Pintu elevator terbuka dan aku membatu. Aku tidak memikirkan kemungkinan hal semacam ini terjadi. Bertemu dengan seseorang yang aku hindari seharian membuatku tampak konyol.
"Zelline," Brian menyapaku dengan hangat sambil melangkah keluar elevator.
"Ah ya, where are you going?" tanyaku kikuk.
"Yours," jawabnya. Aku memang bodoh karena menanyakan suatu yang sudah jelas.
Aku terdiam karena tidak tahu harus berbuat apa. Untuk menyelamatkan harga diri seharusnya aku melangkah saja menuju elevator dan berpura-pura pergi tapi jika hal itu yang aku lakukan maka aku akan menghindarinya lagi. Padahal aku tadi memang berniat untuk menemuinya.
Aku masih berdiam diri memandanginya. Rasanya persis sama seperti pertama kali aku melihatnya di restauran saat first date. Dia sangatlah menawan, mempesona atau apapun itu yang bisa mendeskripsikan ketidakrealistisan fisiknya. Dia masih sama.
"Kamu mau pergi? Ada urusan penting?" tanyanya sambil memperhatikanku.
"Nggak, Cuma mau cari makan," jawabku. Kemudian aku menyesalinya. Kenapa tidak kukatakan saja jika aku ingin menemuinya. Karena ini tidak terlihat realistis, aku bukan seorang yang akan repot-repot pergi berkeliling mencari makanan. I prefer delivery order and Brian know that.
Tapi sepertinya dia tidak peduli karena tidak mempertanyakan hal itu. "Mau aku antar?"
Aku mengangguk.
Tidak ada pembicaraan apapun. Bahkan dari apartemen, tempat parkir, sampai perjalanan menuju ke tidak tahu ke mana, we are just silent like we have nothing to say. Padahal sebenarnya banyak sekali yang perlu kita bicarakan.
"Kamu mau cari makan di mana?" tanya Brian pada akhirnya.
Aku yang tidak ada pikiran tentang makanan apapun dan tidak tahu juga harus ke mana berusaha keras untuk memutar otak. Aku melihat McDs di depan sana, mungkin sekitar 500 meter. Apakah sebaiknya kita ke sana saja. Aku benar-benar tidak memiliki ide.
"How about McDs? Drivethru?" tanyaku, ada beberapa keraguan yang keluar dari suaraku dan sepertinya Brian menyadarinya.
"Oke." Hanya itu yang ke luar dari mulut Brian dan setelah itu dia mempercepat kemudinya.
Saussage, fish snack wrap, french fries and two roast coffee. We just order Breakfast meals. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan yang masih tidak tahu ke mana. Sangat tidak masuk akal jika harus kembali lagi ke apartemen.
"B," panggilku.
Dia menoleh sebentar sebelum kembali fokus ke depan. "Hm?"
"I dont like this situation."
"No one, Zell," jawabnya cepat. Aku tahu.
Masalahnya, sebenarnya kita tidak sedang bertengkar. Aku hanya menghindarinya seharian. Menghindar bukan berarti marah. Seperti seseorang yang terkadang butuh waktu sendiri. Tapi kenapa sekarang kita seperti sedang berada dalam suatu krisis dalam hubungan. Ironisnya hubungan kita dari awal memang sudah krisis.
Brian seperti sedang menungguku mengatakan sesuatu tapi aku terdiam lagi hingga akhirnya dia yang membuka pembicaraan.
"Mau makan di mana?" tanya Brian.
Aku berpikir sebentar. "Apapun itu. I just want to talk to you and maybe little release our stress," jawabku ragu.
Brian tidak menjawab. Dia fokus pada kemudinya.
Menghabiskan waktu bersama Brian membuatku tahu bagaimana sifatnya. Mungkin dulu aku sempat berpikir dia memiliki alter ego. Dia bisa menjadi seseorang yang sangat menyebalkan bahkan beberapa tingkat di atas Alden tapi di beberapa kondisi dia benar-benar berubah 180 derajat menjadi manusia paling pendiam di muka bumi. Aku hampir tidak mengenalinya atau berpikir dia sedang kerasukan. Tapi sekarang aku paham, memang seperti itulah dia.
Brian mirip diriku, dia memiliki banyak tekanan dalam hidupnya. Menjadi laki-laki diantara saudara perempuannya, dia selalu dituntut untuk menjadi seseorang yang harus bisa diandalkan. Dia banyak memendam masalahnya sendirian dan menjadi pendiam ketika dalam kesulitan. Terkadang aku berpikir mungkin aku bisa meringankan sedikit saja bebannya atau minimal menjadi tempat dia bercerita seperti yang selalu dia tawarkan padaku. Sayangnya itu tidak berhasil, i mean meringankan beban. He has his own and i have mine, kita memiliki luka yang sama. Kita tidak bisa saling menyembuhkan, kita hanya bisa saling mendengarkan.
"We have arrived," ucapnya sambil memarkirkan mobil.
Aku tidak tahu Brian mengajakku ke Taman Suropati. Mungkin karena dekat. Atau mungkin ini yang terlintas di pikirannya ketika aku mengatakan release stress. Aku tidak bisa bertanya karena Brian sudah ke luar duluan sambil menenteng kantong plastik berisi makanan dari McDs tadi. Aku segera melepas seatbelt dan mengikutinya.
Brian hanya berjalan dan aku mencoba menyeimbangi langkahnya, meskipun sulit. Mungkin satu langkahnya sama dengan dua langkah untukku.
Dia berhenti di sebuah bangku panjang dekat jogging track dan duduk di sana. Kemudian aku mengikutinya dengan duduk di sebelahnya. Tidak benar-benar di sebelahnya karena di sebelahku ada kantong berisi makanan.
Aku terdiam mengamati sekitar. Sangat hijau. Banyak pohon rindang yang menyegarkan mata. Air mancur berada jauh di depan sebelah kiri. Ini pertama kalinya aku mengamati taman ini begitu detail—biasanya aku hanya lewat tanpa peduli sekitar. Seperti memperhatikan bagaimana bentuk ornamen-ornamen di sebelah sana yang terlihat menyerupai tugu dan patung. Juga memperhatikan bagaimana aktivitas orang-orang di sekitar sini—berolahraga, ngobrol, memberi makan merpati, street performance, kumpul komunitas—yang jelas sangat ramai mungkin karena akhir pekan.
"Zell, makan dulu." Dia membuka kantong plastik dan aku meraih makananku—saussage wrap and coffe.
Sibuk mengunyah makanan dan sekali-kali meneguk coffee. Diantara kita masih belum ada yang membuka pembicaraan. Bahkan sampai makanannya habis dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi.
"Actually—" ucapanku menggantung ketika dengan tiba-tiba dia merapikan beberapa rambutku yang kacau karena angin.
"Ya?" tanyanya.
"Oh." Aku berdehem sebentar. "Sebenarnya, instead of looking for my breakfast, aku mau nemuin kamu tadi."
Dia diam, mendengarkan dengan seksama.
"Aku nggak merasa kita sedang bertengkar, but it feel strange for me," lanjutku.
"Just one day, aku nggak ngerespon kamu cuma sehari, nggak lebih. Tapi rasanya seperti aku udah bikin kesalahan yang sangat besar sama kamu."
Brian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Memandang ke atas sambil menjawab, "its not just about didnt respond to me, Zell, but you avoid me without any reason."
Dia menatap ke arahku. Bola matanya gelap dan terlihat tajam. "Terakhir kali kita bertemu di restauran. I didnt know if you have meeting with your family, kalau aku tahu, aku nggak akan ke sana, ruined your day. If you mad at me because of that—"
"Nggak!" Aku memotong ucapannya.
"Aku nggak marah sama kamu, B. Not at all."
"But you avoid me, Zelline." Suara Brian sedikit naik—not that high.
"I did," aku melanjutkan, "Tapi bukan karena itu. I just want, to be alone?" Ayolah, aku tidak mungkin mengatakan kepada Brian seperti yang sudah aku jelaskan kepada Alden. Tentang merasa jealous—tersaingi karena dia bisa dengan mudah gonta ganti pasangan. Aku tidak cukup punya muka untuk mengatakannya.
Brian membuang muka. "Dont pretend, Zell. Aku tahu bukan itu alasannya. You sound not sure about what you say apalagi denganku."
Aku menghela nafas dalam.
"Kamu bisa cerita sama aku. Kamu bisa bilang kalau memang butuh waktu untuk menyendiri. You can and i will give you space. But say to me." Brian memandangku lagi. Kedua tangannya menggenggam tanganku.
"Tapi kalau tiba-tiba kamu menghilang tanpa kejelasan seperti itu, you know what i feel? Rasanya seperti orang kalut. Bahkan aku bertanya-tanya bagaimana bisa aku semenyedihkan itu hanya karena kamu nggak ngerespon aku. Seharian ngerasa bersalah, tapi nggak tahu aku salah apa. You make me worried all day long."
Persis. Apa yang dia rasakan sama seperti yang aku rasakan. Feel guilty about something we don't know what it was.
"Im sorry," lirihku.
"Maaf, B." Aku mengulanginya. Aku tahu aku yang bersalah di sini. "I won't do that anymore. Im not promise but I'll try."
"Literally, you didnt need to say sorry, Zell. It doesnt matters for me. I just being afraid imagine that you keep avoid me on and on."
"Im not," jawabku, "Brian, its just one day. Bukankah kita sebenarnya sangat berlebihan?"
"I think so." Dia menjawab, beberapa detik kemudian dia tertawa kecil.
Oke. Sepertinya kita berdua baru saja sadar jika sedari tadi kita membahas suatu hal yang sebenarnya kalau dipikir-pikir sangat absurd. Benar-benar drama. Just a few second ago and everything change. Benar-benar lucu sekali hidup ini. Secepat itu perasaan dan keadaan seseorang bisa berubah.
"Udah lama rasanya nggak pernah berantem lagi sama kamu," lanjut Brian.
Aku menatapnya sinis. "Apa yang barusan terjadi bisa disebut berantem?"
"Mungkin nggak. Mungkin terlalu tenang untuk disebut berantem."
"Mau yang lebih bar-bar, much powerfull problem, we can, B!" ucapku menantang.
Dia membolakan mata dan menatapku tajam. "Dont you dare, Zell!"
Aku tertawa renyah sambil menatap langit yang terang. Its much better. I feel so much lighter now.
"Zell."
Aku menoleh ke arahnya.
"Kamu yakin nggak mau cerita?"
Aku terdiam.
"Ini bukan berarti aku maksa kamu buat cerita, hanya saja, in case you wanna tell me." Aku melihatnya, sorot mata yang sangat meneduhkan.
"Me—"
Dia masih menatap, menungguku melanjutkan ucapanku.
"Just like—"
"I don't like you hanging around with a lot of girls. I mean—Aku nggak suka lihat kamu sama cewek. No no wait—"
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan hal semacam itu. Itu meluncur begitu saja dari mulutku setelah melihat ekspresi Brian tadi. Oh Damn.
"It sound so wrong for me," Aku merasa ini akan menjadi salah tafsir.
"No, It sound so beautiful for me," bantah Brian. "Nggak usah berpikir buat klarifikasi, oke."
"No, Brian. I need to. I should explain what i mean."
"Dont please. Whatever Zelline. Aku
nggak butuh penjelasan kamu. Biarkan saja seperti itu. Kamu tahu, nggak baik menghancurkan kebahagiaan seseorang. Im so much happy to hear that." Brian memaksa dan dia terlihat menikmati semua ini. Dia bahkan berbicara sambil cekikikan membuatku ingin menyumpal mulutnya.
"No Brian, nggak kayak gitu." Aku tidak sadar setengah merajuk. Dia hanya sangat menyebalkan.
"Yes Zelline. Nggak apa-apa. I will do."
"Melakukan apa?" tanyaku sambil menatapnya tajam.
"Menjauhi mereka dan hanya dekat sama kamu," ucapnya di sela-sela tawa lalu memelukku tiba-tiba.
Aku langsung mendorongnya dan beranjak berdiri. "Nggak-nggak, just keep hanging out with them. Tadi aku cuma salah bicara."
Dia berdiri melihatku sambil menggelengkan kepala. "Kata orang, cewek itu suka bicara yang sebaliknya. I know what you mean. Aku tahu kalau ucapan yang pertama itu yang dari hati."
"Oh God! Never mind!" Aku melangkah pergi membiarkan dia senyum-senyum di belakang.
"Zell!" Dia berteriak di belakang, aku tidak menoleh.
"I will only stay around you, only you, Zell!" ucap dia setengah berteriak.
Sinting! Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di tengah keramaian. Silly boy.
Tidak perlu menoleh. Pura-pura tidak kenal. Jalan cepat Zelline, cepat!