GM-20-Husband material

1211 Kata
Jika biasanya Senin adalah hari yang panjang lagi melelahkan bagi seorang Triana, namun tidak dengan sekarang. Hari Senin adalah hari yang baik dan menyenangkan saat Tri menemukan sosok seorang lelaki bernama Sianidama. Lelaki yang ia sebut sebagai Boyfriend Matrial itu adalah sosok yang membuatnya bersemangat menjalani hari. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja mengirim pesan pada temannya, Kana. Adik Sian itu mengatakan kalau pagi ini ia diantar oleh abangnya. Tri, gadis berwajah oriental itu bahkan rela bangun pagi - pagi dan bersemangat untuk ke sekolah. Diana, kakaknya bahkan sangat senang melihat adiknya begitu semangat saat ia mengantar gadis cantik itu ke sekolah. Dentingan pada benda pipih yang kini ada digenggamannya itu membuatnya buru - buru menatap pada layar. From : Alkana "Bentar lagi sampai. Tru nunggu di gerbang aja." Gadis itu tersenyum seraya membaca pesan singkat itu. Tubuhnya yang semula setia dalam posisi duduk di bangku kelas, kini beranjak bangkit dan melangkah ke luar kelas dengan cepat. Koridor kelas masih lenggang. Sebab hari memang masih cukup pagi dan bagi sebagian siswa, tidur masih merupakan hal yang paling enak. Saat langkahnya mencapai pintu gerbang, saat yang bersamaan sebuah motor matic yang dikendarai oleh seorang lelaki yang tak asing di mata Tri dan seorang gadis di belakangnya. Gadis itu melangkah ke luar gerbang agar jarak mereka lebih dekat. Mata Tri berbinar saat lelaki itu membuka kaca helmnya. Hampir saja Tri tak bisa menahan diri untuk tidak mengambil gambar lelaki itu saat ini. Sian harus tahu betapa tampan dan maskulinnya dia saat ini. "Nanti siang abang gak ada kelas, mau dijemlut?" tanya Sian seraya mengambil helm yang Kana serahkan. Gadis itu nampak berpikir sejenak. Lalu sejurus kemudian, dia mengangguk tanda meng-iyakan. "Hai, kak? Udah lama gak ketemu," sapa Gadis yang berdiri tepat di hadapan motor Sian itu dengan begitu ramah. Bagaimana tidak, kedua sudut bibir gadis itu bahkan sudah tertarik ke atas begitu tinggi. Sian, lelaki itu hanya tersenyum tipis. Apanya yang sudah lama? Baru beberapa hari lalu, gadis itu bertamu ke rumahnya. Pikir Sian. "Hai juga. Jangan kabur - kabur dari rumah lagi lo!" Lelaki itu membalas sapaan Tri. Akan tetapi, seperti yang kalian lihat kawan - kawan, ia masih saja ketus saat berbicara pada Tri. Gadis itu tetap tersenyum senang. Terlepas dari apa yang lelaki di hadapannya itu katakan barusan. Lihatlah! Lelaki itu sepertinya mengkhawatirkan Tri, bukan? Buktinya ia tidak suka kalau Tri pergi dari rumah lagi. Bukankah itu menunjukkan bahwa Sian peduli padanya? "Udah, masuk sana! Abang pamit, assalamu'alaikum." Sian memberikan tangannya pada adiknya, Kana. Kana menyalami tangan abangnya itu seraya menjawab salam dari Sian barusan. Tri yang melihat itu pun ingin melakukan hal yang sama. Menyalami punggung tangan Material Husbandnya itu seraya menjawab salam dengan manis. Akan tetapi, sepertinya Tri terlalu banyak mengkhayal sampai - sampai lupa bahwa Sian tidak akan mau memberikan tangannya. Gadis itu hanya merenggut sebal saat Sian memilih mengabaikan tangannya dan berlalu meninggalkan mereka, Tri dan Kana di depan gerbang sekolah. Oleh karena hari sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi, maka dari itu siswa/i yang berlalu lalang sudah berangsur - angsur memadati halaman sekolah dan berlalu lalang memasuki gerbang. Kedua gadis itu berjalan bersisian. Melangkahkan kaki menuju ke kelas mereka. "Na?" Kana menolehkan wajahnya pada sahabatnya itu. "Iya Tri? Why?" balasnya seraya tetap melangkah di sepanjang koridor kelas dua belas. "Memangnya aku ini jelek, ya, Na?" tanya gadis berwajah oriental itu dengan ekspresi menyedihkan. Kenapa juga ia meresa insecure hanya karena perlakuan Sian tadi. Bukankah Sian memang begitu? Bahkan lelaki itu pernah menolaknya mentah - mentah saat ia ingin menginap di rumah keluarga Sian. Meski pada akhirnya lelaki itu menyetujui karena Ibu Amina bersedia menerima Tri. Langkah mereka hampir mencapai kelas dua belas. Kana, gadis itu sempat mengerutkan kening tak mengerti maksud pertanyaan Tri barusan. Jelek apanya? Tri bahkan terlalu cantik di mata Kana. Pikir Kana seraya terpaksa tersenyum saat beberapa siswa melihatnya dengan tatapan penuh tanya. "Tri, kamu sakit ya?" Kana, gadis itu berbalik bertanya pada Tri. Membuat Tri bingung dan menjawab kalau ia sedang tidak sakit sama sekali. Meski hatinya terasa sakit karena perlakuan abang Kana itu. "Terus, gimana bisa kamu mikir kalau kamu itu jelek? Nih, ya! Sekelas member girlgroup Korea aja kalah sama kamu. Mereka itu cantik - cantik, tapi beda sama cantiknya kamu. Pokoknya kamu itu cantik. Kelewatan cantik malah," jelas Kana seraya berhenti di depan kelas Tri. Mereka masih berdiri di depan kelas itu karena pertanyaan aneh yang dilontarkan Tri beberapa saat yang lalu. Tri, gadis itu tersenyum kecut. Apa benar, Tri secantik itu? Pikirnya tak percaya. "Udah, jangan dipikirin omongan bang Sian tadi! Aku kasih tahu ya, bang Sian itu tipikal cowok yang kalo suka sama cewek, itu gak ditunjukkan lewat kata - kata manis. Pokoknya, aku dukung kamu buat jadi kakak iparku." Kana terkekeh pelan di akhir kalimat cukup panjangnya yang barusan ia layangkan pada gadis di hadapannya itu. Gadis itu bahkan ikut terkekeh, membuat wajahnya semakin cantik saat kedua sudut bibirnya terangkat dan kedua matanya menyipit. Tri senang. Setidaknya ada Kana yang mendukungnya saat ini. "Kalian kok deket banget kayaknya?" Tiba - tiba saja seorang siswa bertanya seraya menatap kedua gadis di hadapannya. Kana tersenyum, "Iya dong. Tri kan, kakak ipar gue!" Kedua gadis itu tertawa seraya melangkah memasuki kelas masing - masing sambil melambaikan tangan. Siswa yang barusan bertanya hanya bisa menatap mereka dengan cengo. _______ Sian baru saja sampai di parkiran kampus dan memarkirkan motornya di sana bersama dengan motor - motor lainnya. Hari ini ia harus menyelesaikan segala formulir dan berkas yang harus dilengkapi agar bisa melakukan riset di laboratorium kampus. Melangkahkan kaki menuju gedung fakultas MIPA. Saat menaiki anak tangga, tiba - tiba saja suara seorang perempuan mengintrupsi langkahnya. "Sian! Tunggu!" Lelaki yang dipanggil Sian itu menoleh dan tersenyum saat mendapati Nisa, teman sekelasnya sedang melambaikan tangan ke arahnya saat ini. "Mau ketemu Ibu Nitrat?" tebak Nisa saat langkahnya sudah mencapai Sian. Pekan lalu Sian pernah mengatakan kalau lelaki itu sedang sibuk dengan berkas yang harus ia siapkan untuk melakukan riset di laboratorium. Sian, lelaki itu mengangguk membenarkan tebakan perempuan yang kini berjalan bersisian dengannya. "Wah, kamu gercep banget yang Ian. Padahal aku dan temen - temen yang lainnya aja, masih banyak yang harus ngulang Mata Kuliah." Sian tersenyum kikuk merespon perkataan Nisa. "Gak juga kok Nis. Gue cuma berusaha lebih keras dan berdoa lebih banyak biar bisa kelar S1 secepatnya. Biar gue bisa fokus kerja." Nisa, perempuan itu tersenyum lebar mendengar penuturan lelaki yang ada di sampingnya ini. Bagaimana ia tidak jatuh hati pada lelaki seperti Sian. Sudahlah baik, pekerja keras, tampan lagi. Sayangnya, lelaki itu punya satu kekurangan, yaitu kepekaan. Sian tidak peka terhadap perasaan gadis itu padanya. Entah karena tidak peka, atau karena Sian tidak punya waktu untuk sekadar memikirkan masalah percintaan dan perasaan. Di saat lelaki seusianya sudah mulai berkencan dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Ia bahkan belum pernah berkencan sekalipun. Usianya sudah kepala dua, bahkan mendekati angka seperempat abad. Tapi pengalaman romansanya sangat minim. Dulu, ia pernah menyukai seorang gadis. Dulu sekali. Ah, rasanya itu sedikit tidak masuk akal. Ia pernahenyukai gadis kecil yang manis saat ia masih sekolah menengah atas. Sekarang, ia jadi berpikir kalau perasaannya dulu sedikit menyeramkan. Bagaimana bisa ia menyukai seorang gadis kecil, padahal ia sudah remaja sekolah menengah atas. Tidakkah ia dianggap seorang p*****l? Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN