayunda yang terus menghindar. “Dia berbohong sama kamu, dia hanya ingin posisi kamu.”
Kali ini Ayunda tersenyum ketir, dia semakin yakin dengan sikap Axel yang begitu picik. “Kamu pikir aku percaya ucapan kamu? Gimana kalau aku diam-diam sudah tahu perselingkuhan kamu saat kamu bicara bersama Rico, kamu masih mau mengelak?”
Tubuh Axel lemas seketika, ternyata selama ini Ayunda sudah tahu semuanya. “Aku khilaf, tolong jangan menjauh dariku. Aku janji akan meninggalkan Lina untukmu.”
Ayunda terlihat semakin emosi, sekang semuanya sudah tidak bisa terbendug lagi. Tanpa Axel duga, dia menampar keras wajah Axel. “Kamu jangan jadi pengecut! Anak yang Lina kandung tidak bersalah, kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu!”
Axel menngusap wajahnya yang terasa panas akibat ulah Ayunda. “Kamu tidak bisa seperti ini, Yunda. Kamu nggak punya bukti, kamu selamanya akan menjadi istri aku, kamu tahu kenapa? Karena kamu selama ini tergantung padaku.” Axel benar-benar sangat licik.
Ayunda membuka tas kecil yang dari tadi tergantug di pundaknya. “Ini!” Ayunda melempar kartu berwarna hitam tepat ke muka Axel. “Aku nggak butuh itu, uang yang ada di kartu itu masih utuh, kamu bisa mengeceknya!”
Axel terlihat cukup heran dengan ucapan Ayunda. Pria itu berjongkok untuk mengambil sebuah kartu yang dilemparkan oleh Ayunda, kembali berdiri setelah berhasil mengambil kartu yang dilempar oleh Ayunda. “Kamu mengembalikan ini karena kamu sekarang bekerja sama Meli, diam-diam selama ini kamu sudah kerja?”
Meli hanya tersenyum saat mendengar ucapan Axel, pria itu tidak tahu jika selama ini Ayunda lah yang menjadi bos di tempat dia bekerja. “Kami itu bodoh, Xel. Kamu nggak tahu siapa Yunda? Dia—“
“Sudahlah.” Ayunda menggeleng, memberi isyarat kepada Meli untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Meli pun diam, tidak lagi melanjutkan ucapannya.
“Kalau aku bekerja kenapa? Masalah buat kamu? Tunggu saja gugatan dariku.” Ayunda yang sudah terlalu muak berniat pergi dari hadapan Axel.
“Nggak semudah itu, gimana dengan nasib orang tua kamu?”