Chapter 9—Curhat

1876 Kata
Aku tidak bisa tidur. Benar-benar semalaman dengan mata terjaga. Ini bukan tentang semulut penuh kafein yang nyatanya tidak banyak berguna dalam membuatku terjaga tapi aku tidak bisa tidur justru hanya karena terus memikirkan hal-hal tidak penting karena kelakuan orang-orang yang sepertinya tidak penting juga. Ya bahasa lebih mudahnya aku overthinking semalaman. Mungkin lebih tepatnya gelisah. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Apa maunya dan bagaimana mengatasinya. Tapi tidak satupun jawaban berhasil aku temukan. Aku beranjak dari meja rias untuk menyibak tirai kamar. Berdiri diam memandang ke arah langit lepas berharap bisa menikmati pemandangan sunrise yang indah tapi kenyataannya justru terhalang gedung-gedung pencakar langit di depan sana. Aku tidak pulang semalam, tidak ke mansion atau tidak juga ke rumah Mama. Aku pergi ke apartemenku sendiri. Hanya ingin untuk menyendiri tanpa mendapatkan gangguan dari siapapun itu. Aku mengambil ponselku di laci sebelah tempat tidur. Aku mematikan ponselku setelah kejadian diikuti mobil yang tidak dikenal semalam. Sekarang aku mulai mengecek satu persatu pesan dan panggilan masuk barangkali ada yang penting. Brian, sebagian besar pesan dan panggilan tidak terjawab berasal dari dia. Ya sebenarnya hal itu terjadi karena aku memang sedang mengacuhkannya seharian kemarin dan karena itu dia menghubungiku tanpa jeda. Selain itu aku melihat pesan dari Alden. Alden: Lo berantem sama Brian? Ada apaan sih Zel? Mana cowok lo terus-terusan gangguin gue. Bilangin deh Zel gue tuh lagi kerja, jauh dari peradaban lo berdua. Masak iya dia nuduh gue ngumpetin lo. Gila nggak itu anak?! Aku tertawa kecil melihat pesan Alden dari semalam yang baru sempat aku buka. Me: So sorry ma boy, just ignore him wkwkwk Tidak berselang lama aku mendapat panggilan langsung dari Alden. Maybe he want to complain because he is pretty sick to hear Brian's s**t. "Morning, Boy!" sapaku sambil merebahkan diri di kasur kembali. "Wanna tell me about something?" Dari nada suaranya dia terlihat sangat penasaran. Rasanya seperti dia sedang mendesakku untuk menumpahkan apapun itu. "What do you expect?" tanyaku. "What can i expect from you, Mabela?" Nada suaranya mengejek. Benar-benar sialan. "Gue nggak bisa tidur semalaman. Gue—" Aku menjeda ucapanku. Sedikit berpikir apakah aku harus menceritakannya atau tidak. I mean about that crazy stalker yang belum jelas identitasnya itu. "I see, I see. Brian so did. He told me that he couldnt sleep over night. Dan lo tahu, itu sangat mengganggu gue." Brian? Couldnt sleep? What happen? "Say anything to me, Zell! Minimal kasih tahu gue kenapa lo menghindari my bastard friend. Jadi, biar gue bisa jawab ke dia. Lo tahu temen gue satu itu kalau lagi freak malesin banget rasanya gue kayak dikejar-kejar sama rentenir." "Should i tell you?" Aku memandang langit-langit kamar sambil memilin-milin selimut sampai benar-benar kusut. Jika dia memiliki kemampuan berbicara dia pasti akan protes kepadaku. "Yes, please!" jawab Alden di seberang sana. "Apa ini sesuatu yang very important sampai-sampai seorang Zelline have a lot of doubts just for speak?" Aku menggeleng sebelum aku sadar jika Alden tidak akan melihatku. Aku memutuskan untuk bercerita mengenai Brian tapi tidak dengan stalker yang masih belum jelas itu. "Nggak juga, sebenarnya kemarin gue mau cerita sama Teressa, tapi nggak jadi. She was very tired to hear my absurd one." "Instead of me?" Alden menaikkan nada suaranya. "Pardon?" "Lo cerita ke Teressa daripada gue?" Aku menghela nafas sebal. Terkadang Alden sangat kekanakan. Aku membuang ponselku ke samping tempat tidur dan menyalakan speaker. Ini lebih baik daripada harus memegangnya sepanjang waktu. "Lo lagi jauh di sana, Ma Boy dan Terresa is closer than you. Perlu diingatkan lagi?" "Lo bisa menghubungi gue kan, Darling. Its not im being jealous because of her. I just want you know, meskipun gue lagi nggak ada di dekat lo, even gue lagi hangout in another galaxy, you can call me. Daripada lo nggak bisa tidur kayak semalam." Sesuatu yang membuat Alden menjadi one of the special things that i have ever had ya karena ini. Aku merasa seperti dia akan melakukan apapun untukku. Bahkan jika itu adalah suatu kebohongan aku hanya akan menganggapnya sebagai kebenaran. "Yah, gue inget. You have told me for thousand times." Masalahnya ada hal lain—tentang mata-mata—yang masih belum yakin untuk aku bicarakan. "Oke, then tell me now," ucapnya dengan suara yang mutlak memerintah. "Dua hari yang lalu gue ketemu sama Brian. He dated a girl, i dont have any idea who is she. But i ruined their dating. Itu bukan karena gue mau tapi karena terpaksa." "I see, Brian had told me earlier." Aku mengubah posisiku menjadi duduk bersandar di tempat tidur sambil memeluk bantal. "Poinnya bukan karena gue merasa bersalah karena udah gangguin mereka. Tapi gue ngerasa, gue kesal." Aku ragu apa benar istilah itu yang tepat menggambarkan apa yang aku rasakan. Tidak ada suara dari ponselku. Aku pikir mati, tapi ternyata Alden memang sedang tidak merespon. "Alden?" panggilku, memastikan dia masih di sana. "Ya." Dia menjewab, "Surprisingly, gue ulangi, gue bener-bener terkejut. Lo, terganggu sama mereka? Isn't that called cemburu, Zel?" Giliran aku yang terdiam. "I dont think so. Bukannya gue lagi denial. thats great kalau gue berhasil developing perasaan buat dia, i will very very happy that i finally could find my another happiness, tapi ini tuh lebih ke arah—" "Apa?" "Jealous. Yes right cemburu but—" "Kalau ngomong nggak usah dipenggal-dipenggal, Cantik!" protes Alden. Dia setengah menggeram di sana. Aku melanjutkan, "Kesal karena gue yang meminta break sama dia buat find new boy tapi dia with easily can find another girl sementara gue stuck di sini." "Oh God! Zelline Mabella please, my sinting girl! Lo membuat gue ingin mengumpati lo sepanjang hari." Aku tahu jawaban itu sangat menyebalkan. Tapi itulah kenyataannya. Perasaanku, akulah yang mengetahuinya dan begitulah bagaimana aku mengartikannya. "Brian is not your competitor, Zell, he's not your rival, he is your fiance, Zelline! Your fiance!" Alden terdengar sangat frustasi. Aku ingin menjawab omelan Alden namun suara bel menginterupsi. Siapa pagi-pagi begini bertamu? Teressa? Aku melompat dari tempat tidur dan berlari menuju ruang tamu untuk membuka pintu sambil mendengar ocehan Alden di seberang. Aku melihat interkom sebentar. No one there. Aku membuka pintu apartemen pelan-pelan. Tidak ada apapun di sana. Aku menengok ke kanan dan kiri dan tetap tidak mendapatkan apapun—koridor sangat kosong. Tidak ada satupun manusia atau barangkali sebuah paket tergeletak. Aku menutup kembali pintuku dan berjalan ke ruang tamu. Duduk di sana dan menjawab Alden kembali seolah tidak ada yang terjadi. "Ada apa?" tanya Alden. "Kayak denger suara bel tapi ternyata nggak ada orang. Mungkin gue halu." "Really?" Ada suara keraguan dari sana. "Ya, of course." Aku meyakinkan. "Oke back to topic. Jadi, what about your mission?" tanya Alden. Misi mencari cinta. Oh s**t rasanya membuatku mual. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa memiliki ide untuk mencari what called love ketika aku tidak tahu apa arti yang sebenarnya. "I dont know, i have no ideas. Satupun nggak terpikirkan bagaimana caranya menemukan pasangan yang ideal secara materi dan jiwa. Kalaupun gue coba-coba seperti yang Brian lakukan, rasanya untuk sekarang gue nggak kuat. Itu terlalu melelahkan." "Kemana semangat lo yang membara seperti ketika pertama kali lo bilang ke gue kalau lo mau nyari pasangan ideal buat lo, biar lo nggak selamanya terjebak sama Brian yang lo sendiri bilang nggak ada harapan? Where do they go? I mean your spirit." "They are vanished. Lo tahu setelah merenung beberapa waktu, gue sadar kalau saat itu gue sedang emosi. Gue capek karena Mami—yang terus memaksa gue menikah—salah satu bentuk perlawanan gue adalah menolak apa yang Mami pilihkan— membuat dia marah—dan itu adalah Brian." Aku melanjutkan, "Tapi kenyataannya gue justru nggak berani ngomong sama Mami kalau gue udah membuat keputusan dengan Brian. Padahal niat awal gue ingin Mami marah tapi sebenarnya, gue takut. Dan semua udah terlanjur." Aku yakin pasti sekarang aku tampak menyedihkan di mata Alden. Menjadi manusia paling tidak konsisten di muka bumi ini. "So, tentang find your true love, is that just a bullshit?" Aku menggeleng lalu menjawabnya lemah, "Nggak sepenuhnya salah, i want that, menurut lo siapa yang nggak mau menemukan their soulmate? I do want that. Hidup dengan bahagia like a fairytale story. Tapi di keadaan gue, could i? I just try, meskipun I shouldn't have any expectations in my life." Aku tidak ingin terlihat semenyedihkan ini tapi aku tidak bisa menyembunyikannya—setidaknya di depan Alden. "Zelline? Are u alright?" "Ya, never mind." "Den, lo tahu apa yang gue pikirin sekarang?" Aku mengubah nada suaraku yang semula sendu menjadi sedikit jenaka. "No clue, setahu gue pikiran lo selalu dipenuhi hal-hal random yang bersifat absurd." Dan aku tahu kalau Alden juga mengikuti arus pembicaraan yang aku inginkan. He knows how to put himself. "Ya, no debate. Alden, actually I want to hug you right now." Tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar juga. "Zell, seandainya lo punya waktu untuk berimajinasi tentang kita alangkah baiknya keep your time untuk menemui Brian saja. Solve your problem together. Thats best advice for me daripada lo ngomong hal-hal absurd." Aku tertawa kecil sambil memainkan HP. "Im not, i do want to hug you." "I never believe what you say, im sure sebelum hal itu terjadi you will kick my ass first. Thanks." Aku mendengar suaranya seakan bisa melihat bagaimana raut wajah kesal Alden. "Go and face Brian. Gue males kalau dia terus menghubungi gue dan menjadikan gue tempat pembuangan sampah keluh kesahnya. Memangnya dia pikir hanya dia yang punya masalah. Except for you, you are always welcome to say anything to me." I know he didnt mean. Dia hanya ingin kita segera menyelesaikan apapun itu. Semenyebalkannya Brian atau sebrengsek-brengseknya Alden, mereka akan tetap menjadi tempat sampah satu sama lain. Begitu juga denganku. "Sorry Zelline, i have to finish our pretty conversation." "Yeah i know, take care of yourself, have great day." "So do you." Alden sudah memutuskan panggilan. Kemudian aku berpikir haruskah aku menemui Brian sekarang atau nanti saja. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan di akhir pekan seperti ini? Ting. Suara itu lagi. Suara bel apartemen yang sedari tadi berbunyi. Sudah delapan kali setelah bunyi yang pertama, aku menghitungnya. Aku mengabaikannya dari tadi atau lebih tepatnya berusaha bersikap biasa saja dan terus berbicara dengan Alden. Aku tidak mau dia tahu—setidaknya untuk saat ini. Aku beranjak dan melihat lagi ke interkom dan tetap. Tidak ada orang terlihat. Tidak mungkin hantu. I dont believe with something like that. Aku berdiam bersandar pada pintu. Pikiranku melayang-layang. Apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah siapa yang melakukannya. Aku berlari ke kamar. Segera mengganti pakaian dengan sebaik-baiknya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Lebih baik atau the best thing i can do right now adalah datang ke tempat Brian. Paling tidak orang-orang iseng atau siapapun itu tidak akan menggangguku ketika aku tidak sendirian. Tidak butuh waktu lama, mungkin lima belas menit kemudian. Im not sure, aku tidak melihat jam tadi yang jelas sekarang sudah pukul 09.00 dan aku belum makan apapun. Aku harus segera pergi, mampir membeli makanan sebelum bertemu Brian. Oke lets go. Aku menyambar tas, kunci mobil, hp, sepatu sambil berlarian ke sana kemari untuk meraihnya. Aku membuka pintu apartemen dengan hati-hati. Kosong. Aku berlari menuju elevator. Benar-benar mirip orang dikejar hutang. Sayangnya itu hanya sebatas perumpamaan, aku tidak tahu bagaimana rasanya dikejar-kejar hutang. Aku berdiri di depan pintu elevator dan elevator terbuka. "Brian?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN