Kantor sudah benar-benar sepi. Lampu ruangan copywriting hanya menyisakan cahaya kuning temaram yang jatuh ke arah meja Nayara yang kini kosong. Di sana masih ada cangkir bekas kopi yang belum sempat dibersihkan—saksi bahwa pemiliknya bergegas pergi tanpa menoleh lagi.
Radith berdiri di depan meja itu, tatapannya lama, entah pada kursi kosong atau bayangan perempuan yang baru saja ia lihat menahan tangis sebelum melangkah ke lift. Tampak sangat berantakan. Ingin sekali dirinya bisa ada di dalam kesedihan itu. Menyembuhkan. Atau sitadaknya menemani.
Ia mengetuk-ngetukan jarinya di tepi meja, perasaan gelisah memikirkan wanita itu. Semoga dia baik-baik saja.
Kezya berjalan mendekat, hendak berpamitan untuk pulang masih dengan wajah cemasnya. “Dit, gue pulang juga ya. Ara juga udah jalan kok.” pamitnya yang memang tadi sempat mengantar sahabatnya itu.
“Gue tahu,” jawab Radith pelan, tanpa menoleh. “Tapi apa lo bisa kasih tahu gue... apa yang sebenarnya terjadi sama dia?”
Kezya terdiam. Ia tahu pertanyaan itu akan muncul.
Sejak dulu Radith selalu punya perhatian lebih ke Nayara, tapi Nayara terlalu pandai menutupi luka. Bahkan di antara tawa dan sarkasme khasnya, selalu ada lapisan kosong yang sulit diterjemahkan. Dan bolehkan dia bercerita tentang luka itu?
“Za,” panggil Radith sekali lagi, yang kini juga menatapnya langsung. “Gue sering liat dia... kayak—”
“Kayak nahan sesuatu?” potong Kezya cepat.
Radith mengangguk. “Iya. Dan setiap kali gue pikir dia udah tenang, tiba-tiba dia berubah. Dingin, menjauh. Kayak takut sama perasaan sendiri. Lo tahu kenapa?”
Kezya menarik napas panjang. “Dit, gue nggak yakin boleh cerita atau nggak.”
“Lo boleh percaya sama gue Az, lo tau gue kan? Lo tau kan gue suka sama dia. Gue tau ada yang salah sama dia. Tolong,” desaknya. “Kalau lo temen dia, lo pasti juga pengen bantu, kan?”
Keheningan melingkupi ruangan itu. Sampai akhirnya Kezya menyerah, menatap lantai dengan pandangan kosong sebelum bersuara pelan.
“Lo tau kan apa yang dia takutin selama ini?"
"Tau, dia takut kehilangan."
"Lo tahu nggak kenapa Nayara takut banget kehilangan?”
Radith diam, menunggu.
“Itu karena dia udah ngalamin kehilangan paling besar di hidupnya,” lanjut Kezya. “Waktu dia masih kuliah, ayahnya meninggal mendadak. Serangan jantung di mobil waktu mau jemput Ara pulang dari kampus.”
Radith menegang. “Lo serius Za?"
"Gak mungkin kan gue buat kematian orang buat bahan candaan atau cerita gak guna?"
"Oke terus. Tadi dia bilang barusan, dia mau ke rumah mamanya. Ada apa?”
“Ya,” potong Kezya. “Sejak malam itu, semuanya berubah. Ibunya—Bu Aruna—nggak pernah benar-benar sembuh dari depresi. Tiap kali kambuh, beliau sering nyalahin Ara. Katanya... kalau aja Ara nggak minta dijemput malam itu, ayahnya nggak akan meninggal saat itu.”
Radith terdiam lama. Kalimat itu begitu berat. Menyesakkan. Ia bahkan bisa membayangkan sendiri bagaimana seorang gadis muda menghadapi tuduhan sekejam itu dari ibunya sendiri.
“Dan Ara percaya,” lanjut Kezya lirih. “Dia percaya itu salah dia.”
Radith mendengarkan tanpa berkomentar. Ada getir di matanya. Ada rasa sakit yang seakan bisa dia rasakan juga.
“Dari situ,” tambah Kezya, “dia mulai berubah. Jadi orang yang nggak mau bergantung ke siapa pun. Selalu mikir dia harus kuat sendiri. Tapi lucunya, dia juga selalu pengen diselamatkan. Kayak... separuh dirinya mau ditolong, tapi separuh lainnya takut diminta bertanggung jawab atas itu.”
“Abandonment trauma,” gumam Radith tanpa sadar, suara seorang profesional yang paham betul istilahnya—tapi kali ini, rasanya personal.
“Lo tahu gimana parahnya itu?” Kezya menatapnya. “Dia sering nutup hubungan duluan sebelum ditinggal. Termasuk sama Revan.”
Nama itu membuat Radith spontan menatapnya. “Revan?”
Kezya mengangguk. “Dia mantannya yang saat ini seorang Psikolog, dulu pacarannya waktu awal kuliah. Mereka kelihatan cocok banget. Tapi suatu hari, Ara tiba-tiba ninggalin dia tanpa alasan. Padahal mereka lagi baik-baik aja. Dan udah cukup lama menjalin hubungan.”
Radith membisu, rahangnya menegang.
“Gue nggak tahu detailnya,” lanjut Kezya pelan. “Tapi katanya saat itu pun Revan nggak selalu ada buat Ara, dia terlalu sibuk. Mungkin karena dia yang udah mulai magang untuk bisa jadi yang sekarang. Dari situ, Ara makin yakin—kalau sayang berarti harus siap ditinggalkan. Jadi, sebelum dia ditinggalkan, Ara milih untuk meninggalkan Revan. ”
Hening. Suara jam dinding jadi satu-satunya yang terdengar.
Radith menyandarkan tubuhnya ke pinggiran meja, menatap kosong ke layar komputer Nayara yang sudah padam. “Dia hidup dalam kebimbangan,” katanya lirih. “Antara pengen dicintai dan takut dicintai.”
Kezya menatapnya tajam. “Jadi, lo masih yakin bisa deketin orang kayak dia?”
Radith tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka. “Gue nggak tahu. Tapi kadang... orang kayak dia cuma butuh seseorang yang tetap tinggal, bahkan ketika dia nyuruh kita untuk pergi.”
Kezya terdiam. Kalimat itu menancap jauh. Dan entah kenapa, malam itu ia tahu—jika dua pria akan kembali bertemu karena satu nama, Nayara Anindya Pradipta.
---
Sementara itu, di sisi lain kota, hujan masih mengguyur deras. Nayara baru saja tiba di rumah lamanya—rumah kecil dengan cat kusam dan lampu teras yang berkelip.
Begitu membuka pintu, aroma obat dan alkohol menyambutnya. Di ruang tengah, Bu Aruna duduk di sofa, dengan perban di lengan dan pelipisnya, tatapan kosong miliknga tertuju ke arah TV yang tak menyala.
“Mama...” suara Nayara pelan dan gemetar.
Tatapan itu berpaling, tajam tapi rapuh. “Ara?”
Langkah Nayara tertahan. Setiap kali mendengar suara itu, hatinya seolah diiris dua kali—antara rindu dan rasa bersalah.
“Maaf, Ma. Aku telat datang...”
Namun sebelum kalimatnya selesai, Bu Aruna sudah menatapnya dengan air mata berlinang. “Kalau aja kamu nggak minta dijemput waktu itu, Ara...” bisiknya, berulang seperti mantra. “Papa kamu nggak akan ninggalin Mama sendirian.”
Dan Nayara hanya berdiri di sana. Membeku. Tangannya terkulai di sisi tubuh, seolah tubuhnya sendiri menolak bergerak.
Air matanya jatuh tanpa suara. Luka lama itu ternyata belum sembuh—hanya bersembunyi di balik kesibukan, menunggu momen untuk berdarah lagi.
Sesaat kemudian Aruna bangkut dari duduknya, menghampiri putrinya yang hanya berdiri di tempatnya. Umpatan dan makian masih Aruna berikan kepada gadis yang dia lahirkan dengan kasih dan sayang. Hingga tangan yang bergetar itu dengan mudahnya terayun pada Nayara.
“Aruna!” teriak Rani panik, gelas di tangannya nyaris terlepas ketika melihat Aruna menarik rambut putrinya dengan brutal. “Aruna, hentikan! Astaga, kau mau membunuh anakmu sendiri?!”
Namun, Aruna seolah tak mendengar. Amarahnya sudah melampaui logika. Tangan yang dulu lembut menidurkan Nayara saat kecil, kini menghujam wajah putrinya dengan tamparan keras, menjambak rambut cantik putranya. Bahkan suara tamparan itu menggema di ruangan yang sudah tak lagi sepi.
“Nayara! Dasar anak durhaka!” Aruna menjerit, matanya merah, napasnya terengah. “Kau tega membunuh Ayahmu! Kamu pembunuh Ara! Kau tega menghancurkan keluarga ini! Apa belum cukup penderitaan yang kau bawa, hah?!”
Nayara hanya diam. Darah menetes dari bibirnya, karena tamparan keras yang berulang itu. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Tapi matanya kosong. Seakan tubuhnya di sini, tapi jiwanya tertinggal di tempat lain—bersama suara itu.
Andai saja… andai saja dia tak meminta jemput saat itu. Andai saja kejadian itu tak ada. Andai saja Nayara bisa memutar kembali waktu itu. Dan andai saja...
Suara itu terus berputar di kepalanya, seperti piringan rusak yang tak berhenti.
“Aruna, hentikan!” Rani menarik tubuh kakak iparnya. Tapi Aruna mendorongnya kasar, membuat Rani tersentak mundur.
“Jangan ikut campur, Rani!” Aruna menatap adik iparnya dengan tatapan liar. “Kau tak tahu apa yang dia lakukan! Anak ini—dia—dia adalah aib bagi keluarga kita! Dia membunuh kakakmu, Rani”
Tetes air mata mulai turun dari pipi Nayara, bukan karena sakit, tapi karena kata-kata itu. “Aib…” ia mengulang pelan, suaranya serak, hampir tak terdengar.
Pintu depan tiba-tiba terbuka keras.
“Mama! Tante!” suara bariton seorang pria menggema.
Rafael—putra Rani—berlari masuk tanpa melepas sepatu. Begitu melihat Nayara di lantai, dengan darah di bibir dan rambut kusut, wajahnya seketika menegang.
“Apa yang terjadi di sini?!” teriaknya, menghampiri Nayara dan memeluk bahunya dengan lembut.
Aruna menunjuknya dengan jari gemetar. “Jangan sentuh dia, Rafael. Jangan kau bela dia. Kau tak tahu siapa sebenarnya dia! Dia adalah pembawa sial! Dia yang membunuh Pamanmu!”
Rafael menatap tajam pada Aruna, lalu menoleh ke Rani yang masih mencoba menenangkan situasi. “Mama, tolong bawa Tante Aruna ke dalam dulu,” katanya dingin, suaranya mengandung amarah yang ditahan.
Rani menatap putranya itu, tahu bahwa Rafael jarang marah. Tapi kali ini wajahnya menunjukkan sisi lain—dingin, tajam, tak berkompromi.
Sementara Nayara masih menatap kosong. Tangannya gemetar di pelukan Rafael, dan suara itu—suara di kepalanya—masih berbisik pelan.
Andai saja… dia tidak mati karena aku…
---