Setelah mengantar Revan, Nayara melajukan mobilnya untuk ke tujuan awalnya. Ke kantor dimana dia bekerja. Beruntung tak seperti apa yang Revan khawatirkan. Nayara mengenali jalan kembali. Tak kesasar lagi. Dan jangan sampai itu terjadi.
"Akhirnya, mana yang katanya nyasar? Nggak tuh." ucap Nayara pongah. Melihat penampilannya dari cermin spion. Sudah rapi atau belum. Makeup tipis menutupi lebam di bibirnya. Lengan panjang menutupi memar. Lalu membuka pintu mobilnya.
Nayara sudah berdiri di depan pintu kantornya—menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Emosinya masih rawan, tapi ia memaksakan diri. Sudah merasa lebih baik, terlebih setelah Revan, sang mantan dan sepupunya, Rafael yang menemani kemarin malam. Baginya kembali ke rutinitasnya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa normal dan kembali waras.
Begitu masuk, Radith—atasan sekaligus rekan yang cukup perhatian dengannya—langsung menghentikan langkahnya.
“Nay?” alisnya terangkat. “Kamu… kelihatan beda.”
Deg. Nayara menatap pria yang berdiri di hadapannya. Sesekali tengok kanan dan kiri. Berharap tak ada rekan kerjanya yang lain.
Nayara tersenyum sekilas, mencoba tertawa meski kikuk. “Fisik aku masih lengkap, kok, Mas.”
“Bukan itu.” Radith menatapnya lama. Matanya seperti membaca apa pun yang Nayara coba sembunyikan. “Kamu kayak… habis nangis. Beneran kamu nggak papa? Jangan coba tutupin dari aku ya Nay.”
Nayara tersentak. “Nggak apa-apa, Mas. Serius.”
Radith ingin bertanya lebih jauh—nampak jelas—tapi ia menahan diri. Ia tahu batas. Ia tahu beberapa luka tidak bisa diumbar untuk terbuka begitu saja.
“Kalau ada apa-apa…” ujarnya pelan, “…kamu bisa cerita ke aku.”
Nayara mengangguk. Tersenyum lembut, mencoba menutupi luka yang tak ingin Nayara bagi ke siapa pun. Karena Ia tidak yakin bisa menceritakan apa pun tanpa runtuh dan ia tak yakin seseorang akan bertahan dengan lukanya.
“Nay? Fokus sebentar,” suara Radith melembut, memecah keheningan di antara mereka, setelah pembucaraan yang cukup serius. Ia melirik jam di pergelangan tangan. “Kita ada diskusi internal lima menit lagi. Kamu siap?”
Nayara mengedip cepat, memaksa dirinya kembali ke dunia kerja. “Oh—iya, Mas. Siap. Maaf, aku…”
Sebelum ia sempat menunduk, tangan Radith terulur—menepuk lembut puncak kepalanya. Gerakan singkat. Ringan. Tapi penuh perhatian.
“Kamu nggak perlu minta maaf,” ujar Radith dengan senyum kecil. “Ayo. Kita kerja bareng. Kalau capek, bilang.”
Sentuhan itu membuat jantung Nayara sedikit berdebar. Bukan karena romantis—bukan. Tapi karena ia tak terbiasa diperhatikan tanpa disakiti.
Ia mengikuti Radith menuju ruang meeting kecil yang biasa digunakan tim kreatif. Beberapa rekan sudah duduk, sambil membuka laptop.
Radith berdiri di depan layar monitor, menyalakan proyektor. “Oke, kita bahas desain final untuk presentasi besok. Klien minta tone yang lebih soft, tapi tetap strong di value.”
Ia menatap Nayara. “Copy-nya udah kamu revisi, Nay?”
Nayara mengangguk kecil. “Iya, Mas. Aku buat tiga versi alternatif. Yang A lebih emotional, B lebih professional, dan C… ya… semi-semi mellow tapi tetap positif.”
Rekan tim lain tertawa kecil. “Versi mellow itu pasti andalannya Nayara” celetuk Gita, desainer UI.
Nayara mengangkat bahu. “Kan kadang audience butuh disentuh dulu emosinya.”
"Apanya tuh?" Mulai lah mereka bicara tanpa seserius seperti biasanya.
Radith tersenyum kecil melihat Nayara bisa membalas candaan. “Baik. Kita lihat.”
Ia membuka slide pertama. “Versi A.” Beberapa detik hening. Semua membaca.
Radith menatap layar lalu menatap Nayara lagi.
“…Ini bagus.” Senyumnya muncul lagi—lembut tapi tulus. “Kamu selalu bisa nemuin cara buat bikin copy yang nyentuh tanpa jadi lebay.”
Gita ikut mengangguk. “Setuju. Pas banget sama visual yang kubuat.”
Nayara menelan ludah. Ada rasa hangat kecil di dadanya. Sederhana, tapi cukup untuk membuat siang ini terasa sedikit lebih ringan. Melupakan sejenak masalah yang terjadi beberapa waktu lalu.
Meeting terus berlanjut. Radith menambahkan beberapa catatan kecil pada slide, “Tone ini bagus, tapi mungkin bisa diturunin sedikit… Gambar ini perlu background gelap… CTA kita perkuat…”
Beberapa kali Radith memanggil Nayara hanya untuk memastikan ia tidak kewalahan.
“Nay, kamu setuju perubahan ini?”
“Mas, kalau CTA diganti yang versi B, gimana?”
“Oke. Nggak masalah. Nay, kamu nyaman kalau kamu yang present besok?”
Nayara menjawab semuanya dengan kepala tegak. Ia bekerja. Ia mencoba stabil. Dan untuk sementara waktu, dunia seperti berhenti menekannya.
Setelah hampir empat puluh menit, Radith menutup laptopnya.
“Oke tim, good job. Besok kita buat klien jatuh cinta sama campaign ini.” Ia menatap Nayara lebih lama. “Dan kamu—terima kasih. Kamu tetap profesional meski… sepertinya kamu lagi nggak baik-baik saja.” untuk yang ini Radith mengucapkannya dengan gerakan bibir saja.
Nayara mengulas senyum tipis. “Kerjaan tetap kerjaan, Mas.”
Radith menautkan tangan di d**a, pura-pura tegang. “Kamu bikin aku tambah penasaran sebenarnya kamu kenapa.”
Nayara terkekeh kecil untuk menutupi gugupnya. “Tidak semenarik tebakan Mas Radith, kok.”
Radith membalas dengan senyum lembut—senyum yang terlihat seperti mengerti lebih dari apa yang ia tunjukkan. “Kalau gitu… kita lanjut kerja lagi ya, Nay.”
Dan Nayara kembali ke mejanya. Membawa satu hal yang tidak ia sadari sangat ia butuhkan. Perhatian yang tidak menghakimi. Perhatian yang tidak melukai. Perhatian yang—entah bagaimana—membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.
---
Entah datang dari mana, Kezya langsung menyeret Nayara ke pantry begitu melihat wajah sahabatnya. Sepertinya wanita ini baru datang ke kantor setelah bertemu dengan klien di luar.
“Duduk. Sekarang.” nada Kezya seperti seseirang yang akan mengintrogasi dirinya. Membuar Nayara mengernyit bingung.
“Kez… jangan drama—”
“Cerita.” Satu kata, tegas.
Nayara memijat pelipis. “Apaan sih.”
Kezya menyilangkan tangan di d**a. “Aku dapet pesan dari tante Rani semalam. Katanya kamu dibawa Rafael pergi dalam keadaan kacau. Terus kamu ke mana Nay? Kok nggak ke apartemen aku aja? Aku panik, Nay!”
Nayara menghembuskan nafas panjang. Memang seheboh ini temannya. “aku baik-baik aja Kez.”
“Terus gimana Tante Aruna?” Nada Kezya melembut.
“apa tante Runa mukul kamu lagi Nay?" Kezya sembari menelisik seluruh yang ada di diri Nayara.
Dada Nayara menegang seketika. Kalimat-kalimat kasar ibunya masih terputar di kepala. Anak pembawa sial. Kalau bukan karena kamu, papamu masih hidup! Kenapa kamu ada di dunia ini, Nayara!?
Bahkan pukulan yang Nayara terima masih bisa ia rasakan. Lalu apa yang harus Nayara lakukan? Nayara sudah cukup membuat sahabatnya ini khawatir akan hidupnya.
"Nay, kamu dipukul lagi sama tante Runa?" Kezya menatap dengan wajah sendu.
Nayara hanya diam di tempatnya. Matanya sudah bergetar. Bahkan mungkin saat ini genangan air matanya sudah memenuhi kelopak mata cantik itu.
"Nay, ini udah diobatin belum?" Kezya menyentuk luka yang ada di sudut bibir Nayara.
Nayara mengangguk. "Udah Kez. Udah diobatin kok. Udah ya. Aku nggak papa. Kamu nggak usah khawatir."
Kezya meraih tangannya, menggenggamnya. “Nay… kamu nggak harus kuat sendirian, tahu.”
Nayara menggeleng cepat, menahan air mata yang mulai memanas di kelopak mata. “Jangan. Kalau aku cerita sekarang, aku bakal nggak balik kerja.”
Kezya mengembus napas berat, lalu berdiri dan memeluknya. “Nggak apa-apa. Kamu boleh diam. Tapi kamu nggak sendirian.”
Nayara membalas pelukan itu pelan-pelan. Karena memang ini yang Nayara butuhkan untuk saat ini.
Setelah mereka kembali ke meja masing-masing, tanpa Nayara sadari, sedari tadi Radith sesekali melirik Nayara dari ujung ruangan—wajahnya penuh kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.
Ia mengamati bagaimana Nayara bekerja tanpa banyak suara. Bagaimana tangannya sedikit gemetar saat menulis. Bagaimana matanya terlihat kosong sesekali.
Dan untuk pertama kalinya sejak Nayara bergabung, Radith benar-benar ingin tahu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada wanita itu?