Esok harinya, pasangan Lyssa-Rainier sama-sama bangun kesiangan. Itu pun karena ponsel Rainier bergetar terus. Sementara Rainier berteleponan di teras, Lyssa yang masih super mengantuk meraba-raba meja, mencari telepon genggam miliknya. Mata ngantuknya blur saat melihat, berusaha tapi masih tak bisa membaca. Dia pun menyerah, kembali rebah ke bantal. “Tidurlah lagi, biar aku yang jemput anak-anak,” kata Rainier. Pemuda itu duduk di sisi kasur, memijat-mijat punggung istrinya. “Jam berapa sekarang?” tanya Lyssa. “Setengah sebelas.” Keduanya tertawa, merasa bersalah pada orang tua Lyssa. “Coba cek hapeku, Mas. Mungkin ada pesan dari papaku.” Kini, mereka berdua sudah berbagi sidik jari, tak perlu memasukkan sandi dan sudah bisa saling mengakses handphone satu sama lain. Rainier, “Pa

