Brian sudah di sini—duduk di dekat bed—sejak aku membuka mata. Aku tidak tahu dia di sini sejak jam berapa. Mungkin sejak subuh. Aku juga tidak tahu Alden sudah menghilang ke mana. Karena setahuku, dia yang menemaniku semalam.
Brian berkata, ia sungguhan akan membolos kerja seharian demi menemaniku. Dia merasa bersalah karena seharian kemarin tidak menampakkan batang hidungnya. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya. Aku tahu dia sibuk. Tapi, melihat bagaimana ekspresi merajuk minta dimaafkan versi Brian sangat menggemaskan. Jadi, aku pura-pura kesal.
"Zell, kamu marah ya?" Dia terus berusaha mengajakku bicara. "Iya pasti marah sih nggak usah ditanya. Zelline, maaf dong, Sayang."
"Zell, please. Ngomong dong, last time kita ngambek-ngambekan dan itu nggak enak."
Aku meliriknya sebentar. Mencoba tidak bereaksi dengan duduk bersandar di bed sambil memainkan remote AC secara random—menaikkan turunkan suhu.
Brian tiba-tiba duduk di sebelahku, di bed yang sama, tubuhnya menghadap ke arahku. Dia kemudian memegang tanganku. Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini. Tubuhku membatu.
"Zelline." Dia memanggilku dengan suaranya yang rendah. Sangat rendah sampai rasanya dia mampu membuatku menggigil.
"Nggak." Aku menatapnya—berusaha untuk tenang. "Aku nggak marah sama kamu."
"But you avoid me—again." Dia terlihat sangat terluka. Aku jadi tidak tega. "I know Zel, it was my fault. I—"
"Sstt." Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya. "Sudah dibilangin juga. Aku nggak marah. I know your hectic day. I cant complain. Brian, its okay. Im okay."
Dia membuang nafas berat. "Meskipun Zell. Meskipun aku sibuk, nggak saharusnya aku diam aja. Aku nggak tanya bagaimana kabar kamu. Nggak nanyain apa yang terjadi. Just being a jerk."
Aku tidak menjawabnya. Bukan karena marah. Karena setelah aku mendengar ucapannya. Aku pikir ini memang yang terbaik. Aku tidak tahu apa yang akan aku katakan bila Brian bertanya. Aku menyembunyikan semuanya dari Brian—sejak awal. Dia tidak tahu tentang stalker yang menggangguku sampai kejadian yang baru saja menimpaku—I hid it. I just, I don't want him to worry about me. Aku tidak tahu apakah ini pilihan yang tepat atau bukan.
"You know, B. I just feel lucky to hear what you have said," ucapku sambil tersenyum tulus.
Brian menggeleng, dia memperhatikanku dengan wajah yang muram.
Aku meraih tubuhnya dan memeluknya. Pelan. Aku ingin menenangkannya. Juga mencari ketenangan.
Dia membalas pelukanku. Menepuk punggungku pelan. I need that pretty much.
"You okay?" tanyanya.
"Im not. Sometimes, aku merasa seperti. Aku membutuhkan seseorang. Tiba-tiba aku jadi takut sendirian."
"You have me," ucapnya dengan pelan. Dia mengeratkan pelukan.
Aku terdiam memejamkan mata. Banyak yang berkecamuk dalam otakku.
Aku melepas pelukannya. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Brian. Bagaimana dia akan merespon jika ia tahu aku menyembunyikan banyak hal dari dia. Bahkan tentang seluk beluk keluargaku sendiri. Kebohongan besar tentang siapa diriku.
Are you still the same, B? Would you stay by my side? Mungkin, dia akan menarik kembali ucapannya.
"You have me, Zell. You can tell me anything," ucapnya meyakinkan.
Aku cukup tahu. Aku cukup bisa membedakan saat-saat Brian menjadi b******k dengan segala kebulshitan ucapannya atau ketika Brian sungguhan dengan kata-katanya. Dan sekarang, he mean it.
"Sometimes, im being crazy. Dan yang kemarin kayaknya udah berlebihan banget sampai Alden maki-maki ke aku sambil teriak."
Brian mengerutkan dahinya. "Kamu, beneran nabrakin diri ke pagar?"
Aku mengangguk. Aku tidak bohong. Tentang Alden aku juga tidak bohong. Waktu itu, dia memang terus berteriak agar aku cepat menabrakkan diri tapi tak kunjung kutabrakkan—karena takut. Tapi untuk keseluruhan cerita tentang kenapa aku menabrakkan diri, aku tidak akan cerita.
Brian membola. Mungkin otakknya sedang mencerna kenapa aku bisa punya ide tidak masuk akal seperti itu. "Zell, kamu tahu apa yang kamu lakukan itu bahaya?"
"Of course."
"But you did it, Honey." Dia terlihat sangat kesal.
Dia melanjutkan, "Aku pikir Alden sedang bercanda waktu dia bilang kamu marah dan membanting setir buat meredam emosi. But you told me thats a reality. Zell, please! That so dangerous."
