Chapter 3—My Secret Family

1634 Kata
Menyelesaikan pekerjaan benar-benar menguras tenaga. Bahkan ini belum bisa kukatakan selesai. Work satu minggu tidak mungkin kuselesaikan dalam satu hari. Aku juga tidak ingin lembur atau kemungkinan besar aku benar-benar akan pingsan jika nekat melakukannya. Langit sudah gelap. Aku memarkirkan mobil secara sembarang di depan rumah Mama. Rasanya tubuhku sudah tidak sanggup hanya untuk memarkirkannya secara rapi di carport. "Malam, Bi!" sapaku pada Bi Ina—asisten rumah tangga Mama—ketika masuk ke dalam rumah. Aku tidak peduli Bibi menyahut apa tidak. Aku tidak peduli juga Mama ada di mana. Aku terlalu lelah dan pergi ke tempat tidur adalah opsi terbaik untukku sekarang. Aku hanya ingin tidur. Dengan tenang. Karena rasanya sudah lama aku tidak tidur secara berkualitas. Aku memejamkan mata dan ingin segera berlabuh di dunia mimpi sebelum suara panggilan telepon mengusikku. Sialan! Seharusnya kumatikan saja. Aku tergesa-gesa bangun meraih ponselku di laci sebelah tempat tidur, barangkali partner bisnisku yang luar biasa penting itu sedang menelpon. Ratu Sihir is calling Melihat nama tersebut terpampang di layar ponsel, aku sungguhan malas menerimanya. Mami—Ibu tiriku—yang kupanggil Ratu Sihir itu tidak akan pernah kehabisan bahan untuk mengomeliku. Berbicara dengan Mami di saat seperti ini hanya akan buang-buang tenaga. Kita tidak akan pernah berhenti menyerukan pendapat yang jelas-jelas selalu bertentangan, atau minimal saling mengejek tidak jelas. Aku melempar ponselku ke kasur dan beranjak ke luar dari kamar. Mendadak rasa kantukku menghilang dan sekarang aku jadi lapar. Aku hanya ingin turun ke bawah barangkali basa basi dengan mama atau sekedar mencari makanan lalu kembali lagi ke kamar. Aku ingin malas-malasan. "Ada yang bisa saya bantu Nona Zelline?" tanya Bi Ina. Aku mengangguk sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah— tampak kosong dan sepi. "Nona mencari Nyonya Lilian?" Aku mengangguk. Tidak biasanya rumah tampak sepi. Mama itu berisik, ia punya mulut yang hampir setiap detik tidak luput ia gunakan. Bahkan saat menonton acara berita atau drama saja, ia tidak akan berhenti untuk mengomentarinya. Jadi, sangat aneh jika tidak mendengar suara mama sejak tadi. Kecuali dia sedang berada di luar. "Nyonya Lilian dan Tuan Damian pergi ke Surabaya, Non. Katanya mau menjenguk saudara yang sakit," jelas Bibi. Mama dan Papa ke Surabaya? Saudara? Sejak kapan punya saudara di Surabaya? Kurasa itu hanya alibi mereka. Bisa saja orang-orang tua ini. Kenapa tidak mengatakan kencan saja. Ah pantas Mami sejak tadi terus-terusan telepon. Ternyata gara-gara ditinggal suaminya pergi. Sungguh miris nasibmu, Mi. Bibi tersenyum sambil bertanya, "Nona, makan malamnya sudah siap, mau disiapkan di meja makan atau diantar ke ruangan nona?" Sangat pengertian sekali Bi Ina ini. Tahu saja jika aku sedang kelaparan. "Ke kamar saja ya, Bi. Masih ingin berguling-guling di kasur," jawabku sambil cengengesan. Aku kembali lagi ke kamar dan menjatuhkan diri pada sofa pastel di tengah ruangan. Tangan kananku meraih remot tv di meja dan menyalakannya. Belum sempat menemukan acara tv yang menarik, ponselku berdering lagi. Oh Lord! Dengan malas aku meraih ponselku di tempat tidur. Aku mematikan panggilan mami dan kembali ke sofa. Namun sayangnya, ponselku terus berdering tanpa henti. Lalu sebuah pesan singkat masuk, mau tak mau aku harus membacanya. 1 message from Ratu Sihir PRINCESS, JAWAB PANGGILAN MAMI ATAU MAMI KE SANA! Wow! Nyonya Besar Jenita ini suka sekali mengancam. "Halo!" Akhirnya aku mengangkat panggilannya. "Harus diancam dulu ya baru mengangkat telepon Mami?" Suara Mami benar-benar sanggup mengurangi tingkat kepekaan telinga. "Mami, to the point, please!" Tidak sopan? Ya. Memang seperti itulah hasil didikan Mami kepadaku. "Pulang ke rumah, Zelline! Mami mau bicara sama kamu!?" "Aku sudah di rumah ngomong-ngomong. Mau makan malah. Mami pending dulu deh kalau mau ngomel-ngomel." Mami menggeram kesal. "Di rumah Mami, Zelline. Bukan di rumah Mama kamu! Ini perintah ya bukan permintaan!" Aku mengehela nafas berat. Mami benar-benar wanita yang keras kepala. Bukan hanya itu, ia juga pemarah, egois, pemaksa, gila kehormatan, gila reputasi, sinting, yang jelas benar-benar gila. Aku yakin sifat-sifat buruk yang melekat padaku adalah buah didikan ibu tiri tersayangku itu. "ZELLINE!" teriak Mami. Sebentar, bukannya memang tidak menyahut, tapi bibi baru saja mengantarkan makanan. "Benar-benar luar biasa sekali ya kamu ini! Orang tua sedang bicara, kamu abaikan begitu saja." "Iya-iya ini, sewot banget sih dari tadi. Mami PMS? Jangan-jangan hipertensinya kumat lagi. Udah sadar kalau tua, masih aja emosian. Mau almarhum lebih dini?" Aku langsung menjauhkan ponselku, sudah bisa dipastikan Mami akan mengamuk dari sana. Aku tertawa terbahak-bahak. Mami memang orang yang keras dan kaku. Bagaimanapun sifat buruk yang melekat padanya. Aku selalu memakluminya. Bahkan ketika aku berusaha membencinya sepenuh hati. Aku tidak akan pernah bisa. Mami adalah orang yang baik. Baik dalam persepsiku. Baik karena dia mau menerima dan merawatku. Seorang anak yang lahir dari wanita simpanan papa. Aku, tidak akan pernah mampu menikmati kemewahan dan kebersamaan keluarga ini, jika bukan karena Mami. "Mulutmu semakin lama semakin manis ya Mami dengar-dengar!" sindirnya. Aku terkekeh. "Ngomong-ngomong, Mami tahu nggak kemana perginya mereka berdua?" Mama dan Papa yang kumaksud. Percayalah aku sedang menggoda Mami. "Tidak usah bertanya. Kamu lebih tahu jawabannya. Kalau kamu mau mengejek Mami, itu tidak mempan Zelline!" Aku masih ingat bagaimana Mami menceritakan semua masa lalu memalukan Mama dan Papa untuk pertama kalinya. Saat itu aku masih berusia tujuh tahun dan Mami sudah dengan gamblangnya menjelaskan tentang perselingkuhan kedua orang tuaku. "Zelline, you are my daughter but not my real daughter." Kalimat pertama yang dulu sangat tidak aku pahami artinya. Bahkan sampai sekarang aku masih suka terngiang-ngiang olehnya. "Mama dan Papa kamu bukan orang yang baik. Mama kamu merebut Papa dari Mami. Sekarang giliran Mami yang merebut kamu dari Mamamu. Jadi anak Mami, Zelline. Nurut sama Mami, maka Mami akan memberikan apapun yang kamu inginkan." Itu adalah salah satu doktrin yang Mami lantunkan berulang kali. Dan sekarang aku sangat paham bagaimana maksudnya. Mami adalah orang yang baik—dalam versiku. Aku mengatakan itu tentu saja ada penyebabnya. Karena biasanya, orang-orang akan murka dan membabi buta ketika mengetahui fakta tentang perselingkuhan—apalagi selingkuhannya sudah hamil. Mami tidak. Ia menemui Mama, bukannya menampar, memukul atau mencaci maki, ia justru membawa Mama ke kediamannya. Mami yang saat itu tidak memiliki anak dan sepertinya tidak ada kemungkinannya untuk memiliki anak, meminta Mama untuk melahirkan dan memberikan bayi itu ke padanya. Yah thats baby is me. Mami memberi penawaran dan membiarkan Papa untuk menikahi dan menafkahi Mama asal publik tidak mengetahui terkait perselingkuhan mereka, ia juga ingin status bahwa aku adalah anak Mama harus dirahasiakan dari publik selamanya. Aku adalah anak kandung Mami, itu yang harus dunia ketahui. Ratu Sihir adalah penggila reputasi. Sementara Mama yang pada dasarnya materialistis dan gila uang itu tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima tawaran tersebut. Aku tidak yakin. Apakah itu kesialan atau keberuntungan berada di tengah-tengah keluarga ini. Bahkan doktrin Mami tentang Mama sedikit banyak mempengaruhi caraku berpikir. Aku kecewa pada Mama. Aku menjadi tidak dekat dengan Mama. Sejauh aku berusaha untuk mendekatkan diri dan memahami semua yang ia lakukan. Aku merasa sulit. Aku hanya berusaha keras untuk tidak membencinya seumur hidupku. "Lain kali kalau Papa bilang mau ke luar kota, Mami interogasi dulu deh. Nggak kayak sekarang, kasian banget ditinggal-tinggal. Kan jadi ngerepotin Zelline." "Kamu ini lama-lama semakin kurang ajar ya, Zell. Mami itu udah besarin kamu dari kecil, tambah dewasa bukannya tambah waras tapi kelakuan kamu tambah memprihatinkan." Aku tahu, sejak lahir, Mami yang merawatku. Tidak sepenuhnya karena sudah pasti seorang perawat bayi yang melakukannya, untuk apa wanita karir yang cantik dan kaya raya repot-repot mengganti popok atau menyuapi bayi. Mami hanya perlu menyuruh orang dan memberinya segepok uang dengan sukarela mereka akan merangkak padanya. "Kalau Mami lupa biar aku ingatkan. Mami sendiri yang ngajarin aku sampai bertingkah seperti ini. Kalau udah di luar kendali Mami, berarti ya itu udah efek samping," balasku santai sambil tertawa kecil. Thats true by the way. Mami suka mendidik dan mendoktrinku dengan ajaran-ajaran iblisnya. Sejak kecil aku dituntut bisa banyak hal. Aku juga diajarkan bagaimana menjadi berani, egois, apatis, dan sombong di saat yang bersamaan. Dia hanya perlu memastikan aku tumbuh membawa logika bukan lagi perasaan, dan yang pasti tumbuh menjadi wanita yang diharapkannya. "Mami pusing ngobrol sama kamu. Pokoknya Mami tunggu satu jam lagi. Nggak boleh telat!" Mami langsung mematikan ponselnya. Aku menghela nafas lega. Sekarang, aku benar-benar merasa kelaparan setengah mati. Aku baru ingat terakhir makan adalah kemarin malam saat berada di apartemennya Brian. Seharian aku hanya berkutat di meja kerja dan beberapa kali meneguk air mineral. Pantas sekarang aku kelaparan. Aku memakan makan malam seperti orang kesetanan. Siapa yang peduli tentang table manner saat lambungku sudah nyaris melekat. Toh tidak ada Ratu Sihir yang akan mengomel atau ceramah hingga mulutnya berbusa. Membayangkannya saja sudah cukup membuat telingaku berasap. Selesai makan aku kembali dengan TV. Masih satu jam lagi. Aku bahkan tidak tahu Mami mau mengajak ke mana. Ratu Sihir itu suka sekali random. Aku terus mengotak-atik channel dan masih saja tidak ada yang menarik untuk dilihat. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara kerja pertelevisian. Kenapa mereka repot-repot membayar mahal untuk membuat acara yang sama sekali tidak berkualitas itu. Aku menekan remot untuk menyibakkan tirai di tembok kaca yang mengelilingi kamarku itu. Aku terdiam menghadap ke arah langit lepas. Gelap, tidak ada bintang sama sekali. Suram, seperti hidupku, atau mungkin tidak. Entahlah. Sesaat aku memandangi rumah tetangga misterius di sebelah rumah mama ini. Aku tidak tahu siapa yang tinggal di sana. Tidak ada yang mengetahuinya. Penghuninya antisosial. Aku juga tidak pernah melihat dia menampakkan batang hidungnya, barangkali hanya sekedar keluar untuk mencari udara segar. Tapi beberapa kali aku menangkap basah ada pria yang mengamatiku diam-diam dari balik kaca di rumah itu. Meskipun aku tidak pernah berhasil mengetahui dengan jelas bagaimana wajahnya. Yang jelas dia tinggi dan bentuk tubuhnya sangat oke. Oh sepertinya sifat sintingku yang ini kumat! Lupakan yang satu itu! Aku hanya menerka-nerka. Aku bukan seseorang yang selalu memiliki pemikiran negatif tapi apa salahnya curiga. Bagaimana jika dia memang seorang penguntit? Aku harus memastikannya sendiri nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN