Berulang kali matanya melirik jam dinding yang ada di dinding kamarnya, ia juga tak berhenti memperhatikan ponselnya yang tidak menyala sejak tadi. Sesekali notifikasi masuk tapi bukan dari orang yang ia tunggu sejak tadi. Sudah 2 jam berlalu ia menunggu balasan Aira, atau berharap Aira menelponnya. Dari keadaan biasa saja hingga ia menguap untuk ke sekian kali karena lama menunggu Aira. Ia berdecak kesal, lalu beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar dengan meninggalkan ponselnya di atas tempat tidur. “Harus bikin kopi ini.” Gumam nya sambil membuka pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar dan pergi ke dapurnya sambil sesekali menguap dan mengucek matanya. “Mau ngapain lo?” Tanya Hanin. “Bikin kopi.” Jawabnya tanpa menoleh. “Ada yang mau datang?” Hanin mengikuti adiknya perg

