Chapter 6—Tetangga Mama

2138 Kata
Pagi ini aku harus segera meninggalkan rumah atau Ratu Sihir itu akan segera menemuiku. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Mami gara-gara dia tahu semalam aku dan Brian menginap di hotel bersama. Padahal aku tidak tidur semalaman gara-gara bocah freak satu itu demamnya tidak turun-turun. Pagi ini demamnya turun dan dia sudah nekat untuk masuk kantor. Karena dasarnya Brian itu keras kepala, percuma saja melarang dia, jadi kubiarkan saja. Setelah aku sampai di rumah Mama. Ibu tiri terus menerorku dengan panggilan telepon dan pesan menanyakan apa yang sudah aku lakukan dengan Brian semalam. Yang Mami tahu Aku dengan Brian tidak sedekat itu untuk bisa memutuskan tidur bersama. Aku tidak tahu apa isi kepala Mami. Mungkin saja dia justru akan bahagia setengah mati kalau anaknya having s*x di luar nikah. Tolong diingat, Jenita itu sesat. Didikan yang dia berikan padaku banyak yang menyimpang dari ajaran norma. Mami itu adalah tipekal orang yang akan melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya dan untuk saat ini, keinginan dia adalah membuatku menikah dengan Brian secepatnya. Aku harus berpikir ke mana lagi harus menghilang kali ini, beberapa tempat yang biasa aku singgahi sudah tidak aman. Banyak mata-mata Jenita berkeliaran. Mengganggu Brian juga bukan jalan yang benar. Belum sempat otakku menemukan jawaban, aku mendengar suara mobil Mami. Bagaimana tidak hafal jika kemana-mana dia selalu menggunakan BMW 740 Li hitam miliknya padahal jejeran mobil lainnya banyak yang menanti di carport. Ini bukan waktunya membahas koleksi mobil, aku harus kabur sekarang. Aku mengendap-ngendap keluar melalui pintu halaman belakang menembus halaman samping milik tetangga Mama. Aku terdiam sebentar di depan pintu rumah tetangga Mama ini. Haruskah aku bertamu? Aku tidak tahu siapa penghuninya. Aku ragu, bagaimana jika dia orang jahat? Ingatanku memutar kembali pada adegan tempo hari. Aku masih belum tahu siapa laki-laki itu. Aku sudah meminta tim pengawas melihat CCTV tapi wajahnya tidak terlihat. Dia tahu bagaimana cara menyembunyikan diri dari kamera. Bermodalkan nekat, Akhirnya aku mengetuk pintu rumahnya beberapa kali. Aku tahu tindakanku ini cukup berbahaya dan sangat gegabah, apalagi aku sama sekali tidak mengenal penghuninya tapi aku tetap melakukan. Aku yakin kondisi otakku sedang dalam kondisi tidak penuh. “Siapa?” tanya seorang laki-laki yang usianya mungkin seusiaku, atau mungkin dua atau tiga tahun di atasku sedang membukakan pintu. Aku mematung. Aku mengamati pria itu dengan seksama. Wajahnya luar biasa tampan, putih bak porselen, tinggi, tubuhnya atletis. Sempurna. Melihat parasnya, aku jadi ragu pernah menuduhnya sebagai penguntit misterius yang sering menggangguku. Sepertinya aku memang dibutakan oleh paras. Sebenarnya aku menuduhnya seperti itu bukan tanpa alasan. Aku beberapa kali memergoki dia sedang memperhatikanku dari kamar rumahnya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Mungkin dia hanya sedang terpesona dengan diriku atau justru sedang merencanakan hal jahat padaku. Itu sebabnya aku harus selalu waspada dan jika memungkinkan aku akan menyelidikinya. Pria itu cukup terkejut dengan kehadiranku. Dia masih mematung di tempatnya. Of course, siapa yang tidak kaget melihat wanita cantik super memukau seperti diriku yang tiba-tiba menggedor pintu rumahnya di pagi hari. So beautiful view in the morning, right? "Permisi, bisa aku langsung masuk saja? Keadaan sangat berbahaya di luar," ucapku hiperbolis. Aku menerobos masuk tanpa merasa bersalah. "Untuk ukuran wanita terhormat seperti Nona, sepertinya anda cukup tidak memiliki etika. Sangat berbanding terbalik dengan yang media ungkapkan," ucap pria itu sarkas. Aku hanya tersenyum. Tanpa dipersilahkan, aku duduk begitu saja dengan nyaman pada sofa di ruang tamu miliknya. Membuat sang pemilik rumah menggeram tertahan. Sebenarnya aku cukup bimbang sekarang, perlakuan seperti apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi orang semacam ini. Melihat bagaimana attitude dan aura yang dipancarkan pria di depanku ini, ia adalah pria yang menjunjung tinggi adab dan kesopanan, bukan sembarang pria yang bisa aku dekati dengan mudah. Apalagi dengan cara kurang ajar seperti ini. Tapi, aku punya dua kondisi kenapa aku bisa berada di sini. Pertama, aku ingin menghindari Mami. Kedua, aku benar-benar ingin tahu siapa laki-laki ini. “Nama kamu siapa?" tanyaku. Aku berpikir lebih baik aku bersikap santai dan menunjukkan diri apa adanya. Terlalu melelahkan jika harus memainkan peran sebagai wanita anggun dan terhormat hanya untuk mencari atensi pria itu. Lagipula ini bukan kantor dan pria itu adalah tetanggaku. Anggap saja aku sedang mencari pembenaran diri. “Devan.” Laki-laki itu mengamati gerak gerikku. "Sepertinya saya sudah menyinggung terkait etika anda, tapi sepertinya anda justru tidak peduli." "Oke, aku minta maaf, Devan. Asal kamu tahu aku bukan tipekal orang yang suka minta maaf tapi kali ini aku sungguhan minta maaf." Zelline dan segala harga diriku yang tinggi. Memang seperti itulah diriku. "Dan ya, nggak perlu bersikap terlalu formal, aku bukan atasan kamu." Devan menghela nafas panjang. Dia terlihat malas menghadapiku. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi Nona—?" "Zelline. Aku yakin aku nggak perlu mengenalkan diri." Dia mengangguk. Meski bukan artis, aku cukup populer dan tampang memukauku sering wari-wiri di media sosial ataupun di media cetak. "Dan ya kita bertetangga. Bukankah kamu sering ngintip aku ya dari balkon kamar kamu?" Devan hampir tersedak ludahnya sendiri, dia terlihat seperti tengah tertangkap basah mencuri sesuatu. “Nggak sengaja, kamar kita berhadapan. Jangan mikir yang aneh-aneh!” Aku tertawa, manis banget sih. “Nggak masalah sih, palingan cuma jadi objek fantasi kamu.” Wajah Devan memerah, mungkin dia tidak habis pikir, gadis di hadapannya ini bisa sebegitu frontalnya. "Bantuin aku ya, Devan tampan, please!" Devan terdiam. "Aku harus kabur atau paling nggak menyembunyikan diri, Ratu Sihir lagi menggila di rumah." "Ratu Sihir?" "My Mom." "Kekanakan!" Dia terlihat sedang menyembunyikan rasa penasarannya. "Saya harus kerja, jadi kamu lebih baik pulang atau ke mana terserah. Saya nggak peduli." "Kamu kerja aja, aku numpang di sini ya." Devan mendelik. "Jangan ngaco, mana bisa saya terima orang sembarangan!" "Aku bukan orang sembarangan, Devan. Udah deh tenang aja, nggak bakal kok aku nyuri barang-barang kamu. Rumah dan aset-aset kamu aja bisa aku beli." Maaf. Aku memang diajarkan sombong sejak lahir. "Sorry Zelline, lebih baik kamu ke luar sebelum saya seret." "Kalau begitu aku ikut kamu aja bagaimana?" tawarku dengan mempertahankan segala sifat keras kepala milikku. Devan tampak berpikir. Kemudian dia menyetujuinya. Giliran aku yang bertanya-tanya. Semudah itu? Mungkin dia takut aku mengeksploitasi rumah dan barang-barang privasinya. * Aku menyesal mengikuti Devan. Aku sekarang paham kenapa Devan dengan mudah menyetujui tawaranku. Aku terlantar sendiri di ruang tunggu rumah sakit, sementara Devan ada jadwal operasi. Aku tidak tahu jika ternyata Devan adalah seorang