"Beruntungnya aku nggak kenapa-kenapa. Kamu lihat kan aku baik-baik aja?"
Dia mengacak rambutnya frustasi. Sementara aku hanya tertawa kecil melihatnya.
"Oke never mind!" Dia tiba-tiba mencengkeram kedua pundakku erat. "Swear to me!"
"Ha?"
"No. Maksudku. Swear to God. if you won't do it again."
Tawaku pecah. Aku tidak menyangka Brian akan mengkhawatirkanku sebanyak ini. Haruskah aku memberi tahu yang sebenarnya. Aku jadi tidak enak karena mengelabuhinya. Tapi akan lebih buruk lagi jika dia tahu yang sebenarnya.
"Zelline!" Dia masih menuntutku.
"Okay, okay I swear."
"Good Girl." Dia mengacak-acak rambutku lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri di depan kaca jendela, lalu menyibak tirai dan membiarkan cahaya memenuhi ruangan.
"Brian."
Dia menoleh ke arahku. Pantulan cahaya membuatnya tampak bersinar. Aku harus menyipit untuk memperhatikannya. Aku harus memuji Tuhan dengan segala Nama-Nama Agung-Nya karena telah menciptakan manusia seindah Brian.
"Kenapa Zell? Kamu mau tanya apa?"
Oh iya, aku jadi lupa.
"Kemarin—kamu makan siang sama Villera?" Oh ini pasti terdengar aneh.
Dia tidak menjawab. Dia mengerutkan dahinya, seperti tidak paham dengan pertanyaanku.
"Kemarin? Villera? Makan siang?" Dia membeo pertanyaanku. "Nggak tuh."
"Seriously?"
"Beneran. Kok kamu bisa mikir kayak gitu?"
"She said that."
Dia tersenyum sebentar. "And you trust her word?"
Damn! Sudah seharusnya aku tidak percaya dengan manusia satu itu. "Seharusnya sih nggak."
Brian melangkah mendekat ke arahku. "Kemarin aku ke Surabaya dari pagi sampai sore. Tapi sebelum itu aku sama Alden datang ke tempat Mami kamu buat nyeritain apa yang terjadi meski aku nggak tahu bagaimana detilnya. Alden bilang lebih baik aku ikut. Setelah itu Alden yang nganterin aku ke Bandara. Itu sebabnya aku nggak bisa ke sini. Kalau kamu nggak percaya—"
"Nggak-nggak, aku percaya kok. Cuma kemarin Villera ke sini dan ngomong random aja," jelasku cepat-cepat. Aku berdecak sebal, sudah pasti Ratu Ular kemarin hanya memprovokasiku. Seharusnya aku tahu jika mulut Villera itu tidak bisa dipercaya.
"Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?" tanyanya menyelidik.
Aku menggeleng. Kalau dipikir-pikir aku yang ngapa-ngapain dia.
"Syukurlah. Tell me kalau dia ngapa-ngapain kamu. And for your information aku belum ketemu sama Villera sejak dia bertengkar sama kamu, malam itu. Jadi, nggak usah khawatir."
"Siapa yang khawatir?" tanyaku mengelak.
"Oh," ucapnya sambil menyunggingkan senyuman menggoda.
"Nggak ya, B!"
"Apa yang nggak?" tanyanya menggoda.
"Kamu nggak usah mikir aneh-aneh!" teriakku tiba-tiba. Terkadang aku kehilangan kendali jika sudah bicara dengan Brian.
"Mikir apa? Kalau seorang Zelline Mabella cemburu?" Brian terkekeh. "Aku nggak akan berekspektasi di luar kendali, Sayang. It will hurt my heart."
"Great. Dont your dare!" balasku sengit dan dia hanya tertawa.
Brian melihat arlojinya sebentar. "Udah waktunya sarapan. Kamu mau dicariin makan apa?"
Aku terdiam, semalam aku meminta Devan—saat dia di sini bersama Alden—untuk membelikanku bubur untuk pagi ini. Aku tidak tahu apakah aku patut berharap atau tidak.
"Nggak deh. Kemarin udah nitip kok," jawabku singkat.
Brian mengerutkan dahinya. "Siapa?"
Belum sempat menjawab, beruntungnya seorang perawat memberi salam dan masuk ke ruanganku. Dengan telaten perawat cantik itu mulai mengecek suhu dan tekanan darahku. Tak lama perawat itu menyelesaikan tugasnya dan memberitahu jika kondisiku baik-baik saja—semuanya normal. Ia lalu pamit undur diri.
"Cantik kan?" tanyaku pada Brian
Brian terdiam sebentar. "Cantik," jawab Brian datar.
"Mau aku kenalin? Kemarin aku ngobrol-ngobrol sama dia."
Brian menggeleng.
"Atau jangan-jangan udah ada yang baru?" tanyaku menyelidik. Lebih tepatnya aku penasaran.
"Nggak ada, Zell. Kan kamu sendiri yang bilang kalau nggak suka lihat aku sama yang lain." Brian menggodaku, sudah pasti.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan menginterupsi percakapan kita. Aku yang mengetahui Devan yang datang hanya menelan ludah kasar. Aku seperti kepergok sedang melakukan perselingkuhan, entah siapa yang menjadi selingkuhanku yang jelas aku tidak suka situasi ini.
"Siapa?" Brian bertanya lebih dulu.
"Devan. Tetangga Zelline." Devan meletakkan sebuah bungkusan ke meja dan menoleh ke arah Brian.
Aku berniat memperkenalkan Brian, "Devan, dia Brian—"
"Tunangannya Zelline," sambung Brian cepat, sementara aku menahan nafas.
Kenapa tiba-tiba suhu ruangan seakan panas sekali. Dan kenapa jadi seintens ini. Semalam, waktu Alden dan Devan bersama, keadaannya tidak seburuk itu. Mereka bahkan bercengkrama mesra mengabaikanku. But now? Like in hell?
Devan mengangguk. Seperti mengabaikan Brian, dia justru berbicara denganku. "Buburnya cepet dimakan, keburu dingin."
Jika tidak ada Brian, dengan senang hati aku langsung mengiyakan dan menggoda Devan untuk menyuapiku meskipun sudah pasti ditolak. Atau jika tidak ada Devan, Brian pasti justru akan mengeyel untuk menyuapiku meskipun mungkin aku menolak. Tapi sekarang, aku takut tersedak di tengah acara makan gara-gara dua laki-laki itu.
"Nanti saja ya, aku belum lapar," pintaku memelas.
Devan tidak mendengarkan ucapanku, ia justru menyiapkan bubur, air mineral dan menatanya di meja kecil, lalu menempatkannya di hadapanku. "Makan sekarang!"
Aku mencebik, percuma bicara dengan Devan. Mau tak mau aku memasukkan bubur itu ke dalam mulutku.
Setelah itu, tanpa kata, laki-laki itu beranjak pergi.
"Kemana?" tanyaku
"Kerja. Habiskan buburnya! Nanti kalau sempat saya balik," ucap Devan yang beberapa saat kemudian sudah menghilang dari ruangan.
Aku menghela nafas berat. Go to hell, Zelline!
Brian mengamatiku tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Aku makan ya," ucapku kikuk. Ngomong apa sih, Zel?
"Tetangga?" tanya Brian tiba-tiba.
Aku sadar pasti Brian merasa ada sesuatu yang aneh dengan tingkah lakuku. "Iya. Tetangga Mama. Tetangga yang pagar rumahnya aku tabrak. Dia nolongin aku malam itu."
Brian mengangguk dan tidak bicara lagi. Rasanya aneh. Biasanya Brian acuh jika aku mengenalkan laki-laki atau kadang justru mengenalkanku pada teman-temannya. Entah kenapa melihat ia bersikap, aku merasa seperti dia tidak baik-baik saja.
"Zell."
Aku mendongak. Suara rendah itu lagi. Suaranya benar-benar membuatku merinding.
"You love him?"
Aku mengejapkan mata beberapa kali. Beruntungnya aku tidak tersedak. Apa aku salah dengar?
"Zell?"
"Suddenly? Are you serious when u ask me about that?"
Dia mengangguk. "Nggak tahu kenapa, rasanya beda aja. Cara kamu ngelihat dia, cara kamu merespon apa yang dia katakan. You look different, just different."
"Bukan berarti i love him, Yan. I mean—"
Brian memotong ucapanku, "Not yet, Maybe."
"Do you want me to love him?" Entah kenapa rasanya tenggorokanku panas ketika mengucapkannya.
Brian tersenyum, tangan kanannya mengusak lembut puncak kepalaku. "I just want you to be happy, Zell. No more."
"Meskipun im happy because of him?" Aku masih memburunya. Entah kenapa rasanya sangat salah mendengar jawabannya.
Dia mengangguk. "No matter what."
Aku membuang muka. Semua yang dia ucapkan membuat hati dan pikiranku berotasi.
Ini yang selalu membuatku goyah ketika aku mulai yakin dengan Brian. Dia tidak pernah memberikanku kejelasan apa yang sebenarnya dia inginkan. Jangan dipikir aku tidak bertanya. Dia hanya tidak akan menjawabnya dengan lugas—memberiku teka-teki lagi.
"Bukankah kita masih-masing berhak bahagia? Kenapa kamu mengatakan as long as im happy, how about you?"
"I just want to stay, Zell. Thats all."
"Ha?"
Dia hanya tersenyum tanpa minat lebih lanjut untuk menjelaskannya.
"Udah buburnya dihabisin dulu. Aku mau ke kantin. Habis itu ke sini lagi. Aku udah janji buat nemenin kamu," ucapnya lalu melenggang pergi.
Aku kehilangan kata-kata. Aku bahkan lupa ada bubur di depan mataku.
What did he mean? Brian! How dare you!