Sejak jam istirahat selesai, Sifa memperhatikan Aira yang terlihat berbeda. Ia terlihat gelisah, dan lebih sering mengecek pukul berapa atau bertanya pada Sifa. Ia juga terlihat berbeda karena lebih sering tersenyum, tidak seperti biasanya. Dalam keadaan ia sedang kecewa, ini adalah hal aneh yang ia tahu selama bersahabat dengan Aira. Aira yang kini tengah menulis selalu menyempatkan matanya untuk melirik ke luar kelas, entah apa yang dia cari, Sifa belum menegurnya. "Sif, jam berapa sih?" Kata Aira sambil menulis di bukunya. "Lo kenapa sih nanyain jam mulu? Dari tadi kayaknya beban banget. Lo kenapa?" Ini waktu yang tepat untuk menegur Aira. "Sif, gue mau pulang bareng." Ucapnya sedikit berbisik pada Sifa. Sifa yang sudah tahu jawabannya langsung memasang wajah bingung, dahinya