dokter bedah umum. Aku beranjak mencari ruang kerja Devan, setidaknya aku harus menemukan hal-hal menarik tentang tetangga tampanku yang satu ini. Aku belum tahu terlalu banyak tentang Devan. Sepanjang perjalanan pun hanya aku yang mengoceh tanpa henti, sementara Devan akan membalas seperlunya dan memberi saran jika ucapanku kelewatan. Sepertinya lelaki itu hobi sarapan dengan lem sehingga membuka mulutnya saja kesusahan. Sesuatu yang aku tahu secara pasti, Devan adalah laki-laki yang baik dan berpikiran dewasa. Setidaknya, sampai detik ini itulah yang ada di dalam pikiranku. Meskipun, aku masih perlu mengetahui tentangnya lebih lanjut. Aku perlu memastikan dia laki-laki yang berbahaya atau tidak. Karena akhir-akhir ini aku semakin tidak bisa mempercayai orang-orang di sekitarku. Apalagi aksi teror yang beberapa kali mengganggu, otomatis membuatku ingin mencari tahu siapa dalangnya. Mungkin ini terdengar tidak adil bagi Devan karena aku harus mencurigai dia ketika dia 'mungkin' tidak melakukan apa-apa. "Permisi, apa Dokter Devan ada di dalam?" tanyaku sedang memainkan peran. Beberapa dokter muda yang tampan dan cantik—tapi tidak mengalahkan ketampanan Devan dan kecantikanku—menoleh melihatku yang berada di pintu ruang kerja mereka. Menurutku ruang kerja itu cukup sempit untuk ditempati sekitar tujuh dokter dalam satu departemen. Orang-orang itu melongo mendapati diriku berdiri di sana. "Anda Nona Zelline bukan?" Seorang dokter dengan name tag Bastian mendekatiku. "Maaf maksud saya, Dr. Devan sedang ada jadwal operasi." "Ah ya perkenalkan Saya Zelline Mabella. Ah sayang sekali, kalau begitu saya permisi dulu. Ngomong-ngomong terimakasih, Dokter Bastian." Bastian masih terdiam dan menatapku penuh tanda tanya. “Nona Zelline, jika tidak keberatan mungkin saya bisa menemani anda mengobrol,” tawarnya. “Apa anda teman Devan?” “Teman dekat mungkin.” Aku mengangguk. “Bagaimana kalau ke kafetaria saja?” “Oke, no problem.” Aku memilih duduk di kursi dekat dengan kaca. Aku memesan choco milk shake dan chocolate dessert, aku baru sadar jika aku sudah melewatkan sarapan. Bastian hanya menyamakan pesanannya dengan milikku. Sangat tidak kreatif sekali. Sekarang kita menjadi pusat atensi diantara pengunjung cafetaria. Beberapa menatap penasaran, ada yang mulai bisik-bisik manja, bertanya-tanya apa ada yang sakit serius diantara keluarga besarku. Aku mengacuhkannya, aku sudah terbiasa dengan atmosfer seperti itu. Sementara Bastian hanya tersenyum tidak jelas. "Udah nggak usah banyak drama. Ngapain lo nyariin si Devan?" tanya Bastian to the point karena ia sebenarnya sudah sangat kenal dengan diriku dan sepertinya dia sedang kepo berat. "Nggak bisa basa-basi ya lo, Bas? Tanya apa kek gitu?" Bastian memutar bola matanya malas. "Sejak kapan lo suka basa-basi? Udah jawab deh ah, kepo banget nih gue." Aku tertawa sebentar sambil melihat raut lucu Bastian, sahabat seperanjingan Brian dan Alden sejak SMP. Yaa meski Bastian yang paling lurus diantara kedua sahabatnya yang b*****t itu. "Bentar deh, Bas. Lo beneran temenan kan sama Devan? Jangan-jangan lo cuma ngaku-ngaku gara-gara kepo sama gue lagi." Bastian lagi-lagi memutar bola matanya malas. "Ya beneran, Nying. Ya kali gue ngaku-ngaku. Kurang kerjaan banget. Jadi lo sama Devan ada hubungan apa?" "Nggak ada," jawabku polos. Bastian menggeram tertahan. "Kalau lo bukan tunangan Brian dan sahabat kesayangannya Alden, udah gue getok deh kepala lo." "Kayak lo berani aja." Aku mengetuk-ngetukkan telunjuk sambil berpikir. "Gue sendiri nggak tahu. Devan itu tetangga mama. Baru ketemu aja