Bicara tentang penguntit sebenarnya bukan hal yang baru untukku. Sejak kecil aku sudah tenggelam dalam dunia permodelan. Aku memiliki fans tentu saja dan beberapa diantaranya yang terlalu fanatik berakhir menjadi stalker-stalker yang menyebalkan. Belum lagi jenis penguntit yang berasal dari musuh bisnis keluarga papa yang niatnya mau mencelakaiku. Aku sudah berpengalaman dengan hal-hal semacam itu sebenarnya. Hanya saja, akhir-akhir ini semua itu terasa lebih menggangu, sangat malah.
"Saya telah merekap beberapa list new brand yang saya pikir bisa bekerjasama dengan kita," kata Mey—Team leader dari new talents projects setelah presentasi di rapat tim pagi ini.
Ponselku terus saja berdering memecah konsentrasiku sejak awal rapat hari ini. Panggilan dari nomor tidak dikenal berulang kali masuk. Aku memblokir satu dan yang lainnya bermunculan. Aku juga tidak mungkin mematikan ponselku karena bisa saja ada panggilan urgent dari client. Yang bisa aku lakukan hanya memastikan ponsel ini di dekatku dan langsung merejectnya ketika muncul panggilan tidak jelas masuk.
"Jangan bicara setengah-setengah, Mey! Kenapa kita harus bekerjasama dengan brand yang belum punya nama? Kamu sendiri tahu tim kalian dibentuk untuk mempromosikan talent-talent baru kita. Kita butuh booster untuk membuat mereka terkenal lebih cepat. New brand? Kamu serius?!" Aku melihat daftar perusahaan baru yang di kirim Mey pada layar tabletku.
Aku menoleh ke arahnya dan dia masih terdiam. Aku bukan seseorang yang tidak bisa menerima ide orang lain. Aku bisa menerima ide apapun dengan segala bentuk rasionalisasinya. Hanya saja, aku tidak menerima segala bentuk kecurangan.
"Tell Me! Siapa yang sebenarnya merencanakan ide ini? Melihat dari cara kamu presentasi. This is not yours."
"Itu—" See! Dia bahkan tidak bisa berkata-kata sekarang.
"Siapapun yang berada dalam ruangan ini dan tahu bagaimana kebenarannya, segera beri tahu saya atau kalian semua mendapat punishment dari saya!" Aku heran kenapa orang-orang ini suka sekali diancam baru mau bicara.
"Maaf, itu—sebenarnya, ide saya." Chaca—asisten Mey—membuka mulutnya. Dia masih baru dan aku yakin sistem senioritas sedang berjalan di sini.
Aku tersenyum manis, kelewat manis malah, sampai staf-staf di depanku ini memucat.
"Get Lost, Mey! Kamu resmi ke luar dari tim mulai sekarang. Silahkan bersantai di rumah sampai tim HRD memberi informasi posisi baru buat kamu," ucapku masih dengan senyuman yang sangat manis.
"Bu Zelline maaf, Bu. Saya—"
"Atau kamu saya pecat. Thats your choice by the way," lanjutku.
Tidak ada perkataan apapun lagi. Mey langsung meninggalkan ruangan. Semudah itu menjungkir balikan keadaan seseorang. Aku yang penuh kuasa. Aku dengan otoritas penuh. Siapa yang bisa melawan. Bahkan kata jahat dan kejam sering ke luar dari mulut mereka. But, i dont care, selama aku merasa apa yang aku lakukan benar dan tidak menyalahi aturan, i just go on and on. I just want to be a good leader dari perspektifku sendiri, karena aku hidup not to fullfill their expectation melainkan kepuasanku sendiri.
"Chaca, kamu ke ruangan saya nanti setelah makan siang! Saya nggak akan marah sama kamu. Mungkin hanya ingin bertanya tentang proposal tadi dan sedikit memberi advise. So, dont worry!"
Aku mengakhiri rapat pagi ini dengan penuh drama. Aku yakin setelah ini, it will become a hot news. Dan tentu saja menambah daftar kekejamanku terhadap karyawan. Sudut pandang mereka tentu saja berbeda denganku. Menurutku itu hanya bentuk ketegasan, tapi bagi mereka, apalagi yang mendengar cerita yang sudah digoreng dan ditambah bumbu-bumbu penyedap sudah pasti maknanya tidak akan lagi sama.
Oke, lupakan yang satu itu! Masalah nomor iseng yang terus mengangguku inilah yang harus segera diatasi. Aku segera menghubungi Alden. Aku pikir dia adalah orang yang bisa kumintai pertolongan saat ini.
"Di mana?" tanyaku dari sambungan telepon.
"Studio C. Kenapa?" Aku mencibirnya dalam hati. Masih pagi Jerk satu itu sudah cuci mata melihat para model cantik sedang melakukan pemotretan.
"Gue ke sana! Sekarang!" Aku langsung mematikan ponselku tanpa menunggu jawabannya.
Aku melangkah cepat menuju studio pemotretan di lantai atas.
"Tumben banget Tuan Putri nyariin. Kangen ya?" Alden berdiri di depan pintu menyambut gue sambil tersenyum miring.
"Males banget kangen sama lo. Minggir!" Aku melangkah masuk ke dalam studio. Keadaan studio sedang sibuk. Suara fotografer menggema di dalam ruangan. Juga blitz kamera yang menyala silih berganti. Mereka menghentikan aktivitasnya sejenak dan menyapaku hormat ketika melihat kedatanganku.
"Lanjutkan saja." Aku langsung duduk di sofa di pinggir ruangan sambil mengamati model-model yang tengah melakukan pemotretan.
"Kenapa sih? Perasaan gue selalu nggak enak tahu kalau lo yang manggil. Kayak ada serem-seremnya gitu," keluh Alden dan langsung mendapat hadiah pukulan dariku.
"Hey, Bos dilarang menganiaya karyawan! Lagian lo pagi-pagi udah mecat anak orang aja."
Aku memutar bola mata malas. Gosipnya sudah menyebar ternyata. Thats too fast.
"Nggak gue pecat ya. Kalau ada berita difilter dong kebiasaan kemakan hoax sih lo, Den."
"Iya deh iya, Bos besar Zelline Mabella. Ada apa gerangan sampai Your Majesty memanggil hamba sahaya ini?"
Sialan, Alden ini mau menghina atau bagaimana. Jelas-jelas aset dia dan keluarga besar dia jauh lebih besar daripada milikku dan keluarga besarku. Hamba sahaya katanya. Lalu aku ini apa?
"Woy! Ada apaan sih, gangguin gue bantuin anak-anak pemotretan aja lo?" Alibi sekali. Bantu-bantu apa. Mau dipecat juga tidak mungkin sekali. Alden hanya seorang freelancer di sini. Selama jobdesk dan target dia terpenuhi, tidak ada larangan bagi dia untuk melakukan apapun.
Di saat yang bersamaan ponselku berdering. Aku langsung menyerahkannya pada Alden.
Dia melihat nomor yang terpampang di layar lalu bertanya, "Siapa?"
"Nggak tahu. Orang iseng. Tapi bikin males. Udah gue blokir tapi ada aja yang tetep telepon dengan nomor yang beda."
"Oh." Responnya menyebalkan sekali.
"Den, gue serius ya ini. Sumpah ya gue keganggu banget ini. Lo kasih saran kek, apa gimana gitu," kesalku pada Alden.
"Ganti nomor aja lah," sarannya.
"Klien gue repot nanti kalau gue ganti nomor." Untuk pebisnis seperti diriku ini bergonta-ganti nomor itu sangat tidak disarankan. Kecuali keadaan darurat, tapi aku tidak yakin sekarang ini sedang darurat sekali atau tidak.
"Cara lain?"
"Nggak ada." Nice answer. Mematahkan semangat sekali, karena aku sendiri juga tidak tahu bagaimana alternatifnya.
Aku terdiam, Alden juga. Sama-sama sedang berpikir.
"Zell."
"Hem?"
"Lupa gue mau ngomong apa. Grogi Zell duduk deketan sama cewek cantik. Agak jauhan dikit dong Zel." Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.
Sabar! Spesies buaya seperti yang satu ini harus ditangani dengan benar.
"Capek banget punya temen kayak lo."
"Salah sendiri cuma dijadiin temen. Beda cerita sih kalau lo mau jadiin gue pacar. Dijamin terpuaskan siang dan malam," goda dia lagi.
Mulutnya sampah sekali.
Percayalah ini hanya omong kosong yang tidak berguna. Tidak memiliki arti sama sekali. Alden memang memiliki kegemaran menggoda seseorang. Padahal itu murni menggoda, bukan karena tertarik, tapi banyak juga perempuan yang luluh padanya.
"Kalau lo mau baku hantam sama Brian dulu nggak apa-apa sih. Gue jadi tim pemandu sorak."
"Sok iyes lo mau direbutin. Ogah sih gue, kayak nggak ada cewek lain aja." This is true Alden.
"Zell, matiin aja deh HP lo. Semingguan lah."
Aku terdiam. Menunggu Alden benar-benar menyelesaikan ucapannya. Dari raut wajahnya dia tidak sedang asal bicara.
"Lo ada HP cadangan kan?"
Aku mengangguk.
"Yaudah pakai itu aja."
Ha? Aku terdiam lama. Tidak paham sama sekali dengan apa yang diucapkannya.
"Matiin aja HP lo. Pake yang cadangan buat sementara."
Aku terdiam lagi. Masih tidak paham.
"Gimana-gimana? Jelasin yang lengkap dong. Otak gue buffering ini." Aku sungguhan tidak menangkap apa maksudnya.
"Dimatiin Zelline sayang HP-nya yang satu. Kalau ada yang penting pasti bakal telepon sekretaris lo, kalau nggak pasti nanti telepon kantor. Minta sekretaris lo buat ngehubungi lo lewat HP satunya. Sementara aja kan. Nanti orang isengnya juga capek sendiri," jelas Alden dengan sangat pelan, sepertinya malas mengulang lagi jika aku ternyata belum paham.
"Gimana, Dik? paham nggak?" Terdengar menyebalkan sekali.
"Paham, Om, paham banget!" Aku balas mengejeknya.
"Ya habis tumben banget lo lola. Biasanya pake bahasa kalbu aja lo paham. Kecapekan ya?"
Mungkin bukan capek, tapi memikirkan sesuatu yang aku sendiri tidak yakin. Yang jelas Bukan tentang hubungan percintaan. Untuk masalah yang satu itu sepertinya aku sendiri sudah mulai melupakannya tanpa sadar dan belum ada keinginan untuk membahasnya. Tapi tentang penguntit. Hal itu benar-benar menggangguku. Selain teror telepon, akhir-akhir ini aku merasa seperti seseorang sering mengikutiku. Orang yang tidak aku ketahui. Orang yang berbeda-beda. Sayangnya aku tidak memiliki bukti apapun. Semua hanya berasal dari firasat. Jadi untuk saat ini, sepertinya aku belum bisa cerita.
Aku bukan penakut. Hanya saja perasaanku menjadi tidak nyaman. Kepalaku menjadi dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak berguna. Maksudku, siapapun itu, ayo kita bertemu. Jika memang ada yang perlu dibicarakan, lets talk about that. Bahkan jika memang tidak bisa dibicarakan dan perlu kekerasan lets do that. Tidak seperti sekarang, pikiranku menjadi kacau. Setiap saat hanya menduga-duga, berprasangka pada suatu yang tidak seharusnya.
"Gue mau balik ke ruangan gue."
"Dianter nggak nih? Takut gue lo kenapa-napa." Aku tidak tahu dia lagi bercanda apa memang dia serius karena melihat raut wajahku yang menggambarkan kecemasan terlalu jelas.
"Gila aja sih, tinggal turun satu lantai pake dianter segala."
"Yaudah deh kalau nggak mau. Padahal lagi baik lo. Selamat bekerja Bos, jangan cari saya lagi!"
Aku ke luar dari studio. Berjalan dengan pelan karena pikiranku sendiri tidak tahu tertinggal di mana. Aku berhenti di tengah koridor—di antara Studio C dan Ruang ganti. Aku membuka ponselku lagi. Mungkin benar kata Alden aku harus mematikannya paling tidak satu minggu. Tapi sebelum itu, aku ingin mencoba menghubunginya. Mungkin saja, penelpon ini tidak lagi diam tapi mau bersuara. Aku ingin tahu apa maunya.
Satu panggilan keluar.
Di saat yang bersamaan aku mendengar suara dering HP yang lumayan jauh dari tempatku berdiri. Aku mengedarkan pandangan, tapi nihil—hanya ada aku di koridor. Aku mematikannya. Mungkin Kebetulan.
Aku mencobanya lagi dan anehnya dering yang sama terdengar lagi. Aku langsung mematikannya dan dering itu langsung menghilang. Sepertinya, seseorang memang benar-benar mengikutiku.
Bagus. Ayo kita bertemu! Jangan jadi pengecut!
Aku menelponnya kembali lalu melangkah mendekati sumber suara. Aku berdiri di depan pintu Aula. Aku yakin orang itu berada di dalam. Dengan pelan, aku membuka pintunya. Dan di saat yang bersamaan laki-laki berkemeja biru dengan tinggi sekitar 180-an ke luar menabrakku. Dia berlari kencang dan aku tidak sempat melihat wajahnya karena terkejut. Dia berlari menuju tangga darurat dan aku berlari mengikutinya.
Aku terus mengejarnya. Menuruni tangga satu per satu. Kantorku berada di tower lantai 20 dan aku tidak yakin berapa banyak tangga yang sudah aku lalui. Laki-laki itu berlari sangat cepat, bahkan aku sudah tidak bisa melihat keberadaannya.
"Zelline!" Seseorang memanggilku dan mencekal tanganku erat-erat.
"Lo ngapain?" tanya seorang—Alden di sana—dia menarikku, memintaku untuk berhenti. Nafasku tidak karuan. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya seperti aku telah kehilangan logika berpikir.
"Den—"
"Zel! Zelline!" Alden memegang kedua pundakku. "Get your self, please!"
Aku memejamkan mataku sesaat. Aku benar-benar sudah gila. "Kayaknya gue butuh ke psikiater deh, Den."
Dia tersenyum lembut, membiarkanku terdiam sejenak untuk mengatur nafas dan pikiran lalu dia merapikan rambutku yang berantakan. "You okay? Udah merasa baikan?"
Aku mengangguk. "Makasih."
"Gue anterin sampai ruangan lo deh. Bahaya banget anak orang satu ini. Dilepas bentar aja udah mau turun tangga dari lantai 20. Patah Zel kaki lo bisa patah!"
Aku hanya menatapnya tajam percuma juga membalasnya. Memang kenyataannya aku sedang berada di kondisi yang tidak normal.
Tapi tetap saja, aku memikirkannya, siapa laki-laki itu?
"Zel! Jangan ngelamun lagi dong! Lo ketempelan apa gimana sih."
"Apaan deh."
No matter what happen, I will catch u soon!