Ayunda buru-buru menekan kembali tombol lift sebelum Axel menyadari keberadaannya dan Meli. Keduanya terlihat cukup panik, Ayunda memijit kepalanya, dia terlihat cukup gelisah. “Kenapa dia harus muncul saat ini,” ucap Ayunda.
Meli berusaha menenangkan sahabatnya. “Kamu tenang dulu, nanti kita suruh Bian untuk mengusir pria b******k itu!”
Ayunda menatap Meli, dia terlihat tidak setuju dengan usulan Meli. “Nggak! Aku nggak akan melibatkan orang lain dalam urusan rumah tanggaku.”
“Dia peduli sama kamu, Yunda.”
Ayunda menggeleng. “Semua pria sama saja.”
Meli menghela nafas, meraih kedua tangan sahabatnya, wanita itu menggeleng, memaksa Ayunda untuk menatapnya. “Lihat aku! Febian itu berbeda, dia udah memantau kamu dari dulu, itu artinya dia benar-benar tulus sama kamu,” ucap Meli.
Ayunda tersenyum sinis, menarik kedua tangannya. “Kamu pikir aku akan menggali lubang yang sama?”
Meli melongo. “Hah! Apa kamu pikir mereka sama-sama b******k?!” Meli masih saja berusaha menyakinkan Ayunda.
“Nggak tahu! Aku lagi malas bahas mereka.” Ayunda masih saja berusaha menyagkal karena dia masih ingat dengan perlakuan Febian yang menurutnya sedikit kurang ajar.
“Ta—“
Meli tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena pintu lift sudah terbuka, kebetulan sekali Febian sedang berdiri di depan pintu, pria itu hanya tersenyum saat melihat Meli dan Ayunda keluar dari lift.
“Dia belum pergi?” tanya Febian yang seolah-olah tahu apa yang terjadi.
Ayunda menggeleng. “Belum.” Hanya itu saja jawaban dari Ayunda.
“Baiklah, sudah saatnya aku muncul.” Febian menekan tombol lift, prisua itu segera masuk ke dalam lift, pria itu menatap Ayunda dan juga Meli. “Kalian tidak ingin melihat pertunjukkan ini?” tanya Febian.
Ayunda menggeleng. “Nggak, aku males banget ketemu dia.” Bahkan menyebut nama Axel pun rasanya berat sekali untuk Ayunda.
Meli terlihat kecewa, dia menarik-narik tangan Ayunda. “Ihh ... ini seru, Yunda!”
“Sana kamu ikut!” perintah Ayunda.
Meli nyengir. “Nggak lah, nggak seru kalau nggak ada kamu.” Meli tersenyum ketir ke arah Febian. “Udah duluan aja, Bian. Nanti kalau tu cecunguk udah pergi, kita baru turun lagi.” Wajah Meli terlihat kecewa.
Febian mengangguk. “Baiklah ....” Pria itu menekan tombol lift.
Ayunda dan Meli hanya bisa diam saat pintu lift tertutup lagi.
***
Febian bergegas keluar saat pintu lift terbuka, pria tampan itu berjalan ke arah Axel yang masih berjalan mondar-mandir.
Meskipun terlihat sangat malas, akhirnya Febian mengeluarkan suaranya. “Bisa berhenti sebentar.” Suara itu terdengar begitu dingin, ekspresi Febian terlihat berbeda sekali dengan ekspresi saat dia bersama Ayunda.
Axel berhenti, dia kenal betul dengan suara itu, pria itu menoleh, tersenyum sinis saat tahu siapa yang datang, dengan tatapan penuh kebencian, dia berkata, “Kamu ngapain di sini?!”
Febian tersenyum sinis, menumpukan kedua tangannya pada d**a, denganwajah yang penuh ejekan dia berkata, “Harusnya aku yang bertanya, lebih baik kamu pergi dari sini.”
Axel terlihat makin emosi, pria itu maju, kali ini posisi keduanya saling berhadapan. “Jangan terlalu sombong! Ternyata kamu mengincar proyek ini juga?” Axel sengaja berbisik di samping Febian. “Aku pikir di luar negeri sudah sukses. Nyatanya masih sangat menyedihkan ....” Axel sengaja menepuk pundak Febian.
