GM-19-Annoying Ghost

1181 Kata
Lelaki itu tengah mondar mandir di kamarnya seraya mendesis dan menoleh sesekali ke arah kasurnya yang dilapisi sprei berwarna abu - abu. "Lo harus pergi dari rumah gue, gak ada pilihan lain. Gue gak mau tau alasan apapun. Lo gak lihat, gimana histerisnya adek gue?! Untungnya dia gak kenapa - kenapa," sunggut Sian seraya memandang kosong ke arah kasur. Pasalnya, sebelumnya arwah pengganggu bernama Arsen itu mengatakan kalau ia berada di sana. "Gue gak sengaja, Ian-," Sian mengerutkan kening seraya memotong kalimat Arsen dengan cepat. "Ian?! L-lo panggil gue apa?!" tanya Sian memastikan dan setengah tidak percaya. "I-Ian?" balas Arasen ragu. Pria itu bahkan nyengir kuda seraya memperhatikan gerak gerik dan mimik muka lelaki di hadapannya saat ini. "Gak usah SKSD deh! Gak usah panggil gue 'Ian'!" tolaknya mentah - mentah seraya melangkah mendekati kursi di dekat nakas dan mendaratkan pantatnya di sana. "Ya udah! Gue panggil 'Dam' aja kalo gitu," tawar Arsen seraya memastikan ia tak salah mengenai nama lelaki yang sedang kesal itu. Sianidama. Nama yang tertera di salah satu kartu tanda pengenal Sian yang talinya terkait di salah satu paku yang ada di sisi nakas. "TERSERAH! Pokoknya lo gak boleh tinggal di sini! Titik(.)" Arsen hanya menghela napas lemah dan mengembuskannya dengan malas. Susah sekali meminta bantuan manusia. Apa semua manusia tidak berempati seperti Sian? Pikirnya. Arsen tidak memiliki niat jahat. Ia hanya ingin berteman dan membantu orang lain dengan harapan orang itu juga akan membantunya. Sepertinya niatnya sudah salah di awal. "Bagaimana jika kau ada di posisiku? Terombang - ambing di antara dua alam. Tak tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya. Saat kau bangun, tiba - tiba saja, orang - orang di sekitarmu tidak menganggap kau ada. Kau layaknya udara yang tidak dapat mereka lihat. Kau bahkan tak tahu semenyedih apakah kematianmu. Bagaimana kau mati? Apa yang membuatmu mati? Lalu siapa yang melakukannya?" Biarlah Arsen terlihat menyedihkan saat ini. Sebab, itulah fakta yang ia tanggung saat ini. Ia hanya arwah penasaran yang entah harus melakukan apa di dunia yang kejam ini. Sian, lelaki itu terdiam sejenak. Mencerna setiap kata yang baru saja arwah itu katakan. Menyedihkan sekali rasanya. Pikir Sian seraya mengembuskan napas dengan berat. Benarkah? Arsen, arwah pria penasaran itu mengalami semua ketidakadilan itu? Atau kata - katanya barusan hanya sekadar karangan belaka? Untuk membuat Sian menyetujui arwah itu tinggal di rumahnya. "Aku berjanji untuk tidak akan ke mana - mana kecuali hanya di kamarmu saja. Aku juga hanya akan ke luar ketika kau tidak ada di rumah dan datang setelah kau pulang. Please received me in your home." litih Arsen seraya harap - harap cemas. Arsen, pria itu benar - benar berharap kalau Sian mau menerimanya. Meski ia harus memohon seperti barusan yang ia lakukan. Tak mengapa. Pikir Arsen seraya menatap ke jam dinding yang jarumnya setia bergerak tanpa lelah. Sudah menunjukkan pukul dua belas malam. "Terserah! Gue mau tidur. Minggir dari kasur. Awas aja kalo lo nampakin diri di depan mereka lagi. Untungnya Ibu gue gak bisa lihat elo." Sian menaiki kasurnya setelah dirasa arwah itu sudah menjauh dari sana. Ibu Amina, ibu Sian itu untungnya tipikal perempuan yang pemberani dan tidak begitu terpengaruh dengan hal - hal mistis yang berhubungan dengan setan, arwah atau apapun sejenis makhluk tak kasat mata itu. Kuna, adik bungsu Sian itu masih saja ngotot kalau dia benar - benar melihat Arsen. Rasanya kepala Sian akan pecah, jika pikirannya bercabang - cabang terus menerus seperti ini. Tak hanya itu, tubuh Sian rasanya akan remuk saat ini juga karena seharian bekerja di kafe. Biasanya ia akan bekerja di shift malam, akan tetapi karena pekerja shift siang itu tiba - tiba mengundurkan diri dan tidak ada yang mau menggantikannya. Jadilah Sian yang harus dikorbankan oleh sang bos. Katanya kafenya akan lebih ramai di siang hari dan ditambah jika Sian yang melayani pembeli yang mayoritas perempuan dan gadis - gadis belia yang menyukai lelaki good looking seperti Sian. Ternyata menjadi good looking itu juga berbahaya dan tidak selamanya menyenangkan. "Kau belum tidur?" tanya Arsen saat melihat gerak gerik Sian yang tengah berbaring dan memejamkan mata, namun sepertinya tidak juga bisa terlelap. "Sudah," jawab Sian asal seraya masih berusaha mengenyahkan pikiran yang seharusnya ia jeda agar bisa terlelap saat ini juga. Arsen, pria itu ingin sekali tertawa. Akan tetapi, ia urungkan. Mengingat hari sudah larut malam dan Sian juga pasti akan mengusirnya jika ia melakukan itu. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan bahwa ia sudah tidur, sedangkan barusan ia menjawab pertanyaan Arsen. Lucu sekali. Pikir Arsen seraya terkikik geli. Sian mengabaikan kekehan dari arwah pengganggu itu dan kembali memejamkan mata kuat - kuat seraya berusaha merilekskan pikirannya sendiri _______ Sementara di sebuah apartemen seorang wanita berwajah dingin dengan hidung bangir dan kaca mata yang sengaja di letakkan hingga menyentuh ujung hidung mancungnya. Mendesah seraya menggerakkan tangannya di atas keyboard laptop berwarna putih itu. Matanya berkedip sesekali seraya menggelengkan kepala kuat - kuat seolah itu dapat mengusir rasa kantuk yang mulai menggelayutinya. Gia seolah menolak untuk tidur. Wanita itu bertekad menyelesaikan tulisannya saat ini juga. Seolah pekatnya malam bukanlah hal yang harus ia pertimbangkan saat ini. Cukup dengan adanya Nik di sisinya. Maka ia tak masalah jika harus bergadang semalam penuh sekalipun. Kedua sudut bibirnya terangkat seraya menatap pria yang tengah terbaring dengan mata yang tertutup dan wajah yabg begitu damai. Seolah pria itu sedang tertidur sangat pulas. Sedetik kemudian, benda persegi yang berada di atas nakas itu bergetar seraya meraung pelan. Gia mengumpat siapapun yang menghubunginya di jam seperti ini! Tangannya bergerak meraih benda pipih itu. Tanpa melihat ID caller yang tertera di layar, wanita itu langsung saja menggeser panel hijau di sana. Siap mengumpat siapapun yang ada di seberang sana. "Si*lan!!! Anda tidak lihat ini jam berapa?!!!-," ucapannya terjeda saat suara seorang pria mengintrupsinya. "Nona Gia? Kenapa anda menjadi seorang pemarah akhir - akhir ini?" Wanita itu mendesis kuat seraya menggertakkan gigi - giginya. Mau apa pria tua si*lan ini menghubunginya? Pikirnya mencoba menetralkan kemarahannya barusan. "Ada apa? Ada yang perlu saya cari tahu tentang seseorang?" tanyanya ketus tanpa menjawab pertanyaan pria tua itu barusan. "Kenapa pergerakan nona begitu lambat? Saya belum juga mendengar kabar mengagumkan mengenai seorang penulis best seller di kota Argon." Gia, wanita itu seolah tau maksud pertanyaan bertele - tele yang pria tua itu lontarkan padanya. "Besok. Saya akan memublikasikannya besok! Anda tidak perlu cemas!" balas Gia dengan penuh penekanan. Sejurus kemudian, suara gelak tawa tiba - tiba saja menggelegar dari seorang di seberang sana. Pria tua si*lan!!! umpat wanita itu dengan wajah tanpa ekspresi. Menjadi penulis terkenal tidak semenyenangkan seperti yang dibayangkan oleh orang - orang awam di luaran sana. Dalam sebulan, setidaknya ia harus menghasilkan satu buku. Masalahnya, tidak setiap bulan ia punya ide yang menarik dan layak dijadikan buku. Tidak setiap bulan mood menulisnya bagus. Terlebih sesaat setelah panggilan dari ibl*s berwujud pria tua itu. Menulis novel misteri bukanlah hal mudah. Terlebih isinya yang benar - benar akan terjadi di dunia nyata. Seperti kata pria tua itu. Gia harus hati - hati dan teliti. Merencanakan alur yang ciamik dan tidak mencurigakan. Dan, ... tentu saja tulisan bagus tidak didibuat dengan mudah dalam waktu yang singkat. _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN