Hujan sudah mereda, tapi dinginnya masih menggantung di udara saat Rafael menutup pintu kamar Nayara dengan sangat pelan. Lampu redup di lorong apartemen itu membuat suasana semakin sunyi, seolah ruangan pun sedang menahan napas bersama mereka.
Revan duduk di ruang tengah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat ia lepas. Jemarinya saling menggenggam, tidak tenang. Tatapannya langsung terarah pada Rafael ketika pria itu menghampirinya.
“Gimana?” suara Revan terdengar berat. Ada khawatir yang nyaris terdengar seperti ketakutan.
Rafael menghela napas panjang, melempar diri ke sofa.
“Dia udah tidur, Van. Akhirnya… setelah hampir satu jam cuma tatap langit-langit tanpa kedip.”
Revan memejamkan mata sesaat. Sebuah napas lega lolos dari bibirnya, tapi bukan kelegaan penuh. Lebih seperti—kelegaan kecil yang ditelan oleh ribuan kekhawatiran baru.
Sejak mereka meninggalkan klinik tadi, Nayara tidak bicara sepatah kata pun. Bahkan saat Revan mencoba mendekati bukan sebagai mantan kekasih, tapi sebagai psikiater, responsnya sama saja,hening. Seolah Nayara menghilang dari dunia dan hanya tubuhnya yang tersisa. Tak ada yang dia katakan. Bahkan untuk melihat mata Revan pun tak dia lakukan.
Itu bukan Nayara yang ia kenal empat tahun lalu. Dan bukan Nayara yang selama ini bersama dengannya. Bagaimana wanita ini bisa menjadi seperti ini? Bukankah seharusnya Nayara bahagia setelah meninggalkannya?
Rafael bersandar di sofa, menatap langit-langit apartemen sederhana itu. Banyak frame foto diturunkan dari dinding, hanya bekas paku yang tersisa. Ada rak buku berantakan dan beberapa mug kopi kosong di meja.
Seperti seseorang yang berusaha hidup, tapi tidak benar-benar kembali.
Revan akhirnya berkata, suaranya rendah, tajam oleh rasa ingin tahu dan takut bersamaan, “Raf… ada yang lo sembunyiin dari gue?”
Rafael menoleh. Rahangnya mengeras.
“Gue bukan nggak mau cerita, Van. Tapi ini bukan hak gue buat buka semua yang dia alamin.” Ada jeda sejenak. “Lo psikiater, lo pasti ngerti soal itu.”
Revan mengepalkan tangan pelan. “Gue tau. Tapi gue juga seseorang yang dulu dia tinggalin tanpa penjelasan sama sekali, Raf. Tanpa… tau sebenarnya ada apa.”
Rafael menatap Revan lebih lama. Ada tanda tanya yang juga menahan dirinya sejak di klinik tadi. “Gue cuma mau tau satu hal dulu, Van. Lo kenal Nayara dari mana?”
Hening sebentar. Revan menunduk, mengusap wajahnya. “Dia mantan gue, Raf.”
Rafael terpaku. Itu bukan jawaban yang tak pernah ia duga, tapi justru menjelaskan banyak kepingan yang tidak ia mengerti sejak mobil berhenti di depan klinik tadi.
“Mantan lo…” Rafael mengulang pelan. “Pantes dia ketrigger gitu pas liat lo.”
Revan mengangguk, tapi ada getir di sana.
“Gue nggak bakal tanya detail hubungan kalian,” lanjut Rafael, “tapi lo harus tau satu hal, apa pun yang bikin lo sama Nayara dulu selesai, dia sekarang lebih… rusak dari yang lo bayangin, Van.”
Revan menatap pintu kamar tempat Nayara beristirahat. Rahangnya menegang. “Apa yang terjadi sama dia selama ini?”
Rafael berdiri, menatap Temannya dengan tayapan yang tak terbaca. “Kalau gue bisa ceritain, gue udah ceritain dari tadi. Cuma Nayara sendiri yang berhak buka itu, bukan gue.”
“Rafael.” Suara Revan berubah dalam, dingin. “Dia datang ke klinik gue dalam kondisi hampir disosiatif. Dia nggak respon verbal. Nafasnya pendek. Ada bekas luka baru di lengan kirinya. Dan wajahnya. Gue psikiater, gue perlu konteks buat bantu.”
Rafael menghentikan langkahnya saat dirinya hendak pergi ke dapur. Bahunya turun sedikit dan setengah menoleh ke arah Revan.
“Lo bener,” katanya lirih. “Tapi gue janji satu hal, kalau Nayara mau cerita, gue bakal pastiin lo jadi orang yang pertama denger.”
Revan menatapnya tajam. “Kalau dia mau.”
“Kalau dia masih percaya sama lo.” Rafael menambahkan pelan. “Atau sama siapa pun.”
Terjadi keheningan diantara mereka. Rafael yang bimbang untuk bicara atau tidak. Dan Revan yang semakin dibuat ingin tahu dengan apa yanv terjadi dengan mantan kekasihnya itu.
Sampai akhirnya Rafael bertanya balik, suara rendah namun mampu membuat Revan terdiam sesaat, “Sekarang giliran gue, Van. Gue juga mau tanya ke lo, kenapa lo biarin dia pergi dulu? Kenapa lo nggak cari dia?”
Benar saja semua pertanyaan itu membuat Revan terdiam. Barulah dia bicara saat hembusan napasnya keluar begitu saja. “Dia yang menutup semua akses untuk nggak komunikasi sama gue, Raf.”
Di kamar, tanpa mereka sadari— Nayara tidak benar-benar tidur. Matanya terbuka menatap gelap langit-langit, dan air mata turun perlahan. Kalimat itu seakan menyayat hatinya dan menimbulkan luka menganga. Karena sebagian dirinya tahu, Revan tidak sepenuhnya salah.
Ia dulu memang pergi—
Lebih tepatnya memilih pergi, agar bukan dia yanv ditinggalkan dan tidak ada satu pun yang melihatnya, bahwa saat itu dirinya sedang, hancur.
---
Cahaya pagi menerobos tirai apartemen Nayara, jatuh tepat di karpet berwarna krem di ruang tengah. Aroma sesuatu yang dipanggang perlahan menyebar, membuat suasana tak lagi sesenyap malam sebelumnya.
Nayara membuka mata dengan kepala berat. Ia bangun perlahan, memegangi bibirnya yang masih perih—lebam kebiruan tampak samar. Lengan kirinya juga tertutup balutan perban dingin.
Ia menarik napas. Semalam bukan mimpi. Itu nyata. Semua terjadi… lagi. Tapi seperti apapun itu, Nayara masih bertanya. Bagaimana keadaan Mamanya saat ini?
Ia turun dari tempat tidur, melirik cermin. Rambut kusut, mata sembap, tapi setidaknya ia masih di dalam ruangannya sendiri, bukan di tengah badai emosi yang nyaris merenggut napasnya.
Saat keluar kamar, langkah Nayara terhenti tepat di pintu dapur kecil itu. Rafael duduk di kursi bar sambil memainkan ponselnya.
Dan—di sana. Revan.
Masih mengenakan kaus polos abu-abu, apron kecil tergantung di pinggang seolah ia pemilik resmi dapur itu. Ia menyiapkan tiga piring roti panggang dengan telur orak-arik, sambil sesekali mengaduk s**u hangat di panci.
Nayara menelan ludah. Revan menatapnya lebih dulu.
“Ara… pagi?” senyum yang tak sepenuhnya lepas.
Nayara melirik cepat ke arah Revan, seperti refleks. “Oh… Re… pagi. Eh, maksudnya Revan. Dokter. Eh—ya gitu.”
Rafael langsung mengangkat alis, menahan tawa. “Wow. Baru dua menit bangun, udah nyangkut wi-fi kata-katanya.”
Nayara menatap sepupunya tajam. “Aku lempar sandal nih, Kak.”
Revan tidak menoleh, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Ia meletakkan piring di meja makan. “Lempar aja nggak papa. Salah satu pelepasan juga kok. Biar lega hati kamu"
Rafael batuk-batuk palsu menahan tawa. “Anjir… ya jangan dong, seneng banget lo Van."
Nayara hampir tersenyum—nyaris. Tapi ia cepat mengalihkan wajah, duduk tanpa suara.
Revan menaruh cangkir s**u panas di depannya. “Aku nggak tau kamu masih suka kopi waktu pagi. Jadi… aku bikinin s**u aja. Kalau kamu nggak mau, nggak apa.”
Nayara memandangi gelas itu lama. Ada jeda sejenak, “Masih… aku masih suka kopi. Tapi s**u juga nggak apa-apa.” suara itu lirih, tapi lebih baik dari saat malam kemarin. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Rafael memperhatikan keduanya bergantian, seperti menonton drama episode terbaru. “Van, lo selalu masak gini tiap pagi?”
Revan menjawab santai, tapi matanya tetap di piringnya, tidak berani menatap Nayara terlalu lama.
“Iya, karena emang hidup sendiri di jadi apa-apa ya sendiri.”
“Hidup sendiri. Lo nggak mau cari istri git—”
Rafael belum selesai ketika Nayara melempar tatapan maut. “Kak Rafael.”
Rafael terbatuk lagi. “Siap, sepupu tercinta.”
Dan akhirnya—Nayara mengeluarkan suara yang lama hilang. Tawa kecil. Pendek. Pecah. Rapuh. Tapi nyata.
Revan menegakkan kepala sedikit—seolah suara itu adalah obat paling mujarab yang pernah ia dengar dalam hidupnya.
Mereka makan dalam diam beberapa saat sebelum Rafael memecah keheningan lagi, “Nay, lo bisa istirahat dulu hari ini nggak? Telpon kantor lo atau gue yang ngomong?”
Nayara menggeleng pelan. “Aku masuk siang. Banyak revisi naskah klien.”
Revan akhirnya menatapnya, serius. “Ara, kondisi kamu semalam—itu bukan hal kecil.”
Nayara menunduk, memegang sendok lebih erat. “Aku baik-baik aja. Tadi malam cuma… ya, gitu.”
Rafael menatap Revan, memberi sinyal, biarin dulu. Hanya itu yang terucap dari tatapan pria itu pada sahabatnya.
Tapi Revan tak dapat menahan dirinya, hingga dia mengatakan hal yang sangat ingin dia katakan. “Kalau suatu hari kamu siap, aku ingin kamu cerita. Jika kamu tidak mau menganggapku seperti seseorang yang dulu pernah kamu percaya. Kamu bisa menganggapku sebagai doktermu."
Nayara berhenti mengunyah. Dadanya bergerak naik turun. Suasana kembali sunyi sebentar.
Rafael mengangguk mantap. "Aku harap yang terbaik buat kamu Nay, kita bakalan bantu kamu. Untuk masalah yang di rumah kamu serahin aja ke mamaku. Kamu nggak usah mikir yanganeh-aneh dulu."
Nayara tersentum menatap kakak sepupunya. ”Makasih kak,"
Revan teringat sesuatu. "Oh iya Ra, gimana pertemuan kamu kemarin? Pulangnya nggak nyasar lagi kan?"
Rafael menoleh. "Wah ada apa ini? Lo salah jalan lagi Nay?"
Dan entah bagaimana—Nayara kembali tertawa. Lebih tulus dan lebih lepas. Mungkin belum hilang. Tapi setidaknya lebih baik.
---