Meski cukup kesal dengan perlakuan Axel, Febian tetap bersikap tenang, dia melirik tangan Axel yang masih menepuk pundaknya. “Bisa kamu singkirkan tangan kotor itu, nggak?!”
Axel tertawa, menarik tangannya, menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seperti ada sebuah kotoran yang menempel. “Baiklah. Aku juga muak dengan wajahmu, kalau sudah tidak ada urusan silahkan pergi dari sini, b*****t!”
Febian menyunggingkan senyumnya, pria itu menggeleng, kata-kata Axel seperti sebuah lelucon baginya.
“Kenapa?! Kata-kata aku kurang jelas?” ucap Axel.
Febian memberi kode kepada seorang satpam yng berdiri tidak jauh dari mereka. “Sini!” panggil Febian.
Si satpam segera mendekat, Axel masih belum menyadari situasi tersebut. “Ada apa, Pak?” tanya satpam dengan nada yang terdengar begitu sopan.
“Tolong usir orang ini!” perintah Febian.
Axel terkejut, dia tidak menyangka Febian akan mengucapkan kata-kata seperti itu. “Apa hak kamu ngusir aku!”
Satpam berjalan ke arah Axel, tanpa basa-basi menarik lengan Axel. “Silahkan keluar dari perusahaan ini!”
Axel berusaha berontak, dia menarik tangannya yang dipegang oleh satpam itu. “Jangan kurang ajar, kamu tahu siapa aku? Memang kamu dibayar berapa sama dia?” Axel menunjuk ke arah Febian.
Satpam itu menggeleng. “Pak Febian berhak mengusir siapapun dari kantornya.”
Axel terkejut bukan main, kata-kata si satpam seperti sebuah tamparan keras untuk dirinya. Dia menunjuk ke arah Febian. “Aku nggak salah dengar? Bagaimana mungkin orang yang nggak berguna ini bisa menjadi pemilik kantor ini!” Suara Axel terdengar cukup keras, semua yang berada di situ menatap ke arahnya, pria itu langsung menyadari situasi yang tengah dia alami. “Kamu beneran pemilik kantor ini? PT Angkasa ....?”
Febian terlihat sangat puas, pria itu mengangguk. “Menurut kamu?”
“b******k! Pantas saja kamu ggak mau nemuin aku!” ucap Axel kesal.
“Jadi kamu sudah tahu jawabannya?” Jari telunjuk Febian menunjuk ke arah pintu. “Pintu keluarnya ada di sana.”
“Cih! Tahu PT itu punya kamu, aku nggak sudi menginjakkan kakiku di sini!” Axel terlihat makin emosi. “Di mana Yunda kamu sembunyikan?” tanya Axel tiba-tiba.
“Memang kamu pikir Yunda semurah sekertaris kamu?!” Wajah Febian terlihat tidak bersahabat.
“Satpam yang bilang kalau Yunda ikut mobil kamu!” ucap Axel penuh emosi.
Febian tersenyum. “Aku hanya nggak tega melihat dia pulang sendirian, sedangkan suaminya sibuk membujuk istri keduanya.” Febian sengaja menyindir Axel.
“Nggak usah ikut campur urusanku! Mana Yunda!” Axel terlihat makin emosi.
“Harusnya kamu tahu kemana Yunda pergi.” Febian kembali memberi kode kepada satpam. “Cepat usir dia.”
“Nggak perlu kamu usir, aku bisa pergi dari sini sendiri.” Satu jari telunjuk Axel menunjuk ke arah Febian. “Awas saja kalau kamu berani mendekati istriku, aku nggak segan untuk menghancurkan kamu!” ancam Axel.
Febian tersenyum sinis. “Ini sudah keberapa kali kamu ngancam aku, sekali-kali buktikan dong!” tantang Febian.
“Kamu—“ Axel tersenyum sinis. “Kita lihat saja nanti!”