GM-53-Titik temu?

1636 Kata
Semenjak misi menggaet penulis beranama Sian itu, Gia merasa kalau hidupnya semakin dipersulit. Bagaimana tidak, ia bahkan belum bisa menjadikan lelaki itu sebagai rekan sesama penulisnya dan melancarkan tujuan Gia. "Kamu serius, hanya berdiam di sini dan tidak melakukan apapun?" tanyanya dengan sarkas pada seorang pria yang kini nampak fokus pada layar televisi berbentuk kota itu dengan wajah tanpa beban. "Ini sudah berlalu beberapa pekan dan siapa nama lelaki itu? Sian? ya, Sian bahkan belum menjawab email atau bahkan menghubungi saya." Axen, pria itu nampak menulikan telinganya. Membiarkan Gia, perempuan setengah gilan dan ambisius itu mendumel sendiri. Sebelum akhirnya, kesenangannya diganggu oleh Gia. "Aku gak mau tau, besok paling lambat, kamu harus bisa bawa dia untuk ketemu sama aku di kafe biasa. Aku sudah stuck menulis dan penerbit sudah meneror dengan pertanyaan - pertanyaan sialan itu." d**a perempuan itu nampak naik turun saat ia berujar dengan kesal seraya menjauh dari tempat kabel televisi yang baru saja ia cabut dari stop kontak. Axen, pria berwajah Eropa-Asia itu nampak memasang wajah kesal seraya berdecih. "Dasar perempuan gila!" umpat Axen dalam hati seraya menahan diri untuk tidak mencekik iblis perempuan yang ada di hadapannya itu. "Akan aku usahakan. Dan tolong, jangan mengusik kesenanganku kali ini saja," putus Axen. seraya melangkah mendekati kabel tv dan kembali menghubungkannya ke stop kontak. Ada satu serial tv yang cukup membuat Axen merasa terhibur sekaligus bernostalgia dengan masa sekolahnya dulu. Gia yang melihat itu hanya bisa mendengkus seraya menatap pria itu dengan ekspresi tidak percaya sekaligus geli. Pria macam Axen, bagaimana bisa menyukai serial drama cinta anak sekolah. Menggelikan sekali. Pikir Gia seraya berlalu ke kamar. Tatapan matanya tertuju pada sosok yang nampak terbaring dengan nyaman di kasur. Bunyi alat medis yang menempel di hampir sebagian tubuhnya adalah satu - satunya bunyi yang memecahkan keheningan malam di dalam ruangan itu. Gia melangkah mendekati kasur setelah menutup pintu dengan sangat pelan. Padahal, meski ada gempa bumi sekalipun, sosok pria yang terbaring itu tidak akan tahu dan merasakannya. "Makasih karena selalu ada buat aku ya," ucap Gia seraya melingkarkan lengannya pada tubuh pria yang bahkan mungkin tidak merasakan apapun saat ini. Tidak ada yang paling Gia syukuri dalam hidupnya, kecuali memiliki seorang pria yang bersedia berada di sampingnya. Memang tidak ada yang bisa ia syukuri kecuali itu. Pikirannya hanya dipenuhi oleh penderitaan, kesakitan, kesepian, dan rasa tidak diinginkan. Lalu, saat seorang pria yang dapat menariknya dari lembah semua kepedihan itu, bagaiman ia tidak menganggap pria itu sebagai malaikat penolongnya. "Kamu bisa marah, kamu bisa nangis dan kamu bisa berteriak. Lalu, kenapa kau menahannya selama ini?" tanya seorang pria yang tidak Gia sadari kehadirannya karena ia terlalu sibuk dengan buku yang sedang ia coret - coret dengan penuh amarah. Bagaimana Gia tidak jatuh hati di saat paling jatuhnya, di saat paling terpuruknya dan di saat ia berpikir kalau hidup tidak ada artinya. Di saat itu lah seorang pria yang selama ini hanya ia pandang dari jauh itu menyapanya dengan kalimat yang membuatnya kembali berpikir dua kali untuk mengakhiri hidupnya hari itu. "Ikut aku!" ajak pria yang Gia tahu namanya adalah Nik. Gia tidak pernah berpikir ke mana Nik akan mengajaknya hari itu. Tapi satu hal yang Gia ingat sampai saat ini. Hari itu Salju turun mengguyur kota Argon dan Gia sedang bersama sengan seseorang yang membuatnya kembali memutuskan untuk menjalani hidupnya kembali dengan lebih baik. Ah iya, tahun ini terhitung dua tahun ia melewatkan musim salju tanpa bisa ke luar rumah. Akan tetapi, itu tidak masalah baginya, yang penting ia masih tetap bersama orang yang sama. Tahun ini rencananya ia akan menyelesaikan semua project tulisannya dengan penerbit agar bisa terbang ke Negera tetangga yaitu Radonesia. Untuk melakukan pengobatan yang intensif agar Niknya dapat kembali bersamanya menghabiskan waktu bersama seperti dulu. "Aku menginginkan yang terbaik untukmu." Itulah kalimat yang selalu Gia ingat sampai hari ini. Hingga membuatnya memilih untuk tetap bersama Nik terlepas apapun yang terjadi. Karena yang terbaik baginya adalah selalu bersama dengan pria itu. **** Seharian ini, tidak ada yang Gia lakukan kecuali menghadap benda berbentuk kotak yang layarnya senantiasa menyala. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan memperpanjang kontrak dengan penerbit manapun setelah kontrak kerjanya dengan Ways Publisher berakhir. Ia hanya perlu menyelesaikan satu buku untuk tahun ini. Herannya, ada saja yang menghambatnya untuk menyelesaikan buku itu seperti biasanya. Ia harus menunggu, marah - marah, mengumpat terlebih dahulu. Lalu, sampai hari ini, tangan kanannya, Axen, masih belum menemukan ghost writer untuknya menyelesaikan novel thrillernya kali ini. "Ingat, saya tunggu satu kali dua puluh empat jam. Kalau si Sian Sian itu memang gak bisa dan gak niat, mending cari yang lain aja. Gaet penulis lain. Lagian, kamu bilang kalau cerita yang ditulisnya juga masih berantakan. Mana genrenya romansa menye - menye pula. Kamu yakin, dia bisa jadi partner saya ?" "Lebih tepatnya menjadi tumbal kamu," koreksi Axen seraya memutar bola mata malas. Tidak ada yang paling ia benci kecuali saat harus berhadapan dengan perempuan satu ini. Gia tidak menyangkal dan hanya mengedikkan bahunya tidak peduli. Selesai dari kamar memastikan Niknya tidak kedinginan, ia kembali untuk mendesak Axen agar segera mempercepat kerjanya. "Kabari saja secepatnya dan kamu boleh pergi sekarang. Apartemen saya bukan tempat penampungan," sarkasnya seraya berniat mengganti chanel tv dengan merebut remot tv itu dari tangan Axen. "Aku malas di apartemen sendirian. Biarkan aku di sini sampai pagi nanti," ungkap Axen seraya menahan remot yang ingin Gia rebut darinya. Gia, perempuan itu menghela napas kesal seraya menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan jengah. Karena kali ini ia merasa lelah dan terlalu malas untuk berdebat, maka dari itu, ia hanya berlalu meninggalkan pria itu sendirian di ruang tamu apartemennya. Axen, pria itu kembali menikmati tontonan yang sudah lama sekali ia lewatkan. Ia terlalu sibuk dengan kehidupannya yang monoton. Saat melihat layar tv yang menampilkan interaksi seorang remaja sekolah menengah pertama dengan seorang mahasiswa membuatnya kembali teringat akan memori di masa lalu. Apa gadis itu masih mengingatnya?Axen bergumam dalam hati seraya mengingat menatap jauh ke masa di mana ia masih duduk di bangku kuliah. Saat itu ia sudah memasuki semester akhir. Gadis kecil dengan wajah paling teduh yang pernah Axen lihat sepanjang hidupnya. Tidak ada yang bisa Axen lakukan saat ia sadar diri kalau dirinya tidak cukup baik untuk mendekati atau bahkan memulai apapun dengan gadis baik - baik itu. "Om orang baik. Semoga om bahagia selalu," ucap gadis kecil dengan mata teduh dan bibir tipis yang merekahkan senyuman manis. Padahal luka pada lututnya masih mengeluarkan darah. Tapi ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit. Pada kenyataannya, Axen bukanlah orang baik seperti yang ada di dalam pikiran gadis itu. Namun sangat wajar, gadis itu terlalu polos dan bersih untuk tahu betapa buruknya Axen. Malam makin pekat, bersamaan dengan itu kenangan akan si gadis kecil yang membuat hati Axen berdebar itu, semakin jelas. Bahkan saat ia tertidur dengan tanpa sadar seraya menghadap tv yang masih menyala. *** Kala itu, hujan lebat mengguyur kota Argon di hari pertama di tahun ajaran baru. Seorang remaja dengan seragam sekolah menengah pertama negeri Krypton nampak sedang menunggu angkotan umum. Ia duduk di halte seraya menengadahkan telaak tangannya di bawah tetesan hujan yang turun. Sesekali wajah manisnya merekahkan senyuman karena merasa bahagia saat tetesan - tetesan hujan yang turun itu jatuh mengenai telapak tangannya. Ada sensasi ditusuk - tusuk oleh jarum akunpuntur. Gadis itu nampak sendirian di bawah perlindungan atap halte sekolah pada hari yang mendung lagi menggelap. Karena rasa penasarannya dengan sensasi berada di bawah guyuran hujan yang turun membasahi bumi, ia mulai berajalan lambat ke luar dari perlindungan atap halte. Ujung sepatunya pertama kali berada di bawah tetesan hujan. Pelan namun pasti, gadis itu melangkahkan kakinya meninggalkan halte dan tersenyum bahagia seraya menikmati sentuhan tiap kulitnya yang terkena tetasan hujan. Perlahan lahan ia mulai bergerak ke sana ke mari. Seolah pinggiran jalan raya adalah taman bermain yang meneyenangkan saat itu. Siapa yang akan mengira kalau ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan di atas rata - rata sesang melaju membelah jalanan kota Argon yang nampak licin. Motor berwarna hitam yang dikendarai oleh seorang pria itu terlihat melaju begitu cepat di bawah guyuran hujan deras yang mulai mereda perlahan. Hingga di satu titi jalan, pria itu tidak menyadari kalau ada orang gila yang menari - nari di jalan raya. Sayangnya, ia terlambat untuk mengontrol laju kendaraannya hingga berakhir dengan ia yang menekan pedal rem dengan sekuat tenaga seraya membanting stang motornya ke sisi kanan jalan agar tidak mengenai objek yang kini terlihat memekik saat bunyi gesekan kuat antara ban motor dan aspal. Hingga terdengar decitan keras lalu disusul dengan dentuman kuat setelahnya. Gadis kecil itu nampak terkapar di bawah tetesan hujan yang masih setia berjatuahn membasahi bumi kota Argon. Matanya terpejam dan beberapa bagian tubuhnya terluka karena bersentuhan dengan kerasnya aspal jalanan kota dan hantaman ujung sepeda motor yang melaju kencang ke arahnya. Sementara itu, seorang laki - laki dengan kaki terseok - seok itu nampak menahan perih luka yang nampak mengoyak jaringan luar kulitnya hingga menyebabkan darah keluar secara perlahan. Ditatapnya gadis kecil yang kini tergeletak tak jauh darinya. Tidak ada pergerakan sama sekali. Gadis itu tampaknya pingsan tak sadarkan diri. Laki - laki nampak panik. Ia bahkan mengabaikkan luka yang dialaminya lalu menghampiri gadis itu dengan langkah yang terseok - seok dan tertatih - tatih. Diangkatnya kepala gadis itu lalu diletalkan di atas pangkuannya, seraya menepuk pipi halus yang belum terkontaminasi oleh produk kecantikan atau produk skincare apapun. Halus dan bersih alami. "Hei, bangun!" ucap Arsen, ia berkali - kali menepuk pipi gadis itu dengan tangan gemetar dan tetesan hujan yang mengucur dari wajah hingga dagunya lalu jatuh ke wajah gadis itu. Gadis itu tak kunjung memberikan respon yang berarti. Nampaknya ia resmi pingsan. Akan tetapi, Arsen tak menyerah. Ia memutuskan untuk membawa gadis itu dalam pangkuan tangannya. Meski susah payah dan harus meringis karena menahan sakitnya luka yang ada di sekujur tubuhnya. Arsen berhasil membawa gadis itu menjauh dari jalanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN