Ini lebih baik menurutku—menghindari mereka. Dari awal aku datang ke party moodku sudah buruk, mungkin menjadi lebih baik ketika ngobrol sebentar dengan Alden dan Brian, kemudian rasanya hancur total setelah bertemu Villera. Bukannya aku tidak bisa mengontrol emosi, I can. Aku sudah terlatih untuk itu, tapi perempuan seperti Villera jika dibiarkan akan semakin menjadi-jadi. Aku tidak mau juga ribut dengan Brian dan Alden karena masalah ini. So, i decide to go home, sendiri.
Aku melirik jam di dashboard. Pukul 02.00 pagi. Jalanan mulai lengang. Aku menaikkan kecepatan mobilku. Tiba-tiba Ponselku berdering. Aku melirik siapa yang menelpon—berada di kursi samping.
Alden is calling.
Mungkin dia khawatir karena aku tiba-tiba pergi. Aku menepikan mobilku dan ingin menjawab panggilannya. Namun ketika aku ingin menghentikan mobil, remku mendadak tidak berfungsi. Aku mencobanya berkali-kali—menginjak rem. Tapi tetap tidak bisa. Seketika jantungku rasanya melorot jatuh ke perut. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Otakku rasanya tidak berfungsi. Keringat dingin mulai mengalir. Aku hanya memegang kemudiku erat-erat.
"Calm down, Zelline, Calm down!" Aku berteriak pada diriku sendiri. Mencoba menenangkan diri agar aku bisa berpikir.
Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir, di depan ada persimpangan. Aku perlu melewati perempatan itu. Jika rambu-rambu tiba-tiba merah dan mobilku tetap melaju, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin membunuh orang atau aku sendiri yang akan terbunuh. Ini bukan sebuah game, nyawaku yang menjadi taruhannya.
Nafasku mulai tersengal-sengal. Tubuhku terasa dingin. Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya membiarkan mobilku melaju dan berusaha menggerakkan kemudi agar tidak menabrak orang.
Rambu lalu lintas merah. Mobilku benar melaju. Pikiranku kosong. Kendaraan dari segala arah menyalakan klakson. Sorot lampu dari berbagai arah membuatku memejamkan mata. Tanganku gemetar. Aku nyaris kehilangan kesadaran sebelum ponselku berdering lagi.
Aku membuka mata dan aku berhasil melalui perempatan itu. Mobilku masih bergerak. Dengan gemetar, aku meraih ponselku dengan tangan kiri, memencet tombol jawab dan menyalakan speaker.
"Zelline, you okay? Gue denger lo baru saja berantem—"
"Alden help me!" teriakku histeris. "Please, Den bantuin gue," ucapku sambil menangis. Aku tidak tahu bagaimana dia mendeskripsikan suaraku yang mungkin terdengar seperti rintihan, jeritan atau apapun itu. Aku benar-benar ketakutan.
"Zell! Ada apaan? Please jangan bikin gue khawatir!" Alden berteriak, dari suara bising yang aku dengar, dia masih berada di dalam klub.
"I can't Alden, I can't." Aku menangis, tanganku rasanya kebas—terlalu erat memegang kemudi. Rasanya aku ingin menyerah.
"What you can't?"
"Just—"
"b***h, just tell me!" Alden sepertinya meradang.
"Rem gue nggak bisa, dia nggak bisa. Maksud gue, rem gue blong."
"Where are you?" tanyanya cepat. Dia sepertinya berlari ke luar klub. Suara bising itu menghilang seketika.
"I dont know," jawabku. Bukan berarti aku tidak tahu daerah ini. Hampir setiap saat aku melewatinya tapi aku benar-benar tidak bisa memikirkan apa namanya.
"What the hell did you do, Zelline?!"
"What should i do, please help me!"
"Zell calm down! Take a breath!"
Aku menarik nafas panjang.
Suara alden terdengar lagi. "Bunyiin klakson lo sepanjang jalan. Paling nggak biar kendaraan lain tahu kalau keadaan lo darurat atau minimal biar mereka minggir."
Aku melakukan apa yang Alden katakan.
"Ada jalan berpasir, atau tanah gitu?"
"Nggak ada, aspal semua."
"Oh s**t! Kalau gitu lo jauhin gas lo, kurangin kecepatan, tabrakin mobil lo!"
"Lo gila!" Aku berteriak. Aku tahu maksudnya baik tapi aku tidak berani.
"Zell kalau lo nggak nabrakin mobil lo, itu nggak akan berhenti, dan itu lebih bahaya. Please, Zel!" Alden berteriak di seberang sana. Dia pasti sangat frustasi.
"I can't, gue takut Alden, gue nggak berani."
"Lo tahu. You are the most stubborn person I have ever met."
"Thanks buat pujiannya." Aku masih sempat menjawabnya dengan sindiran.
Alden diam sebentar. Kemudian dia bersuara lagi. "Coba lo pikirin tempat paling aman yang paling deket dari tempat lo sekarang berada."
"Rumah Mama," Aku menjawab cepat. Hal itu yang terlintas di pikiranku. Dan karena tujuan awalku memang ke sana. Selain itu jaraknya memang sangat dekat dari sini.
"Then go there. But dont forget about your klaxon. And the important thing is keep yourself relaxe, nggak usah panik, berpikir aja nggak ada yang salah, rem lo baik-baik aja. Lo cuma lagi eksperimen nggak pake rem."
Kalau keadaannya normal mungkin aku akan balas mengatainya karena mengatakan hal yang tidak masuk akal. Tapi sekarang apapun yang Alden katakan its better than anything.
Agree or not, talking to him like that, relaxes me a lot.
Aku masih terus menyuarakan klakson sepanjang jalan. Beberapa kali membuka jendela dan berteriak ke pada pengendara seperti,
"Im Sorry, this is an emergency thing."
Dan mereka akan membuka jalan atau beberapa akan mengumpatiku terlebih dulu. This is a craziest moment i have ever had.
Aku sudah sampai di jalanan kompleks perumahan Mama. Sangat sepi tidak ada orang sama sekali. Im relieved, aku berhasil melewati jalan raya. Rasanya seperti mendapat guyuran air di tengah gurun pasir.
"Alden, gue udah ada di jalanan kompleks. Gue harus gimana?" tanyaku pada Alden. Dia belum memutuskan panggilannya, setiap saat dia bertanya bagaimana keadaan di sini.
"Bump your car! Little bump. Nggak ada jalan lain."
"Tapi gue nggak berani."
"Zelline, do or you die!"
Aku menelan ludah dengan susah payah.
"Lo sekarang udah bisa berpikir rasional. Dan lo tahu nggak ada jalan lain. Cuma tabrakan kecil Zell, setidaknya lo bisa mengatur seberapa besar kekuatannya. Jadi lo bisa melindungi diri. Thats better daripada lo mengalami kecelakaan."
Aku terdiam. Dia benar. Semua yang Alden katakan benar.
"So, where should i bump my car?" Pertanyaan yang sangat bodoh.
"Wherever. Anywhere. Terserah Zell terserah!"
Aku melihat rumah Mama di depan. Rumah dua lantai di ujung jalan. Haruskah?
"Jangan sampai lo nginjek gas! And do it right now, Zell, do it!"
Bersamaan dengan suara Alden. Aku menutup mata. Melindungi kepalaku dengan kedua tanganku.
Cepat. Semua terjadi sangat cepat.
Sepersekian detik rasanya diriku terlempar ke dimensi yang lain. Kosong. Benar-benar kosong. Mungkin, aku sudah tidak berada di dunia ini lagi.
"Zelline! Buka pintunya! Apa yang kamu lakuin di depan rumah saya?"
Atau mungkin tidak. Aku masih di sini.
Aku membuka mata. Pelan-pelan, sangat pelan. Kepalaku rasanya sakit. Aku melihat seseorang menggedor pintu mobilku.
Am i safe?
Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku meraih ponselku di samping dan membuka pintu mobil. Aku berdiri dengan susah payah, jalan terhuyung-huyung lalu aku berdiri bersandar pada mobil.
"Zelline, you okay, Zell!" Itu suara Alden.
"Yah, im safe Alden, im safe. Thanks no no i dont know how to say but you safe my life," ucapku dengan lemah, tenagaku sudah terkuras tapi ada suatu kelegaan yang membuncah di dalamnya.
"Oh God thanks. I will go there as soon as possible."
"No no im okay. Aku hanya butuh istirahat, please. I really need a take a rest. Lagipula, di sini, sudah ada seorang dokter."
"Zell, jangan keras kepala! Gue akan ke sana setelah ini."
"Please Alden, gue beneran cuma butuh istirahat."
Alden berdiam sebentar. Terdengar suara helaan nafas yang berat.
"Oke, take a rest. Kalau butuh apa-apa jangan lupa hubungi gue."
"Hm. Oh ya Den, please dont tell Brian about this. Thanks."
"Oke, no worries." Lalu Alden mengakhiri panggilan.
Aku mengambil nafas begitu dalam. Membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku kemudian aku menatap Devan yang berdiri tidak jauh dari tempatku—dia memperhatikan setiap gerak-gerikku.
"Are you drunk?" tanyanya.
Aku menggeleng lemah. Lalu memejamkan mata, merasakan bagaimana kakiku masih menginjak tanah. Aku masih hidup. Mengerikan sekali, kejadian beberapa menit yang membuatku merasakan pengalaman antara hidup dan mati. Mungkin aku berlebihan tapi aku tidak bohong ketika aku mengatakan aku sangat ketakutan.
"Sleep in your room, please. Atau kalau kamu sudah sadar bisa pindahin mobil kamu? Kamu sudah merusak pagar saya." Devan berbicara dengan nada dingin.
Aku membuka mata dan mengamati sekitar. Aku pikir aku tadi menabrak pagar Mama tapi ternyata meleset sedikit ke sebelah. Pantas saja dia menggedor-gedor pintu mobilku.
"I can't, aku butuh layanan untuk menderek mobilku. Don't worry, aku akan mengganti biaya perbaikannya," jawabku cepat. Aku tidak punya banyak tenaga untuk menjelaskannya pada Devan.
"Terserah kamu saja, saya pikir kamu memang selalu bertindak seenaknya. Jadi, lakukan apapun yang kamu inginkan dan jangan lupa bereskan kekacauan ini."
Aku menyunggingkan senyuman menantang lalu berjalan mendekatinya. Tanganku meraih lengannya lalu aku menyentuh dadanya pelan.
"I have a long story, do you wanna hear me?" tanyaku lirih.
Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Menyandarkan kepalaku pada pundaknya. Sejenak aku memejamkan mata. Aku tidak sedang menggodanya. Aku hanya lelah, benar-benar lelah. Karena setelah beberapa saat kemudian, semuanya menjadi gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.