Salah Belok, Salah Mood

1136 Kata
Bab 2 — Salah Belok, Salah Mood Suara langkah sepatu Nayara bergema di lorong kantor yang panjang. Lampu-lampu LED di langit-langit berkelip samar, sementara lagu “Bukan Cinta Biasa” dari Afgan mengalun lewat earphone-nya. Playlist Spotify-nya kali ini berjudul “buat ngerjain desain tapi malah nangis” — dan yah, lirik itu bohong. “Dan kamu yang temaniku seumur hidupku…” Nayara mendengus pelan, bibirnya menekuk sinis, menimpali lirik tersebut. “Bulshit. Sama aja, semua orang pergi.” Ia berjalan cepat melewati ruang kreatif yang dipenuhi papan moodboard, poster kampanye, dan rekan-rekan kerjanya yang sibuk di depan monitor. Sebagai staf copywriter di Radith Creative House, ia sudah terbiasa kerja di tengah deadline, revisi, dan klien drama. Tapi hari ini... bukan klien yang membuatnya pusing. Melainkan Revan Arkana Satriya dan sialnya… latte tanpa gula. Baru lima langkah masuk ke ruangannya, seseorang tiba-tiba menahan bahunya dengan seenaknya. Seakan hendak mengajaknya berantem. “NAYARA ANINDYA PRADIPTA!” Suara nyaring itu bikin beberapa karyawan di sekitar langsung menoleh. Nayara bahkan belum sempat cabut earphone saat Kezya — sahabat sekaligus rekan satu divisi — sudah menatapnya dengan sorot mata membara. “Za, please, aku baru balik meeting—” “Meeting apaan?! Aku belum sempat nanya soal draft revisi iklan es krim, tapi kamu malah kirim aku pesan yang bikin aku nyaris mati penasaran!” Nayara meringis. Oh, sial. Apa Pesan yang dimaksud, pesannya tadi siang? “Za, aku salah belok ke mantan.” Hanya itu. Tanpa konteks. Tanpa penjelasan. Dan tentu saja, Kezya, dengan sifat kepo akut tingkat dewa, tidak mungkin diem aja. “Apa maksudnya salah belok ke mantan, hah?! Kamu nabrak mobilnya? Kamu ke rumahnya? ATAU—” “Za, tolong turunin suara kamu, ini kantor, bukan lapangan atau pasar ya!” potong Nayara cepat, menatap sekitar dengan canggung. Tapi Kezya tetap melipat tangan di d**a, menatapnya seperti ibu-ibu kos yang hendak menagih uang bulanan yang nunggak dua bulan. “Jelasin.” Nayara mendesah panjang, lalu menyerah. “Fine. Aku… salah belok yang seharusnya ke kafe malah ke klinik.” “Dan mantan kamu ada disana…? Kenapa? Dia sakit?” “Psikolog di sana.” Kezya terdiam. Lalu pelan-pelan menatap Nayara dengan ekspresi tak percaya. “Revan Arkana Satriya? Yang dulu bikin kamu—” “Stop.” Nayara langsung mengangkat tangan. Nada suaranya terdengar ringan, tapi matanya sedikit bergetar. “Please, jangan nyebut nama itu lagi ya." Kezya menatapnya lama, mencoba membaca ekspresinya. “Terus? Kamu nggak apa-apa? Maksudku… kamu ketemu dia lagi, Ara. Empat tahun, dan—” “Aku nggak kenapa-kenapa, Za,” potong Nayara cepat. Ia bahkan tersenyum — senyum yang entah kenapa terlalu stabil untuk seorang perempuan yang baru ketemu dengan sumber traumanya. “Nggak ada panik, nggak ada sesak, nggak ada drama. Aku cuma… ya, kaget aja. Kayak buka folder lama di laptop dan sadar file-nya masih ada di situ.” Kezya diam, tapi pandangannya lembut. Ia tahu betul, dulu Nayara pernah mengalami panic attack parah setelah memilih meninggalkan Revan karena ketakutannya. Dulu, Nayara bahkan tidak bisa mendengar lagu yang sama, lagu yang sering mereka dengarkan bersama. Tapi sekarang? Nayara hanya menatap layar komputernya, membuka dokumen naskah iklan dengan tangan tenang, “Lagian lucu juga, Za. Bayangin aja, hidupku beneran kayak iklan Google Maps gagal update.” Kezya mendengus kecil. “Lucu tapi tragis.” “Ya, setidaknya sekarang aku bisa ngetawainnya.” Nayara mengetik kalimat di dokumen terbuka di monitornya. “Terkadang, jalan pulang nggak selalu yang paling lurus. Tapi yang paling berani kita tempuh lagi.” Ia menatap kalimat itu beberapa detik, lalu tersenyum kecil. Kezya yang duduk di sebelahnya ikut memperhatikan. “Kalimatnya bagus. Tapi aku tahu itu bukan buat klien, kan?” Nayara menoleh, bibirnya melengkung. “Yah, mungkin aku cuma latihan nulis iklan buat hati sendiri.” Kezya tak menjawab, hanya menepuk bahu Nayara pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayara merasa dadanya tak seberat dulu. Mungkin karena kali ini, ia tidak lari. Ia hanya… salah belok. Dan anehnya, nyasar ini tidak seburuk apa yang dia kira. --- “Minum ini.” Sebuah kaleng coffee latte dingin mendarat pelan di meja Nayara. Dengan suara pelan dan lembut — khas Radith. Nayara menoleh, menemukan sosok pria dengan kemeja putih tergulung di siku, berdiri santai di sebelah kubikelnya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tenang, tapi matanya selalu punya sorot tajam penuh perhatian. Radith Adiwangsa. Creative Director. Atasan sekaligus… entahlah, seseorang yang sudah terlalu lama menggantung di garis abu-abu antara rekan kerja dan seseorang yang peduli padanya. “Oh, makasih, Dit.” Nayara mengambil kaleng itu, tersenyum manis, namun otaknya bergikir. Hari ini dia mendapat latte, satu dari masa lalu dan satu lagi... Ia membuka kalengnya pelan, menghirup aroma manisnya yang familiar, tapi tak lagi terasa istimewa. Radith bersandar di pinggiran meja Nayara, melipat tangan. “Meeting tadi gimana? Kliennya oke?” tanyanya santai. “Lumayan. Ada revisi minor aja.” Jawabannya singkat. Mencari aman. Ia Radith menatapnya lama, lalu tanpa aba-aba mengacak rambut Nayara ringan. “Good job, Naya. Kamu nggak pernah bikin kecewa.” Nayara menahan napas sesaat. Sentuhan itu bukan hal baru — Radith memang punya habit semacam itu. Sedikit sentuhan di bahu, acakan di rambut, atau tepukan ringan di kepala setiap kali ia selesai kerja lembur. Bukan dalam konteks yang salah, tapi cukup untuk membuat batas personalnya sedikit kabur. “Udah, jangan kerja terus.” Radith tersenyum, “Aku orderin makanan, ya. Kayaknya kamu belum makan, deh?” Nayara menatap layarnya sebentar, lalu menatap Radith. Bibirnya tersenyum kecil, tapi matanya memantulkan lelah. “Terima kasih, Dit. Tapi aku pengen kerja dulu. Deadline-nya mepet.” “Deadline selalu mepet,” balas Radith pelan. Nada suaranya seperti menegur tapi juga… menenangkan. “Kalau kamu terus-terusan ngejar target, siapa yang ngejar kamu nanti?” Nayara tertawa hambar. “Kayaknya belum ada yang cukup berani tersesat sejauh itu.” Radith ikut tersenyum, tapi tak membalas. Ia menatap Nayara sejenak, lalu berdiri tegak. “Oke, Miss Copywriter keras kepala. Aku ke ruang meeting dulu. Jangan lupa makan.” “Siap, Bos.” Begitu Radith pergi, ruangan terasa kembali sunyi. Nayara membuka dokumen yang tadi belum sempat ia lanjutkan, tapi pikirannya terpecah. Dua cangkir latte hari ini — satu dari masa lalu, satu diberikan oleh seseorang yang mencoba jadi masa depan. Lucu. Hatinya bahkan belum bisa memutuskan ada ketakutan disana. Ia menatap kaleng di tangannya, lalu tersenyum getir. “Masih aja ya, Nayara… nggak bisa bedain mana yang cuma perhatian, mana yang benar-benar tinggal.” Ia menenggak sisa minumannya, membuka file iklan yang sama, “Kadang, jalan pulang tidak selalu yang paling lurus. Tapi yang paling berani kita tempuh lagi.” Dan kali ini, kalimat itu terasa makin berat. Karena mungkin, untuk bisa pulang, seseorang harus berani tersesat dulu, dua kali. --- Kadang penyembuhan datang bukan saat kita menghindar, tapi saat kita berani salah belok atau jalan dan tetap melangkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN