Pagi ini aku berniat membolos barang setengah hari saja setelah kejadian semalam. Aku hanya terlalu menyayangi diriku sendiri. Memaksakan diri untuk meeting dan pekerjaan lain hanya akan menghancurkan moodku. Aku jamin hasilnya pun tidak akan sempurna, lebih baik aku menundanya selagi masih bisa kuhandle. Untuk itu pagi-pagi sekali aku sudah menghubungi Brian agar dia tidak perlu menjemputku. Kita bisa bertemu saat makan siang nanti.
"Mau ke mana?" tanya Ibu Tiri sambil berjalan menuju carport. Dia sudah siap dengan setelan kerjanya.
"Jalan-jalan pagi di taman kompleks," jawabku cepat sambil tersenyum cerah. Aku juga tidak kalah siap dengan setelan olahraga dan sepatu olahraga tentunya.
"Kamu? ke mana? Zelline kamu pagi-pagi gini nggak mungkin sober kan?" tanya Mami menelisik. Sedikit kaget.
Seumur hidup aku memang tidak pernah olahraga di taman kompleks. Aku lebih memilih pergi ke gym dan janjian dengan instruktur pribadiku di sana. Menurutku itu olahraga yang sangat efisien di sela-sela jadwalku yang padat. Hasilnya pun juga bisa dirasakan daripada olahraga sendiri yang tidak jelas bagaimana efeknya.
"Im okay, Mi. Hanya ingin mencari udara segar. Udara di sini masih lumayan kalau pagi. Mami mau ikut?" Ini alibi. Aku punya motif lain sebenarnya. Mami tidak perlu tahu.
"Terserah!" Ibu Tiri segera masuk ke dalam Mobil. Ia menyalakan mesinnya dan berlaju pergi.
Aku tersenyum senang. Sepergian Ibu tiri aku segera beranjak pergi. Aku berniat untuk menjadi penguntit sekarang. Setelah melakukan beberapa riset, aku baru menemukan kebiasaan tetangga tampanku itu. Di hari-hari tertentu Devan akan menyempatkan dirinya untuk berolahraga di taman kompleks. Beruntungnya hari ini adalah harinya. Jadi, kuputuskan untuk mengikutinya saja.
Di sini aku sudah berada, di taman kompleks. Aku sudah mengitari taman setidaknya satu kali putaran tapi belum mendapatkan tanda-tanda kehadiran adanya Devan. Apa dia absen hari ini? Aku sudah kelelahan sekarang. Kurasa ini akibat jarang berolahraga akhir-akhir ini. Kuputuskan untuk duduk di kursi taman sambil menunggu pangeranku datang.
“Halo, kamu Zelline, kan?” tanya seorang perempuan tiba-tiba mendekat sambil tersenyum ramah.
Aku diam mencoba mengingat-ingat siapa perempuan itu. Ah kurasa aku tahu siapa dia. Aku tidak ingat siapa namanya yang aku ingat jika perempuan itu adalah salah satu penghuni kompleks yang suka menebar gosip ke sana kemari. Bukan hanya itu perempuan di depanku ini memiliki grup sosialita yang suka menebar keburukan orang-orang. Hobi meyombongkan diri dan hanya berteman dengan orang-orang yang mereka sebut pantas. Aku cukup anti dengan makhluk-makhluk seperti itu.
“Iya. Ada apa?” tanyaku kembali.
“Astaga senang sekali bertemu denganmu di sini. Perkenalkan aku—”
“Yeah, i know you.” Aku memotong ucapannya sambil tersenyum ramah. let's see apa yang dia mau.
Dia terlihat senang, mungkin karena aku mengenalnya. Dia terlihat salah tingkah dan senyum-senyum tidak jelas. Menggelikan.
“Jika nggak ada yang ingin lo katakan, lo bisa pergi. Gue ingin berolahraga,” ucapku kemudian.
“Ah ya, itu, maksudku aku juga ingin berolahraga. Apa nggak bisa berolahraga bersama?” tanyanya penuh harap.
“Nggak. Kurasa kita nggak sedekat itu.”
Perempuan itu menelan ludahnya kasar. “Kalau begitu—mungkin, kita bisa berteman? Lalu kita bisa olahraga bersama.” Dia masih membujukku. Menjadi teman katanya. Kalau aku menurut kata-kata Mami, seharusnya aku berteman dengannya. Dia masih masuk kalangan 'anak-anak atas' tapi melihat riwayat kelakuannya, aku sama sekali tidak tertarik.
“Ada alasan?” tanyaku sinis.
"Ha?"
"Kenapa harus berteman?"
Dia tidak menjawab. Aku menatapnya tajam sementara dia hanya sanggup mengatupkan bibirnya. Dia sepertinya lupa bagaimana cara menggerakkan mulut dan lidahnya yang biasanya bekerja sangat lancar ketika ia gunakan untuk menggunjing orang.
“Biar gue bantu buat jawab. Karena gue kaya, memiliki pengaruh besar dan sesuai strata yang lo harapkan? Lalu gimana kalau gue adalah cewek miskin, nggak punya apa-apa, apa lo masih mau temenan sama gue?” Aku tersenyum mengintimidasi.
"Nggak, nggak, kamu salah paham. Nggak seperti itu," lanjutnya sambil memelas. Mau main drama rupanya. Sayang sekali aku sedang tidak mood untuk meladeninya.
"Lalu?"
"Aku—"
Aku memotong ucapannya, “Jika kita berteman, hanya lo yang bakal dapat benefitnya. lo akan memuji dan menjilat saat lo lagi sama gue, lalu bakal ngatain gue habis-habisan kalau gue lagi nggak di sekitar lo. Ah dan lo bakal nyari-nyari kesalahan gue buat lo sebarin di komunitas lo. Menurut lo, gue mau berteman dengan spesies memuakkan kayak lo?"
Wajah perempuan itu sudah pucat pasi. Tanpa sepatah katapun, ia berlari menjauh meninggalkanku yang masih setia menatapnya tajam.
“Gue bahkan belum mengusirnya, ayolah gue belum mengumpatinya. nggak asik banget.”
Devan tiba-tiba saja duduk di sampingku dan menyodorkan minuman. Aku tidak tahu sejak kapan dia berada di sekitar sini. Aku tidak tahu juga dari arah mana dia datang. Aku yang mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu hanya bisa terdiam sambil mengontrol detak jantungku. Bukan apa-apa hanya terlalu kaget.
Oh Lord, laki-laki tampan memang sepertinya suka muncul sembarangan.
“Nggak mau?” Devan menarik kembali air mineralnya.
Aku dengan segera merebut air minum itu. Berhubung sebenarnya aku haus dan tidak membawa apa-apa, aku langsung membuka dan meneguknya separuh.
Devan mengamati gerak gerikku sambil tersenyum sinis. “Melihat dari cara kamu minum, sepertinya pekerjaan menguntit dan mencerca orang butuh tenaga ekstra.”
Aku mendelik. “Menguntit? siapa? aku?”
“Memangnya siapa lagi? Gadis gila yang pagi-pagi sudah berdiri di depan rumah orang sambil senyum-senyum sinting dan pergi ke taman pura-pura olahraga hanya untuk melihat seseorang, apa namanya jika bukan penguntit?”
Bersyukur aku tidak sedang minum, mungkin aku akan langsung tersedak saat itu juga. “Jadi kamu udah tahu ya? Hehe.”
“Menurut kamu saja. Saya bukan orang tolol.”
Manis sekali.
“Bagus deh kalau gitu, jadi aku nggak perlu sungkan lagi buat ngikutin kamu.” Aku harus tetap pandai mengendalikan diri dan bersikap tidak tahu malu. “Dan satu hal yang perlu kamu tahu aku nggak asal mencerca orang kok, kalau kamu tahu latar belakang dia, pasti kamu setuju sama aku.”
“No comment.” Devan beranjak dan mulai melakukan aktivitas lari paginya.
"Aku ikut!" ucapku lalu menghadangnya—berdiri di depan dia.
"Saya nggak suka diganggu."
Aku mengangguk. "Kalau begitu anggap aja sebatas angin lewat."
Dia benar-benar melakukan sesuai yang aku katakan. Membiarkan diriku berlari di belakang dia tanpa sedikitpun menoleh. Aku benar-benar tidak punya tenaga untuk berlari mensejajarkan diri dengan langkahnya. Langkahnya terlalu cepat. Nafasku sudah mulai tersengal-sengal. Lebih baik aku berhenti saja. Aku membiarkan dia berlari menjauhiku. Aku masih berdiri di tempatku sambil mengatur nafas.
"Sepertinya banyak yang harus kamu persiapkan sebelum berangkat menguntit, Zell. Mungkin kamu bisa mempersiapkan tabung oksigen," ucap Devan saat berlari melintasiku setelah satu kali putaran. Aku tahu dia sedang mengejekku.
"Wait!" Aku memegang pergelangan tangannya. "Bisa nggak jalan-jalan aja? Its my first time lari-larian kayak gini. Aku beneran bisa pingsan."
"Thats not my bussines," jawab Devan cepat.
"Ya. Memang sih. But please, Devan tampan. Tahu nggak kalau ada orang minta tolong tuh harusnya ditolongin. Itung-itung amal."
Nice, Zel. Menurut hasil survei, Devan itu baik, percaya deh dia tidak akan tega denganku.
Devan melangkah lagi. Tapi kali ini dia tidak berlari. Harus kugaris bawahi, dia tidak berlari tapi berjalan. Rumor telah terverifikasi, seperti yang dielu-elukan. Devan itu baik dan pengertian sekali.
Aku berjalan di sampingnya sambil tersenyum cerah. "Setelah ini sarapan bareng ya." Definisi tidak tahu diri. Aku sadar kok.
"Maaf tidak bisa. Saya ada jadwal visit." Sudah tertebak dia pasti menolakku.
"Ternyata kamu bisa bohong juga ya."
Dia melirikku sambil mengerutkan keningnya.
"You have to visit your patients at 09.00 o'clock. Jadi, sepertinya nggak ada alasan untuk menolak sarapan bersama." Terimakasih banyak kepada saudara Bastian yang sudah mengirimiku daily task Devan selama di rumah sakit.
"Sepertinya kalaupun saya menolak. Kamu akan tetap memaksa."
"Tahu banget sih. Makanya iyain aja, Van, biar cepet." Aku menertawakan ucapanku sendiri dalam hati. Aku memang sudah terlatih tidak tahu diri.
“Sarapannya sekarang aja sih sebelum kamunya kabur.” Aku mengamit lengan Devan.
Devan yang awalnya menolak akhirnya pasrah juga. Dia terlalu hafal dengan sifatku yang keras kepala. Padahal kalau dia benar-benar menolak, aku juga tidak akan memaksa. Karena menurutku masih ada peluang, tentu saja pantang bagiku untuk menyerah.
Aku merasa sangat senang pagi ini, meskipun sempat bertemu makhluk tidak beradab yang sesaat mengusikku. Setidaknya bertemu Devan dan sedikit mengobrol meski banyak sarkasme yang ke luar dari mulutnya, benar-benar membuat moodku menjadi lebih baik. Apalagi sekarang kita tengah menyantap sarapan di tenda biru sebelah taman kompleks. Im happier. Semoga Mami dan para klenik-kleniknya tidak melihat atau kita akan beradu mulut lagi.
“Saya pikir kamu nggak akan mau makan di tempat seperti ini.” Devan mengaduk-aduk bubur dihadapannya.
“Memangnya kenapa? Toh rasanya enak juga.” Aku memang pemilih, tapi pemilih dalam artian menentukan mana yang baik atau buruk yang nantinya akan berimbas dalam kehidupanku. Bukan hal-hal receh semacam ini.
"Kurang higienis mungkin? Beberapa alasan klasik yang orang-orang ucapkan," jawab Devan.
"Itu orang-orang, Devan. Not me. Kamu harusnya bisa lebih kenal lagi sama aku, biar kita nggak salah paham."
"On point, Zell. Kamu tahu cara bagaimana membuat orang lain tertarik sekaligus menariknya ke dalam lingkaran yang kamu ciptakan." Percaya tidak percaya Devan berbicara sepanjang ini adalah suatu keajaiban.
“Are you interested on me?” tanyaku padanya. Aku hanya merespon ucapannya.
"Im not." Aku tahu ini sebuah penolakan. Tapi aku meyakinkan diri untuk tetap mendekatinya meski sudah tidak memiliki peluang. Bahkan otakku tiba-tiba berpikir, seandainya Devan memang benar-benar orang yang baik dan seandainya kita bisa menjalin romansa seperti yang kuharapkan. Bukankah itu terdengar luar biasa? Ya meskipun aku tahu cerita kehidupan tidak akan semudah itu. Aku hanya sedang berandai-andai saja.
"Kalau begitu aku harus berusaha lebih keras."
Dia tidak merespon. Kemudian tersenyum, bukan tersenyum manis melainkan semacam senyuman mengejek. Aku hanya mengabaikannya.
"Zelline."
“Ya?” Aku mendongak. Ini pertama kalinya, Devan memanggilku dengan nada yang menurutku sangat nyaman untuk diterima. Biasanya laki-laki itu hanya akan terlihat kesal jika sudah berada di hadapanku.
“Saya nggak sengaja mendengar obrolan kalian—”
Aku memotong ucapannya, “Dan kamu berpikir aku adalah gadis yang nggak punya hati nurani dan belas kasih. Nggak apa-apa, memang kayak gitu kenyataannya. Aku cukup picky untuk memilih teman.” Aku menjawabnya santai. Aku sudah biasa dianggap seperti itu. Aku memang terkenal jahat, tanpa belas kasih, meskipun sebenarnya itu hanya berlaku untuk orang-orang yang memang pantas mendapatkannya.
Devan menggeleng. “Bukan tentang itu. Sebenarnya, selain tadi pagi, saya nggak sengaja mendengar obrolan kamu dan Mami kamu last night.”
Maksudnya?
Aku mencengkeram erat sendokku. Mendadak aku kehilangan kemampuan untuk menelan makanan.
Aku baru ingat. Aku dan Mami berdebat di taman samping, di mana itu bersebelahan dengan halaman samping rumah Devan.
“Seberapa banyak yang kamu dengar?”
Aku sangat tidak tenang sekarang. Pikiranku kemana-mana. Tidak ada siapapun yang mengetahui rahasia keluargaku kecuali keluarga dan asisten rumah tangga terpercaya kita, bahkan Brian dan keluarganya pun tidak tahu tentang siapa ibu kandungku yang sebenarnya. Jika fakta ini sampai tersebar. Kredibilitas keluargaku akan dipertanyakan. Mereka-mereka yang dari awal tidak menyukai keluarga besarku akan menggunakan kelemahan itu untuk mengacaukan bisnis kita. Aku akan kehilangan otoritasku diantara pebisnis. Pertunangan gagal. Relasi hancur. Mengingat bagaimana Mami yang gila reputasi, ia pasti akan marah dan menendangku beserta Mama ke jalanan.
“Keseluruhan, awalnya saya nggak sengaja tapi pada akhirnya saya mendengarnya sampai akhir."
Aku terdiam, memikirkan probabilitas yang akan aku terima jika semua itu sampai terkuak. Aku juga ingin mengumpati Devan, bagaimana bisa ia menguping sampai selesai. Luar biasa sekali telinga tetangga tampanku satu ini.
“Zelline.”
Aku takut. Aku benar-benar cemas sekarang. Aku takut jika Ibu tiri berakhir murka dan mengusirku beserta Mama ke luar. Keluarga besar Papa juga tidak akan bisa membantu, kehormatan dan harga diri mereka di atas langit. Mama? Mungkin akan meninggalkanku juga, aku tidak lagi berguna. Aku tidak akan memiliki siapa-siapa.
“Devan, bisa nggak, jika kamu—”
"Zelline, c'mon!" Devan meninggikan suaranya.
Aku masih terdiam. Aku hanya bisa menggerakkan bola mataku gelisah. Ini pertama kalinya aku merasa sebingung ini.
"Zelline?!"
"Ha?"
Devan menatapku tajam. "Everything is gonna be okay, Zell. What do you think? Get yourself!"
Seumur hidup, Aku tidak pernah cerita apapun kepada siapapun tapi sepertinya aku perlu bercerita sekarang. Setidaknya supaya Devan mengerti dan dia tidak mengatakan apa yang dia dengar kepada siapapun. "Keluargaku tuh beda, Van. Mereka itu—rumit. Satu rahasia yang mungkin bagi orang hanya aib yang nggak berarti tapi bagi keluargaku yang udah biasa melakukan semuanya dengan sempurna versi mereka, itu bisa menghancurkan pondasi yang udah dibangun sejak awal. Mereka nggak ingin ada celah, meski dari awal, mereka sendiri yang membuat celah itu. Aku—"
"Zelline, oke, stop! Thats your bussines afterall. Saya nggak akan ikut campur."
"Devano, i just—"
"Dont worry, Zell! About your secret, saya akan tutup mulut. I won't tell anyone. Lagipula saya bukan tipe orang yang suka mengumbar cerita kehidupan orang lain.”
Aku menatap Devan lekat-lekat, memastikan dia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Hanya saja, mungkin lain kali jika kalian mau berdebat lagi, just looking for the safe place. Saya pikir kalian sangat ceroboh."
Aku masih bergeming. Aku berusaha menyerap semua perkataan Devan.
"Zell." Lagi-lagi Devan membuyarkan lamunanku.
Aku bersumpah aku ingin menangis. Perasaanku sedang campur aduk sekarang, tapi aku masih punya malu dan harga diri untuk tidak melakukannya di sini.
“Kamu sudah selesai? Saya harus prepare untuk ke rumah sakit,” tanya Devan sambil melihat arlojinya.
Aku masih bergeming.
Devan menghela nafasnya berat. Mungkin frustasi karena aku masih seperti orang linglung.
"Saya serius ketika saya mengatakan tidak akan memberitahu siapapun. Jadi, bisakah kamu kembali normal?"
What the hell?! Bagaimana bisa dia mengataiku di saat seperti ini. "I am normal, Devan."
“Hanya merasa aneh melihat kamu pura-pura sedih seperti itu. Hanya kelihatan, nggak pantes saja.”
Aku bersumpah serapah dalam hati. Pura-pura katanya. Wah benar-benar manusia satu ini. Apa dia tidak memiliki empati? Daripada khawatir sekarang aku justru menjadi kesal dan ingin menghajarnya.
"Are you serious?" tanyaku lagi memastikan. "You wont tell anyone?"
Dia mengangguk mantap.
Oke. Katakanlah aku menjadi sedikit lega sekarang. Tapi akan lebih baik jika ke depannya aku tidak mencari gara-gara apapun dengannya. Mungkin, aku harus mulai menghindarinya.