Tidak Ragu

1199 Kata
“Terima kasih,” ucap Ayunda, mengikuti pak satpam menuju sebuah lift yang akan mengantar mereka ke ruang rapat. Tidak butuh waktu lama, Ayunda dan Meli sudah keluar dari dalam lift, mereka masih mengikuti pak satpam, hingga mereka bertiga berhenti tepat di depan sebuah ruangan rapat, satpam tersebut mengetuk pintu sebanyak tiga kali, jawaban dari dalam pun terdengar. “Masuk!” Pak satpam membukakan pintu ruangan itu untuk Ayunda dan Meli, dengan badan yang sedikit membungkuk, satpam itu mempersilakan keduanya. “Silahkan ...,” ucap pak satpam ramah. Ayunda tersenyum ramah, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada satpam tersebut. “Terima kasih banyak.” “Sama-sama.” Tanpa banyak bicara, satpam itu meninggalkan keduanya untuk kembali lagi ke lobi. Ayunda menoleh ke arah Meli. “Ayo!” ajak wanita cantik itu. Keduanya berjalan memasuki ruangan itu. Cukup terkesima dengan tatanan di ruangan itu. Mata Ayunda langsung tertuju pada sebuah kursi yang posisinya saat ini tengah membelakangi mereka. Di sana ada seseorang yang sedang duduk, Ayunda terlihat penasaran, kursi berbalik, Ayunda terkejut bukan main, dia kenal betul dengan sosok yang tengah duduk di kursi kebesaran itu. “Febian ...,” ujar Ayunda. Meli menarik tangan sahabatnya. “Kamu kenal dia ...?” Meli terlihat penasaran Ayunda mengangguk. “Iya! Dia saudara tiri Axel ...,” ucap Ayunda pelan. Meli melongo, wajahnya terlihat cukup tegang, pikirannya berkecamuk ke mana-mana. “Iya, ini aku. Silahkan kalian duduk,” ucap Febian ramah. Dengan berbagai pikiran dan ekspresi yang sulit untuk diugkapkan, Ayunda pun duduk di sebuah kursi yang letaknya tidak teralalu jauh dengan Febian. “Kenapa kamu ada di sini.” Satu jari tengah Ayunda menunjuk ke arah Febian. “Dan kamu kenapa duduk di situ? Apa jangan-jangan kamu ....?” Febian tersenyum, pria tampan itu mengangguk. “Iya, seperti yang kamu pikirkan.” Ayunda melongo, wanita itu cukup terkejut dengan ucapan Febian. “Bagaimana bisa?” “Jangan-jangan kamu punya rencana terselubung sama seperti saudara kamu itu!” Ini suara ketus milik Meli yang belum tahu tentang Febian. Febian tersenyum saat mendengar ucapan Meli. “Aku berbeda dengan dia, Meli.” Meli terkejut karena Febian tahu namanya. “Dia kenal aku?” Wanita cantik itu menunjuk dirinya sendiri. Ayunda tersenyum, merasa lucu saja melihat tingkah Meli yang menurutnya cukup menggemaskan. “Iya! Bahkan dia tahu rumahmu.” “Ha! Jadi ....” Meli menunjuk ke arah Ayunda. Seperti tahu isi pikiran Meli, Ayunda pun menjawab, “Iya!” Meli pun tersenyum, dia langsung bisa mengerti situasinya.”Apa ini yang namanya jodoh!” celetuk Meli tiba-tiba. Ayunda melotot, wajahnya memerah, dengan gerakan spontan dia mencubit lengan Meli yang duduk di sampingnya. “Jaga ucapan kamu ...,” lirih Ayunda. “Aduh!” Meli mengusap lengannya yang terasa panas akibat ulah sahabatnya. Febian tersenyum, dia cukup geli melihat reaksi Ayunda. “Jadi gimana, Yunda? Kamu masoh ragu?” Ayunda menghela nafas. “Pantas saja kamu tahu jika aku mengincar proyek ini.” Febian tersenyum. “Aku juga melihat sepak terjang kamu selama ini, Yunda. Aku tahu kamu yang ada di belakang semua proyek yang Axel kerjakan,” ucap Febian. “Kelihatannya Tuan Febian tahu begitu banyak tentang aku,” sindir Ayunda. “Maaf, jika itu mengganggu kamu.” Febian terlihat merasa bersalah. “Nggak masalah, aku datang ke sini hanya untuk kesepakatan kerjasama kita.” Ayunda terlihat cukup gugup. “Baiklah, aku setujui semua syarat kamu.” Febian mengucapkannya tanpa ragu. Meli dan Ayunda saling lempar pandang. “Kamu nggak ingin baca dulu proposal kami?” tanya Ayunda sekali lagi. Febian kembali tersenyum. “Nggak perlu. Aku percaya kamu, Yunda.” “Kamu nggak khawatir kalau aku nipu kamu?” tanya Ayunda sekali lagi. Febian menggeleng. “Kamu nggak akan melakukan itu.” Tiba-tiba saja telepon yang terletak di samping Febian berdering, pria itu berdiri, berjalan meraih gagang telepon yang ada di sampingnya. “Ada apa, Ndre?” Seseorang yang berada di ruangan lain menghubungi Febian. Berbicara kepadanya. “Maaf, Pak. Ada perwakilan dari perusahaan Kusuma group ingin bertemu dengan Bapak.” “Katakan aku sedang ada rapat, suruh dia pergi!” Febian mengakhiri panggilan itu, kembali duduk di kursi kebesaranya. Pria tampan itu menatap Ayunda. “Axel ke sini,” ucap Febian. “Axel? Secepat itu?” tanya Ayunda penasaran. Febian megangguk. “Iya, jangan sampai dia tahu kalau Ayu group itu punya kamu,” ujar Febian. “Bukannya dia mewakili perusahaan keluarga kamu?” tanya Meli tiba-tiba. “Aku netral! Kusuma group tidak ada hubungannya sama aku. Aku tidak akan menyerahkan proyek ini begitu saja tanpa melihat rekam jejak seseorang.” Meli manggut-manggut mendengar ucapan Febian. “Oh, berarti sahabatku ini beruntung donk!” Meli menyikut lengan Ayunda. Wanita cantik itu menatap garang Meli. “Mel! Jaga sikap kamu ...,” lirih Ayunda. Febian hanya tersenyum. “Apa Axel tidak menghubungi kamu?” Pertanyaan macam apa ini, Febian tiba-tiba saja menanyakan hal seperti itu. “Aku nggak tahu, aku sudah membuang nomerku yang dulu, saat ini nggak ada yag bisa ngubungin aku.” Febian terlihat sangat puas dengan jawaban Ayunda, diam-diam dia meyunggingkan senyumnya. “Eh, bentar. Ini pertanyaan seorang kakak ipar atau ....” Meli kembali menyela. Ayunda salah tingkah, kali ini dia mencubit pinggang Meli. “Mel!” “Menurut kamu!” Febian sengaja mengeluarkan kata-kata dengan nada sedikit menggoda. “Ehem! Aku do’akan lancar sampai hari ‘H’.” Meli benar-benar, dia tidak kapaok dengan Ayunda yang mulai meradang akibat ulahnya. “Eh, jangan dengerin ucapan dia. Kita lanjut bahas aja soal kerjasama ini. ”Ayunda berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Febian tersenyum geli melihat Ayunda yang salah tingkah. “Sini dokumennya, aku tandatangani sekarang.” Kata-kata itu begitu mudah keluar dari bibir Febian. Meli mengeluarkan dokumen yang dia simpan di dalam tas kopernya. Dia menyodorkan dokumen itub ke arah Febian. “Ini dokumennya, Pak Febian.” “Nggak usah panggil terlalu formal. Panggil aja Bian, lagian kita ini masih saudara,” ucap Febian. “Bentar lagi hanya mantan saudara,” sahut Ayunda. Febian tersenyum. “Nggak masalah, Yunda. Sampai kapanpun hubungan ini nggak akan terputus.” Ayunda tidak menghiraukan makna dari kata-kata Febian, wanita cantik itu kembai bertanya. “Kamu yakin nggak mau memeriksa dokumen itu?” Ayunda melirik Febian yang tengah sibuk menandatangani sebuah dokumen kerja sama antara mereka. Meli terlihat sangat bersemangat, ternyata proyek impian mereka bisa didapatkan dengan begitu mudahnya. “Ini sudah selesai.” Febian menyodorkan dokumen itu, di terima langsung oleh Meli. “Terima kasih atas kepercayaan kamu, Bian ....” Ayunda mengucapkannya dengan wajah tersipu. Febian tersenyum, hatinya bagai melambung di atas awan dengan panggilan yang Ayunda ucapkan. “Sama-sama,” ucap pria itu. Ayunda berdiri, disusul oleh Meli yang ikut berdiri, Ayunda mengulurkan tangannya ke arah Febian. “Aku akan menjaga keperyaan yang kamu berikan.” Febian menerima uluran tangan Ayunda, keduanya saling berjabat tangan. “Aku yakin dengan kemampuan kamu.” “Terima kasih,” ucap Ayunda. Meli ikut berjabat tangan dengan Febian. Keduanya pamit untuk kembali ke kantor, berjalan menuju lift yang akan mengantar mereka menuju lobi kantor. Tidak butuh waktu yang cukup lama, lift pun terbuka, keduanya sudah sampai di lobi hotel, Ayunda dan Meli sama-sama terkejut saat mereka melihat Axel yang masih berada di lobi kantor itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN