Bertemu kembali

1443 Kata
Rafael menuntun Nayara keluar rumah dengan pelan, memeluk lengan sepupunya itu, seolah setiap sentuhan sedikit saja bisa membuat gadis itu pecah menjadi berkeping-keping. Langit semakin gelap dengan tak adanya benda lain di atas sana. Helaian rambut Nayara sedikit menemoel di kening dan pipi Nayara yang basah oleh air mata. Dan Rafael masih menenagkan gadis yang sedari tadi gemetar di rangkulannya. “Nay, hati-hati. Kamu pegangan aku ya?” Suara Rafael rendah, tenang, tapi tegas. Nada yang selalu ia pakai ketika Nayara mengalami serangan panik bertahun-tahun lalu hingga saat ini. Nayara hanya mengangguk kecil, langkahnya goyah. Rafael membuka pintu mobil dan membiarkan Nayara masuk sebelum menutupnya perlahan, memastikan gadis itu merasa aman. Jika seperti ini ketenangan yang dibutuhkan oleh sepupunya ini. Begitu ia masuk ke kursi pengemudi, Rafael menarik napas panjang. Tangannya sempat mengepal di setir, menahan emosi yang tadi ia sembunyikan di depan tante Aruna. “Ada yang sakit, nggak?” tanyanya pelan, tak memaksa. Sedikit mencondongkan tubuhnya. Nayara menoleh perlahan, menatap dengan matanya yang sembab. “Enggak ada kak, aku nggak apa-apa.” dengan suara lirih, bergetar. Rafael mendecak, bukan marah—tapi jengah melihat sepupunya yang menutupi rasa sakitnya. “Nay… ini kamu berdarah.” Gadis itu menyentuh bibirnya, dan saat melihat noda merah di jarinya, ia hanya tersenyum tipis. “Oh… iya. Aku nggak sadar.” jari itu bergetar di hadapan Nayara. Itulah yang membuat Rafael semakin cemas. Nayara yang menyadari rasa sakit fisik adalah Nayara yang sadar akan dirinya. Tapi, jika Nayara yang tak lagi merasakan apa-apa? Itu adalah pertanda, bahwa dirinya, fisiknya dan psikisnya tak baik-baik saja. Mobil mulai melaju perlahan, meninggalkan rumah itu. Selama beberapa menit, hanya suara deru mesin dan lalu lalang yang terdengar. Nayara memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke luar jendela. Rafael akhirnya bersuara, suaranya lembut tapi penuh kekhawatiran, “Nay… kamu masih denger suaranya?” Nayara terdiam. Bibirnya bergetar. “Masih…” bisiknya. “Kayak kaset rusak… muter terus.” Rafael mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih. Ia tahu, jika dipaksa, Nayara akan menutup diri. Ia meraih ponselnya sebentar, menghubungi seseorang yang ia simpan dengan barisan tertentu. Teman yang memiliki pengalaman untuk mendampingin seseorang yang terlibat dengan masalah depresi. Siapa tau temannya yang juga berprofesi sebagai dokter psikolog ini bisa membantu Nayara. Meski sebenarnya Nayara sudah memiliki dokter sendiri. Rafael menekan tombol call. “Nay. Aku telepon temen, ya? Cuma buat bantu nenangin kamu.” dengan tangan yang mengelus pucuk kepala sepupunya. Nayara tak menoleh. “Aku nggak papa kak. Aku nggak mau dibawa ke rumah sakit…” “Bukan,” jawab Rafael cepat. “Bukan rumah sakit. Temen aku ini sering bantu pasien yang kena serangan panik. Kamu cuma… butuh orang yang ngerti kondisi kamu.” Nayara tak menjawab, tapi tidak menolak. Itu sudah cukup. Tubuhnya lelah, lelah dengan semuanya. Dia ingin menghilangkan suara gemuruh di otaknya. Telepon tersambung. Suara seseorang terdengar dari ujung sana—tenang, khas, profesional. “Raf? Kamu nelpon malam-malam gini, kenapa?” Rafael dengan suara yang dibuat setenang mungkin, “Aku lagi butuh bantuan kamu. Ada seseorang yang kena… breakdown. Berat. Dia lagi denger suara yang nggak bisa berhenti.” Seketika nada diseberang berubah serius. “Dimana kalian? Aku bisa datang ke rumah kalian, atau ke klinik, terserah.” Rafael melirik Nayara yang masih menatap kosong. “Kamu ada di klinik?” “Masih,” jawab Revan. “Ada pasien last minute. Tapi aku bisa tunggu.” “Oke. Aku ke sana.” Begitu Rafael mematikan telepon, Nayara menoleh sedikit, suara pelan seperti anak kecil yang ketakutan. “Kita… mau kemana?” “Temen aku, Nay. Dia baik. Profesional banget. Semoga kamu aman sama dia. Siapa tau dia bisa bantu kamu” Nayara memejamkan mata, menarik napas yang terdengar seperti menahan isak. “Kenapa aku harus kayak gini terus, Kak…?” Rafael mengelus kepala Nayara, menepuknya lembut. “Karena kamu manusia. Dan manusia boleh sakit. Kamu nggak harus kuat sendirian.” Nayara menunduk semakin dalam. Rasa sakit pukulan di pipinya bahkan tidak terasa. Yang terasa hanya ruang gelap di kepalanya yang semakin menyempit. Tatapannya kosong dengan napas pendek. Tangannya pucat karena menggenggam roknya terlalu erat. Ucapan Bu Aruna masih bergema seperti retakan kaca yang tak kunjung selesai. Anak durhaka. Pembawa sial. Gara-gara kamu—suami aku mati… Tanpa disadari Nayara, mobil itu berbelok ke jalan yang sama seperti pagi tadi. Jalan kecil yang ia salah masuki saat menuju tempat pertemuan. Lampu jalan yang sama, tikungan yang sama, bahkan papan klinik yang tadi tidak ia sadari. Dan ketika mobil berhenti di depan bangunan itu… Nayara mengangkat wajahnya—ingin bertanya di mana ia berada. Tapi bukan gedung itu yang mengejutkannya. Melainkan sosok yang keluar dari bangunan tersebut. Lampu teras klinik menyorot tubuh seorang pria yang berjalan cepat mendekat. Payung hitam masih meneteskan air hujan, dan jas panjangnya menambah kesan dingin yang menutup malam. Namun tatapannya— Tatapan itu hangat. Dan sekaligus menghancurkan. Membuat Nayara mematung. Tubuh Nayara langsung mundur selangka. “Kak?" Nayara menoleh ke arah sepupunya. Seakan mencari jawaban dari apa yang dia dapat sekarang. "Kita buat kamu tenang dulu ya?" Rafael merangkul pundak Nayara, seakan menahan gadis itu yang ingin kabur. Memang, Nayara ingin menolak. Ingin kabur. Tapi kaki kirinya tiba-tiba gemetar hebat. "Kak, kita ke dokter aku aja. Anterin aku ke sana aja." suara Nayara gemetar. “Ara…?” Revan memanggil lirih, nyaris tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Ada apa dengan Nayara? Ada apa dengan gadis yang tega meninggalkannya. Nayara tersentak seperti baru ditarik dari mimpi buruk ke mimpi lain yang tak kalah menyesakkan. Matanya melebar. Dadanya naik turun tidak stabil. Bibirnya bergetar. “Re…van…?" Nama itu seperti duri yang menusuk tepat di bekas luka yang belum pernah sembuh. Empat tahun. Empat tahun ia menghindari mata itu. Meninggalkannya tanpa pesan. Tanpa penjelasan. Tanpa memberi kesempatan Revan bertanya kenapa. Dan sekarang— pria itu kembali berdiri di depannya. Nyata. Bukan bayangan masa lalu. Rafael menatap mereka bergantian. “Kalian saling kenal?” Tidak ada jawaban. Hanya ada percikan air yang mulai menetes kembali dari langit gelap di atasnya. Dan degup jantung yang terdengar terlalu keras di telinga Nayara. Revan berdiri satu meter dari mereka—tidak lebih. Tidak berani lebih dekat. Seakan ia tahu Nayara rapuh, dan ia tidak ingin membuatnya runtuh. “Ara…” suaranya halus, bahkan terlalu halus. “Kamu kenapa kayak gini? Siapa yang—” Nayara mundur satu langkah. Lagi. Lalu satu lagi. Matanya berkaca-kaca, seolah sedang melihat kembali kekacauan yang terjadi di masa lalu… atau seseorang yang ia berusaha lupakan mati-matian. Atau seseorang yang ia tinggalkan tanpa berpamitan— dan menyisakan luka yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. “Kak kenapa ke sini…?” suaranya hampir tak terdengar. “Kenapa… di sini?” Revan menatapnya dalam. Tatapan itu bukan hanya tatapan psikiater yang sedang memahami trauma pasien. Ada sesuatu yang jauh lebih personal. Yang Rafael belum pernah lihat seumur hidupnya. Ia mengambil napas pelan. “Karena Rafael minta bantuan. Dan karena—” Ia tak melanjutkan. Rafael menunggu. Nayara menunggu. Tapi kata-kata itu seakan mati di tenggorokannya. Revan mengatur ulang suaranya, lalu berkata sangat hati-hati, “Bolehkah aku bantu kamu… sebagai dokter?” Nayara menutup matanya. Tubuhnya bergetar… bukan karena terpaan air hujan, bukan karena udara yang semakin dingin… tapi karena semua kenangan itu berjatuhan tanpa bisa ia tahan. Revan yang ia tinggalkan. Revan yang dulu sibuk dan perlahan menjauh. Revan yang membuatnya merasa tidak pernah cukup. Revan yang akhirnya ia tinggalkan tanpa sempat menjelaskan alasan sebenarnya— karena saat itu, dirinya yang ditinggalkan begitu saja oleh ayahnya, ibunya mulai kehilangan akal dan Nayara mulai memilih untuk meninggalkan dari pada ditinggalkan. Dan kini pria itu berdiri di depannya lagi. Terlalu dekat. Terlalu nyata. Terlalu menyakitkan. “Aku… mau pulang.” Nayara memaksakan diri berbalik. Tapi lututnya goyah. Rafael hampir menangkapnya, namun Revan yang lebih cepat. Tangannya mendarat di lengan Nayara dengan lembut, meski sedikit gemetar. “Tenang. Kamu aman di sini.” Suara itu… Nada itu… Nayara hampir membencinya karena terlalu mengenang. “Kamu tidak apa-apa, Ra,” Revan melanjutkan dengan kelembutan yang membuat Rafael menelan ludah. Nayara membuka mata. Air mata turun tanpa ia sadari. Dan saat ia mencoba menjauh, dan Revan melepaskannya. Dia tak ingin memaksa. Tidak menariknya kembali. “Kalau kamu mau pergi, silakan,” katanya pelan tapi tegas. “Aku tidak akan menahan.” Rafael menelan tegang. “Nay… please. Cuma malam ini. Lu butuh tempat aman.” Nayara memejamkan mata kuat-kuat. "Masuk, Ara?" Akhirnya… Dengan langkah pelan, Nayara mengikuti Rafael dan Revan masuk ke dalam klinik. Nayara melangkah masuk ke tempat yang selama tak ingin ia masuki lagi. Termasuk pria ini. Pria yang membuatnya mmiliki ketakutan, hingga berakhir Nayara yang meninggalkannya. Masuk kembali ke luka yang belum pernah benar-benar sembuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN