Suara botol kosong terdengar nyaring di lorong sekolah, Aira tengah memainkannya sembari dipukulkan ke lantai. Ia kelewat bosan menunggu Arafah yang sejak tadi ada saja alasan untuk tidak menemuinya. Padahal niat Aira sangat baik, ia hanya ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua. Sayangnya, mungkin Arafah terlanjur menyimpulkan kalau ini bukan iktikad baik dari Aira. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sekitar 30 menit ia duduk sendirian di lorong. Ia sengaja tak membawa siapapun agar baik Arafah dan dia bisa berbicara dengan jujur tanpa rasa tidak nyaman karena adanya orang lain. Helaan napas terdengar beberapa kali, ia sudah menengok ke belakang untuk ke sekian kalinya. “Ya ampun udah kayak nunggu kepastian aja gue.” Gerutunya

