Chapter 14_Night Club

1962 Kata
Jika harus menyebutkan beberapa hal yang masuk dalam kategori sesuatu yang tidak kusukai adalah kebisingan dan klub malam. Aku lebih memilih pergi ke bar atau minum di apartemen sendiri sambil mendengarkan musik klasik. Aku juga berani bersumpah jika lebih memilih berkutat dengan tumpukan dokumen di kantor sendirian daripada menghabiskan malam di klub malam. Jika bukan karena undangan dari seseorang yang kuanggap teman mengadakan pesta ulang tahun di klub, aku tidak akan sudi menginjakkan kakiku di tempat ini. "Welcome, Princess," sapa Alden yang sudah duduk manis menungguku di table sendirian sambil menyesap rokoknya. Brian, aku belum melihat batang hidungnya. "Nice pick!" balasku lalu segera duduk di sana. "What?" "Pemilihan posisi duduk." "Oh, kan spesial buat lo. Daripada lo ngomel-ngomel nggak jelas gara-gara mix sama stranger," jawab Alden lalu mematikan batang rokoknya. Kebiasaan dia kalau aku ada di sekitarnya. Padahal aku juga tidak pernah protes. Kalaupun dia mau merokok ya merokok saja, but his brain thinks differently. "Tumben Zell lo mau datang. Beberapa kali lo absen di acara ginian." "Zevella itu temen gue, temen lo, temen Brian setidaknya cukup deket walau nggak banget. Nggak enak lah masak nggak datang, nggak mau nambah daftar musuh gue." "Makanya jadi cewek itu jangan galak-galak, gak punya temen kan lo." Aku mencebik. "Salah sendiri jahatin gue, ya gue tambahin lah. Lagian nih ya mending punya temen dikit tapi berkualitas daripada banyak tapi suka cari gara-gara." "Iya deh iya, Nona Mabella. Ngomong-ngomong, bisa nggak sih Lo duduknya deketan sama gue? Kita kayak jadi orang berantem tahu. Gue duduk di sini lo di ujung sana." Benar juga. Tidak bermaksud apa-apa. Tadi hanya asal duduk saja. "Ogah sih, daripada Lo grepe-grepe," gurauku dan Alden hanya memutar bola malas. "Tapi kayaknya gue bakal cabut duluan deh. Gue lagi nggak minat mabuk atau yang lainnya," ucapku lagi. Aku menggeser posisi dudukku. Membiarkan Alden merangkul pundakku sambil memberi tatapan mengejek. "Takut dimarahin Mami?" Aku mendorongnya tubuhnya pelan. "Gue? Sorry banget sih, gue anaknya terdidik durhaka, mana ada takut-takutnya." Alden tertawa lalu meneguk minumannya. "Emang sih nggak ada lawan lo tuh. But still Zell, lo beneran mau cabut gitu aja? Meskipun Brian bakal datang?" tanya Alden menggoda. "Nggak ngaruh kali, mau dia di sini atau nggak. Gue lagi nggak mood aja. Daripada gue bikin yang lain bete gara-gara kelakuan gue." Alden mengangguk-angguk. Aku yang badmood cukup menyebalkan. Dia cukup hafal dengan polah tingkahku, jadi lebih baik segera mengiyakan apapun yang kukatakan daripada perang mulut. "Lo beneran gak minum, Zell?" tanya Alden lagi. Dia sepertinya memang butuh teman minum tapi Brian sedari tadi belum menampakkan batang hidungnya. "Nggak," jawabku singkat. Kepalaku terlalu pening mendengar musik yang menurutku serupa dengan polusi suara itu. "Kalau gue tanya tentang sesuatu, lo masih punya mood buat jawab?" tanya Alden padaku. Aku tidak langsung menjawab tapi berbalik memandanginya. Setidaknya dengan melihat raut wajah Alden aku bisa tahu dia mau bertanya hal absurd atau sesuatu yang serius. "Gimana?" tanyanya lagi. "Go on!" Sepertinya kali ini serius. Meskipun aku tidak tahu apa yang ingin ia tanyakan. "Who is Devan?" tanya Alden tanpa basa-basi. Percayalah aku tidak biasa dengan raut wajahnya yang seperti ini—sangat serius. Rasanya sangat aneh. "Tetangga Mama," jawabku singkat. "Just neighbor?" tanya Alden tidak percaya. Aku merasa sedang diinterogasi. Aku yakin Bastian sudah berkata yang tidak-tidak sampai Alden sekepo ini. "Cuma mau mastiin sesuatu. Kalau lo emang serius sama dia. Ya nggak apa-apa. Bagus gitu. Cuman, bisa nggak lo pikir-pikir lagi?" tanya Alden tanpa melihat ke arahku. Dia sibuk memutar-mutar gelas selokinya. "Maksud gue, hubungan lo sama Brian dan segala konsekuensinya. Lo udah yakin?" tanyanya lagi kali ini sambil menatapku intens. Aku segera memalingkan wajah. Ini di luar dugaan. Aku tidak tahu jika Alden akan menanyakan hal itu. Aku bahkan kehabisan ide untuk menjelaskannya. Aku tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Devan. Awalnya, aku hanya ingin mencari tahu tentang laki-laki itu, memastikan dia bukan seorang penguntit yang suka menggangguku. Lalu tragedi terjadi, dia mengetahui rahasiaku tiba-tiba. Jika ditanya apa yang ingin aku lakukan sekarang. Jawabannya hanya satu, menghindar selagi bisa. Untuk hubunganku dan Brian atau tentang pencarian cinta yang kuharapkan. Aku sudah tidak memiliki gairah lagi. Semua yang menggebu-gebu di awal rasanya lenyap begitu saja. Aku hanya ingin hidup dengan tenang—tanpa ancaman juga tanpa pemikiran yang rumit. Rasanya akhir-akhir ini sangat melelahkan. "Zell! Kok lo bengong sih?" Alden mengibaskan tangannya di depan wajahku. "Nggak. Gue nggak ada apa-apa sama dia. Nggak usah percaya sama Bastian. Please Den, jangan bahas hal ini dulu. Kapan-kapan deh gue ceritain." Mungkin nanti, aku akan menceritakan semuanya pada Alden. Alden melihatku sebentar lalu meneguk minumannya lagi. "Oke." "Lama ya nunggunya? tanya Brian tiba-tiba lalu duduk di sampingku, di antara aku dan Alden. Aku mengamati laki-laki yang baru menampakkan dirinya ini dari atas sampai bawah. Brian masih menggunakan setelan kerjanya. Jelas tercetak gurat kelelahan dari raut mukanya. Namun jangan salah, Brian masih tampak mempesona dalam kondisi apapun. Dari awal kita bertemu sampai sekarang, penampilan dan ketampanannya masih menjadi yang terbaik. "Dari mana aja sih lo Bro? Jam segini baru nyampe. Udah mau selesai nih," sindir Alden. "Kerja lah, emang lo." "Gue juga kerja kali, tapi tetep bisa tepat waktu. Lo aja sok sibuk," sahut Alden membalas santai Brian menyunggingkan senyum miringnya. "Kerja apaan, orang lo cuma haha hihi sambil godain model cewek doang gitu." Alden menepuk pundak Brian sambil berkata. "Bro, kerja itu yang penting hasilnya. Mau haha hihi kalau hasilnya maksimal ya nggak apa-apa dong. Kalau nggak percaya, mau adu aset lo?" Brian memutar bolanya malas. Jika mau adu aset? Sudah jelas dia kalah telak. Alden itu diam-diam asetnya banyak. Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka. "Kenapa nggak langsung pulang aja sih, B? Kelihatan banget kamu lagi capek." Brian memandangku lama. "I just want yo see you, Zell. Miss you so hard." Aku tersenyum. Ingin sekali mengatainya atau sedikit menggodanya karena sudah mengatakan hal absurd. Tapi melihat Brian yang tampak seperti mayat hidup, aku mengurungkan niat. Tidak tega. Sepertinya dia memang kelelahan. "Zell, just a minute." Brian memelukku cepat bahkan sebelum mendapat jawaban. Takut ditolak mungkin karena biasanya aku akan langsung mendorongnya. Aku membalas pelukan Brian. Hanya sebuah pelukan yang aku harap bisa membuat dia merasa sedikit lebih baik. Aku bukan seseorang yang bisa memberikan kata-kata mutiara atau penyemangat, aku hanya bisa melakukan ini untuk menunjukkan kepedulianku. "Harusnya kamu tuh pulang aja, B. Udah kayak zombie tahu. Atau kalau nggak besok bolos aja deh." Brian melepas pelukannya. "Nggak bisa, Sweetheart. Besok jadwalnya padat banget, kalau reschedule yang ada malah ketumpuk-tumpuk." "Kalau gitu harusnya kamu istirahat sekarang, B." Brian menimpali. "Dan ngebiarin kamu sendirian di tempat yang nggak kamu sukai kayak gini? Big no!" "Sendirian? Dia sama gue kali," celetuk Alden begitu saja. "Hey third weel, lo nggak mau cabut gitu lihat kita lagi mesra-mesraan?" tanya Brian pada Alden. Menyenangkan sekali melihat mereka ribut. "Cih, kayak gitu lo sebut mesra-mesraan? Yang gue lihat Zelline capek lihat kelakuan lo." "Berisik!" Brian meninggikan suaranya. Aku hanya tersenyum lebar melihat kelakuan mereka. "Cantik banget sih kalo pas lagi senyum. Jadi pingin cium." "Tabok nih." Aku yakin kewarasan Brian tertinggal di kantor. Tidak biasanya dia sesinting ini. "Sohib lo kenapa sih? Perasaan masih belum mabuk," tanyaku pada Alden. "Freaknya kambuh. Katanya sih gara-gara tunangannya mau kawin lari sama tetangganya," jawab Alden yang langsung mendapat tepukan keras dari Brian. Aku mencebik. Mulutnya Alden memang patut diacungi jempol. Aku beranjak, memilih pergi dari kedua laki-laki itu. "Mau kemana?" Brian berteriak dan hanya kujawab dengan lambaian tangan. Aku menyapa beberapa teman-temanku. Setidaknya aku perlu menunjukkan eksistensiku ini kepada mereka-mereka. Aku tidak perlu tebar pesona, nyatanya kehadiranku cukup memicu atensi publik. Aku hanya perlu berkata hai, tersenyum manis dan berbasa-basi sebentar, sudah membuat orang di sekitarku tidak memalingkan mata. Aku tidak sedang membual, kenyataannya memang seperti itu. Apalagi banyak model laki-laki yang dari dulu memperhatikanku, namun sayang, mereka tidak cukup bernyali untuk mendekatiku. Ditambah statusku yang sudah bertunangan, apalagi tunanganku adalah Brian. Brian bukanlah lawan yang mudah. Mereka lebih memilih mundur tanpa mencari tahu hubungan seperti apa yang sebenarnya terjadi di antara Brian dan diriku. Padahal jika ada yang mau mencoba mendekatiku, aku tidak akan menutup diri. Aku hanya bersikap selektif. "Sudah punya Brian tapi masih berperilaku genit dengan laki-laki lain." Villera tiba-tiba menghadang ketika aku ingin menyapa teman-temanku yang lain. Aku melaluinya begitu saja, aku tidak ingin berakhir jambak-jambakan dengan dia. "Lo mau bertaruh, Zell? Kira-kira dengan siapa Brian akan berakhir, lo atau gue?" Aku menghentikan langkahku dan menghadap ke arah Villera. Ini topik yang sensitif menurutku. "Nggak. Itu urusan Brian yang akan memilih dengan siapa dia akan bersama. Gue nggak punya hak untuk ikut campur dan gue nggak akan menghalanginya." Aku selangkah mendekati Villera. "Hanya saja, kalau itu lo. Sampai titik darah penghabisan pun gue nggak akan membiarkannya. Karena gue tahu seberapa busuknya lo." Aku menatap Villera yang menelan ludahnya kasar. Aku rasa tatapanku cukup membuatnya terintimidasi, namun sepertinya ia berusaha bertahan. "Zell, gue benar-benar nggak mengerti dengan jalan pertunangan kalian. Lo membiarkan Brian berkencan dengan siapapun dan membiarkan dia menentukan pilihannya sendiri. Wow, menarik banget tahu nggak sih?" "Thats not your bussines!" Aku menjawabnya tegas. "Ah gue ingat, bukankah your dad has two wifes? Apa lo berencana hidup seperti nyokap lo? Siapa namanya? Jenita ya? Berbagi laki-laki dan hidup hanya karena mempertahankan harta, tanpa hati nurani. Bukankah Nyokap lo itu—" "Shut your damn mouth, Vi!" Aku menatap Villera nyalang. Tidak ada seorang pun yang boleh menghina keluargaku, termasuk menghina Ibu tiri. Hanya aku yang boleh menjelek-jelekkannya. Villera tersenyum licik, sekarang dia terlihat senang melihatku meradang. "Dan yang gue dengar istri kedua papa lo materealistis dan gila harta ya, kasihan sekali nyokap lo." Satu tamparan berhasil aku layangkan di pipi Villera dan itu berhasil membuat kita menjadi pusat perhatian. Aku berusaha untuk tetap terlihat tenang meski dalam diriku sudah terbakar. "Control your mouth, b***h! Nggak pantes lo ngomong kayak gitu ketika mulut dan kelakuan lo sendiri lebih nggak beradab dari apa yang lo ucapin." "Bukankah yang gue bilang itu benar? Keluarga lo emang kayak gitu, itu sebabnya lo dididik jadi jalang." Satu tamparan lagi mendarat di pipi Villera. Aku mendorongnya hingga terjatuh. Dengan gerak cepat, aku merebut minuman yang dipegang oleh salah seorang yang berdiri di dekatku dan menyiramkannya ke wajah Villera. "Sudah sejak lama gue ingin menyiramkan sesuatu ke wajah lo," ucapku sambil tersenyum sinis. "Zell!" Villera berteriak. Aku melihat Brian tergesa-gesa menghampiriku dan menarikku keluar. "Zelline, get yourself, please!" ucap Brian setengah berteriak ketika kita sudah berada di luar klub. Aku justru menatapnya tajam. Amarahku masih berada pada puncaknya. "Lo nggak sedang ngebelain Villera, kan? Lo tahu sendiri gue benci setengah mati sama itu cewek. Jangan pernah coba-coba untuk dekat sama dia!" Brian mengusap wajahnya kasar. "Bukan itu masalahnya sekarang. Aku cuma khawatir sama kamu, Zel. Kamu udah hilang kendali tadi." "Nggak Brian. Gue sadar apa yang gue lakuin. Bahkan jika hal serupa terjadi gue bakal lakuin hal yang sama." "Zelline!" "Lo nggak tahu apa yang cewek uler itu katain. Dia bawa-bawa keluarga gue, Brian. Dan lo tahu gue gak toleran sama yang satu itu." Brian terdiam sesaat. "Maaf, I dont know. But still, untuk sekarang tenangin diri kamu dulu, okay?" Aku terdiam. "Maaf," lirihku, beberapa saat setelah kewarasanku kembali. Brian benar, sudah seharusnya aku tidak marah-marah, apalagi melampiaskan hal ini padanya. Brian menggeleng pelan, "its okay, Zell. Yang penting kamu oke sekarang." "Aku mau pulang," ucapku kemudian. "Aku antar," balas Brian. "Nggak, aku pingin sendiri." "Zelline, aku anterin. Kamu sedang emosi." "Nggak, B. Please! Aku lagi nggak ingin diganggu atau aku nggak mau ngomong sama kamu lagi," ancamku pada Brian. Brian terdiam sesaat. "Oke, hubungi aku kalau sudah sampai," ucap Brian setuju. Aku pikir Brian cukup tahu jika ancamanku tidak pernah main-main. Tapi kali ini aku hanya ingin sendiri. Aku tidak marah dengannya. Hanya saja moodku sedang buruk-buruknya. Aku tidak ingin berperilaku atau mengatakan hal yang mungkin akan menyakitinya, lebih dari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN