“Hahahaha. Gak sabar pengen pulang!” balas Rainier.
“Pulang saja,” jawab Lyssa.
Langsung deh Rainier tak menjawab, hilang dari peradaban. Lyssa pun meletakkan handphone-nya. Fokus dengan anak-anak.
Sembari mengecupi kedua putranya, Lyssa tak lupa untuk menyetel alarm. Maklum saja, jadwal tidur para bocah memang sudah berdasar anjuran dokter pribadi.
Entah berapa jam kemudian, Lyssa terbangun. Matanya yang belum melek sepenuhnya membuat tangannya mencari-cari.
“Yuda? Raja?” panggil Lyssa. Ia kucek-kucek matanya sembari menyadarkan diri.
Tidak ada jawaban, juga tak ada tanda-tanda keberadaan si kembar, Lyssa langsung sadar, mata lebarnya melek seketika. Apalagi saat ia tak menemukan anak-anak di sisinya, ia panik berlari keluar kamar.
“Di mana anak-anak?” tanya Lyssa, menahan lengan pelayan yang ia temui.
Pelayan yang tengah mengepel koridor itu tersenyum. “Kedua Tuan Muda sedang berada di tempat les renang, Nyonya.”
“Sama siapa? Kenapa kalian tidak membangunkanku?” tanya Lyssa lagi. Tak sabaran pergi ke kamarnya di sebelah.
“Tuan Rainier bilang untuk tidak membangunkan-”
Lyssa langsung berbalik. “Rainier? Rainier nelfon?”
“Tadi Tuan Rainier pulang.”
Wajah Lyssa terlihat bingung. “Tadi Rainier bilang dia mau lembur,” gumam Lyssa. Wanita itu berbalik, kembali ke kamarnya anak-anak untuk mengambil handphone-nya yang kelupaan.
“Jangan lupa makan,” pesan dari Rainier lima belas menit yang lalu. Mengirim fotonya dan anak-anak di dalam mobil.
Lyssa mengembuskan napas lega, duduk di pinggiran kasur. “Maaf, tadi aku ketiduran,” jawabnya.
Centang biru dua, tanda pesannnya dibaca. Lyssa pun menunggu. Tak berapa lama kemudian, telepon masuk dari Rainier.
“Sudah bangun?” suara Rainier di seberang.
“Iya, ini baru. Mas sampai mana?”
“Ini masih di jalan.”
“Hati-Hati.”
“Mm.”
Lyssa yang tak melihat tanda-tanda Rainier ingin mengakhiri telepon pun kembali rebahan, menata napas akibat ngos-ngosan panik tadi.
“Sayang jangan lupa makan,” kata Rainier di seberang.
“Mm. Sekarang?”
“Iya.”
“Oke deh. Aku matiin nih telfonnya?”
“Nggak. Aku temani sampai selesai makan.”
“Hehehe. Makasih, Sayang.”
“Mm. Sama-Sama.”
Lyssa ceria keluar kamar, kedatangan mama mertuanya tadi siang tertimbun jauh oleh perhatian dan cinta kasih sang suami.
“Nyonya. Selamat sore. Tadi saya dengar dari Rina kalau Nyonya sudah bangun.” Dian, pelayan pribadi Lyssa datang menjemput.
Lyssa menjawab dengan gumaman, penuh semangat pergi ke dapur untuk makan.
Di dapur, koki rumah sudah siap dengan makan siang setengah sore Lyssa. Mereka tinggal menyajikan saja saat Lyssa datang.
“Terima kasih masakannya,” ucap Lyssa. Dian siap sedia membantu Lyssa membukakan kursi.
“Terima kasih kembali, Nyonya. Itu tadi Tuan Rainier yang masak,” lapor juru masak.
“Iyakah?” Mata Lyssa berbinar senang.
“Iya, Nyonya,” jawab Dian dan koki bersamaan.
Lyssa bahagia berkata di mikrofon ponselnya, “Makasih, Sayang!” bilangnya pada Rainier.
Rainier di seberang tersenyum-senyum, bahagia menyetir mobil. “Sama-Sama,” balasnya. Di jok tengah, dua anak kembarnya tengah bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu anak-anak yang Rainier putar.
Lyssa bahagia makan banyak. Selesai makan lapor ke Rainier, baru deh Rainier mau mematikan telepon.
***
Selesai makan, Lyssa gabut. Dia ceria main piano beberapa lagu, lanjut melihat-lihat tanaman bunga di halaman belakang, baru setelah itu pergi mandi.
“Belum selesai kelasnya?” tanya Lyssa via voice note.
“Sudah. Anak-Anak minta mampir ke Play Zone,” balas Rainier. Play Zone adalah tempat bermain anak-anak yang sangat terkenal. Setiap Lyssa mengajak anak-anak ke sana, pasti tempat itu selalu ramai.
“Bisa sendirian?” balas Lyssa lagi. Dia baru selesai mandi, tengah memakai serum tubuh sambil berbalas chat.
Rainier terlihat ‘mengetik’ berulang kali, tapi tak kunjung ada balasan. Sekitar sepuluh menit kemudian baru balas, “Mereka sangat aktif.”
“Hahaha,” tawa Lyssa.
“Aku jemput. Nanti kita makan malam di luar sekalian,” balas Lyssa lagi.
“Makasih, Sayang.”
“Masama.”
Lyssa mempercepat rutinitas skin care. Setelah itu sibuk milih baju, nata rambut, sama make up. Satu jam kemudian baru nanya ke Rainier. “Posisi, Mas?”
Lyssa sudah siap sedia, depan setir manasin mobil sembari berteleponan dengan suaminya.
“Masih di Play Zone. Raja sama Yuda nggak mau berhenti main trampolin,” balas Rainier.
“Gendong saja. Langsung bawa ke mobil.”
“Nangis mereka.”
“Anak kecil memang biasa nangis.”
Rainier pun menguatkan hati, masuk ke dalam zona trampolin, mengambil dua anaknya langsung ke gendongan.
Tawa kedua bocah itu langsung berhenti, berganti tangis menjerit-jerit. “Hwa! Hwa! Daddy! Mau main! Daddy, mau main!!”
Rainier menulikan telinga. Kedua anak kembarnya itu memukul-mukul punggungnya. Rainier dengan langkah tegap membawa anaknya, susah payah membungkuk melewati gerbang kerangkeng zona trampolin. Para ibu-ibu dan anak-anak yang masih asyik bermain sampai melihat semua saking kerasnya Raja meraung-raung.
“Berhentilah menangis. Saatnya makan,” kata Rainier, menepuk lembut punggung putra sulungnya.
Yuda perlahan berhenti menangis, sesenggukan mengoleskan ingusnya di kemeja hitam papanya. Sementara Raja, bocil itu masih menangis keras, sampai menggigit-gigit telinga Rainier karena diabaikan.
“Raja, telinga Papa jangan digigit,” kata Rainier. Ekspresinya datar, hanya berdesis saja saat Raja malah berganti menggigiti lehernya.
Rainier membungkuk, mengambil tas sport berisi pakaian sisa kelas renang tadi juga barang-barang bayi keperluan Yuda dan Raja.
Rainier pria kuat, tampan dan tegap. Tubuhnya yang tinggi, juga parasnya yang tampan, menolong wajahnya yang jarang tersenyum. Memikat banyak wanita meski dengan dua bocah dalam gendongan.
Lengan kemeja Rainier yang tersising, menampilkan otot kuat pemuda itu, kokoh memegangi dua bocah gemoy dalam gendongan. Pas banget untuk cuci mata para bu-ibu yang penat menjaga anak seharian.
“Okay there, Rainier?” tanya Lyssa khawatir. Masih siaga depan rumah.
“Mm. Yeah, okay. Aku tunggu di Marchesi,” bilang Rainier, menyebut nama restoran Italia langganan mereka.
“Mm. Bye-Bye. See you.”
Lyssa pelan mulai menyetir, sayang sekali, begitu sampai jalan raya, jalanan macet sekali. Jam pulang kerja. Lyssa sampai tak sabaran memencet klakson berkali-kali, sama seperti para pengendara yang terjebak macet di lampu merah.
Sementara itu Rainier. Baru juga dia sampai di restoran, Yuda tiba-tiba nangis lagi. “Mommy. Mommy. I want my Mommy,” tangisnya.
Raja yang sudah berhenti menangis melihati kakaknya, lalu ikut nangis juga. “Mommy. Mommy!” jeritnya.
Rainier benar-benar menulikan diri. Masuk resto dengan bocil gemoy yang menangis keras dalam gendongan.
“Selamat malam, Bapak. Selamat datang-”
“Berempat, belum reservasi,” balas Rainier, memotong kalimat protokoler pelayan resto.
Pelayan itu cepat tanggap. “Baik. Mari. Mau di family zone atau-”
“Terserah. Cepat.”
Si pelayan kesal sih kesal, wanita itu melirik Rainier, begitu melihat ketampanan Rainier langsung tak jadi kesal. “Mari!” katanya penuh semangat.
Raja yang tadinya menangis karena ikut-ikutan kakaknya sudah berhenti menangis, tinggal Yuda saja yang masih memanggil, “Mommy! I want my Mommy. Mommy.”
Apa ya? Rainier itu meski tak banyak bicara, tapi kehadirannya saja sudah penuh aura. Lelaki itu berjalan dalam diam, tapi para pengunjung restoran sudah lirik-lirik. Keberadaan dua bocil dalam gendongan semakin menarik perhatian.
“Wah. Lucunya,” ucap beberapa pengunjung wanita.
Raja yang merasa dipuji malah semakin berpose, tersenyum sok tampan dengan pipinya yang chubby. Kalau Yuda sih, masih menangis. Sesenggukan mencari ibunya.
“Mari. Silakan duduk. Biar kami ambilkan pengaman anak-anak dulu,” kata pelayan.
“Ya,” jawab Rainier tanpa menoleh. Dia menurunkan dulu tas sport-nya, baru si Raja.
Begitu giliran Yuda-
“No. No!” jerit Yuda, tak mau diturunkan dari gendongan papanya. Beruntung Raja mau didudukkan.
Rainier mengembuskan napas perlahan, berdiri sembari menggendong Yuda. Tangannya tak sabaran mengeluarkan handphone dari dalam saku celana, memeriksa pesan dari istrinya.
“Macet banget,” pesan dari Lyssa.
“Oke,” balas Rainier. “Hati-Hati di jalan.”
Di restoran luas yang ramai tersebut, banyak pasang mata melihati Rainier. Rainier sebenarnya lebih mirip model sih, berdiri tegap dengan anak di gendongan dan handphone di tangan kanan. Wajahnya datarnya meski dalam hati tak sabar ingin Lyssa segera datang.
“Maaf. Maaf,” kata pelayan, datang untuk memasang pengaman di kursi Raja juga di kursi sebelah untuk Yuda.
“Sudah siap memesan, Pak?”
“Bentar,” kata Rainier.
“Oh. Baik.”
Pelayan itu pergi, lalu datang pelayan yang lain menghidangkan air putih. Raja ceria mengambil gelas untuknya, menyesap-nyesap sembari ceria menyanyikan lagu anak-anak.
Rainier masih sibuk menimang-nimang Yuda, tak sempat memperhatikan Raja sampai putra bungsunya itu memanggil.
“Daddy. Gelasnya jatuh,” lapor Raja.
Rainier menoleh. Melihat baju warna kuning yang dipakai Raja basah kuyup, sudah begitu genangan air di lantai resto, juga tetes-tetes air yang masih menetes dari kursi putranya.
Seorang gadis dari meja sebelah datang. “Ada yang bisa saya bantu?” tawanya ramah. Disorak keras oleh teman-teman rombongannya.
Rainier nge-lag, melihat gadis muda di depannya. “Tidak, terima kasih,” jawabnya saat melihat pipi gadis di depannya bersemu merah.
“W-Well, okay.” Si gadis itu malu-malu kembali ke mejanya, disorak lagi oleh teman-temannya.
Rainier sih no s**t, no care. Sama sekali tidak peduli. Ada cewek yang mau deketin saja, sudah langsung dia hentikan. No PHP, no drama. Menunjukkan sedikit kertertarikan saja, langsung Rainier singkirkan jauh-jauh.
“Pelayan,” panggil Rainier.