Duduk dengan menyilangkan kaki di atas tempat tidur sambil menatap lurus ke luar adalah posisi ternyaman yang Aira lakukan saat ini. Jam dinding yang terus berdetak menunjukkan pukul 11 malam, dan Aira masih sangat terjaga. Ia merasa terbebani dengan keadaan ini, ia tidak ingin bersama siapapun tapi ia sudah terlanjur memulai dan menyudahi yang sebelumnya. Ia melirik sudut kamarnya, tepatnya melihat meja belajar yang terdapat berbagai macam makanan di sana. Makanan yang tidak Aira beli, tapi tiba-tiba ada di sana. Ia menghela napasnya ketika mengingat kejadian tadi saat Afdal tiba-tiba mengatakan sudah ada di area rumahnya dan membawa sesuatu. Aira saat itu pusing bukan kepalang, ia benar-benar bingung harus bagaimana. Beruntung saat itu Ayah sedang keluar bersama Bunda, buru-buru sa

