Rafael pamit dengan langkah tergesa, padahal roti di piringnya sisa sekitar tiga gigitan. Entah apa yang membuat pria itu terburu-buru pagi ini. Membuat Nayara yang saat itu sedang minum, sedikit tersedak karena ulah kakak sepupunya itu
“Gue balik dulu ya Nay, Van. Ada pasien juga. Kalian… ya, jaga diri. Jangan aneh-aneh.”
Nayara mengerutkan kening. “Kak, Kenapa ngomongnya kayak Kakak sengaja ninggalin—”
Belum sempat bibir Nayara mingkem, pintu Apartemen itu sudab tertutup. Menimbulkan bunyi, Klik. Mendadak suasana menjadi sunyi. Apalagi di dalam apartemen ini. Tersisa dua anak manusia yang pernah menjalin suatu hubungan.
Sunyi. Nayara dan Revan masih terduduk di meja makan. Dengan piring masing-masing. Bahkan Revan saja yang masih mengunyah sempat menghentikan kunyahannya. Kecanggungan terjadi. Begitu juga dengan diri mereka yang mendadak bingung. Harus apa ini?
Dan… ya Tuhan, ini situasi apa?
Revan mengusap tengkuk lehernya pelan—kebiasaan lamanya sejak dulu kalau ia nggak tahu harus mulai dari mana. Tanya kabar? Jelas mereka tau kabar masing-masing? Tanya sudah makan? Jangan bodoh, di depan mereka masih ada roti panggang. Lalu?
“Sebenarnya… kita lanjut makan dulu aja ya? Habisin makanan kamu, Ay?"
“Eh, iya. Nggak boleh buang-buang makanan ya?" Nayara meringis. Dengan hati-hati Nayara kembali memakan sarapannya. 'Aku tau kak, kamu sengaja kan ini? Awas aja kamu.' lain yang diucapin. Lain di hati.
Revan tersenyum kecil. Setidaknya itu membuat Nayara agak rileks. "Kamu gimana? Udah enakan?" tanya Revan memastikan. Sedikit was-was saat bertanya.
"Udah kok. Makasih ya."
“Aku… nggak mau ganggu pagi kamu, sebenernya.” Revan mulai membereskan piring yang tadi mereka pakai. “Aku cuma mau nunggu sampai kamu beneran stabil. Semalam kamu—”
“Aku tahu.” Nayara memotong dengan cepat. Nada suaranya pelan tapi sangat jelas di telinga Revan. Membuatnya menghentiakan kalimatnya. “Tapi beneran, aku nggak papa kok."
“Bener?” Revan menaikkan alis. Menatap Nayara yang menatapnya sedetik lalu mengalihkan pandangannya.
Nayara menghela napas panjang. “Kamu nggak percaya ya udah nggak papa,” Nayara mencoba biasa. Meski sebenarnya jantungnya serasa ingin loncat.
Revan tidak mengiyakan. Tidak juga menyangkal. Ia hanya menatapnya—tenang, teduh, dengan hati-hati agar tidak membuat wanita di depannya kembali sakit. Dan sejak tau akan kondisi Nayara malam kemarin, yang pasti adalah Nayara tak benar baik-baik saja.
“Yang penting,” Nayara melanjutkan, “pagi ini aku normal. Udah lebih baik. Dan… sekali lagi, makasih, Van.”
Ada Jeda. Singkat. Lalu Revan menjawab dengan suara rendah, “Kamu nggak perlu ucapin makasih kalau itu soal kamu.”
Nayara langsung memalingkan wajah. Bukan karena baper. Ya oke… mungkin sedikit. Sedikit saja. Boleh kan? Tapi tidak, Nayara tak ingin kembali merasakan hal yang dulu coba Nayara hindari.
---
“Hahhh…” Nayara merapikan tas kerjanya. “Aku harus ke kantor. Banyak revisi.”
“Hmm.” Revan hanya mengangguk.
Tapi Nayara bisa merasakan—Revan seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menahan. Mau tidak mau. Dan harus, Nayara lah yang menekan egonya untuk bertanya.
"Kamu nggak ke klinik? Kamu mau tetap di sini?"
“Ara… aku kemarin nggak bawa mobil.”
“Hmm?” Nayara berhenti memasukkan laptop ke dalam tas. Mencoba mendengar kembali ucapan Revan.
“Aku nebeng Rafael waktu ke sini buat anter kamu. Jadi…” Revan menghela napas pelan. “…aku nggak ada kendaraan buat pulang.”
Hening.
Nayara menatapnya. Revan menatap balik. Keduanya terjebak dalam satu pertanyaan besar yang sama. Apalagi Nayara yang semakin canggung dan bingung. Kalau Revan, masa bodoh lah Nayaranya.
Serius? Situasinya harus begini?
Nayara memijit batang hidungnya. “Oke. Van… jangan bilang…”
“Ya.”
“…aku harus…”
“Iya.”
“…nganter kamu?”
Revan menaikkan bahu. “Terserah sih. Mau kamu titipin aku ke ojek online juga boleh. Tapi aku harus balik ke klinik sebelum jam satu.”
Nayara menatap langit-langit. Menghembuskan nafas beratnya. Menyugar rambut hitamnya yang lebat itu. “Ini apa sih? Kemarin salah belok ketemu mantan. Sekarang satu apartemen bareng mantan? Terus harus satu mobil sama mantan gitu?”
Revan tertawa kecil—suara yang menenangkan tapi juga menyebalkan di saat bersamaan. “Ternyata dunia emang kecil, Ara.”
“Dunia kecil apa… ini semesta lagi nge-prank aku.”
Revan memiringkan kepala sedikit, menahan senyum. “Kalau kamu pikir ini jebakan… bukan aku yang pasang.”
Nayara memelototinya. “Jebakan kamu bikin dari empat tahun lalu, Revan.”
Revan terdiam. Senyumnya hilang. Tatapannya berubah, lembut tapi jelas terluka.
“Aku tahu,” katanya lirih. “Dan aku masih… berusaha ngerti kenapa waktu itu kamu pergi.”
Jantung Nayara mencelos seketika. Ia ingin berkata
karena aku takut jatuh duluan, takut kamu sibuk dan aku ditinggal lagi—tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
“Aku nggak siap ngomong itu sekarang,” bisiknya.
Revan mengangguk cepat. “Ya. Nggak apa. Nggak harus sekarang. Nggak harus dalam waktu dekat juga.”
Jeda. “Yang penting kamu—baik.”
Nayara mengetuk-ngetuk meja dapur, mengalihkan diri. “Oke, dokter Revan yang mendadak jadi roommate dadakan, ayo. Kita berangkat sebelum aku berubah pikiran.”
Revan mengambil tas selempangnya yang tadi ia taruh dekat sofa. “Sip. Tapi kamu yakin sanggup nyetir hari ini? Lebam kamu—”
“Van.” Nayara menatapnya tajam. “Jangan bikin aku ngerasa lemah deh, aku nggak papa.”
Revan langsung menunduk sedikit. “Maaf. Aku lupa… aku nggak ada maksud.”
“Iya, lupain aja.”
Dan sebelum keduanya makin merembes ke dialog emosional yang mereka berdua belum siap hadapi, masa lalu yang belum benar-benar selesai. Hinga Ayu dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar dan berbunyi. Ponsel itu milik Nayara. Pesan itu dari Rafael.
“Good luck berdua. Jangan berantem."
Nayara spontan memekik, “RAFAELLL!!!”
Revan cuma mengerjap bingung. “Ada apa?”
“SEPU-PU-KU ITU… ARGH!”
Revan menahan tawa. “Seneng dong, perhatian banget Rafael ke kamu.”
“Dia ngeselin.”
“Dua-duanya bener.”
Mereka akhirnya keluar apartemen bersama. Masih canggung. Masih dengan ruang kosong di dalam diri mereka. Masih dengan pertanyaan di kepala mereka
Tapi pagi ini, Nayara tidak gemetar. Dan Revan, untuk pertama kalinya dalam empat tahun… bisa berdiri di sisi Nayara tanpa bayangan ditinggalkan tiba-tiba. Ini belum sembuh. Tapi untuk mereka berdua?
Ini adalah awal.
---
Di dalam mobil tak ada yang berbeda. Masih dengan kecanggungan yang melingkupi kedua manusia di dalamnya. Keheningan terasa kental. Tak ada yang membuka obloran terlebih dahulu. Nayara yang berada di balik stir kemudi. Sedangkan Revan ada di sisi penumpang. Nayara sibuk mengatur napas, Revan hanya memandang ruas jalan raya yang sudah ramai.
Tadinya Revan sudah menawarkan diri untuk menyetir mobil Nayara. Namun wanita itu yang bersikukuh untuk menyetir sendiri. Dengan alasan, masa' tamu harus nyupirin. Padahal hal yang wajar bukan? Malah yang ada, Revan yang semakin canggung karena dirinya sebagai lelaki disini.
Kembali lagi, untuk mengatasi kecanggungan itu. Nayara menekan tombol play Spotify. Yang terhubung dengan ponsel pintarnya juga.
Satu alis Revan terangkat. “Playlist kamu masih aja sama kek yang dulu. Membekas banget ya Ra?”
"Apanya?" Nayara mencibir tak suka.
"Ya momen yang bareng sama lagu itu." Revan sudah berani menatap wanita di sisinya.
“Sok tau banget sih?" sahut Nayara jutek.
“ya tau lah, buktinya masih kamu puter.”
Nayara menelan ludah. “Aku tanya ya… kamu mau di antar ke mana? Rumah atau klinik?”
“Ke rumah dulu,” jawab Revan. “Masih ingat jalannya?”
Nayara menyeringai. “Masih lah.”
Revan mendesah kecil, tidak percaya sedikit pun. “Hmm… yakin?”
Nayara mengangguk penuh percaya diri sambil belok ke kiri. Sudah yakin Nayara jika jalan yang dia ambil memang jalan ini.
Dua menit kemudian—
“Na.”
“Hmm?”
“Kamu harusnya belok kanan.”
“…serius?”
Revan tertawa keras, memegang perut. “Masih sama. Penyakit buta arah kamu nggak pernah sembuh.”
Nayara mendelik. “Diam nggak sih!”
“Tapi lucu.”
“REVAN!”
Mobil berhenti di lampu merah. Mau puter balik lagi. Bisa-bisanya dia lupa arah lagi. Lagi-lagi kenapa di saat seperti ini dirinya harus terlihat bodoh. Nayara ngedumel tanpa suara. Revan masih tertawa lirih, seolah melihat versi lama Nayara yang dulu membuatnya jatuh cinta habis-habisan.
Akhirnya sampai—bonus muter dua kali karena salah jalan—Revan membuka pintu. Bernafas lega setelah dengan selamat berada di depan rumah minimalis Revan.
“Thanks ya, Ra.”
Nayara hanya mengangguk.
Revan mencondongakn sedikit tubuhnya, menatap lekat. Nada suaranya turun, hangat, tapi membuat hati Nayara mencelos.
“Aku pulang dulu.”
Ia berbalik. Namun sebelum menutup pintu, ia berucap pada Nayara. “Pulangnya hati-hati. Kalau salah belok lagi… kabarin aku.”
Pintu tertutup. Tapi gema suaranya tertinggal. Kalimat itu berhasil mengganggu. Mengusik. Dan… entah kenapa—menghangatkan. Sedikit senyum cantik terulas.