Aku sebenarnya sangat tidak suka tentang ide mengunjungi Mama Brian. Jika bukan karena paksaan dari Jenita yang sudah mengatur pertemuan keluarga, aku akan lebih memilih mencari beribu alasan untuk tidak berkunjung.
Vania—Mama Brian—terlihat sangat tidak menyukaiku dari awal kita bertemu, bahkan saat membahas masalah pertunangan pun, Papa Brian yang lebih banyak berkontribusi. Aku tidak tahu pasti kenapa Tante Vania sangat tidak menyukaiku padahal aku tidak pernah berbuat salah padanya. Jangankan berbuat salah, aku saja tidak mengenalnya sebelum acara perjodohan ini. Aku hanya menduga jika Tante Vania sebenarnya sudah memiliki calon untuk Brian. Ia terlihat sangat menentang perjodohan kita pada awalnya. Sayang sekali, pengaruh Papa Brian dan Ibu Tiri jauh lebih kuat.
Kali ini, aku sungguh berharap Jenita berada di sampingku. Aku ingin Ibu Tiri menemaniku untuk pertemuan dengan Mama Brian. Tante Vania tidak akan banyak bertingkah jika sudah dihadapkan dengan Mami. Semua tahu jika ibu tiriku itu sanggup membuat mati kutu lawan bicaranya. Sayangnya, Jenita ada kesibukan siang ini dan aku harus datang sendiri ke rumah ini. Aku hanya berharap bisa menahan diri, tidak mengutarakan pendapat laknat ataupun tidak membuat keributan dengan polah tingkahku.
"Selamat datang, Tuan Putri!" sapa Brian yang sudah menungguku di teras rumah sambil menampilkan senyuman khasnya.
"Sepertinya aku terlambat ya?" Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dijawab karena kenyataannya memang seperti itu. Aku memang sengaja mengolor-olor waktu untuk datang.
"No, Sweetheart. Asal kamu datang, itu cukup," ucap Brian. Aku menggunjing dalam hati tentu saja itu bagimu, tidak untuk Mamamu.
"Masuk yuk!" ajak Brian.
Aku mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Brian. Ini kali ketigaku menapakkan kaki di rumah itu. Kali ini aku tidak sempat untuk menikmati segala jenis keindahan interior yang disuguhkan saat memasuki rumah Brian. Aku terlalu gugup. Bukan karena takut terintimidasi tapi takut kelepasan. Aku sangat sadar jika mulutku itu sangat berbahaya dan terkadang akan sulit untuk direm.
"Where is your family?" tanyaku pada Brian. Aku tidak berekspektasi apapun, seperti disambut dengan hangat oleh keluarga mereka mengingat kehadiranku di sini sangat tidak diinginkan oleh Mama Brian, tapi rumah Brian terlihat sangat sepi jadi aku bertanya-tanya.
"Mama nunggu di halaman belakang. Kalau Papa lagi sibuk ngurusin jago kesayangannya di samping rumah."
Aku mengangguk paham.
"Ma, Zelline di sini!" seru Brian pada Mamanya.
Tante Vania yang sedang duduk memotong-motong sayuran di meja kayu taman, menoleh ke arah kita.
"Zelline sudah datang ternyata." Itu ucapan yang Tante Vania lemparkan pertama kali saat melihat kehadiranku. Dia bahkan mau menyunggingkan senyuman meski terkesan dibuat-buat. Its better by the way, karena yang aku pikirkan, dia akan langsung menyindirku di awal perjumpaan—seperti biasanya. Mungkin karena ada Brian di sini.
Aku menjawab dan bertingkah sebaik mungkin.
"Sini Sayang, bantuin Mama potong-potong. Zelline bisa kan? atau kalau nggak temenin Mama aja deh nggak apa-apa."
Aku tersenyum simpul lalu duduk di hadapan Mama Brian. Aku yakin Tante Vania ingin mengetes keahlianku atau mungkin mempermalukanku jika ada kesempatan. Tante Vania hanya tidak tahu jika aku cukup ahli dalam kegiatan masak-memasak. Sekali lagi aku harus berterimakasih kepada Ibu Tiri yang sudah menempaku dengan berbagai keahlian untuk menciptakan diriku yang nyaris sempurna—versi Mami. Meskipun sebenarnya tidak ada manusia yang sempurna.
"Ada yang bisa kubantu, Ma?"
"Sebentar ya, Villera sedang mengambil daging di dapur. Kamu bisa membantu memotongnya setelah ini."
Aku memicing, Villera? Wanita bermuka dua itu? Di sini? Oh My God! Aku tidak habis pikir, bagaimana aku harus melalui hari ini dengan orang-orang yang membuatku sangat tidak nyaman. Ini lebih seperti perjamuan neraka.
"Brian temani Papa saja sana, biar kita yang urus di sini."
"Tapi, Ma"
"Udah sana!"
"Aku tinggal ya, kalo butuh apa-apa kamu panggil aja, oke?" pamit Brian dan aku hanya membalasnya dengan anggukan.
Villera datang dan membawa kantong kresek yang berisi banyak daging sapi.
"Bibi sedang cuti, tidak apa-apa kan jika Zelline bantu Mama memasak?"
Aku mengangguk dan mengiyakan lagipula aku tidak mungkin mengatakan tidak.
"Villera ada di sini?" Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.
Mama Brian tersenyum dan membiarkan Villera duduk di sampingnya. Ia memegang pundak Villera lembut. "Villera sering nemenin Mama, Zell. Nemenin Mama ngobrol, belanja, bantu-bantu bikin kue atau masak kayak gini. Villera ini teman Brian sejak kuliah lho, apa Brian nggak pernah cerita?"
Aku menggeleng sambil tersenyum. Berdusta sedikit tidak masalah. Brian memang pernah bercerita. Villera adalah teman dia dari kuliah. Perempuan yang menyukainya, mengejar-ngejarnya sampai sekarang. Tapi aku tidak tahu jika Villera sedekat itu dengan keluarga Brian.
Aku baru menyadari jika Villera lah yang diharapkan Tante Vania untuk menjadi pendamping Brian bukan aku. Itu sebabnya, Tante Vania terlihat sangat tidak menyukaiku. Villera terlalu handal dalam memainkan perannya. Ia sangat pandai memikat orang dengan sifatnya yang pengasih dan santun meskipun itu hanya topeng belaka.
"Apa kesibukan Zelline akhir-akhir ini?" tanya Mama Brian.
"Hanya mengurus agensi, Ma. Zelline rasa tidak ada yang lain."
"Villera sedang membangun yayasan panti asuhan, apa Zelline nggak ingin bergabung?"
Aku menggeleng.
"Mama rasa sedikit melakukan kegiatan sosial nggak akan menghabiskan harta Zelline. Mungkin Zelline mau mencoba seperti yang sudah dilakukan Villera?" Tante Vania tersenyum membanggakan. "Villera dikenal oleh orang-orang sebagai sosok yang baik hati, dermawan dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jika Zelline bisa seperti itu, bukankah itu lebih baik?"
"Sepertinya Zelline akan fokus sama bisnis saja." Aku sudah menahan mulutku yang sudah siap mendebat.
"Itu bukan tentang dirimu saja, Zelline, tapi tentang Brian juga. Alangkah baiknya jika pasangan Brian memiliki sikap yang bijaksana dan baik di mata orang. Bukankah itu juga akan berpengaruh pada perusahaan kita."
Aku tersenyum, meskipun dalam hati aku ingin melakukan konfrontasi. Berpengaruh seperti apa? Aku bukan seorang politikus yang mencari massa dari rakyat kecil. Mencari muka tidak berguna. Bersikap dermawan dan memberi sumbangan pada kolega juga tidak memberi manfaat yang ada mereka akan menyerang balik karena dianggap telah melakukan penghinaan. Mengenai amal, kegiatan yang sudah kulakukan sepertinya tidak bisa diremehkan. Aku hanya tidak suka hal tersebut diekspos berlebihan. Jadi kenapa orang-orang suka memamerkan apa yang mereka berikan.
"Villera Sayang, mungkin kamu bisa mengajak Zelline saat melakukan kegiatan sosial?"
Dengan cepat aku menjawab, "Nggak Ma, terimakasih."
"Kenapa? Sepertinya kamu memang sama seperti yang dikatakan orang. Angkuh, sombong dan tidak memiliki belas kasihan. Cobalah untuk bersikap lebih baik Zelline. Memangnya apa susahnya melakukan amal?" Tante Vania tampak meradang. Air mukanya menunjukkan ketidaksukaan yang berlebih. Sepertinya Mama Brian sudah tidak bisa mengendalikan diri untuk berpura-pura menjadi calon mertua yang baik.
"Bukan seperti yang Mama pikirkan. Mungkin Mama nggak tahu, keluarga Zelline juga punya yayasan amal sendiri, Ma. Orang kepercayaan Papa yang mengurusnya. Kami memiliki target dan sasaran yang jelas. Banyak juga projek yang dilakukan. Aku, Mami dan Papa memang fokus menjalankan bisnis, tapi ada sekian persen dana yang kami alirkan ke yayasan. Setidaknya kita nggak perlu bekerja dua kali karena kami fokus pada pekerjaan masing-masing." Aku tersenyum penuh kemenangan.
"Atau mungkin Mama dan Villera ingin bergabung? Bukankah Villera memiliki hobi untuk beramal?" lanjutku sambil tersenyum menyebalkan. Jangan coba-coba untuk menyerang jika tidak ingin diserang balik.
Tante Vania tidak menjawab, ia terlihat sangat kesal. Ia pasti sedang menahan emosinya yang tepat di ubun-ubun. Bukankah lebih baik jika calon Mama mertuaku itu diam saja.
"Zelline, bantu Mama untuk merebus dagingnya terlebih dahulu di dapur ya dan sekalian bikin jus untuk minum nanti. Buahnya ada di kulkas, Villera tahu tempatnya." Mama Brian terkesan mengusirku menjauh. Aku yakin ia enggan berada di sekitarku.
"Baik, Ma." Aku segera pergi mengabaikan Villera yang mengikutiku.
Aku mulai mengambil wadah dan air. Memasukkan irisan daging-daging itu lalu merebusnya di atas kompor. Aku melangkah menuju kulkas dan membukanya segera. Banyak buah yang tersedia. Aku menimbang-nimbang buah apa yang mau di jus. Stroberi sepertinya pilihan yang cocok, tapi Brian lebih suka mangga. Akhirnya aku mengambil jeruk, stroberi dan mangga. Aku bergegas untuk mencucinya. Sesaat aku melirik Villera yang hanya menatapku sambil bersandar di dinding dekat pantry.
"Jika lo nggak ingin melakukan apapun sebaiknya lo pergi!" Aku betulan tidak tahan melihat kehadiran Villera di sana.
"Bukan gue yang seharusnya pergi, tapi lo, Zell, kehadiran lo di sini nggak diinginkan oleh Nyonya rumah ini."
Aku berdecak sebal. "If you know, bahkan ketika gue nggak diinginkan, gue masih punya hak karena gue tunangan Brian. Memangnya siapa Lo? Lo bahkan nggak bisa berbuat apa-apa selain sok berperilaku manis, mengatakan iya dan menutup mulut rapat-rapat demi mendapat perhatian mama Brian."
Villera menggeram. "Tutup mulut Lo, Zell!"
Aku mulai mengupas jeruk satu per satu? "Why? You look so mad. Bukankah kenyataanya emang kayak gitu?"
"Zelline, hubungan lo dengan Brian nggak akan lama. Gue mengenal dia jauh lebih lama daripada lo. Jadi lo nggak usah merasa berbangga diri." Villera menuangkan air panas ke dalam gelas untuk menyeduh teh. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba ingin membuat teh hangat, di hari yang panas seperti ini.
Aku menghentikan aktivitasku sambil tersenyum remeh. "Lo mengenal dia dan keluarganya bertahun-tahun. Lalu lo menjadi terobsesi dengan Brian. Tapi sayang, Brian bahkan nggak pernah melihat ke arah lo barang sekalipun, dan lo, lo justru berakhir menjadi asisten pribadi Mamanya. Menyedihkan sekali bukan, sebaiknya khawatirin diri lo sendiri."
Aku rasa Villera kalah telak. Ucapanku tidak ada yang salah. Villera terlihat murka. Ia membanting gelas berisi teh panas itu di meja dekatku bekerja. Cairan panas dan pecahan gelas itu mengenai lenganku, aku langsung bergegas menyalakan keran di wastafel dan mengalirinya dengan air.
Tiba-tiba Villera memekik keras, Brian dan Vania berlari mendekat.
"Aduh tanganku, Zelline, nggak maksudnya—" Villera mulai memainkan peran.
"Astaga, Villera kamu baik-baik saja, Sayang?" Mama Brian langsung menghampiri Villera dan melihat sekilas ada pecahan gelas dan bau semerbak teh. "Apa yang kamu lakukan Zelline?"
"Nggak Tante, Zelline nggak salah. Aku tadi menyenggolnya"
Aku mencibirnya dalam hati, siapa yang pelaku dan korban sebenarnya. Aku hanya terlalu muak untuk membela diri. Tidak ada gunanya.
"Jangan membelanya Villera! Zelline, Mama minta kamu untuk membuat jus, kenapa ada teh di sini? Kamu memang sengaja?"
"Hentikan, Ma!" Brian sepertinya tidak tahan dengan kegaduhan di depannya. Ia melangkah mendekatiku. "Sebaiknya Mama mengobati Villera, biar aku yang mengurus Zelline."
Selepas Mamanya pergi, Brian mengecek tanganku dan mendapati luka di sana. "Zelline, you okay?"
"Kenapa nggak tanya Villera aja? Kayaknya dia lagi kesakitan." Aku melepas tangan Brian yang mencoba memeriksa lenganku.
"Kamu yang luka, bukan Villera."
"Kamu nggak mau nyalahin aku juga?" Sejujurnya aku masih merasa sebal dan ingin mencakar gadis gila itu habis-habisan.
"Aku kenal kamu, Zell. Kamu nggak bakal lakuin hal kekanakan kayak gitu. Kalau memang perlu dan kamu beneran yang nyiram air ke Villera yang ada kamu bakal berbangga diri bukannya justru melempar kesalahan seperti yang dia lakuin."
Yah. He is absolutely true. He knows me damn well
"Seharusnya memang aku siram aja airnya ke muka dia sekaligus, biar dia nggak perlu repot-repot pakai topeng karena mukanya hancur."
"Aku obatin lukanya ya?"
Aku menggeleng. "Nggak perlu. Cuma kegores."
"But still."
"Please, dont overdo, B!" Meski kenyataannya Brian sibuk mencari kotak P3K dan segera membukanya.
"Aku antar pulang ya?" Brian menawarkan sesuatu yang menarik—pulang.
Aku menatap Brian bingung. "Makanannya bahkan belum matang. Aku nggak mungkin tiba-tiba pamit kan yang ada nanti—"
"Nggak apa-apa, biar aku cari alasan buat kita pergi. Sebenernya aku nggak suka ide pertemuan ini, kamu tahu sendiri bagaimana nyokap sebenarnya." Brian memegang lenganku dan menempelkan plester di sana. "Maaf, Zell, harus mengalami hal kayak gini."
Aku menggeleng. Cukup dengan Brian tahu bagaimana kondisiku saja itu membuatku lebih tenang. Aku tidak ingin membela diri dan berakhir menjelekkan Vania di depan Brian. Kesalahpahaman mungkin saja terjadi dan membuat buruk hubungan kita. Aku berusaha menghindari hal-hal semacam itu.
"Pulang sekarang?"
Aku mengangguk. Aku memang ingin segera pergi dari rumah ini bahkan sejak menginjakkan kaki tadi. Brian menyelamatkanku dan aku sangat berterimakasih untuk itu.