Luka yang Belum Benar-Benar Sembuh

1491 Kata
Ruangan terapi sore itu terasa hening. Jam di dinding berdetak pelan di antara tumpukan berkas dan aroma kayu manis dari diffuser yang sengaja dinyalakan Dimas Arga. Rekan sejawatnya dalam melayani trauma pada anak. Revan duduk di kursinya, memandangi layar laptop yang masih menampilkan catatan klien terakhir. Tapi fokusnya entah sudah ke mana. Pena yang biasa ia gunakan untuk mencatat malah berputar-putar di antara jemarinya. “Bro,” suara Dimas memecah keheningan, santai tapi tajam. “Lo dengerin gue nggak sih? Dari tadi kayak orang nunggu hasil ujian nasional.” Revan mengangkat kepalanya pelan. “Hah?” “Gue nanya, lo udah follow up pasien yang anak kecil itu belum? Yang trauma air?” “Oh... iya, udah,” jawab Revan cepat, padahal belum. Dimas menyandarkan diri di kursinya, menatap sahabat sekaligus rekan sejawatnya itu dengan tatapan menilai. “Oke, ada dua kemungkinan, lo lagi mikirin permintaan mama lo buat nikah, atau... lo kepikiran sama mantan lo yang baru lo temui?” Pena di tangan Revan berhenti berputar. “Ha. Kena ya,” Dimas terkekeh pelan. “Cerita, deh. Bertahun-tahun gue bareng lo, baru kali ini lo nge-freeze kayak laptop kena virus.” Revan mengembuskan napas panjang. Ia jarang mau terbuka, bahkan pada Dimas yang sudah tahu semua lika-liku masa lalunya. Tapi kali ini... rasanya terlalu berat disimpan sendiri. “Aku ketemu Ara,” katanya akhirnya. Dimas mengerjap. “Ya gue tau. Lo tadi udah ngasih kode ke gue. Ara? Nayara Anindya Pradipta itu kan?” Revan mengangguk pelan. “Tanpa sengaja. Dia masuk ke klinik. Dia salah belok.” Dimas spontan tertawa. “Salah belok ke mantan? Astaga, ada aja jalan Tuhan dan semesta untuk bisa nemuin kalian.” Tapi Revan tidak ikut tertawa. Ia menatap kosong ke dinding, seolah pemandangan polos itu bisa menjelaskan sesuatu. “Dia... masih sama kayak dulu,” ucapnya pelan. “Tapi tetep aja ada Tapi entah kenapa... kali ini rasanya beda.” “Beda gimana?” “Kayak aku yang nggak siap.” Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan. “Empat tahun lo menghilang, Van. Ara pun juga begitu. Kalian nggak ada komunikasi. Lo pikir luka itu sembuh cuma karena bergantinya waktu?” Revan menelan ludah. Ia ingat jelas, malam itu, Ara pergi tanpa sepatah kata. Hanya meninggalkan pesan singkat di ponselnya, “Maaf, aku nggak sanggup.” Dan sejak saat itu, hidupnya jadi sepi tapi stabil. Ia menanamkan semua waktunya di pekerjaan, belajar membaca trauma orang lain, padahal traumanya sendiri masih menggantung. “Aku pikir aku udah berdamai,” ujarnya lirih. “Tapi tadi, begitu lihat dia... semua kayak balik lagi. Panik, napas pendek, jantung kayak mau copot. Gila, aku psikolog tapi malah ngalamin anxiety attack sendiri. Tapi beruntung aku masih bisa terlihat biasa di depannya.” Dimas tersenyum kecil. “Itu tandanya lo masih manusia, Van. Bukan mesin peredam emosi.” Revan mengusap tengkuknya, gelisah. “Dimas, aku yang bikin dia ninggalin aku dulu.” “Lo yakin?” “Iya. Aku yang nggak punya waktu untuk dia. Aku yang terpukul karena pasien pertamaku. Di saat dirinya membutuhkan aku, untuk ada di sisinya. Aku pikir aku lagi melindungi dia, padahal aku malah nge-trigger traumanya.” Dimas mengangguk perlahan. “Dan sekarang lo masih nyalahin diri sendiri.” Keheningan menggantung beberapa detik. Hanya suara kipas angin yang berdengung pelan. “Kalau dia datang lagi di hidup lo,” tanya Dimas, “lo mau gimana?” Revan tak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah jendela, melihat langit senja yang mulai berubah oranye. Mungkin pertanyaan itu terlalu sederhana, tapi jawabannya tidak. “Aku nggak tahu,” katanya akhirnya. “Yang aku tahu cuma satu... aku masih belum selesai.” Dimas tersenyum samar. “Ya, mungkin semesta juga belum selesai sama lo, Bro.” Revan menatap sahabatnya dengan pandangan kosong, tapi dalam hatinya bergolak. Ia tahu pertemuan tadi bukan kebetulan. Dan meski ia mencoba berpura-pura tenang, ada bagian dalam dirinya yang sudah mulai bergetar — antara takut, rindu, dan rasa bersalah yang belum sempat ditebus. Di meja kerjanya, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari i********:. Sebuah mention dari akun desain milik Kezya—teman Ara. Sebuah foto kopi dengan caption: “Akhirnya klien kita kelar juga, tapi ada yang masih deg-degan karena salah belok, katanya 😜” Revan menatap layar itu lama, sebelum jempolnya bergerak otomatis membuka profil Nayara. Empat tahun, dan kini hanya dengan satu klik, semuanya kembali. “Dimas,” katanya pelan tanpa menatap. “Kalau orang yang paling lo lukai... tiba-tiba muncul lagi di depan lo, lo bakal apa?” Dimas tersenyum tipis. “Kalau gue? Gue pastiin dulu, kali ini dia nggak salah belok lagi.” Revan menghela napas, lalu tertawa lirih untuk pertama kalinya hari itu. “Tapi masalahnya, Dim... kayaknya bukan dia yang salah belok.” Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan sore yang ramai. “Mungkin justru aku yang belum nemuin arah pulang.” — Di layar monitor, kursor masih berkedip di ujung kalimat yang belum sempat Nayara lanjutkan. Ia menatap layar itu lama, seolah kata-kata di sana bisa menjelaskan segala hal yang terasa berat di dadanya sore itu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kantor sudah mulai sepi—lampu-lampu di beberapa kubikel padam, hanya suara hujan tipis di luar yang terdengar samar. Dirinya harus menyelesaikan deadline, memaksanya lembur hari ini. . Nayara menarik napas pelan, menggulung kabel earphone-nya yang masih tersampir di meja, lalu menekan tombol power di komputernya. “Cukup hari ini,” gumamnya. “Aku butuh tidur panjang dan nggak mikir apa-apa.” Tapi baru saja ia hendak berdiri, ponselnya berdering. Notifikasi dari w******p. Dari Tante Rani — adik mendiang ayahnya sekaligus satu-satunya yang masih sering memantau keadaan Bu Aruna, ibunya. Tante Ratri: Ara, Tante di rumah. Mamamu tadi kambuh lagi, Nak. Dia jatuh, kepalanya luka kena meja. Tolong, kalau kamu bisa datang sebentar aja ya. Dia manggil kamu dari tadi. Jantung Nayara seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa sempit. Tangannya gemetar saat mencoba mengetik balasan. Ara: Aku otw, Tan. Ia langsung berdiri, menabrak kursinya sendiri. Begitu panik, sampai tidak menyadari Radith yang baru keluar dari ruangannya sambil membawa map. “Nay? Hei, kamu belum pulang?” tanyanya, keningnya berkerut. Namun Nayara tak menjawab. Ia menunduk, berusaha mencari sesuatu di dalam tasnya yang setengah terbuka. “Nay?” suara Radith kembali terdengar, kini lebih dekat. “Kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget.” Kezya yang baru keluar dari pantry ikut memperhatikan, membawa gelas air. “Eh, Ara, lo kenapa? Jangan bilang lo ngerjain revisi sampe lupa makan lagi.” “Aku—aku harus pergi,” jawab Nayara cepat. Suaranya serak, tangannya gemetar saat merogoh tasnya. “Kunci mobil... mana sih?” “Nayara, pelan-pelan dulu. Kenapa?” Radith berusaha menahan pundaknya, tapi Nayara hanya menggeleng dan menjauh. “Maaf, aku beneran harus pergi sekarang.” Ia menunduk mencari kunci mobil kecilnya—mobil tua abu-abu peninggalan ayahnya—yang selalu ia bawa ke mana pun. Mobil itu adalah satu-satunya peninggalan yang membuatnya merasa dekat dengan almarhum ayahnya. Sementara itu, Kezya yang memperhatikan perubahan wajah sahabatnya itu mulai menyadari sesuatu. Bahu Nayara bergetar halus. Napasnya tersengal. Tanda-tanda yang dulu selalu ia kenali — tanda panik yang dipendam, tanda trauma yang coba ditutupi. “Nay, lo kena trigger lagi, ya?” bisiknya pelan, mencoba mendekat. “Aku nggak apa-apa, Za. Beneran.” Nayara memaksa tersenyum, tapi bibirnya kaku. Kezya menelan kata-katanya, tahu bahwa memaksa hanya akan memperparah keadaan. Radith menatap mereka berdua dengan bingung. “Hey, Ada yang bisa gue bantu?” “Enggak,” Nayara langsung menjawab, suaranya gemetar. “Aku cuma... harus ke rumah Mama." Kedua orang itu terdiam. Kalimat itu cukup untuk menjelaskan segalanya. Kezya menunduk perlahan, menyentuh punggung tangan sahabatnya. “Lo nyetir aja pelan-pelan ya, Ara. Jangan panik di jalan. Kalau butuh sesuatu, telepon gue, oke?” Nayara mengangguk singkat. Ia menunduk, menggenggam kunci mobilnya erat-erat seperti pegangan hidup. Sambil berjalan cepat ke arah lift, ia menarik napas dalam-dalam. Tapi setiap langkah justru terasa berat. Kata-kata Tante Ratri terngiang di kepalanya — “Mamamu kambuh lagi…” Bayangan lama menyeruak. Ibunya, menangis di ruang tengah, menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayah. Nayara yang saat itu pulang dari rumah sakit, berdiri mematung sambil menggenggam foto keluarga yang retak. Kalimat yang selalu menghantuinya sejak saat itu, — “Kalau kamu nggak minta dia jemput malam itu, Ayahmu nggak akan mati, Ara.” Dan setiap kali ingatan itu muncul, Nayara selalu merasa tenggelam. Pintu lift tertutup. Ia menatap pantulan dirinya di dinding logam, mata sayu, riasan yang mulai luntur, dan sisa senyum yang ia paksakan. “Udah, Ra,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kali ini kamu cuma mau bantu Mama. Bukan untuk luka lama. Bukan untuk nangis lagi.” Begitu pintu lift terbuka, ia langsung berjalan cepat menuju parkiran basement, tanpa sadar Radith berdiri di ujung koridor, memperhatikannya yang pergi dengan ekspresi cemas. Tampak kacau. Dan di luar sana, hujan turun semakin deras. Mobil kecil abu-abu itu melaju menembus malam, membawa Nayara kembali ke tempat di mana semua luka bermula. —
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN