Aku bisa pulang hari ini. Aku hanya bingung harus pulang ke mana. Ke mansion dan bertemu ibu tiri bukan pilihan yang tepat. Pertemuan terakhir kita memang terkesan lancar, tapi probabilitas untuk saling beradu mulut lagi juga cukup besar.
Pulang ke rumah Mama, aku tidak yakin. Aku sedikit kesal juga dengannya. Aku tak melihat Mama dan Papa selama dua hari ini. Mereka seperti sedang mengacuhkanku.
Apartemen, aku tidak berpikir untuk ke sana untuk saat ini. Aku masih memiliki ketakutan yang berlebihan pasca insiden kemarin. Berdiam diri di sana, sendiri, hanya akan membuatku tambah tidak karuan.
"Masih betah di sini?" Suara Devan membuyarkan acara berpikirku. Dia sudah berdiri di dekat pintu ruang inapku, berjalan mendekat.
Tentu saja tidak, aku bahkan sudah siap tampil cantik dengan balutan dress selututku.
Tapi sebenarnya, jika ditanya dari lubuk hati paling dalam. Stay di sini untuk beberapa hari ke depan jauh lebih baik daripada pulang. Tapi sayang, Dokter kesayanganku ini tidak mengizinkan. Katanya aku sudah terlampau sehat untuk tetap di sini. Padahal dia tidak tahu saja, keadaan psikisku jauh lebih buruk daripada kondisi fisikku.
Merasa tidak ada jawaban, Devan jalan menuju pintu keluar. Oh astaga kenapa orang satu ini tidak sabaran sekali.
"Devan wait!" Aku berlari menyusul laki-laki itu dan meraih jas dokternya cepat.
Dia berhenti, sambil melihat ke arah tanganku yang mencengkeram jasnya kuat.
"Oke, Im sorry." Aku melepaskannya buru-buru.
"Ada apa lagi? Saya harus segera mengantar kamu pulang dan kembali lagi bekerja."
Ini bisa dikatakan hal yang baik karena dia sudi mengantarkanku pulang tanpa aku merengek atau menggodanya dulu sampai dia jengah dan menyerah. Tapi jika terlalu buru-buru seperti ini, bukankah lebih baik aku naik taksi saja.
"Sorry banget, tapi aku belum packing. I mean beberapa pakaian dan peralatan yang harus aku bawa pulang kembali. I promise, it wont take a long time."
"Alden bilang dia yang akan mengurus semuanya. Sekalian biaya administrasinya."
Aku tidak tahu sejak kapan mereka berkomunikasi berdua. Aku tahu Alden itu supel tapi manusia satu ini, aku sangat meragukannya.
"He is my friend."
"I know, everyone knows that he is your absolutely friend."
"Karena itu, aku nggak mau ngerepotin dia lagi. I can handle this." Aku masih belum menyerah.
"Just go, Zell. He asked me for this. Come with me atau kamu saya tinggal di sini," ucap dia lalu membuka pintu.
"Ok," jawabku setengah sebal. Aku mengikuti dia dari belakang. Aku merasa punya rival yang sekelas sekarang. Benar-benar batu dan tidak bisa diajak bicara. He is so persistent.
"Wait!" ucapku tiba-tiba dan dia menoleh ke belakang.
"Ponselku. Wait!" Aku langsung berlari kembali ke kamar. Ini bukan salahku. Dia yang memaksa untuk cepat pulang tadi. Damn, kenapa harus membuat masalah seperti ini sih.
Aku membuka pintu cepat-cepat. Mengambil ponsel di kasur dan slingbag berisi dompet di meja. Aku segera ke luar. Membanting pintu kamar. Lalu berlari lagi menemui Devan.
Dia masih ditempatnya tadi, tidak beranjak sedikit pun. Dia melihat arlojinya lalu melihat ke arahku yang tengah berdiri di hadapannya sambil mengatur napas. Rasanya seperti sedang diospek kakak tingkat. Padahal, seingatku, tidak ada kakak tingkat yang berani melakukan ini padaku.
"Take a deep breath, Zelline!" ucapnya. Tanpa diberi komando aku sudah mengambil nafas dalam-dalam. Memangnya siapa yang mau sesak nafas di sini. Aku juga tidak sebodoh itu.
Dia berbalik arah dan melangkahkan kakinya. Aku mengikutinya dari belakang, membuka layar ponselku dan mengetikkan sesuatu.
To: Alden
Im sorry, bener-bener maaf. My room was so mess. Dan sekarang gue udah mau otw balik. I couldnt do anything, karena cowok satu ini stubborn banget. But thanks f*****g much and love u, Den.
Tidak berselang lama, Alden membalas pesanku.
From: Alden
Nggak usah khawatir. Dan nggak usah sok-sokan ngomong love ya, siapin aja duwit ganti rugi. Minimal dua kali lipat, kalau lo temen yang baik sih harusnya berkali-kali lipat. See you my money.
Damn you! Aku langsung mematikan ponsel dan memasukkannya dalam tas. Don't expect anything from him! Sudah bisa ditebak jika kelakuannya seperti itu.
*
"Istirahat yang cukup jika ada apa-apa hubungi rumah sakit," ucap Alden ketika menurunkanku di depan rumah Mama.
"Not you?"
"Im super busy."
Aku tertawa kecil. Benar-benar langsung ditolak. Serasa tidak memiliki harga diri lagi.
"By the way, aku harus tetap mengucapkan terimakasih. Its basic manner for me. Terimakasih udah nemenin dan udah nganterin," ucapku melihat dia dari luar jendela mobil.
Devan mengangguk kemudian melajukan mobilnya. Ia masih ada jadwal praktek pagi ini dan mau menyempatkan diri untuk mengantarkan tetangga sintingnya ini. Proud of Alden yang bisa meminta tolong padanya untuk mengantarkanku.
Aku segera memasuki rumah, berharap bisa merebahkan diri dengan nyaman. Aku sudah merindukan kasur empukku.
Aku tidak menyangka, ketika menapakkan diri ke dalam rumah, Papa dan Mama menyambutku. Mereka berdiri di ruang tamu, tersenyum hangat seakan sedang menungguku. Padahal aku tidak memberi tahu jika aku akan pulang ke sini. Apa Alden memberi tahu mereka? Sekilas, kita tampak seperti keluarga bahagia. Aku tersenyum kecut.
"Selamat datang, Sayang. Kebetulan tadi Mama masak banyak. Ayo, kita sarapan bersama."
Bukankah terdengar sangat kaku? Aku tidak terbiasa mendengar Mama mengucapkan hal semacam itu. Mama juga terlihat kaku melakukannya.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti mereka berjalan menuju meja makan. Sudah sejak lama kita tidak sarapan bersama. Mungkin terlalu lama sampai aku tidak ingat apakah kita pernah makan bersama selain hari ini.
Aku segera duduk di kursi. Mama dan Papa juga mengambil tempatnya.
"Bagaimana kata dokter?" Papa bertanya padaku.
"Baik-baik saja."
Papa mengangguk. "Mobilmu masih direparasi. Papa sudah mengirim yang baru untuk kamu."
"Iya, Pa. Makasih." Itu yang aku ucapkan meskipun sebenarnya aku tidak ingin mengendarai mobil sendiri lagi untuk beberapa waktu ke depan. Sampai kondisi psikisku lebih baik. Apalagi orang yang melakukan itu belum diketahui. Tapi aku tidak ingin mengatakan apapun padanya. Hubunganku dengan Papa sangat canggung sejak dulu.
"Mama belum menemui tetangga kita untuk ganti rugi. Rumahnya selalu kosong, tapi Mama sudah meminta seseorang untuk memperbaikinya."
Jika diingat-ingat Devan selalu berada di rumah sakit, meski terlihat ogah-ogahan laki-laki itu setia menemaniku seusai bekerja. "Nanti biar aku yang bicara, Ma. Secara aku yang menabrak. Aku harus bertanggung jawab."
Tidak ada obrolan lagi di antara kita. Sunyi, yang terdengar hanya suara dentingan alat makan. Aku ingin bertanya ke mana Papa dan Mama dua hari ini, tapi aku takut mendengar jawaban yang mungkin akan terdengar seperti alasan.
Aku selalu mendengar Papa dan Mama bergurau ria jika sedang bersama, hanya karena ada diriku keadaan sangat berbeda. Terkadang aku juga ingin barangkali sekali saja bergurau dengan mereka—seperti anak lain pada umumnya.
Papa hanya akan bicara jika ada hal serius atau itu menyangkut pekerjaan. Mama yang sebenarnya cerewet itu pun tidak pernah banyak bicara jika itu denganku, dia terkadang justru terlihat seperti ibu tiri, ucapannya pun terdengar seperti basa basi. Apa mungkin karena sejak kecil Mama memang sudah menyerahkanku pada Jenita.
Mengenai Jenita, entah kenapa aku merasa dia justru jauh lebih baik. Meskipun aku tidak pernah tidak adu mulut jika bertemu. Tidak ada yang mengalah karena sama-sama merasa dominan—kecuali pada kondisi tertentu. Tapi di suatu waktu, Jenita terlihat lebih peduli padaku dari siapapun.
Keluargaku benar-benar sebuah ironi yang nyata.
"Aku selesai, aku ingin istirahat, Ma, Pa."
"Iya, Sayang. Tidur yang nyenyak oke," balas Mama.
Aku mengangguk. Aku langsung pergi ke kamar tidur.
Selesai makan langsung tidur. Luar biasa sekali hidupku. Tentu saja tidak, aku tidak melakukan hal semacam itu. Aku lebih memilih duduk di sofa, menyalakan TV dan membiarkan TV itu menyala tanpa melihatnya. Anggap saja sebagai teman yang menemaniku.
Ngomong-ngomong teman, aku tidak mendengar kabar apapun dari Teressa. Dia memang tidak tahu aku mengalami suatu insiden. Jadi, aku tidak berharap dia akan menjengukku. Tapi kalau tidak salah, ini sudah lima hari sejak aku bertemu dengan dia dan Tessa tidak menghubungiku sama sekali. Padahal dia jarang absen bertukar pesan denganku meski tidak penting. Apa dia sakit?
Aku mencoba menghubungi Teressa tapi nomornya tidak aktif. Tumben. Aku mencoba menghubungi nomor dia yang lain tapi hasilnya nihil. Aku memutuskan untuk menelpon nomor kiosnya berkali kali dan akhirnya dia menjawab panggilannya.
"Hallo, selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Tessa, its me, Zelline"
Untuk beberapa saat tidak ada suara di sana.
"Tess?"
"Zell, maaf sebelumnya, tapi untuk sementara waktu, bisa nggak lo nggak hubungi gue dulu?"
Aku terkejut, "Maksud lo? Tess, gue ada salah ya sama lo? Kok gitu sih, jangan aneh-aneh deh! Nggak lucu tahu."
"Lo nggak salah kok. Emang keadaannya gini, ini demi kebaikan lo sama gue."
"Terresa, explain to me, please! What happen?"
"Nothing, i just, i will block your number. Im sorry."
Teressa menutup panggilannya sepihak. Aku bingung dan kelabakan sendiri. What the hell is this? Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya berjalan mondar mandir memikirkan hal rasional apa yang menyebabkan seseorang yang aku sebut teman itu mendadak tidak mau dihubungi. Kepalaku mendadak berdenyut nyeri.
Aku membuka ponselku lagi dengan kilat dan memanggil seseorang.
"Hai, Darling!" Mami langsung mengangkat panggilanku."Kudengar kamu sudah pulang dari rumah sakit? Apa Papamu ada di sana?"
"Iya Papa di sini."
Lama tidak ada sahutan dari sana. "Apa mereka benar-benar ke luar kota bersama?"
"Aku nggak tahu. Aku nggak ngobrol banyak sama mereka." Aku memijit pelipisku—pusing. Kasihan juga Ibu Tiri. Tapi kenapa jadi membahas hal ini. Bukan itu yang mau aku tanyakan.
"Mami bentar! Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"What did you do?"
"Yang jelas, Zelline!"
"My friend."
"Oh." Dari jawabannya sudah bisa disimpulkan. Dia tahu yang aku maksud. As espected, Mami did something to Tessa.
"Just oh?" Suaraku sudah mulai naik.
"Dia mengadu?" tanyanya.
"No, tapi nggak bisa dihubungi."
"Bagus kalau begitu," ucap Mami dengan nada yang sangat puas.
"Apa yang Mami katakan sama Teressa?" tanyaku menuntut penjelasan.
"Hanya mengancam ini dan itu. Mami hanya penasaran, teman yang kamu bilang nggak akan berpaling itu, apa yang akan dia lakukan jika Mami sedikit memberi dia gertakan. See! She left u alone."
Aku mendesah frustasi. "Bukan seperti itu caranya, Mi!"
Always. As usual.
Ini yang membuatku dari dulu tidak pernah memiliki teman yang banyak. Jika aku cocok dan Mami tidak, dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkannya. Sebaliknya, jika Mami cocok dan aku tidak, aku tidak akan sudi untuk berteman dengan pilihannya.
"Udahlah, Zell. Ini masih pagi sekali. Mami bosen bertengkar sama kamu. Mending kamu istirahat saja. Mami lagi banyak pekerjaan," ucapnya mengakhiri panggilan.
Goddammit!
Mom, please! Haruskah aku kehilangan teman lagi?
Mami memang seenaknya—everyone knows that. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan diriku sendiri. Mami hanya melakukan apapun yang dia inginkan. Sedikit gertakan katanya? Yang benar saja, siapapun juga akan memilih cari aman jika dihadapkan pada Ratu Sihir.
What should i do? Jawabannya adalah tidak ada.
Aku hanya bisa menunggu. Untuk berbicara dengan Teressa. Membujuknya. Juga membujuk Mami lebih keras. Yang jelas tidak sekarang. Mami sedang tidak baik-baik saja karena kesal dengan Papa dan Mama. Aku hanya akan menjadi objek amarahnya jika masih memaksa.