Sudah larut malam dan aku baru tiba di rumah Mama. Pekerjaanku sangat bertumpuk hari ini. Jika bukan karena ada dokumen yang perlu aku cari di rumah untuk kepentingan pertemuan besok, aku sebenarnya lebih memilih lembur di kantor daripada harus pulang dan pada akhirnya masih berkutat dengan pekerjaanku sepanjang malam. Sayangnya aku baru ingat tentang dokumen itu beberapa saat yang lalu.
Aku melihat mobil Mama terparkir di garasi, itu menandakan Mama berada di rumah sekarang. Meskipun aku yakin, Mama pasti sudah tidur. Jika dipikir-pikir meski tinggal serumah, Aku dan Mama jarang memiliki waktu untuk bertatap muka apalagi berkomunikasi. Entah karena Aku yang pulang terlalu malam dan berangkat terlalu pagi, Mama yang punya kesibukan dengan bisnis butiknya di beberapa kota, atau kesibukan Mama yang selalu mencari celah untuk bisa berkencan dengan papa tanpa diketahui Ibu Tiri. Yang jelas, hubungan kita, jauh dari kata dekat.
“Nona, ditunggu Nyonya Lilian di taman,” ucap Bi Ina membuatku terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapannya.
Kemudian Aku mengangguk dan berjalan menuju ke taman samping rumah meski banyak pertanyaan yang berputar memenuhi isi otakku.
“Malam, Sayang!” sapa Mama ketika melihatku di depannya.
Aku cukup terkejut. Tumben. Mama masih terjaga di waktu seperti ini dan menungguku di kursi taman sambil menikmati beberapa camilan manis. Ini adalah pemandangan langka, sesuatu yang mungkin hanya bisa kutemui barang sekali, dua kali seumur hidupku.
“Tidak balik menyapa Mama?”
“Aku hanya terkejut, malam juga, Ma!” Aku segera meraih kursi dan duduk di samping Mama. Seharusnya aku bergegas menuju ke kamar dan mengejar koreksi laporan yang harus aku kerjakan malam ini, tapi itu sangat kurang ajar namanya jika mengabaikan Mama yang sudah menungguku sedari tadi. Setidaknya aku harus tahu apa maunya.
“Tumben Mama menungguku, ada yang Mama ingin bicarakan padaku?” Aku memang sangat tidak suka basa-basi.
Mama membelai rambutku lembut. “Sudah lama kita tidak berbincang berdua. Bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja bukan?”
Aku mengernyit, sangat tidak seperti Mama. Membuatku merinding saja. “Tentu saja aku baik-baik saja. Ada apa, Ma?”
“Mama ingin sekali berbincang banyak denganmu tapi sepertinya tidak malam ini. Apa kamu sudah makan?”
Aku semakin heran dengan tingkah Mama. Perlu kuulangi lagi, aku dan Mama sangat tidak dekat. Jadi, bertingkah manis dan penuh perhatian seperti ini sangat tidak masuk akal. Mengenai makan malam, sepertinya aku melewatkannya lagi. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku makan malam secara teratur.
“Berhentilah mengumbar kemesraan! Kita perlu bicara, Zelline!” Suara ibu tiri menginterupsi.
Sekarang aku paham situasinya. Mama bersikap seolah-olah menjadi sosok Mama ideal hanya untuk menunjukkan kepada Jenita jika ia lebih unggul dalam hal kebersamaanya denganku mengingat hanya akan ada keributan jika aku dan Mami bertemu. Bagaimanapun juga aku tidak memprediksi jika Ibu Tiri akan sudi menungguku di kediaman Mama.
“Baiklah, kalian perlu bicara. Mama tinggal dulu.” Mama menepuk pundakku pelan. Selalu seperti itu, Mama tidak pernah berusaha menengahi atau membela diriku sedikitpun. Ia hanya akan pergi dan mencari aman sendiri. Aku tersenyum miris.
“Jadi, apa yang Mami ingin bicarakan denganku?” Demi apapun aku sedang malas berdebat dengan Mami. Aku masih memiliki banyak pekerjaan dan ini bahkan sudah larut. Kurasa aku benar-benar tidak akan tidur malam ini.
“Sampai kapan kamu mau main kejar-kejaran sama Mami? Mami perlu bicara dengan kamu Zelline sayang.” Mami duduk dan bersandar di kursi yang berhadapan dengan diriku. Gaun tidurnya menjuntai tampak mewah dan elegan. Ia terlihat seperti sosok ratu penguasa. Kenyataanya memang Jenita lah yang berkuasa di sini.
"Aku menghindari Mami demi kebaikan. Pekerjaanku bertumpukan dan aku tidak ingin membuang waktu untuk bertengkar dengan Mami."
Mami tertawa lalu menatapku sinis. "Membuang waktu katamu? Sepertinya nggak. Kamu punya banyak waktu, Sayang. Terlalu banyak sampai kamu bisa berkencan dengan banyak lelaki selain tunanganmu."
Shit! Sepertinya Mami mengetahuinya. Meskipun kenyataannya aku belum berkencan dengan siapapun sekarang. Tapi Mami sudah tahu tentang ide gilaku Ya, seharusnya aku memang tidak perlu kaget. Mami punya banyak sekali mata-mata. Aku bahkan tidak bisa membedakan penguntit mana yang sebenarnya berbahaya atau hanya sekedar orang-orang suruhan Mami untuk mengikutiku.
"Nggak ingin menjawabnya Zelline? Mami meminta kalian untuk segera menikah bukan justru membuat masalah seperti ini, Zell!" Mami mulai meninggikan nada suaranya.
"Mami sudah bilang jika reputasi keluarga kita itu sangat penting. Lihat! Apa yang kamu mau perbuat? Mencorengnya dengan perbuatanmu yang nggak jelas seperti ini? Berusahalah sedikit, Zelline! Berusahalah menjadi putri yang berguna untuk keluarga!"
Aku menghirup udara dalam-dalam. Aku yakin perdebatan singkat dengan Jenita akan menguras banyak tenaga. Aku hanya lelah. Lelah karena kehidupanku. Lelah karena jalan hidupku sudah ditentukan. Aku tidak banyak bisa bergerak. Bahkan ketika aku mulai membangkang, semua akan tetap kembali ke jalannya—usahaku sia-sia dan gagal. Satu-satunya hal yang sukses aku lakukan dengan keinginanku sendiri adalah bisnisku sekarang. Setidaknya meski banyak air mata dan sumpah serapah yang ke luar, aku sanggup melawan keluarga besarku untuk berdiri sendiri seperti sekarang.
“Apa Mami lupa, kita pernah mencapai kesepakatan bersama. Aku akan bertunangan dengan Brian selama Mami nggak ikut campur dengan masalah kami. Tapi sekarang, kenapa Mami melanggar apa yang Mami ucapkan sendiri?”
“Mami masih punya hak untuk mengatur hidupmu, Zelline. Kesepakatan itu berlaku ketika kamu nggak membuat masalah, tapi kenyataanya kamu bahkan nggak mampu mengendalikan pertunangan kalian.”
Aku sangat tahu dengan jelas jika Jenita memang selalu mengatur seluruh tatanan hidupku, tapi aku tidak mau mengalah.
“Asal Mami tahu, aku nggak sedang mencari atau membuat masalah. Aku pikir, aku justru sedang berusaha ke luar dari masalah. Selamanya terikat dengan laki-laki yang bahkan belum siap dengan keadaan, Mami pikir aku mau melakukannya? Aku nggak segila itu kecuali keadannya berubah."
Brian memang sangat bisa diandalkan. Tampan. Kaya raya. Aku cukup mengenalnya, satu tahun bukan waktu yang sedikit. Tapi Brian masih labil. Dia memiliki banyak pertanyaan tentang hubungan kita. Sementara dia belum memiliki keyakinan untuk melangkah ke arah yang lebih serius. Dia masih sanggup berputar jika ada ada wanita lain yang berseru untuknya. Aku tidak marah, karena aku pun juga merasakan hal yang sama. Keadaanlah yang memaksa kita untuk bertemu dan saling menerima.
Aku akan menikah tentu saja. Dengan Brian? Why not? Tapi nanti. Aku benci jika terus-menerus dipaksa seperti ini dan lebih benci lagi karena Mami yang memaksa. Aku tidak akan menikah sebelum aku dan Brian sama-sama yakin dan siap dengan segala konsekuensi ke depannya.
"Pikiran konyol macam apa itu? Berhenti membuat alasan yang tidak masuk akal, Sayang! Mami tahu kamu hanya sedang menguji kesabaran Mami."
Mami melanjutkan ucapannya, "Apa jangan-jangan, kamu nggak sedang membicarakan semacam cinta di sini kan, Zel? Kamu nggak akan bisa hidup hanya dengan satu kata nggak berguna itu. Zelline—"
"Big No! Mami yang jangan berpikiran absurd!" Aku memotong ucapan Mami.
Untuk ukuran seorang gadis yang dibesarkan tanpa harus tahu apa itu cinta, menyangkal adalah jawaban yang harus aku katakan sekarang. Meski sebenarnya, jika memang ada sesuatu yang disebut cinta, aku ingin merasakannya. Sekali saja. Sesuatu yang kata orang bisa membuat terbang dan terjatuh. Merasakan luka juga bahagia dalam waktu yang sama.
Sesuatu yang sangat bersimpangan dengan logikaku. Bahkan sampai detik ini aku masih bertanya-tanya, haruskah aku benar-benar mencari? Aku hanya ingin mencobanya, menerima perasaan bahagia dan membuat bahagia, perasaan disakiti atau menyakiti, juga merasakan manisnya pertemuan dan pedihnya perpisahan. Sekali, benar-benar sekali sebelum kembali ke realita. Karena dengan siapa aku berakhir, sudah jelas semua telah ditentukan.
Aku melihat sorot mata Ibu tiri yang masih menatapku tajam, tapi maaf hal itu tidak cukup untuk membuatku takut. ”Terkait hubunganku dengan laki-laki lain atau Brian dengan kekasihnya, aku harap Mami nggak membahasnya lagi."
Mami menatapku lebih tajam. "Keras kepala! Kamu masih belum menyerah rupanya."
"Ya. Mami tahu, aku bukan seorang yang bisa menyerah semudah itu!"
"Zelline! Apa kamu pikir perlakuan kamu itu terpuji? Berkencan ketika sudah memiliki tunangan?! Apa yang akan kolega kita pikirkan tentang keluarga kita, Zelline!"
Lagi-lagi masalah reputasi.
“Aku pikir mereka nggak akan peduli. Siapa yang akan repot-repot mengurusi romansa anak muda yang sama sekali tidak menghasilkan keuntungan untuk mereka. Lagipula pertunangan kita masih jelas. Aku dan Brian juga masih suka memamerkan kemesraan di depan umum. Kalaupun aku ke luar dengan laki-laki lain mereka nggak akan berpikiran macam-macam." Aku tersenyum meremehkan. “Ah iya, berhentilah memata-mataiku dan Brian, Mi! Itu hanya akan membuat Mami tambah sakit kepala setiap menerima laporan. Hanya Mami yang sebenarnya tahu apa yang kami lakukan, sementara orang lain sebenarnya nggak tahu atau bahkan nggak peduli. Jadi, sebaiknya Mami lakukan hal yang lebih bermanfaat!”
Aku merasa menang sekarang. Aku boleh berbangga diri karena berhasil membuat ibu tiri tidak bersuara.
Mami tersenyum menatap dalam ke arahku. Ia sedang mengendalikan amarahnya. “Mengenai lingkungan pertemananmu, Mami nggak suka."
Aku membuang nafas kasar. Ibu tiri sepertinya sudah menyiapkan topik lain.
Jenita memelankan tempo ucapannya namun masih terdengar tajam. “Cobalah untuk bergaul dengan orang-orang yang pantas untuk kamu jadikan teman, Zelline! Mami tahu kamu masih bergaul dengan wanita yang nggak berguna itu. Cobalah menjalin relasi dengan teman-teman yang berguna untuk dirimu sendiri, Darling?”
Aku yakin Mami sedang membicarakan Teressa sekarang. Dia tidak pernah suka jika aku bergaul dengan orang 'biasa-biasa saja'.
Aku beranjak mendekati Mami. “Nggak berguna? Teressa adalah temanku. Setidaknya dia nggak bermuka dua dan selalu ada jika aku butuh.”
Jenita tersenyum miring. “Kamu yakin dia selalu ada buat kamu?”
“Tentu saja.” Setidaknya sejauh ini iya. Meskipun sebenarnya aku tidak yakin dengan jawabanku. Aku memiliki banyak teman sebenarnya, tapi sahabat? Seumur hidup, aku tidak pernah benar-benar memiliki seseorang yang disebut sahabat. Bahkan jika itu Alden ataupun Teressa, aku tidak memiliki keberanian untuk menyebutnya seperti itu. Kebanyakan orang-orang hanya datang dan pergi, tidak bertahan apalagi menetap.
Mami hanya menyunggingkan senyuman. Aku lebih takut sisi ibu tiri yang seperti ini daripada saat meledak-ledak. Ketika emosi, Jenita sering kehilangan logikanya, namun saat diam, dia akan menyimpan segala pemikiran licik dan tipu muslihat.
“Aku penasaran siapa teman yang bisa masuk label berguna menurut versi Mami.” Aku menantangnya.
“Seperti Villera mungkin. Dia wanita yang terkenal cantik, anggun dan baik. Perusahaan kita juga memiliki relasi bisnis yang baik dengan perusahaan keluarganya.”
“Aku nggak tahu jika Mami memiliki persepsi yang seperti itu terhadap Villera, apa Mami kemakan rumor?” Wajahku mulai mengeras, “Mami bahkan nggak tahu apa saja yang dia lakukan di belakang. Dia cuma berpura-pura menjadi malaikat dengan selalu aktif di kegiatan sosial, wara-wiri memamerkan kedermawannya. Villera bahkan nggak punya potensi buat mengelola perusaahan, yang dia lalukan hanyalah cari perhatian. Aku jauh lebih baik daripada dia.”
Ibu tiri terkekeh. “Of course, Princess. Kamu jauh-jauh lebih baik daripada dia. Mami nggak sedang mengkomparasikan kalian berdua. Tentu saja kamu berada di level yang berbeda. Mami hanya ingin kamu mencoba untuk berteman dengannya, mungkin reputasimu akan berkembang lebih baik.”
Aku muak. “Aku nggak akan pernah melakukan apa yang Mami minta. Maksudku berteman dengan dia. Mami jangan berharap banyak padaku tentang itu atau Mami akan kecewa nantinya. Sekali lagi, berteman dengannya? Aku nggak akan dan nggak akan pernah!”
“Kurasa obrolan malam ini nggak akan membuahkan hasil, aku pamit ke kamar,” ucapku berusaha mengakhiri debat.
“No, Zelline! Kita belum selesai.” Mami bangkit dari tempat duduknya. “Kamu benar-benar kurang ajar ya. Kamu berani melawan Mami, apa karena Lilian adalah ibu kandungmu dan Mami ini ibu tiri sehingga kamu selalu menantang Mami? Biar kuingatkan Mabella, meskipun you're not mine and only child of that b***h. Hanya Mami yang bisa membantu kamu!"
Lagi dan lagi. Topik itulah yang selalu Mami singgung di saat amarahnya memuncak. Aku membencinya. Rasanya menyakitkan. Aku tidak bisa memilih dari rahim mana aku dilahirkan. Tapi semua menjadi seperti kesalahanku, terlahir dari seorang selingkuhan.
“Aku nggak pernah membeda-bedakan kalian. Maafkan aku sebelumnya, Mi. Tapi jika Mami lupa biarkan kuingatkan kembali, Mami yang mendidikku seperti ini. Mami bahkan memintaku untuk menampar Mamaku sendiri jadi kenapa aku nggak boleh melawan Mami ketika aku merasa apa yang aku lakukan benar. Jangan bicara seolah-seolah aku adalah putri pembangkang dan Mami adalah korban di sini! Biar kuingatkan juga, aku seperti ini karena Mami yang memulainya. Permisi.”
Mami mengaga di tempat. Mungkin ia tidak pernah sadar jika putri yang sudah ia besarkan sudah berubah menjadi jelmaan iblis. Yang Mami tahu, aku adalah putri penurut meski bermulut pedas. Kurasa Mami juga tidak sadar apa yang ia lakukan pada diriku telah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
*
Menyebalkan. Aku tidak bisa fokus sekarang. Perdebatan dengan Mami yang nyatanya tidak lebih dari sepuluh menit itu sukses membuat diriku kehilangan konsentrasi. Aku seharusnya sudah menyelesaikan laporanku tapi sekarang aku justru hanya menatap kosong ke arah dokumen-dokumen itu.
Aku lelah. Benar-benar lelah.
Perdebatan tidak penting seperti itu tidak hanya sekali dua kali tapi kerap kali terjadi. Mulai dari hal-hal kecil yang tidak berguna sampai hal-hal yang bersifat kompleks pun, bila tak sesuai dengan keinginan Mami, kita akan berakhir mendebatkannya.
Meski sudah terbiasa dari kecil cek-cok dengan Ibu tiri, tetap saja aku masih suka sakit hati. Aku manusia, bukan robot. Aku tidak sanggup jika harus menuruti segala sesuatu yang Mami kehendaki. Bahkan rasanya aku terlalu muak. Mungkin aku harus menulikan diri dan bersikap acuh saja. Seperti dua topik yang baru saja Mami singgung, teman & pasangan. Aku akan melakukannya dengan caraku. Meski aku yakin, tidak akan semudah itu.
Brian is calling
Aku langsung menerima panggilannya.
"Masih di kantor?" tanya Brian to the point. Dia sangat paham kalau aku pasti akan menutup panggilannya jika dia memulai percakapannya dengan basa-basi.
"Zelline? Masih di sana?" Brian bertanya lagi.
"Zell—"
"Diem! Berisik! Gue lagi di rumah Mama, ada dokumen yang nggak kebawa. Ini gue lagi ngecek laporan dan kalo sampe ada yang salah karena lo—" Aku menghentikan ucapanku sendiri lalu meraup wajahku kasar. Seharusnya aku tidak melampiaskan kekesalanku pada Brian.
"Maaf, B—"
"Zelline, you okay?" tanya Brian. Dari suaranya dia terdengar khawatir.
"More or less, im not sure." Aku menjawabnya asal. Aku sendiri tidak tahu. Perasaanku sedang acak-acakan.
"Masih banyak ya, apa nggak bisa ditunda besok aja? Istirahat bentar Zell. Sudah ganti hari ngomong-ngomong."
Aku membuang nafas kasar. Iya, masih banyak dan nyaris tak tersentuh karena pikiranku masih melayang-layang. "Lumayan. Kamu masih di kantor?"
"Nggak, ini di apartemen. Mau tidur tapi kepikiran kamu. Ya udah aku telepon, untung belum tidur."
Manis sekali.
Kalau biasanya aku akan menjawab,
Bego, udah tidur sana, nggak usah sok yes!
Basi, B! Mending lo pikirin tuh gimana caranya proses akuisisi lo lancar, gagal mulu deh perasaan.
Ngomong yang berbobot dikit dong, matiin nih!
Tapi sekarang, aku justru menjawab dengan permintaan yang membuat Brian terdiam sesaat.
"Brian, temenin ngobrol bentar boleh?"
Dia terdiam.
"Nyampah juga nggak apa-apa, takut ngantuk," lanjutku.
"Zell, kamu beneran nggak apa-apa kan? Wanna tell me about something? Kamu tahu kan kalau aku bakal dengerin semua yang kamu katakan."
Always. Brian comes at the right time. He will offer to be a good listener. Although I wanted to tell him, meski aku mau, aku tidak bisa. Karena semua masalahnya berawal dari rahasia keluarga, tentang siapa aku sebenarnya.
"Oke deh ngomongin orang aja gimana?" tawar Brian setelah ia tahu aku tidak akan menceritakan apa-apa—terdiam seperti biasa.
"Julid banget, Om. Kebanyakan bergaul sama Bastian sih jadi kayak gini."
Brian terkekeh. "Oh ya berhubung ngomongin Bastian. Dia beberapa kali berbicara soal Devan. Who is he?"
"Tuh kan, bergosip ria." Aku melanjutkan kembali aktivitasku memeriksa laporan.
"Someone yang lagi aku deketin sekarang. Dokter satu departemen dengan Bastian. Tapi sayang, si doi kelihatannya susah banget buat dideketi," lanjutku. Aku tidak percaya bisa membicarakan laki-laki lain di depan tunanganku sendiri.
"Udah ganti lagi, Zell? Yang kemarin gimana? Siapa namanya? Jevian bukan sih?"
Aku mengangguk-angguk meski aku tahu Brian tidak akan melihatnya. "Jevian tuh sebelas dua belas kayak kamu. Kayaknya masih jauh kalau diajak serius. Kalau buat asyik-asyikan sih asik banget. Ganteng lagi haha. Kalau Devan? Melihat karakter dan perilaku dia, kayaknya aku emang punya harapan lebih sama dia. Tapi nggak tahu juga gimana nantinya."
Totalitas aku sedang membual. Jevian itu hanya sebatas kenalan, nggak lebih. Apalagi Devan, jangan pernah berharap dengan dia. Sangat tidak masuk akal.
Brian terdiam. Sepertinya ucapanku cukup berefek padanya.
"B? Brian?"
"Dingin banget, Zell. Jadi ingin peluk kamu deh."
"Sinting!" Bisa-bisanya ya. Aku tahu dia sedang mengalihkan pembicaraan.
"Serius sih Zell. Kangen sama kamu. Boleh nggak sih jam segini ke rumah Mama kamu? Lagi nggak bercanda, kalau kamu bilang oke aku beneran otw."
Aku tertawa kecil. Dia ini memang kadang suka nekat. "Nggak apa-apa sih kalau berani ketemu Mami. Mami lagi di sini soalnya."
"Hehehe nggak jadi deh. Aku masih ingin hidup lama, Zell. Peluk online aja kalau gitu. Benerannya kalau pas ketemu, utang dulu ya, Sayang."
"Stupid!" Aku menertawakan kelakuannya.
"Udah sana tidur!" pintaku.
"Tadi katanya minta ditemenin."
"Aku juga mau tidur. Udah mau selesai kok ini," dustaku. Aku tidak ingin merepotkannya. Brian pasti lelah. Dia lebih sibuk daripada diriku dan aku tidak ingin menyita waktu istirahatnya lebih banyak daripada ini.
"Yaudah kalau gitu. Berangkat kerja aku jemput ya."
"Boleh, aku tunggu." Mumpung Mami di rumah, dijemput Brian bekerja setidaknya akan membuat Mami bungkam untuk beberapa waktu. "B?"
"Hem?"
"Makasih." Karena sudah menemaniku dan membuat keadaanku menjadi lebih baik.