Chapter 8—Another Friend

1724 Kata
Aku selalu bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa menemukan cinta sejatinya. Bagaimana mereka bisa tahu jika seseorang yang dipilih memang bagian dari hidupnya. Apakah berganti-ganti pasangan untuk menemukan our right one adalah metode yang benar? Nyatanya aku tidak menemukannya sampai sekarang. Aku masih sendiri. Belum menemukan kebahagiaan yang kata orang-orang mampu mengubah dunia mereka. Apa karena dari awal memang bukan itu tujuan utamaku. Karena aku hanya bersenang-senang untuk diriku sendiri? Menjalani hidup baik-baik seperti kebanyakan orang tidak berlaku untukku. Aku memiliki kehidupan yang berbeda. Aku hidup dengan segala pengaturan yang sudah disiapkan. Terkadang aku hanya ingin melakukan semua sesuai keinginanku sendiri. Tapi nyatanya tidak bisa. Yang bisa kulakukan hanyalah bertahan, mencoba mencari kesenanganku sendiri, meski ya hanya sementara. Banyak tragedi dan komedi yang menyerang hidupku. Tapi jika itu menyangkut pasangan dan asmara, aku benar-benar tidak memiliki petunjuk. I dont have any idea. Aku hanya berhubungan dengan mereka-mereka yang sesuai dengan tipeku, itupun berubah sepanjang waktu. Hubungan yang aku bangun tidak pernah lama. Semua syarat akan mencari keuntungan masing-masing. Bahkan dengan Brian, dia termasuk laki-laki pilihan Mami dan kita berhubungan juga karena bisnis. Kalau dipikir-pikir perjalanan asmaraku sangat monoton dan tidak berarti. Aku ingin mencoba pada kesempatan terakhir ini—sebelum paksaan menikah dari Mami—untuk bertemu dengan seseorang yang kata orang-orang bisa membuatmu terbang dan tenggelam. Tapi kenapa rasanya sangat menyebalkan ketika Brian, yang katanya tidak suka dengan ideku untuk menjalin hubungan dengan orang lain justru sudah berkali-kali ganti pasangan sementara aku masih berhenti di sini, tidak banyak bergerak tenggelam dengan pekerjaan. "Too early to come here, Nona Muda," sindir Teressa, satu-satunya temanku selain Alden yang bisa dipercaya dan tidak munafik. Aku mengamati sekitar—keadaan sangat sepi. Pegawai Teressa sepertinya sudah pulang. Actually, its too late, bahkan mungkin kios bunga milik Teressa ini akan tutup dalam beberapa menit kemudian. Sebenarnya aku tadi ingin ke tempat ini lebih awal. Sayangnya pekerjaanku belum mengizinkan. "Hehe i just want to meet you, Bestie." Jawaban bodoh yang terlontarkan dari mulutku. Aku hanya sedang merasa kesepian dan butuh teman curhat. Aku tidak punya teman. Curhat dengan Brian sangat tidak mungkin karena dia objek curhatnya. Sementara Alden berada di Bandung karena ada pekerjaan. Im lonely. "Let me help you! Maksud gue let me be your assisten today, bersih-bersih atau bantuin apa gitu? Gimana?" tawarku. Meskipun aku yakin sudah tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan lagi. Sudah terlalu malam. "Nggak-nggak, big no! Zell, lo ingat terakhir kali lo bantuin gue. Lo justru bikin bunga-bunga gue berantakan semua. Please, mending lo stay di situ aja. Nggak usah bergerak!" Aku tidak menjawab dan hanya mengekor ke mana pun Teressa pergi. She is busy but dengan tidak tahu diri, i keep disturb her. "Sekali aja deh. How about take care our customer?" "Nggak perlu, nggak akan ada customer, udah malam." Penolakan yang halus tapi terdengar masuk akal. Bersamaan dengan ucapan Teressa, sebuah alarm berbunyi menandakan ada customer yang masuk. Aku segera berlari dengan semangat tidak menghiraukan Teressa yang memanggil. "Selamat malam! Ada yang bisa saya bantu?" sapaku dengan ramah. Cosplay menjadi pegawai toko sangat menyenangkan. "Saya mau nyari bunga untuk ulang tahun Mama saya, Mbak." Suaranya sangat berat and his appearance look good. Malam yang indah untuk cuci mata. "Actually, this one will be good for your Mom." Aku mengambil sembarang bunga yang terlihat cantik—berwarna ungu muda. Aku bahkan tidak tahu apa namanya. Semoga artinya tidak buruk. Misalnya saja bunga ini melambangkan kematian, dia pasti akan dikutuk oleh Ibunya seumur hidup. "Kalau boleh tahu ini namanya apa ya, Mbak?" Thats a good question, karena aku bahkan tidak tahu apa jawabannya. Sangat tidak masuk akal jika aku harus berselancar di internet untuk menemukan jawabannya, it will take a long time dan menunjukkan ketidakprofesionalanku. "Untuk penjelasan lebih lanjut, Nona Teressa yang akan menjelaskan," jawabku sok bossy. Aku melempar pandangan ke arah Teressa yang menggeleng-gelengkan kepala—dia sangat maklum dengan tingkah lakuku. Aku hanya mengamati Teressa menjelaskan bunga-bunga yang menurutku sama saja itu. Apa bedanya dan kenapa harus memiliki perbedaan arti—really clueless. Satu-satunya bunga yang aku pahami adalah bunga bank, i love that and it will make my youth evergreen forever. Sementara mendengarkan ocehan Teressa, sepertinya aku menjadi salah fokus. I mean this guy look okay. Not for me bacause he is not my style but for my agency. Tapi aku tidak tahu apa pekerjaannya sekarang dan berapa usianya. "Mas, kalau boleh tahu, Masnya kerja di mana?" So i decided to ask him. "Di kementerian sosial, Mbak." Oh, pekerja plat merah ternyata. Unfortunately, i dont have an opportunity. Siapa yang mau melepaskan pekerjaan paling stabil dan menjadi idaman para mertua untuk dikonversi menjadi seorang model yang selalu dipandang rendah. Aku hanya bisa menatap iba, iba pada diriku sendiri. Aku belum sempat menawarkan tapi rasanya sudah pasti ditolak. "Maaf Mbak saya sudah menikah," ucapnya tiba-tiba. "Hah?" What the hell did he mean?! "Soalnya Mbak daritadi lihatin saya. Saya takut menimbulkan fitnah." "Hah?!" For the God sake! Aku tidak punya kata-kata lagi untuk dikatakan. "You have over confident, Dude. Rendahin dikit, Mas, takutnya ketinggian nggak bisa turun. Just in case, kalau bosen jadi pegawai negeri you can come to my agency," ucapku sambil menyerahkan kartu nama lalu berjalan menjauhi laki-laki yang melongo itu. Literally, my mood just go down. Mungkin jauh lebih rendah lagi sampai terpelosok ke ujung jurang. Aku hanya berjalan dengan lesu lalu merebahkan diri di sofa dalam kantor Teressa. "Am i kelihatan ganjen banget sampai dia mengira seperti itu?" tanyaku pada Teressa yang baru masuk ruangan. "Yes or no." "What do you mean?" "Kalau ganjen sih nggak cuma lo lihatin dia sampai sebegitunya. Siapapun akan berpikir kalau lo menaruh minat sama dia." "Literally, gue emang tertarik sama dia in different case. Udahlah. Never mind!" Tidak ada gunanya juga membahasnya. "Lo mau ngajakin gue hangout atau apa nih malam-malam ke sini. Masih ingat punya temen?" Aku mengamati gurat wajah lelah Teressa. "Nothing, cuma mampir aja." Aku bukan spesies orang yang akan datang hanya karena sekedar mampir. Itu sangat membuang-buang waktu. Apa yang aku lakukan pasti memiliki alasan, bahkan hanya untuk sekedar mengirim pesan. Malam ini, aku ingin curhat. Tentu saja tentang Brian dan kehidupan asmara ku yang membuat diriku menjadi orang paling labil sedunia. Percayalah, aku orang yang menyukai kestabilan tapi hal ini selalu mengusik dan mengombang-ambingkanku. "Kebiasaan nggak jelas. Sebentar lagi gue mau close. Lo balik apa tidur di sini?" tanya Teressa sambil membereskan perlengkapannya. She has no clue afterall. Ya mungkin karena aku suka do random things. Aku hanya berdecak setengah sebal setengah prihatin. Padahal sekarang aku sedang mencari teman. Tapi keadaan tidak memungkinkan, Teressa sedang tidak dalam keadaan bisa mendengarkan ocehanku—meskipun sebenarnya dia akan tetap mendengarkannya. "Gimana ya?" gumamku. Teressa menunggu jawabanku lalu membuang nafas sebal karena tidak kunjung mendapat jawaban dariku. "Gue balik aja deh," finalku. "Dijemput Brian?" tanya Teressa. "Nggak, kan gue bawa mobil. Lo mau nebeng?" "Beda arah, Non. Udah balik saja sana. Kalau mau main agak sorean, salah sendiri lo datang pas gue mau close." "Iya deh iya, gue cabut." Tidak ada lagi hal lain yang ingin kulakukan, jadi aku memutuskan segera pulang. Mengistirahatkan tubuh. Berendam di bak mandi sepertinya opsi yang menarik. Aku bisa tidur dengan nyenyak setelahnya. Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Aku segera menyalakan mobilku dan mengendarainya. Kalau dipikir-pikir aku wanita yang terlalu mandiri. Kemana-mana sering sendiri. Melakukan apapun juga sendiri. Hanya beberapa kali bersama Alden, Brian dan Teressa. Aku juga tidak menggunakan layanan sopir meski Mami sering memaksa. Berkendara sendiri lebih baik menurutku, aku bisa pergi ke manapun. Tapi kenapa malam ini rasanya menyedihkan sekali. Im so lonely. Aku terus mengemudi hingga suatu hal berhasil menarik perhatianku. Aku melihat ke arah spion dan memelankan laju mobilku. Ini firasatku saja apa memang sebenarnya, mobil fortuner putih daritadi seperti sedang mengikutiku. Aku masih memelankan laju, jika dia tidak berniat mengikuti seharusnya mobil itu sudah menyalip—banyak space di samping dan depanku. Aku mencari tempat untuk menepikan mobil sementara. Aku perlu meyakinkan diri jika mobil itu hanya kebetulan saja berada di belakangku. Aku segera menghentikan mobil. Berdiam diri memainkan ponsel dan sekali-kali melirik ke spion. As expected, mobil itu ikut berhenti. "Oke, calm down, Zelline!" ucapku menenangkan diri. Meskipun itu tidak berhasil. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa seperti sering diikuti oleh seseorang dengan intensitas yang tinggi. Hal itu yang membuatku merasa terganggu. Aku masih perlu berpikir positif. Bisa saja itu orang-orang suruhan Mami. Mami punya banyak mata-mata untuk mengawasi tingkah lakuku agar tidak ke luar jalur dari track yang sudah ia siapkan. Aku menghubungi Mami. Aku perlu mengkonfirmasinya. "Mi, lagi sibuk?" sambarku dengan pertanyaan ketika Mami menjawab panggilanku. "Are u drunk?" Mami balik bertanya. "Hah?" Sepertinya hari ini aku terlalu banyak menggunakan kosa kata ini. "Nggak biasanya aja kamu tiba-tiba telepon Mami. If you dont remember, you always reject my call for thousand times." Ini bukan waktunya bertengkar. "Ok Mami, Im so sorry, very very sorry and im not drunk. I just want to ask you about something." "Just say!" "Mami lagi minta seseorang buat ngestalking aku?" tanyaku langsung. Terdengar helaan nafas berat dari seberang. "Kamu memang lagi mabuk sepertinya. Di mana pun kamu berada, cepat pulang. Kalau bisa minta dianterin Brian." Tidak mungkin. Brian sedang berkencan sekarang. Bisa tidak sih tidak perlu menyinggung tentang laki-laki itu. Aku sedang sensitif. "Mi!" "No, Darling. Mami lagi nggak minta siapapun buntutin kamu. Kalaupun iya, kamu udah hafal orang-orang Mami." Benar juga. Dan yang dibelakang itu look so strange for me. Ya meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, aku hafal postur tubuh klenik-klenik Mami itu. "Anything happen? Atau kamu lagi merencanakan hal-hal yang tidak berguna?" tanya Mami penasaran. Kenapa sih pikiran Mami selalu dipenuhi hal-hal negatif terhadapku? "Nothing. Thanks, Mi. Aku tutup dulu." Lalu mereka siapa? Aku berpikir sebentar. Setidaknya aku berhenti di tepi jalan raya, ramai orang. Hanya orang bodoh yang akan melakukan tindak kriminal di tempat terbuka seperti ini. Dia akan mati menjadi amukan massa. Aku memutuskan untuk turun dari mobil. Berjalan ke belakang, memastikan siapa mereka. Bukannya aku tidak punya rasa takut, jantungku bahkan sudah berdenyut tidak karuan. Setidaknya aku membawa beberapa alat self defense di tas. Aku terus berjalan mendekati mobil itu. Semakin dekat. Namun tiba-tiba mobil itu mundur lalu melaju ke jalan raya dengan kecepatan tinggi. "Damn!" Lagi-lagi aku merasa dipermainkan. Apa sih maunya? Hanya ingin membuatku merasa tidak tenang. Yah siapapun itu dia berhasil. Aku menjadi banyak gelisah dan menaruh banyak curiga. Oh God, please help me!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN