Aku terbangun dan melihat sekeliling. Tanpa harus bertanya aku tahu aku ada di mana—kamar inap rumah sakit.
"Have u recognize yourself?" tanya Devan yang duduk di sofa jauh sebelah kanan tempat tidurku sambil melihatku intens.
Aku langsung menjawabnya, "Bukankah lebih tepat jika kamu bertanya seperti, apa kamu baik-baik saja? Its sound better than your sarcasm one."
Dia melirikku sebentar lalu beralih lagi ke ponselnya. "Nggak perlu, kamu baik-baik saja. Saya hanya memastikan jika pengaruh benturan di kepala kamu itu nggak bikin kamu tambah sinting."
Daripada marah dengan ucapannya, aku justru tertawa mendengarnya. Jangan lupa dia itu Devan. Aku tidak boleh terkejut.
"Udah jelas, your psyche is getting worse," tambahnya lagi.
Maybe yes. Aku tidak menyerukannya. Devan juga tidak akan tahu. Bagaimana gilanya aku semalam. Kalau diingat-ingat lagi, kewarasanku sudah hilang terjebak di dalam mobil. Ketakutan membuatku menjadi orang yang tidak punya akal sehat.
Semuanya terjadi sangat cepat, bahkan aku masih tidak percaya. Ini seperti mimpi buruk semata. Terbangun dan semua baik-baik saja. Masalahnya, apa yang terjadi beberapa jam yang lalu adalah kenyataan. Seseorang berusaha membunuhku. Ini jelas-jelas percobaan pembunuhan. Beruntungnya, Tuhan masih menyayangiku dan membiarkan aku bertahan di dunia ini. Thanks God.
"Mau ngapain?" tanya Devan setelah melihatku berusaha bangun dari tempat tidur. Sedikit kesusahan karena infus yang melilit di tangan kiriku. Selain itu tubuhku rasanya kaku sekali, belum juga kepalaku yang berdenyut nyeri. Aku tidak berpikir efeknya akan begini.
"Nggak usah banyak gerak!" ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati ranjangku. Kemudian ia memutar tuas ranjang tempat tidurku agar lebih tinggi. Setelah itu dia menggeret kursi untuk duduk di sebelahku.
"You are a liar," tuduhku pada Devan.
Dia mengerutkan dahinya tanda tidak paham kenapa aku menuduhnya menjadi seorang pembohong.
"Siapa yang kamu maksud? Saya?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Kamu bilang aku baik-baik aja, but i feel so much hurt like my body broken into pieces."
"Oh," jawabnya sangat santai setelah itu dia memainkan HPnya lagi.
Aku harus bersabar. Devan ini manusia yang baik tapi aktivitas mulutnya benar-benar buruk. Ia hanya akan mengatakan hal-hal yang ingin dia katakan saja, jangan pernah berharap lebih dengan dia.
Dulu, aku akan mengabaikan orang-orang sejenis Devan. Ketika para remaja sering mengidolakan laki-laki yang dingin karena mereka pikir itu keren. Aku justru berpikir sebaliknya. Orang-orang semacam itu sangat membosankan. Apalagi aku sudah terbiasa mendapatkan banyak perhatian sejak kecil. Diabaikan oleh Devan seperti ini rasanya sangat menyebalkan.
Sayangnya, akhir-akhir ini aku dan dia justru terlibat banyak hal. Bahkan sekarang, aku harus berurusan dengannya lagi ketika aku ingin menghindarinya. Hidup memang kejam.
"Just oh? Paling nggak kamu bisa explain bagaimana kondisi aku yang sebenarnya, kan?" Aku masih memaksanya untuk berbicara. Sebenarnya aku hanya tidak ingin diam karena rasanya pasti aneh. Devan tahu aku sedang menghindarinya.
"Nothing bad happen to you. Pemeriksaan menyeluruh sudah dilakukan dan nggak ada masalah. Rasa sakit itu hanya trauma karena benturan. Selain itu karena tubuh kamu tegang selama perjalanan sebelum tabrakan," jelasnya cepat.
Aku jadi bertanya-tanya, memangnya dia tahu apa yang terjadi padaku.
"Kamu tahu apa yang—" terjadi padaku? Aku ragu untuk bertanya.
"I know." Dia menjawabnya spontan lalu menatapku. "Alden told me what happen to you, everything. Sampai kamu nabrak pagar rumah saya."
Aku memutar bola malas. Pagar rumah dia sepertinya sangat berharga. Of course aku akan menggantinya.
"Kamu kenal Alden?"
"Nggak sebelumnya, sampai saya menghubungi dia karena kamu tiba-tiba pingsan. Dia orang terakhir yang menghubungi kamu. Dan saya nggak mau direpotkan."
Aku hampir saja melongo mendengar jawabannya.
"Kamu nggak berpikir saya yang menemani kamu sejak kamu pingsan kan?" tanyanya lagi. Aku menatapnya sinis.
Benar. Jangan berharap dengan manusia. Aku meralat ucapanku, dia bukan orang yang baik. Dia orang yang kejam.
"Lima jam Alden menunggu kamu, jam delapan pagi tadi dia meminta tolong saya untuk menggantikan dia karena harus ke kantor—kantormu dan kantornya sendiri. Dia titip pesan, katanya kamu dilarang memikirkan urusan kantor until your condition better." Devan menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi. Should i say wow? Sejauh ini, ini kalimat terpanjang yang pernah kudengar.
"And you did?" tanyaku.
"What?"
"Menggantikan dia dan menyampaikan pesan." Bisa saja Devan menolak. Lebih masuk akal jika dia menolak. Aku tidak sedekat itu dengan dia dan Devan tidak ada tanggung jawab apapun denganku.
"Just a manner. Selain itu, saya orang terakhir yang kamu temui setelah kejadian. Jika masalah ini di bawa ke polisi, saya akan dipanggil sebagai saksi. Saya tidak mau menjadi kandidat tertuduh hanya karena tidak memiliki hubungan yang baik dengan korban."
Such an amazing reason. Dia laki-laki yang sangat rasional dan memiliki pertimbangan besar mengenai masa depannya. Aku menganguminya sekaligus jengkel setengah mati. Kepalaku rasanya tambah berdenyut-denyut.
"Just go," ucapku lemah. Daripada marah sepertinya aku lebih ke arah meratapi diri. Dia sedikit mirip denganku—cukup kejam dengan seseorang. Mungkin ini karma. In some cases, aku terkadang berperilaku jahat. Dan sekarang aku mendapat balasannya.
Dia tidak menjawab.
Aku menolehkan wajahku ke arah samping—berlawanan dengan tempat duduk Devan—lalu memejamkan mata.
Sunyi. Hanya terdengar suara detak jam.
Jujur, banyak bayang-bayang yang menghantuiku. Banyak pertanyaan juga yang terus terlintas. Aku takut, aku khawatir, aku gelisah. Tapi tidak ada satupun yang bisa kulakukan.
"Devan," panggilku masih sambil memejamkan mata. Aku hanya sedang mendistraksi pikiranku dari hal-hal buruk.
"Hem?"
"Nothing." Karena aku memang hanya memanggilnya saja.
"Its sound weird. It doesnt look like you."
Aku membuka mata dan melihat ke arahnya. "Maksudnya?"
"Too quiet i think. Zelline that i know is so much cerewet, over confident, and crazy, absolutely."
Aku tertawa kecil mendengarnya. Aku memang sesinting itu. Bahkan di pertemuan pertama aku sudah membabi buta untuk mengikutinya ke tempat kerja.
"Actually, aku ngehindarin kamu akhir-akhir ini," ucapku tanpa melihat ke arahnya.
"I see."
"Aku ragu harus menghindar dari kamu lagi apa nggak. Karena aku rasa semakin menghindar, semakin sering juga bertemu sama kamu. Aku tahu, mau menghindar atau nggak, nggak akan ngaruh sama kamu. Bagaimanapun juga it was my problem at all."
"Lakukan saja apa yang membuatmu nyaman. Seperti yang kamu bilang, your secret is not my bussines. I will keep it my way."
Aku menatapnya. Melihat bagaimana matanya ketika dia mengatakan kata-kata itu. Its seem so sure. Membuatku berpikir dia memang serius. Selama ini aku hanya mengkhawatirkan hal-hal yang sia-sia.
"Kalau aku mengganggu kamu lagi, like before. Is it okay for you?" Aku tidak tahu bagaimana bisa mempertanyakan hal semacam ini. Tujuan awalku—mengkonfirmasi apakah dia orang baik atau tidak—sepertinya harus berlanjut. Im not sure but its look like he is really a good person. Im sorry, Devano.
"Just do." Dia beranjak dari tempat duduknya. "You know Zell, its so much weird to saw you less talking like that."
"Saya ada jadwal visit dan operasi. Mungkin saya akan ke sini—" Dia terlihat berpikir lalu melanjutkan ucapannya, "Nanti malam. Atau mungkin tidak."
Lalu dia pergi begitu saja menghilang dari balik pintu.
Wow, lagi-lagi dia membuatku tidak bisa merespon. Seperti, benar-benar tidak menduga apapun yang akan dia katakan. Dia terlihat sanggup menjungkirbalikkan dunia dalam hitungan satu detik.
Setelah Devan pergi aku tidak melakukan apa-apa lagi. Literally diam yang benar-benar diam. Otakku saja yang berputar-putar. Seperti yang sudah kukatakan tadi, sekarang aku berada di fase di mana pikiran yang negatif terus menerus menghantuiku setiap saat.
Waktu terus bergerak. Tidak ada yang berkunjung selain perawat yang berlalu lalang mengecek kondisiku. Tadi juga ada perawat yang mengantar sarapan tapi aku bahkan tidak tertarik untuk menyentuhnya. Bukannya aku manja, minta disuapi atau karena makanan rumah sakit tidak sesuai seleraku. Aku hanya sedang tidak berselera makan. Thats all.
Aku mulai mengantuk, sudah hampir tengah hari aku hanya bermain ponsel, menyalakan TV dan membiarkan TV di depan itu menontonku. Aku mulai memejamkan mata lalu sebuah suara tiba-tiba menginterupsiku.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Zelline? Kamu itu kecelakaan apa membenturkan diri?"
Dari suaranya saja sudah bisa dipastikan kalau itu Ibu Tiri. Aku membuka mata dan mengamati bagaimana Mami melangkahkan kakinya mendekat lalu meletakkan buah-buahan di nakas dekat tempat tidurku.
"Kata Alden kamu mabuk semalam, beneran?" tanyanya lagi.
Tentu saja tidak. Aku tidak akan sampai di rumah Mama dan membenturkan diri jika semalam mabuk. Mungkin aku akan langsung terbang ke ICU setelah beberapa meter di awal saja.
Tapi sepertinya Alden membuat skenario lain. Aku akan mengikutinya. Aku tidak mau Mami bergerak berlebihan merespon apa yang kukatakan jika aku berbicara yang sebenarnya.
"Kayaknya sih gitu."
"Kok kayaknya, kamu beneran nabrak apa nggak?"
"Beneran, Mi. Aku nabrak pintu pagar tetangga sebelah rumah Mama. Mami nggak lihat ada kasa di dahi aku? Aku bahkan belum ganti rugi." Aku mencebik teringat percakapanku dengan Devan tadi.
"Udah tahu lagi drunk, masih ngotot nyopir sendiri. Kamu kalau sinting, sebagian disumbagin, jangan diambil sendiri semuanya. Untung kamu nggak apa-apa." Ibu tiri mengoceh sambil mengupas mangga, mengambil beberapa potong strawberry dan meletakkanya di piring.
"Aku emosi. Semalam aku bertengkar sama Villera." Aku was-was bisa saja Mami justru memarahiku habis-habisan. Tahu sendiri, beberapa waktu yang lalau Mami memintaku berteman dengan Villera.
"Mami sudah dengar dari Brian, dia menemui Mami tadi pagi." Aku menatap tidak percaya. Brian? Kok jadi Brian? Aku penasaran tapi tidak mau bertanya lebih. Aku malas jika Mami sudah membahas hubunganku dengan Brian. Lebih baik jangan memancing.
"Lain kali gunakan cara yang lebih berkelas, Darling. Kamu bisa menghabisinya with a smart way. Orang kayak gitu nggak pantas dikasihani. But still dont make yourself look bad in other's mind padahal yang terjadi adalah sebaliknya."
Aku mengangguk, aku tidak mendebat. Apa yang dikatakan ibu tiri benar adanya meskipun aku cukup terkejut. Aku rasa ibu tiri tahu poin di mana Villera sudah menyinggung keluarga kebanggaannya.
"Mama di mana?" tanyaku tiba-tiba.
"Kenapa bertanya sama Mami? Kamu kan yang tinggal satu rumah sama dia. Kamu bahkan nabrak pagar di dekat sana," jawabnya dengan nada jengkel.
Aku mencebik, aku bahkan tidak tahu apakah Mama ada di rumah atau tidak. Menghubunginya pun sulit sekali.
Jenita mengambil garpu dan menyuapkan sepotong mangga.
"Open your mouth. Mami dengar dari Brian, kalau kamu buruk banget mengelola diri. Meskipun Mami seneng karena sepertinya Brian know you so well. But, Zelline kesehatan itu yang utama. Benahi pola makan kamu, Honey, pola tidur, olahraga dan istirahat secukupnya. Kita nggak akan mendadak miskin hanya karena kamu tinggal tidur dan makan."
Jarang sekali melihat Jenita yang cerewet—bukan karena cari gara-gara. Dia terlihat mengkhawatirkanku. Jenita yang seperti ini lebih mirip seperti ibu kandung. Actually, i feel so warm with kind of action.
"Lalu, Papa?" Aku bertanya lagi. Aku ingin tahu kabar kedua orang tuaku yang sulit dihubungi itu.
"Mami nggak tahu, dia sibuk. Jangan terlalu banyak berharap."
"Bukannya Mami tinggal serumah sama Papa? Bagaimana bisa Mami nggak tahu? Jangan-jangan Mama dan Papa ngedate ke luar kota, Poor you, Mom."
Aku suka sekali membalikkan ucapan Mami. Mungkin, jika bukan karena aku sedang sakit, Mami akan menyumpal mulutku dengan buah-buah itu. "Kamu nggak mau mengaca, Zell? Kamu juga ditinggal, Sayang."
Aku tertawa terbahak-bahak. Meratapi nasibku dan Ibu tiri.
Sementara Jenita menatapku malas, aku rasa dia terlalu hafal dengan tingkah absurdku.