Aku tidak tahu apa ini efek kejadian yang baru saja mengguncangku atau karena benturan di kepalaku. Aku menjadi sangat melankolis. Jarang sekali aku berperilaku seperti ini. Aku lebih sering mengabaikan apa yang terjadi. Tapi sekarang, hanya karena melihat ruang inapku kosong membuat aku berpikir, aku adalah orang paling menyedihkan sedunia.
Tadi siang Mami menjengukku, hanya sebentar. Dia sibuk dengan urusannya sendiri—setidaknya Mami mau menyempatkan diri memastikan kondisiku. Alden, dia belum kemari, aku hanya bertukar pesan dengannya dari tadi. Brian, aku tidak tahu dia di mana. Aku juga tidak menghubunginya. Aku tidak ingin terlihat seperti sedang mengemis perhatian. Teressa, dia tidak tahu apapun yang terjadi padaku. Sebenarnya, it was my fault. Aku meminta Alden untuk menyimpan masalah ini di antara kita saja, tambah keluargaku dengan sedikit mengubur kebenaran. Aku tidak suka menghadapi orang-orang yang pura-pura peduli. Tapi ternyata, aku justru merasakan kesepian sekarang.
Ngomong-ngomong ini sudah malam. Tapi sampai sekarang aku juga tidak melihat Devan. Dia bahkan kerja di rumah sakit yang sama dengan tempatku berbaring sekarang, tapi ironinya aku tidak bertemu dengannya seharian. Memang seharusnya aku tidak mengharapkan apapun darinya.
"Brian belum ke sini?" tanya Alden tiba-tiba sambil membuka pintu. Dia masuk begitu saja, menggaet kursi lalu duduk di sebelahku.
"Dia tahu gue di rawat?" tanyaku pada Alden.
"Tahu," jawabnya singkat. Sangat memicu keingintahuan yang lebih dalam. "Udah makan malam belum?"
"Udah, tadi siang. Yang malam belum. Nggak nafsu," jawabku.
"Gue bawa nasi padang. Nasi rendang maksudnya. Gue bawa dua, kali aja lo jadi nafsu. Gue laper," cerocosnya. Dia sibuk membuka bungkusan nasi. Meletakkan satu bungkus yang lain di atas nakas. Dia mengambil sendok plastik dan dengan secepat kilat dia menyantap makanannya seperti orang kesurupan. Dia sungguhan kelaparan.
"Nggak usah ngelihatin gue kayak gitu. Udah gue bilang, im starving," protesnya. Mungkin dia terganggu karena aku melihat dia seperti ingin mengulitinya.
"Lo nggak niat nanyain gue makanan apa yang ingin gue makan gitu? Secara lo denger gue nggak makan dari tadi siang."
"Zelline," Dia menghentikan acara menyantapnya lalu menatapku. "Nggak usah banyak tingkah. Kalau lapar makan aja yang ada. Kalau nggak mau, ya udah kelaperan aja."
Damn! Aku langsung memukul lengannya. He is absolutely my friend.
"Gue bisa keselek, Monyet!" teriak Alden.
Aku tidak mengindahkannya. Hanya menekuk muka, kali saja dia luluh. Tapi sayangnya, zonk. Dia masih fokus dengan makanannya. Entah kenapa hari ini aku merasa seperti orang-orang sedang mengacuhkanku.
Alden selesai makan. Dia beranjak dari tempat duduknya. Mengambil air minum dan membuang sampah.
"Den," panggilku ketika dia masih meneguk airnya.
"Apa?" Dia duduk lagi di sebelahku.
"Lo bilang apa sama Brian?"
"Gue bilang lo nabrak pagar pas perjalanan pulang. Gue nggak cerita detailnya. Dia mengira lo kayak gitu gara-gara marah sama Villera kemarin. Ya semacam lo menabrakkan diri buat ngeredam amarah. Secara, lo kan kadang sinting."
Lagi-lagi aku memukul lengannya. Tapi kali ini dia justru tertawa setelahnya.
"Gue nggak segila itu ya!" Aku mendesah frustasi. "Udah berapa kali gue dikatain sinting hari ini."
"Cuma gue nggak nyangka aja dia belum ke sini. I mean, waktu gue cerita, dia kelihatan khawatir banget. Tapi kelihatannya lo nggak se-oke itu buat dikhawatirin." Alden mengejekku.
"Lo mau gue pukul lagi?!" ucapku sebal. Aku tahu, dia suka sekali menjadikan hubunganku dan Brian menjadi bahan bullyan.
"Bercanda, Brian lagi sibuk sih makanya dia belum bisa ke sini."
Alden melanjutkan, "Jujur sama gue, thats all bothering you, right? I mean Brian."
Aku tidak yakin. Kalau dibilang tidak, aku berbohong. Kalau dibilang iya, not that much.
"Kesimpulannya lo terganggu sama itu," ucap Alden.
Aku memprotes, "Kesimpulan dari mana yang lo ambil?"
"Dari wajah lo. Udah tertulis jelas di sana, Nona Zelline Mabella." Alden menggeser tempat duduknya lebih dekat denganku. "Zell, lo nggak harus nyembunyiin apapun dari gue. About Brian or anything else."
Aku tidak menjawabnya. Bukan karena aku ingin menyembunyikan sesuatu dari dia. Tapi karena aku sendiri tidak yakin—apa yang ada dalam otakku.
"Terutama kejadian yang baru saja menimpa lo," lanjutnya. "Oke, gue nggak bisa maksa lo buat cerita. Tapi Zell, keadaannya sekarang berubah, semakin lo menutup mulut lo semakin bahaya buat lo. Lo nggak ingat terakhir kali lo hampir kehilangan nyawa."
Thats true apa yang dikatakan Alden memang benar. Mungkin aku memang harus menceritakannya—sekarang.
"It's impossible for me to forget it. Gue bahkan nggak bisa tidur gara-gara itu. Gue masih takut. Mungkin setelah ini gue nggak berani bepergian sendiri."
Membayangkannya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin.
"So, would you tell me?" Alden merendahkan nada suaranya, terdengar lebih lembut. Seperti, dia sedang menenangkanku, mengatakan kalau dia akan berada di sampingku untuk melaluinya.
"Lo ingat waktu gue bilang ada yang neror HP gue?" Aku memutuskan untuk memberitahu dia.
Alden mengangguk.
"Semua bermula dari situ. Sejak kejadian itu, gue ngerasa gue sering diikuti seseorang. Im not sure apa memang gue diikuti oleh bad person or just someone yang Mami kirim to follow me. Itu sebabnya gue nggak pernah cerita."
"Gue sempet minta seseorang buat ngelacak nomor plat mobil yang pernah ngikutin gue. But unfortunately, that number was not registered," lanjutku.
Melihat apa yang telah terjadi di belakang. Membuatku berpikir, apa aku terlalu berusaha untuk terlihat tangguh sampai aku lupa merasakan apa itu yang namanya ketakutan. Normalnya, orang-orang akan langsung melapor ke polisi setelah mendapat kejadian-kejadian aneh. Atau minimal bercerita ke orang lain untuk mendapat perlindungan diri. But me? Yang kulakukan hanyalah berdiam diri dan berpura-pura menganggapnya suatu hal yang biasa dan tidak penting. Not espected, I got my accident karena kelalaian ku sendiri.
"Zell," panggil Alden karena aku justru melamun.
Aku melihat ke arahnya, "What should i do, Den? I keep remembering bad things. I can't help my self, i cant control my self, again," ucapku putus asa.
Dia menepuk-nepuk bahuku pelan. "Its okay. Semuanya akan membaik. I swear, I'll help no matter what. Lo nggak perlu khawatir. Gue sudah minta bantuan kepolisian dan meminta mereka bergerak diam-diam. Meskipun gue nggak expect banyak ke mereka. Gue juga akan cari jalan lain. Yang terpenting sekarang, lo pulihin diri lo dulu."
Aku mengangguk. It's feel so nice to hear him comfort me.
"Lo jadi pingin makan apa?"
Aku mengerutkan dahi. "Out of the blue?"
"Just say whatever you want or maybe you need something. Cepetan sebelum gue berubah pikiran."
"Dih. Gue pingin nasi goreng. Gue juga butuh pakaian sih. Meskipun sakit gue mau tetep tampil kece." Aku menjawabnya cepat, kelewat cepat sebelum dia berubah pikiran.
Alden memutar bola matanya malas. "Nggak penting banget. Nggak bakal ada tamu. Orang gue nggak kasih tahu siapa-siapa. Oh gara-gara mau kelihat tetep shining, shimmering, syilililili di depan Brian? Atau kalau nggak si pemilik pagar roboh itu, iya kan? ngaku lo! "
"Ngaco! Nggak lah, just for myself. lagian kan lo yang nawarin tadi. Gue cuma menjawab. Kalau nggak mau yaudah," jawabku sambil menekuk muka.
"Dasar Queen of ngambek. Iya gue ambilin. Sekalian gue mau nyebat dulu. Kalau lo keburu laper, makan rendang dulu aja lah. Gue cabut."
"Alden, jangan lama-lama!" teriakku ketika dia membuka pintu untuk ke luar.
"Nggak, minimal lima jam." Masih sempat membuat orang kesal.
"Sekalian nggak usah ke sini," gerutuku lirih. Dia tertawa lalu menghilang di balik pintu.
Seperginya Alden, aku ingin tidur sebentar. Tapi sayang sekali, acara tidurku harus terganggu. Jika itu Brian atau Devan, dengan senang hati aku akan menyambutnya. Namun justru seseorang yang tidak aku harapkan datang berkunjung. Melihatnya saja sudah membuat darahku mendidih. Aku heran darimana dia tahu aku dirawat. Setahuku Alden tidak menceritakannya kepada siapapun.
"How are you, Zelline?" Villera masuk dan langsung duduk di samping tempat tidurku, tanpa dipersilahkan.
Aku mengacuhkannya, mendadak kepalaku nyeri. Aku ingin memencet tombol darurat agar gadis itu segera pergi.
"Baru semalam, bahkan belum 24 jam lo baru saja menampar dan mendorong gue, sekarang lo yang terbaring di sini. Takdir memang sangat mengejutkan."
Aku muak mendengar suaranya.
"Brian bahkan nggak mengunjungi lo kan? Dia terlalu sibuk dan lo nggak lebih penting dari pekerjaannya. Gue tadi siang mengantarkan makan siang dan makan bersama dia. Poor you, Zelline. Mungkin sebentar lagi kalian akan berpisah."
Apa yang harus aku lakukan agar dia berhenti bicara.
"Bisa nggak lo diem aja! Stop bicara omong kosong! Kalau lo mau ngomongin bisnis, its okay. tapi kalau lo terus-terusan ngomongin hal-hal yang nggak berguna sebaiknya lo pergi!" Aku menahan diri untuk tidak menamparnya sekali lagi.
"Oh jadi ngomongin Brian itu sesuatu yang nggak berguna ya? Gue baru tahu." Gadis itu tersenyum licik.
"Nama Brian sangat berharga untuk diucapkan sama mulut lo yang nggak beretika itu."
"Lo!"
Aku melepas infus kasar dan beranjak dari tempat tidur. Aku segera membuka pintu ruangan. "Keluar! Keluar dari sini sebelum gue bertindak lebih kasar sama lo! Lo pikir hanya karena gue sakit, gue lemah? Nggak bisa ngelawan lo? Big No, b***h! Justru karena di tempat ini, gue bisa menghajar lo sampai puas tanpa ada yang tahu."
Villera tampak tercekat, dia memucat. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku dan aku yakin Villera tahu tentang itu. Gadis itu berjalan, melangkah mendekatiku. Sepertinya dia masih berusaha keras mempertahankan harga dirinya. "Gue nggak takut sama lo. Gue datang ke sini ingin memberitahu lo jika gue akan merebut kembali apa yang seharusnya gue miliki. Brian. Dia adalah milik gue sejak awal."
Aku tidak pernah menyangka Villera begitu terobsesi dengan Brian. Membayangkannya saja membuatku ngeri.
"Whatever! I dont mind. I don't care. Tapi lo tahu sendiri, gue nggak akan tinggal diam." Aku mencengkeram dagu Villera. "Jika lo masih setia sama ego lo, setidaknya pikirin baik-baik tentang masa depan keluarga lo! Gue bisa melakukan sesuatu yang berdampak sama perusahaan keluarga lo, bayangin aja dulu apa yang bakal terjadi. Mungkin, sangat mungkin lo bakal merangkak dan bersujud di bawah kaki gue. Ah Im sorry, Im forget. Lo bahkan nggak tahu apa itu yang namanya bisnis."
Aku tahu tidak sebaiknya aku mengancam seseorang. Tapi mungkin itu sedikit membuatnya jera. Tapi aku juga tidak sekedar basa-basi mengucapkannya. Aku sanggup mewujudkan apa yang aku ucapkan.
Aku melepaskan cengkeramannya. "Biar gue beri saran, be careful with every step you take, Villera. Jika sewaktu-waktu gue menjatuhkan bom, sebaiknya lo sudah mempersiapkan diri."
Setelah itu dia buru-buru pergi dari ruanganku. Mungkin tengah menahan amarah atau mungkin sedang menyembunyikan rasa takut. I don't know and i don't really care.
Aku kembali ke tempat tidurku. Sedikit merintih kesakitan, tanganku berdarah. Damn! Kenapa aku harus sok-sokan melepas infus seperti itu.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, Devan tiba-tiba datang dan membawa sekotak peralatan medis. Ia meraih tanganku dan membersihkan bekas darah di sana. Aku yang diperlakukan secara dadakan seperti itu kehilangan kesadaran dalam beberapa detik.
"Tahan sebentar." Devan memasukkan jarumnya cepat.
Aku meringis. Aku bisa melihat Devan sedekat ini membuat amarahku menguap begitu saja. Aku memang penyuka laki-laki tampan. Tidak terbantahkan lagi.
Devan berdehem, "Sudah!" Dia berjalan menjauh. Meletakkan kotak medisnya di meja.
Kesadaranku kembali dan itu membuat keadaan awkward. "Darimana kamu tahu kalau infus aku lepas?"
"Nggak sengaja dengar terus saya lanjutkan sampai selesai," balas Devan biasa—tanpa ekspresi. Ia melepas jas dokternya dan duduk menyandarkan diri di sofa.
"Kayaknya memang hobi banget sih nguping pembicaraan orang. Your habit is so bad, Devano. Kalau nggak sengaja denger itu diabaikan, tinggalin, jangan diterusin!"
Devan membalas, "I don't know. Literally, i didnt do that kind of thing. I swear. Mungkin gara-gara kamu yang membawa pengaruh negatif buat saya."
Hah? What the hell did he mean?! Dia yang ngelakuin, aku yang disalahin?
Aku menghela nafas pasrah. "Whatever."
Devan mengedikkan bahu. "Ternyata mulut kamu pedas juga ya. Think about it, it look so great you can make that girl lari ketakutan kayak gitu."
"Is she?" tanyaku memastikan.
"Apanya?"
"Cewek tadi, lari ketakutan?"
Dia mengangguk. "Everyone will say that."
Aku tertawa senang. Setidaknya kekuatanku untuk menindas orang—as Zelline Mabella—belum menghilang. Ya meski dalam keadaan seperti ini.
"You are crazier right now."
Aku masih tertawa. "You make my day, Devan," ucapku sambil mengerling manja.
Aku pikir Devan ingin sekali melempariku dengan remote AC yang ia genggam erat-erat itu. "Just sleep, Zelline!"
Aku tersenyum lalu memejamkan mata. Aku memang ingin tidur tadi. Sambil menunggu Alden datang. Setidaknya aku bisa tidur dengan tenang, ada Devan setia menungguku. Tanpa merasa takut jika tiba-tiba ada orang yang berusaha mencelakaiku.