Aku paling benci dengan yang namanya makan malam keluarga. Meski hanya ada Mami, Mama dan Papa, pertemuan yang terjadi biasanya akan memakan waktu berjam-jam diisi dengan perdebatan absurd kita. Bisa saja terjadi cepat bila semua orang diam menutup mulut rapat-rapat. Membiarkan ibu tiri berkuasa, menyebarkan segala argumen tanpa sedikitpun mendebatnya. Sayangnya, aku bukan pendiam dan tidak bisa jika tidak melawan apabila tidak sesuai pemikiranku. Terimakasih atas didikan Ibu Tiri, aku sangat baik dalam mempertahankan argumen. Aku juga cukup cepat mengubah topik pembicaraan sesuai kebutuhan. Yah hal-hal semacam itu kerap sekali membuat Ratu Sihir murka dan mengeluarkan serapahnya.
Setidaknya untuk malam ini marilah kita berlagak seperti keluarga terpandang yang menjunjung tinggi adab dan kesopanan.
Kita sedang berada di restauran klasik yang pastinya mewah dan berkelas pada area distrik elite di ibukota. Mami tidak akan sudi menginjakkan kakinya di tempat biasa-biasa saja. Papa yang merekomendasikannya, Papa bilang sudah lama kita tidak makan malam bersama. Tentu saja, di tempat umum seperti ini, kita harus menjaga sikap.
"Bagaimana kabarmu, Princess? Sudah lama aku tidak melihatmu pulang, Zelline Mabella," sapa Mami sambil tersenyum luar biasa ramah. Padahal dia jelas-jelas sedang menyindirku karena malas pulang ke mansion yang ditempatinya dengan Papa.
Aku tidak menjawabnya dan justru berbicara pada Papa, "Aku pulang ke rumah Mama, di sana lebih dekat dengan kantor. Aku pikir Papa nggak akan keberatan dengan itu."
"Ya ya tidak masalah," balas Papa.
"Papa sendiri, how was your day?" tanyaku, sebenarnya aku malas berbasa-basi, berhubung itu Papa setidaknya aku perlu menghormatinya.
Aku meneguk berry breeze di hadapanku. Wow its little sour but give me so much freshness. Setidaknya berhasil memberiku kesegaran di tengah-tengah ketegangan keluarga.
"As always, your Dad is extremely busy, Darl! But he is oke after all" sahut Mami dengan senyum manisnya, tapi jangan lupakan aura mengerikan miliknya.
"Glad to hear that," balasku dengan senyuman seperlunya.
Aku mengamati ibu tiri yang duduk di depanku dan mama yang duduk di sebelahku saling melempar tatapan. Meskipun saling tersenyum. Kentara sekali jika ibu tiri tengah menunjukkan kuasanya, ia memamerkan diri pada Mama bila ia selalu bersama dengan Papa sepanjang waktu. Tidak seperti Mama yang diasingkan di luar mansion.
"Is it really just a normal dinner? Aku pikir kita bertemu di sini nggak hanya buat sekedar makam malam kan? so, what's happen?" Aku memulai pembicaraan, aku tidak ingin membuang waktu lebih banyak untuk sekedar berbasa-basi.
"Kamu memang selalu to the point, Zelline. Mami menyukaimu." Ibu tiri menyahut.
"Kita sudah lama tidak membicarakan ini, Zelline, tentang pertunangan kalian." Papa menjeda ucapannya dan menghela nafas panjang, "Papa harap kamu bisa memutuskan bagaimana langkah kalian berikutnya, lebih cepat dan bijaksana tanpa melibatkan pemaksaan ataupun pertikaian secara verbal."
As expected. Memangnya apalagi yang mau mereka bicarakan. Memintaku untuk segera menikah. But Sorry Papa, tidak untuk sekarang.
"Kamu sudah dewasa sekarang, Mami rasa kamu harus bijaksana dalam menjalankan tanggung jawabmu." Ratu Sihir menimpali.
Aku memperhatikan Mama yang tampak terintimidasi sehingga tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku bahkan ragu apakah eksistensi dia di sini diperhitungkan apa tidak.
"Nggak perlu khawatir, aku nggak akan berlari ataupun main kabur-kaburan," Aku tersenyum miring—mengejek Mami. Tidak asik jika belum memicu keributan.
"Jangan berpikiran macam-macam, Zelline! Apalagi berpikir untuk mengakhiri pertunangan kalian!" Suara Mami mulai naik.
"C'mon Mi, berhenti berprasangka buruk. Nggak baik tahu buat kesehatan Mami. Mami tahu kan aku sangat peduli?" Aku menjawab tenang. "Tapi jika Mami menyarankan demikian, haruskah aku mencoba?"
Jenita menggeram, "Singkirkan segala rencana licik di kepalamu, Mabella!"
"Aku bahkan nggak mikirin apapun, harus ya aku mulai menyusun strategiku sekarang?"
"Kamu tahu kan Mami bisa bertindak jika kamu aneh-aneh?" Tatapan Jenita begitu mengintimidasi, dia tidak pernah main-main dengan ucapannya
"Dan Mami juga tahu, aku juga bisa melakukan seperti yang Mami lakukan." Aku tidak mau mengalah.
"Zelline!"
Aku tertawa dengan anggun melihat respon Mami.
"Pa! Apa Mami lupa check up kesehatan rutin ya? Kayaknya darah tingginya naik di level yang sangat mengejutkan,” ujarku kelewat santai.
Aku melihat Papa dan Mama menahan tawanya. Kurasa lumayan memberikan sedikit hiburan untuk mereka. Ngomong-ngomong, mudah sekali memancing emosi Mami. Maaf ya, Mi, Aku hanya merasa tidak suka jika Mami terus memaksaku untuk melakukan apa yang Mami inginkan. Sekali-kali memberontak sepertinya tidak masalah.
"Kalian masih baik-baik saja, kan? Maksud Papa, kamu dan Brian."
Aku mengangguk. "Tentu, too good more than Papa dan Mami can imagine."
Setelah menjawab dengan percaya diri. sepertinya aku justru mendapat karma yang instan. Aku melihat mereka—Brian dan pacarnya—bergandengan mesra masuk restauran. Beruntung Mami dan Papi duduk membelakangi pintu masuk.
Aku mengumpat dalam hati. Semoga tidak ketahuan. Kenapa dari sekian tempat, dia harus kencan di tempat ini? Aku segera menghubungi dia dan sialnya Brian tidak menjawab. Dia yang selingkuh kenapa harus aku yang kebingungan. Tidak juga sih, ini bukan perselingkuhan, karena aku yang meminta, agar kita melangkah di jalur masing-masing—sebelum benar-benar memutuskan untuk menikah. Masalahnya, keluarga tidak boleh tahu atau perang dunia ketiga akan dimulai.
"Kamu kenapa?" tanya Mami yang sepertinya sadar dengan kegelisahanku.
"Nothing."
Aku masih setia mengirim pesan ke Brian dan sesekali melihat tempat mereka duduk.
Mami menatapku lalu mengedarkan pandangannya. Mami ini tipekal orang yang peka sekali. No, Please! Jangan menengok! But, ya, sepertinya Mami melihatnya.
"Brian makan malam dengan sepupunya di sebelah. Sebenarnya aku ragu mengatakannya, haruskah dia menyapa kalian atau nggak? I mean karena pertemuannya seperti ini mungkin bisa memicu ketidaknyamanan." Aku berkilah secepat mungkin sebelum mendapat pertanyaan.
"Nggak perlu. Kamu saja yang ke sana, temui dia." Mami membalas santai.
"Ha?" Ke sana? Mengganggu dating orang maksudnya? Jangan bercanda!
"Kayaknya lebih baik aku di sini aja. Bukannya nggak etis ya kalau aku meninggalkan acara makan malam keluarga demi menemuinya?" Sumpah demi apapun aku tidak ingin menjadi obat nyamuk nantinya.
Mami tertawa kecil lalu menatapku tajam. "Sejak kapan kamu peduli tentang keluarga, Mabella? its so funny, Dear. Berhenti mencari alasan dan temui Brian!"
Oh Damn! Sekali Ratu Sihir tetap Ratu Sihir.
"Apa jangan-jangan kalian sedang ada masalah?" selidik Mami.
"No! We are fine. So much fine."
"So, go ahead!"
Perintah mutlak Mami tidak bisa kuhindari lagi. Dengan langkah malas, aku berjalan menuju ke arah Brian. Beruntungnya mereka tidak memilih couple seat. Setidaknya, aku langsung bisa duduk di sebelah Brian tanpa harus banyak drama.
"Hello, numpang duduk ya," ucapku sambil bersandar pada sofa.
Mereka berdua menatapku dengan tampang terkejut. Of course, kehadiranku memang tidak diharapkan di sini. So what? I have no choice.
"What—did, you do?" Brian memandangku dan gadis di depannya ini bergantian. Kurasa dia sedang kebingungan menghadapi situasi sekarang.
"Me and my family have dinner and we saw u here. So, i dont have any options except come to you like this." Aku menjelaskan dan Brian semakin terkejut—dia membelalakkan matanya.
"Don't worry! Just ignore me!"
Keadaan sangat canggung. Aku hanya mengamati Brian dan gadis di depannya itu makan dalam diam. Aku yakin gadis itu tahu siapa diriku. Dia tidak berani mengangkat muka apalagi sekedar melirikku. Aku cukup terkenal di media sosial dan orang-orang cukup tahu aku sudah bertunangan dengan laki-laki di sampingku ini. Kurasa dia sangat tahu diri tapi sebenarnya bukan itu yang aku inginkan. Aku bahkan berpikir akan lebih baik jika mereka bermesraan di depanku daripada diam-diaman seperti ini. Sangat menyebalkan.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi," ucap gadis itu tiba-tiba.
"Kamu mau ke mana?" tanya Brian lembut sambil memegang pergelangan tangannya.
Gadis itu melepas genggaman tangan Brian dan pergi begitu saja. Aku pikir Brian akan mengejarnya atau paling tidak mengatakan sepatah dua patah kata untuk menahan gadis itu ternyata dia justru melanjutkan ritual makannya.
"B? nggak dikejar itu?" tanyaku penasaran.
"Nggak, kan dia sendiri yang mau pergi. Buat apa kejar-kejaran. Kayak lagi syuting drama aja. Lagian aku udah ditemenin sama kamu sekarang."
Speechless.
Memang ya ketemu spesies kadal gurun seperti Brian ini harus hati-hati.
"Udah makan?" tanya Brian.
"Nggak nafsu. Tahu sendirilah Mami kayak gimana. Alamat keselek kalau makan sambil debat sama Mami."
Brian terkekeh lalu tersenyum hangat. "Makan di sini ya? Aku temenin. Your health is priority, Zell. Nanti ngeluh sakit lagi, kalau nunda-nunda makan."
Brian ini tipekal orang yang sangat pengertian dan tahu cara memperlakukan wanita dengan sangat baik. Oh ya jangan lupa kemampuan memainkan mulut manisnya itu tidak perlu diragukan lagi. Para gadis biasanya akan langsung terpikat hanya dengan rayuannya belaka. Sayangnya belum berlaku untukku, mungkin karena sudah paham kebusukan dia.
"Later, please! Beneran lagi nggak nafsu."
"Oke-oke, aku nggak maksa. Atau mau pindah tempat?" tawar Brian. Aku berpikir, hangout berdua dengan dia sepertinya bisa make mood up.
"Nggak deh, B. Kalau tiba-tiba kita pergi, Mami pasti bakal mikir yang aneh-aneh. Aku beneran malas diintrogasi Jenita."
Dia tertawa. "Ngomong-ngomong, bukankah seharusnya aku menyapa mereka?" Brian melirik ke arah Mami, Mama dan Papa yang masih di sana.
"Nggak perlu! Eh nggak apa-apa sih kalau kamu siap ditanya-tanya Mami dan Papa." Aku menantangnya. Aku yakin 100% Brian memilih untuk menghindari Mami seperti diriku.
"Ditanya-tanya? about that?"
Aku mengangguk dan dia berdehem.
"Better kamu di sini aja, oke?" Brian mengangguk.
Aku rasa telinga Brian sama-sama panasnya seperti milikku karena setiap bertemu dengan Mami, topik yang dibahas akan selalu sama. Brian tahu betul bagaimana sifat Mami dan Papa. Mereka adalah kolega bisnis, tidak mungkin tidak bisa membaca karakter masing-masing. Mengenai Mama, Brian hanya tahu jika dia istri kedua Papa, no more. Brian juga tidak tahu who really i am dan who is my real mother. Karena sampai kapan pun, its just secret between our family.
"Cewek yang tadi siapa? Kenalin dong, biar nggak canggung kayak tadi. Cantik sih dia, but still, i am more beautiful," ucapku menyombongkan diri.
"Indeed, Zell. No one can bet you. Nggak usah dikenalin lah. Besok udah mau aku putusin. She is not interesting at all."
Aku memutar bola malas. Alasan macam apa itu. "Menarik yang kayak gimana? Kamu lagi nyari pasangan hidup atau nyari partner buat sirkus sih?" tanyaku sinis.
"Minimal kayak kamu lah Zel baru nanti aku pertimbangkan." Dia menggodaku.
"You have too high standard, Dude! Turunin dikit lah. Brian sayang, nyari cewek kayak aku aja sulitnya minta ampun, apalagi yang gradenya di atas aku, yang ada kamu ditolak duluan." Aku mencibirnya.
Dia tertawa. "Ya udah, paling nggak mendekati kamu aja deh."
"Kenapa harus nyari-nyari lagi sih Yan kalau standarnya aja ada di depan kamu." Aku penasaran respon apa yang dia berikan.
Dia tersenyum. "Because you want that, Zell. Karena kamu ingin mencoba dengan yang lain."
But still, Yan. Kalau kamu serius sama aku, you didnt do this one. You shouldn't agree what i want. You will fight for me till the end. Tapi kenyataannya, you just accepted. It show, kalau sebenarnya itu bukan hanya keinginanku tapi keinginanmu juga.