Tri tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia cintai di hidupnya.
Gadis itu tidak tahu seberapa besar luka yang ada di dalam diri kakaknya setelah pria yang dicintai kakaknya itu pergi begitu saja.
Satu hal yang Tri tahu. Bahwa hidup haruslah tetap berlanjut. Terlepas dari seberat dan sekeras apapun kenyataan hidup yang menunggu kita di depan. Lets by gone be by gone. Kata yang selalu Tri ingat namun ia tidak menelannya mentah mentah begitu saja. Kata yang ia temukan di salah satu lembar dalam buku latihan Bahasa Inggrisnya.
Yang lalu biarlah berlalu. Benar, kita tidak boleh terpuruk dan berlarut - larut dalam kesedihan dan kehilangan. Akan tetapi, tidak seharusnya kita membiarkan yang lalu itu berlalu begitu saja.
Bukankah Expetience is the best teacher? Ya! Pengalaman adalah guru terbaik dan masa lalu adalah bagian dari pengalaman. Kita harus mengambil pelajaran darinya. Kita bisa banyak belajar melalui pengalaman(masa lalu).
Akan tetapi, seperti filosofi kaca spion dan kaca bagian depan dari sebuah mobil yang diibaratkan sebagai masa lalu dan masa depan.
Kaca spion tidaklah lebih besar ukurannya daripada kaca bagian depan sebuah mobil. Kenapa? Karena seorang pengendara tentunya harus lebih fokus dan lebih sering menatap kaca depan (masa depan) dibandingkan menatap kaca spion (masa lalu).
Sebagaimana manusia yang seharusnya lebih fokus pada masa depannya, bukan malah meratapi masa lalu dan mengabaikan masa depan.
Masa lalu harusnya dijadikan pembelajaran agar di masa depan kita dapat menjadi manusia yang jauh lebih baik dari versi diri kita di masa lalu. Apa - apa yang salah di masa lalu, seharusnya tak terulang di masa depan. Seperti itulah seharusnya kita memperlakukan masa lalu dan masa depan.
Jangan meratapi masa lalu seraya mengabaikan masa depan dan jangan pula mengkhawatirkan masa depan seraya mengabaikan masa sekarang. Agar tidak menyesal di masa depan seraya meratapi masa lalu.
Perempuan cantik yang kini tengah menatap ke luar lewat kaca jendelanya itu tidak sadar bahwa seorang gadis sudah berkali - kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Merasa lelah karena tidak direspon, gadis itu membuka pintu dan melenggang masuk ke kamar kakaknya tanpa izin. Sedetik kemudian pintu kamar kembali ia tutup.
Perempuan yang kini duduk di pinggiran kasur itu masih setia bergeming di sana. Sorot matanya hampa. Kenapa akhir - akhir ini hujan senang sekali membasahi bumi kota Argon. Seolah semesta terus - menerus mengingatkannya akan luka yang entah kapan akan sembuh.
"Kakak belum tidur?" tanya gadis yang semula terdiam menatap kakaknya yang tenggelam dalam kubangan masa lalu.
Ia mendaratkan pantatnya di samping sang kakak hingga mereka kini duduk bersisian di pinggiran kasur.
Diana, perempuan itu menoleh sebentar. Menatap sang adik dengan kedua sudut bibir yang dipaksa ditarik ke atas membentuk senyuman tipis.
"Belum nih, gak tau kenapa kakak belum ngantuk. Kamu kenapa belum tidur?" Tri, gadis itu tersnyum seraya menggelangkan kepala pelan.
"Tri juga belum ngantuk," balasnya.
Di luar sedang hujan. Air keberkahan itu turun dari langit malam yang pekat. Meski tidak terdengar, Di tahu bahwa alarm kesedihannya kini sedang meraung - raung di luar sana. Jendela kaca itu tertutup rapat, namun gorden yang biasa menutupinya itu sengaja ia buka. Agar dapat memandang ke luar melihat pekatnya malam yang ditemani musik yang tercipta dari bunyi air yang berjatuhan.
"Tri tidur sama kakak malam ini, boleh kan?" tanya gadis yang ada di sampingnya itu dengan wajah memelas. Diana tersenyum hangat melihat wajah adiknya saat ini.
"Boleh, asal besok - besok jangan pernah pergi dari rumah lagi. Janji?" Gadis itu nampak berpikir sejenak. Sejurus kemudian, ia mengangguk seraya meraih jari telunjuk kakaknya itu dan menautkan jari telunjuknya.
"Janji." Perempuan cantik itu tersenyum lebar seraya mengusap puncak kepala adiknya. Rasanya lebih baik ketika adik bungsunya itu berada di sampingnya, seperti saat ini. Tidak membuatnya cemas karena berpisah dari gadis itu.
Kakak beradik itu memutuskan untuk berbincang sebelum berkelana di alam bawah sadar mereka nantinya. Membicarakan banyak hal satu sama lain. Terutama mengenai Tri, si gadis nyentrik yang begitu semangat mengejar lelaki bernama Sian.
Diana menonyor kening adik bungsunya itu seraya mengomel. Ia tidak habis pikir kenapa adik bungsunya itu begitu agresif seperti ini. Untungnya lelaki bernama Sian itu nampaknya tak begitu tertarik pada gadis ingusan seperti Tri. Jelas terlihat dari cara lelaki itu berbicara pada Tri dengan ketus.
Akan tetapi, siapa sangka jika adik bungsunya itu malah semakin tertarik pada Sian karena sikap dingin lelaki itu.
Malam sudah semakin pekat bersamaan dengan dentingan jam besar yang menunjukkan pukul tengah malam. Keduanya sudah memejamkan mata dan mulai terlelap dalam tidurnya.
Sementara itu, seorang perempuan yang terlihat menyembulkan kepalanya di cela pintu itu tersenyum. Persaannya menghangat melihat kedua adik yang dicintainya itu terlelap dengan pulas. Ditutupnya pintu dengan pelan dan kembali ke kamar di mana ia juga akan terlelap.
_______
Di rumah kediaman Sian. Seorang gadis yang semula terlelap itu kini tiba - tiba saja terbangun.
Tangannya bergerak menyentuh kedua mata dan mengusap - usapnya dengan pelan. Sepertinya ia masih sangat mengantuk, entah kenapa sesuatu tiba - tiba saja membuatnya terjaga.
Saat penglihatannya sudah cukup tajam, tiba - tiba saja ia terlonjak kaget karena kehadiran sosok seseorang yang kini tengah berdiri membelakanginya. Matanya ia usap - usap berkali - kali dengan kuat seraya memastikan bahwa sosok yang ia lihat saat ini benar - benar nyata. Bukan halusinasinya saja.
Sedetik kemudian, ia memekik keras seraya menutup kedua matanya dengan kuat.
"Setannn!!!!! Astaghfirullah, ada setan!!!!!" Suara berapa oktaf itu berhasil membuat Arsen yang tengah berdiri menatap cermin kecil di hadapannya itu ikut terperanjat kaget.
Sudah berapa kali ia katakan, bahwa ia bukalah setan. Arsen itu arwah! Arwah penasaran yang kesepian. Pikir lelaki itu tak terima.
Lagian, bisa - bisanya gadis di hadapannya ini memekik begitu kerasanya. Mengalahkan alarm kebakaran.
Di mana - mana, orang kalau lihat setan atau semacamnya itu, malah tidak bisa membuka mulut karena kaget dan ketakutan. Bukan malah berteriak histeris. Memang ada beberapa sih, yang biasanya berteriak saat melihat sosok Arsen. Pikir lelaki itu lagi seraya mengangangguk - agukkan kepala.
Tentu saja seisi rumah ikut terjaga dan kaget setelah mendengar teriakkan histeris dari Kuna, si bungsu.
"Mana setannya?!" tanya Kana seraya menyapukan pandangan ke setiap sudut kamar mereka.
Sian, lelaki itu juga ikut terjaga dan buru - buru melangkah ke sumber suara.
"Ada apaan sih, Na?!" tanya Sian saat langkahnya mencapai kamar sang adik.
"Tadi Una lihat setan, bang! Di situ tuh!" adu Kuna seraya menunjuk ke arah cermin yang ada di ujung ranjang mereka.
"Kamu ngigau kali? Seumur - umur, kakak gak pernah lihat setan di rumah kita." Kuna merenggut tak terima. Jelas - jelas gadis itu melihat sosok serba hitam yang tegap sedang berdiri di ujung kasurnya. Kuna cukup yakin kalau ia sedang tidak berhalusinasi.
"Ternyata adikmu bisa melihatku, aku hanya meminjam cerminnya sebentar padahal,"
Ingin sekali Sian mencekik Arsen, si arwah gelandangan itu saat ini juga kalau saja ia tidak ingat bahwa Arsen tidak dapat ia lihat dan ia sentuh.
"KYAAA!!! ITU SETANNYA DI SAMPING ABANG!"
________