"Gak ada ide yang lebih gila dari itu?" Sian bertanya seraya memasang wajah tidak percayanya.
Bagaimana bisa ia mengikuti kerja sama aneh dan tidak masuk akal yang ia jalin dengan Arsen.
"Tolonglah, sahabatku. Aku tidak tahu sampai kapan bisa berada di dimensi ini dan bisa menemui Di-ku. Aku akan melakukan apapun yangaku bisa jika kau mau membantu sahabatmu yang malang ini."
Lihatlah! Sian yang sudah geram dan kesal karena ide gila yang diusung Arsen, itu nampak makin frustrasi setelah mendengar kalimat penuh dramatisasi dan itu terasa menggelikan sekaligus membuat Sian mendengkus.
"Jangan coba - coba mengelabui gue. Lo pikir dengan menggunakan tubuh gue untuk kedua kalinya, itu akan memperbaiki semuanya?"
Arsen nampak berpikir seraya meringis pelan. Sungguh, ia tidak berniat mengelabui Sian. Akan tetapi, sangat wajar kalau Sian menjadi lebih skeptis padanya setelah kesalahan yang Arsen lakukan.
"Aku tidak akan menggunakan tubuhmu untuk hal - hal lain tanpa persetujuanmu. Aku cuma mau, kamu dan aku sama - sama menjelaskan kepada Diana, kekasihku, atas apa yang tengah terjadi. Ia tidak akan salah paham dan kamu juga tidak akan terjebak pada situasi yang salah, bagaimana?"
Sian masih menggelengkan kepalanya. Ide Arsen tidak bisa menjamin apa - apa. Tidak mudah mempercayai hal - hal yang sifatnya ghaib apalagi hal - hal itu bersinggungan dengan kehidupan nyata.
"Lalu, bagaimana? Apa kau punya ide lain?" tanya Arsen seraya menyandarkan punggungnya pada dinding.
Sian menghela napas dengan berat lalu memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Ia merasa begitu lelah. Sampai tengah malam pun, ia masih belum menemukan cara yang paling tepat untuk mengembalikan semuanya ke keadaan semula.
Jangankan orang lain. Bahkan sampai detik ini pun, Sian sering kali bertanya - tanya apakah yang ia alami saat ini benar - benar nyata atau hanya ilusinya saja.
"Kali ini saja. Percaya sama saya," bujuk Arsen seraya memasang wajah meyakinkan.
"Apa jaminannya kalau lo gak bakalan menyalahgunakan tubuh gue?" tanya Sian skeptis seraya mengetukkan jari ke meja belajarnya.
"Kamu boleh mengusir dan menganggap saya tidak ada bahkan membatalkan kerja sama kita. Bagaimana?"
Sian nampak berpikir sejenak. Meski dipikir ulang dan berkali - kali pun, rasanya ini tetaplah konyol. Akan tetapi, mau tidak mau Sian harus membuat keputusan.
"Baiklah. Ini terakhir kalinya gue percaya sama lo dan kalau lo merusak kepercayaan gue .... Gak ada tempat lagi buat lo di sini," ucap Sian dengan tatapan serius yang membuat Arsen menelan ludah.
Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua. Hanya saja, sudah seharusnya bagi mereka yang mendapatkan kesempatan kedua itu, berpikir. Agar jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama.
***
Sementara di tempat lain, seorang perempuan cantik nampak menatap layar benda berbentuk kotak di hadapannya dengan tatapan kosong.
Seharian ini, Diana sama sekali tidak konsentrasi dengan pekerjaannya. Baiklah, ia mulai lelah berdiam diri dan terus menerus menerka - nerka dan berprasangka yang tidak - tidak seperti ini. Lalu yang paling parahnya, ia menjadi berharap kembali akan kehadiran seorang Arsen di hidupnya.
Bagimana tidak, Sian, pria itu mengajaknya bertemu di kafe di mana banyak kenangan yang pernah ia dan Arsen ukir bersama. Lalu, Sian juga bertingkah seolah - olah dirinya adalah Niknya. Cara pria itu menatapnya dan cara bicaranya juga membuat Diana hampir gila memikirkannya.
Siapa yang akan mempercayainya kalau Sian yang ia lihat di hari itu adalah Niknya yang sangat ia rindukan.
Siapa yang akan percaya? Bahkan di saat akal sehatnya sendiripun seringkali menolaknya.
"Dua tahun harusnya cukup buat kamu merelakannya, Di." Ia membatin seraya menatap kosong ke arah benda berbentuk kotak yang ada di hadapannya.
Sejurus kemudian, Diana menarik napas dalam - dalam seraya memejamkan matanya dengan kuat.
"Kejadian hari itu hanya sebuah ketidaksengajaan dan kesalahpahaman." Ia membatin seraya mengembuskan napas perlahan dan membuka matanya dengan pelan.
Saat bersamaan, benda berbentuk pipih yanh ada di meja tepatnya di samping laptop berwarna silvernya itu, bergetar dan meraung.
Nada panggilan masuk yang membuat atensinya teralihkan. Lalu diraihnya benda berbentuk pipih itu dan ...
Tatapannya terpaku pada nama yang tertera pada layar ponselnya yang berkedip - kedip.
Damasian memanggil ...
Meski panggilan dari pria itu sudah lama ia tinggu. Namun tetap saja, saat panggilan masuk itu tertera di layar ponselnya, Diana nampak kelabakan dan bingung. Apa yang harus ia katakan nanti?
Apa menanyakan kabar? Tidaktidak! Batinnya mengingatkan.
Atau, apa ia harus meminta pria itu untuk bertemu di kafe sebelumnya. Bukan! Diana tidak sedang terbawa perasaan atau suasana. Ia hanya ingin memastikan apa yang akhir - akhir ini tertumpuk di kepala dan perasaannya mengenai sosok Sian yang nampak aneh.
Do it Di! Dont think to much!
"Halo, assalamu'alaikum," ucapnya sesaat setelah memutuskan untuk menggeser panek hijau sebelumnya itu ke atas.
Lalu terdengarlah suara bariton seorang pria yang tidak asing di indera pendengarannya.
Diana nampak sedikit gugup saat seseorang di seberang sana bertanya padanya mengenai kesibukannya akhir - akhir ini. Terang saja itu membuat Dia berpikir yang tidak - tidak untuk kesekian kalinya. Meski ia berusaha kuat untuk menekan pemikiran dan prasangkanua itu, pada akhirnya ia kembalo dibuat bimbang.
"Apa besok kita bisa ketemu di tempat yang sama?" Pertanyaan itu kembali ia dengar dari seorang pria yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan berkomunikasi sedekat seperti sekarang ini.
"Halo kak?"
Diana terperanjat dan tersadar bahwa Sian sedang menelponnya dan mengajaknya untuk bertemu untuk kedua kalinya, setelah hari itu.
"I-iya, insyaaAllah bisa. Nanti saya kabarkan lagi," jawab Diana dengan sedikit terbata.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kabar dari kakak."
Diana nampak menganggukkan kepala meski seorang di seberang sana tidak dapat melihatnya.
Sambungan panggilan itu diputus setelah Sian mengucapkan salam terlebih dahulu dan Diana menjawabnya.
Perempuan itu mendesah sesaat setelah menjauhkan benda berbentuk pipih itu dari telinganya.
Entah kenapa ia merasa gugup dan cemas seperti ini.
Tidak! Ia tidak boleh terbawa perasaan. Perempuan itu berkali - kali menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan prasangka dan perasaan yang akhir - akhir ini membuatnya sering tidak fokus pada perkerjaan.
***
Setelah pulang dari rumah sahabatnya, Tri nampak lebih murung dari biasanya.
Diana yang tahu betul sifat periang adiknya, itu, merasa kalau ada sesuatu yang dipikirkan oleh gadis itu.
Mereka sedang makan malam bersama.
Meski suasana makan malam selalu sama. Mama yang mengomel soal papanya yang masih saja sibuk kerja dan lupa waktu. Lalu sang papa yang tidak terima akan mendebat mamanya itu.
Keluarga mana yang suasana makannya diselelingi dengan perdebatan dan adu mulut? Ya, hanya keluarga mereka.
Tri, gadis itu biasanya hanya makan dengan cepat tanpa memusingkan suasana meja makan. Tapi, kali ini ia benar - benar merasa kalau semuanya mulai terasa kembali berat. Berpura - pura baik - baik saja akan apa yang terjadi di depannya, itu tidaklah mudah.
Untuk itu, setelah selesai mengaduk - aduk makanannya dan menyuapkan satu sendok ke dalam mulut, kemudian gadis itu meraih gelas air minum di sisi kanannya. Lalu menegaknya setengah.
Ia putuskan untuk beranjak dari kursi dan ingin berlalu dari meja makan secepatnya.
"Adek mau ke mana?" tanya mamanya yang membuat semua tatapan orang - orang di meja makan itu beralih padanya.
"Tri udah kenyang. Mau balik ke kamar," balas gadis itu dengan wajah sedatar mungkin. Langkahnya tertahan di antara meja makan dan kursi yang sudah ia geser ke belakang.
Ia sudah tidak peduli dengan apa yang dipikirkan atau dikatakan oleh mereka yang kini menetapnya dengan tatapan yang malas untuk ia artikan.
"Kenapa makannnya gak dihabisin?" Kali ini papanya yang bertanya. Tri hanya bisa mendesah seraya menenangkan diri agar tidak meluapkan emosinya di hadapan mereka yang ia hormati.
"Tri udah kenyang dan mau belajar biat ulangan besok," jawab gadis itu seadanya membuat mereka yang di sana bungkam.
Setelah tidak ada kalimat yang terlontar, Tri benar - benar pamit dan berlalu meninggalkan ruang makan dengan perasaan yang campur aduk.
Akan tetapi, ia sendiri tidak tahu perasaan apa yang pastinya yang ia rasakan saat ini. Hanya saja, yang ia tahu kalau hatinya sedang tidak baik - baik saja.
Saat melangkah, entah kenapa ia sudah merasa akan menangis saat itu juga. Untuk itu, ia buru - buru mempercepat langkahnya hingga sampai di depan sebuah kamar. Membuka pintunya dengan cepat dan menutup dengan perlahan dan menguncinya dengan rapat, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding pintu.
Tubuhnya merosot dan terduduk lemah. Air matanya yang semula mendesak ingin dikeluarkan, kini berjatuhan tanpa bisa ia tahan.
"Tenang Tri! Ini semua akan berakhir. Jadi mulailah dengan mengalihkan pikiranmu dari apa - apa yang menyebabkanmu sedih." Batinnya menenangkan dirinya sendiri.
Tangannya bergerak menyentuh kedua pipi, mengusap keduanya dengan cepat lalu menarik dan mengembuskan napas secara perlahan berkali - kali sampai ia benar - benar merasa lebih baik. Tangannya beralih ke d**a, menepuk - nepuk dadanya dengan pelan seraya mengatakan pada dirinya sendiri, "Gapa-paGapa-pa, semuanya akan berakhir."
Saat tidak ada yang bisa menyemangatimu, mendukungmu, dan mengerti akan dirimu, kecuali dirimu sendiri. Oleh karena itu, mulainya untuk pelan - pelan memahami diri sendiri sebelum menuntut atau mengharapkan orang lain melakukannya untukmu.
Gadis itu bangkit, lalu melangkah pelan menuju meja belajarnya. Mulai mencari beberapa buku dan membalik halamannya satu persatu. Sesekali ia terdiam lalu kembali menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan. Kemudian kembali memfokuskan atensinya pada buku - buku dan tulisan yang ada di hadapannya saat ini.
Sementara di sebuah kamar dengan cat abu putih, terdapat sosok yang tengah menghadap layar benda berbentuk kotak yang tengah menyala.
Manik matanya bergerak ke atas dan ke bawah seraya bergumam. Pada layar laptop yang ada di hadapannya menampilkan rangkaian kalimat yang tersusun rapi.
Semalam, ia sudah menyetujui kerja samanya dengan pemilik kamar itu untuk dilanjutkan, dengan beberapa syarat yang tidak boleh mereka langgar.
Berjam - jam Arsen menatap layar benda berbentuk kotak itu seraya mengetikkan beberapa kalimat di atas keyboard hingga menimbulkan bunyi sebagai pengisi keheningan malam.
Sian tidak menyuruhnya untuk menyelesikan naskah itu secepatnya. Hanya saja, ia merasa kalau ide yang sudah ia ranngkai sebelumnya akan hilang dan menguap kalau tidak ia tuangkan secepatnya.
Setelah dikiranya cukup untuk malam ini, Arsen beralih menutup jendela microsoft word itu dan mulai membuka jendela web.
Mengetikkan sesuatu di sana dan menyentuh ikon pencarian.
"APAKAH RWAH ORANG MATI SURI AKAN GENTAYANGAN?"
Sepertinya jaringan internet di laptop Sian sudah lama diputus. Sayangnya Arsen tidak mengeceknya terlebih dahulu sebelum melakukan pencarian.
***
Pagi Rabu di kota Argon nampak terasa lebih dingin dari hari sebelumnya.
Seorang gadis nampak bergelung dengan nyaman dalam selimut tebalnya.
Cuaca yang dingin ditambah dengan dingin AC kamar yang semalam ia setel di bawah dua puluh dejarat membuat gadis itu menggeliat seraya mengeratkan selimut tebalnya.
Saat bersamaan bunyi alarm yang ia setel pada ponselnya serta jam beker meraung - raung. Meski rasa kantuk mengikatnya erat - erat dan rasa dingin mendesak ingin menelusup di sela - sela selimutnya, ia mencoba untuk memaksa mata bulat nan indah itu untuk terbuka.
Tri bangun, meski jiwa raganya belum sepenuhnya menyatu. Gadis itu bahkan harus menutup mulutnya berkali - kali karena menguap.
Ya, rasa kantuk terasa masih membelenggunya. Namun, untungnya itu tidak berlangsung lama. Karena kalau iya, Tri bisa saja terlambat datang ke sekolah dan bisa dipastikan ujiannya hari ini akan bermasalah.
Gadis itu bergegas memasuki kamar mandi lalu ke luar dengan setelah piama dan bersiap untuk mengenakan seragam sekolah.
Akhir - akhir ini ia tidak begitu memperhatikan penampilannya saat ke sekolah. Bahkan tak jarang ia ke sekolah dengan seragam yang belum disterika. Meski tidak terlihat begitu kusut, ia tetap saja meringis saat menyadari itu ketika ia sudah menginjakkan kakinya di koridor sekolah.