Sifa berkali-kali menghela napasnya, ia menyayangkan sekali hal ini bisa terjadi. Mengingat kejadian kemarin siang masih berputar-putar di kepalanya layaknya kaset rusak, di mana Aira terlihat begitu dekat dengan Faradina, sudah pasti ada pembahasan mengenai Langit di sana. Wajar sekali Aira melakukannya, ia juga tidak tahu tentang hal yang baru saja terjadi dan sedang disembunyikan. Tapi, kalau suatu saat Aira tahu hal ini ia akan malu pada dirinya sendiri. Baru saja menuangkan saus ke dalam mangkuk basonya, suara klakson motor membuatnya refleks menoleh. “Sif, duluan yaa..” Sifa tak langsung memberi respon, ia masih mencerna apa yang sedang ia lihat saat ini. Sepersekian detik kemudian baru lah ia mengangguk, sambil tersenyum tipis pada dua orang yang tengah berpamitan kepadanya. Set

