Sejak pukul 5 pagi, Aira sudah repot sendiri. Ia beberapa kali harus bolak-balik ke kamar mandi karena keadaan perutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Entah apa penyebabnya, Aira hanya ingat kalau kemarin ia sempat telat. Ia kini menghela napasnya, sambil berkacak pinggang di depan cermin ia menatap dirinya sendiri. Wajahnya terlihat lebih pucat, ia meraba kulitnya yang dingin karena keringat tidak berhenti membasahi area kaki, tangan dan wajahnya. Belum lagi tubuhnya yang sudah kehilangan banyak energi karena pagi ini ia sudah lebih dari 5 kali untuk buang air besar. “Gimana dong?” Batinnya sendiri, ia melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Sudah hampir pukul 6 pagi tapi Aira masih sibuk bolak-balik ke kamar mandi. Seragamnya masih tertata rapi di atas tempat tidur, Bunda yang me