sejaman yang lalu. But, he is so damn attractive, Bas." Bukan alasan utama sebenarnya. Devan memang menarik tapi aku tidak segila itu untuk jatuh cinta dengan orang yang baru saja kutemui. Harus digaris bawahi aku hanya sedang penasaran—mencari tahu informasi tentang dia sebanyak mungkin. Bastian mengamati wajahku dengan serius. "Heran deh gue, nggak lo, nggak Alden, nggak Brian cepet banget deh perasaan demen sama orang. Tapi ni ya Zell, its too early and Devan is so damn good. Jadi, mending lo mundur deh kalo cuma main-main." Aku menekuk muka sebal. Nah lo, si Bastian ceramah lagi kan. Heran sih bagaimana bisa dia kuat berteman dengan geng laknat semacam Alden dan Brian. "Gue nggak mainin anak orang kok, gue juga serius kali kalo pacaran. Ya dasar mantan-mantan gue aja yang bloon, udah dapat kayak gue masih aja cari yang lain, ya biar seru sekalian gue nyari juga." "Berarti Brian bloon dong," ejek Bastian sambil tersenyum miring. "Brian bukan mantan gue ya. lagian gue ingin tahu tentang Devan nih, jadi nggak usah bawa-bawa Brian ya. Gue nggak lagi main-main kok, cuma ingin tahu doang, kalo udah ada cewek ya udah. Tenang deh, temen lo nggak bakal gue apa-apain." "Ngeles aja lo kayak sepeda bekas," timpal Bastian sengit. "Setahu gue ya si Devan itu has no interesting at girls, so he hasn't any girlfriend." "Hah? Maksud lo Devan homo?" "Eh nggak gitu konsepnya! Gue belum selesai cerita." Bastian meraup mukanya kasar. "Duh maksud gue nggak gitu, Zelline. Devan itu hidupnya lempeng-lempeng aja, terlalu datar, terlalu lurus malah. Lebih lurus dari gue yang kadang masih oke diajak belok kanan Brian atau diajak belok kiri Alden. Yang jelas Devan tuh nggak tertarik buat menjalin suatu hubungan apalagi sampai pacaran. Gitu deh pokoknya." Aku terdiam, bergelud dengan batinku sendiri. Aku bukan perempuan bodoh, aku cukup cerdas dalam hal menilai orang. Aku sudah bilang kan kalau Devan terlihat sebagai orang yang baik, tutur kata dan perilakunya sangat beradab, Devan juga masih mau menghargaiku meskipun aku sudah berbuat seenaknya. Tapi tidak secepat itu aku bisa menyimpulkan. Banyak variabel yang perlu diperhatikan untuk bisa mengatakan dia adalah orang yang benar-benar baik dan bukan salah satu stalker yang sedang aku cari. Dari penjelasan Bastian, Devan adalah laki-laki yang baik dan tertutup. Sangat berbanding terbalik dengan diriku yang bar-bar dan tidak tahu diri ini. Akan sangat sulit mengorek-ngorek apalagi menjalin hubungan dengan Devan. Probabilitasnya sangat kecil mengingat laki-laki itu cukup dingin dan sulit untuk didekati. Sepertinya aku memang perlu gencar untuk mendekatinya. "Bas, bantuin gue ya buat deketin temen lo," pintaku dengan menampilkan senyum terbaik yang kumiliki. "Serius lo? Nggak main-main kan lo? Brian gimana?" "Serius nih, gue usaha juga kok. Brian?" Aku menjeda ucapanku, "Dia udah ada cewek baru kok, tenang aja." "Mantap, dapat topik ghibah baru. Lumayan lagi bisa ghibahin lo di depan dua curut kesayangan lo itu. Gue paling up to date mereka kudet." Bastian tertawa gembira. "Kok tangan gue gatel pingin nimpuk lo ya." "Eits gak gue bantuin lo." Aku hanya menatapnya jengah. "Oke deh oke, gue bakal bantuin lo. Gue bakal cerita baik-baiknya lo di depan Devan. Yang baik-baiknya doang pokok. Susah sih aslinya, jelek-jeleknya lo tuh kan lebih banyak soalnya. Berarti gaji gue tambah gede ya." Bastian nyengir. "Sialan lo!" Just wait and see! I am just curious, seberapa jauh aku akan mengenal dia dan seberapa besar dia akan masuk ke dalam ceritaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN