GM-51-Mengakui kesalahan

2778 Kata
Ternyata dihantui oleh rasa bersalah itu benar - benar tidak enak dan Arsen mulai menyesal karena telah menyalahgunakan kepercayaan seorang sahabat padanya. Pria berwajah pucat itu kini mondar - mandir layaknya setrikaan. Sejak hari itu, ia tidak berani menampakkan diri di hadapan Sian. Tapi, menetap di tempat seperti ini--Gedung tua yang usang ditemani oleh seorang hantu perempuan--sangatlah buruk dibandingkan ia harus menerima kemarahan dan hukuman dari Sian karena ia telah meminjam tubuh pria itu tanpa ijin dan tanpa sepengetahuan Sian. "Kamu gak pusing apa? Dari tadi berdiri dan mondar mandir gak jelas begitu?" tanya Alumina dengan wajah geramnya karena sejak tadi, ia tidak bisa berpikir saat arwah pria tampan yang ada di hadapannya itu terus bergerak ke sana ke mari dengan gelisah. Arsen menoleh dan menghentikan pergerakannya. Pria itu menghela napas seraya melangkahkan kaki mendekati Alumina. "Menurut kamu? Sian bakalan marah besar gak?" tanyanya dengan wajah cemas layaknya seorang anak yang melupakan botol minum tupp*rwe*r di sekolah dan takut dimrahi oleh sang ibu. Jangan salah, jaman modern ini banyak hal - hal yang memang kadang di luar nalar. Contohnya saja, seorang ibu rela kehilangan anaknya dibanding tupperwear kesayangannya. Oke becanda! Kembali ke Arsen, pria itu nampak duduk dengan bahu yang merosot dan tatapan wajah nelangsa. "Menurut kamu? Siapa yang gak marah saat tubuhnya digunakan tanpa izin dan melakukan hal - hal yang tak terduga? Bayangkan, saat terakhir kali si Sian marah. Apa yang terjadi?" Komentar Alumina seakan melemparkan ingatan Arsen pada kejadian di mana Sian marah besar padanya. Bahkan lelaki itu pernah hampir mengusirnya. Ah tidak! Ia benar - benar diusir setelah kejadian itu. Bagaimana kalau Sian mengetahui apa yang sebenarnya terjadi itu karena ulahnya? Apa ia masih akan dimaafkan seperti waktu itu? Arsen mulai overthinking dan cemas sekaligus. Bagaimana ia bisa mendekati kekasihnya kalau Sian benar - benar marah dan memutuskan ikatan kerjasama di antara mereka? "Tolong bantu aku! Aku belum siap dimusuhi dan diusir lagi oleh Sian. Bagaiaman caranya dan apa yang harus aku lakukan agar Sian masih mau menerimaku dan memaafkan kesalahanku kali ini?" Alumina berdecak seraya bangkit dari posisi bersemedinya. "Ya mana gue tahu caranya. Lagian, lo harusnya permisi, izin atau apa kek, sebelum lo rasukin tubuhnya dia." Setiap kali hantu perempuan ini marah, ia akan berbicara dengan cepat dan lengkap dengan bahasa gaulnya itu. Dan sepertinya Arsen sudah salah meminta tolong. Ia malah brujung diceramahi dan disalahkan. Ya, memang Arsen salah. Tapi, ia mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Sian atas apa yang ia lakukan pada rekan kerjanya itu. M-maksudnya rekan kerja sama dalam menggungkap tabir misteri di halik keberadaan Arsen di alam yang tidak jelas ini. Arsen menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan. Seolah dengan melakukan itu, ia bisa mendapatkan ide bagus dan nyali yang cukup besar untuk berhadapan dengan Sian. "Mau tau, caranya?" Arsen menoleh dan mendapati Alumina yang tengah menatapnya dengan tatapan mencurigakan. "Apa caranya?" tanya Arsen seraya mendekat dan memasang wajah seriusnya. "Izinkan aku ketemu dengan Sian. Maka aku akan memberikan tips terbaik agar ia memaafkanmu dan tidak memutus hubungan kerja sama kalian," tawar Alumina seraya menaik-turunkan alisnya yang nampak hampit botak itu. Melihat ekspresi wajah hantu perempuan yang ada di hadapannya, Arsen hanya bisa berdesis seraya menatap Alumina dengan tatapan skeptis. "Kamu tertarik sama Sian? Jangan bilang kalau kamu suka?" tuding Arsen seraya menyipitkan sebelah matanya menatap Alumina yang kini nampak mengulum senyum. "No! Jangan coba - coba dan berharap pada Sian!" tangkas Sian dengan cepat. Walau bagaimanapun, Arsen tahu kalau Sian sudah menyukai Tri, gadis kecilnya yang lucu itu. "Loh, kenapa? toh, gak ada larangan para arwah mencintai manusia? Kenapa kamu yang sewot?" ungkap Alumina tak terima dengan respon yang diberikan Arsen. "Mending kamu gak usah kasih saya tips apa - apa. Saya akan urus sendiri dan jangan coba - coba mendekati apalagi mengganggu sahabat saya," putus Arsen seraya ingin berlalu dari hadapan arwah perempuan itu. "Loh, kamu mau ke mana?" tanya Alumina seraya menatap punggung temannya itu yang kian menjauh. Padahal ia tidak begitu serius. Hanya penasaran saja. "Dasar. Udah dibantuin malah ninggalin!" umpatnya dalam hati seraya membiarkan Arsen pergi dari markas mereka. Sementara itu, Arsen nampak bingung dan mulai menimbang - nimbang. Apa keputusannya benar atau tidak. Akan tetapi, satu hal yang ia sadari. Kalau semuanya tidak akan selsai dan berubah, kalau ia hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Jadi, ia putuskan untuk menemui Sian. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, ia hanya akan ke sana dan mengakui kesalahan serta kelancangannya. *** Selama hampir satu pekan penuh, Sian tidak melihat dan merasakan keberadaan Arsen di sudut kamar manapun. Dugaan Sian makin kuat, kalau Arsen adalah dalang di balik canggungnya hubungan Sian dengan Diana dan juga Tri, si gadis nyentrik yang nampak murung akhir - akhir ini. Saat ia mendapati secarik kertas yang diletakkan di atas meja belajarnya, tepatnya terselip di antara kertas - kertas yang ada di sana. Ia mulai mengambil posisi duduk di kursi dan meraih buku catatannya yang terbuka dan nampak habis disobek. Kemudian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Saat sosok yang sudah lama tidak Sian lihat wujudnya, kini tiba - tiba muncul itu cukup membuat lelaki itu kaget dan melempar buku catatan yang ada di tangannya dengan kuat. Hingga terdengar suara mengaduh dari sosok yang kini nampak mengusap keningnya seraya meringis. kok, hantu bisa kerasa kalo dilempar ya? Heran Sian sesaat setelah ia berhasil mentralkan rasa kagetnya. Aneh memang. Tapi dalam dunia fiksi itu sah - sah saja. "Lo?!" tunjuk Sian seraya melangkah mendekat. Di luar dugaan, bukannya menjauh, Sian malah mendekat serta memasang ekspresi wajah yang sangat - sangat membuat Arsen terintimidasi dan merasa bersalah dan berdosa. "Ke mana aja lo hah?" cecar Sian seraya menatap sosok yang kini nampak menghindari tatapan sengitnya. Membuat Sian berdecih karena dugaannya tidak salah. "Lo apain tubuh gue?" tanyanya seraya menatap Arsen dengan mata tajam dan tatapan dingin yang khas saat sahabatnya itu marah. Tapi, tunggu! Kenapa pertanyaan Sian malah terdengar ambigu, ya? Barangkali maksudnya apa yang sudah Arsen lakukan saat arwah berwajah innocent itu merasuki tubuhnya. "Ehmm... itu." Sosok yang kini nampak tergagap itu membuat Sian menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia mencoba untuk tidak murka sebelum mendengarkan semua penjelasan yang nantinya dilontarkan oleh sosok yang ada di hadapannya. Sabar Sian. Orang sabar disayang Allah dan pahal sabar jiga melimpah. Bisiknya pada diri sendiri. *** Lalu, di sinilah mereka berada. Di sebuah kafe bernuansa klasik dipadu minimalis dan memoriable. Kafe yang katanya cukup terkenal di jantung kota Argon itu nampak ramai pengunjung meski waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Hubungan kesalahan lo sama nih kafe apa sih?" tanya Sian dengan ketus seraya mengambil posisi duduk. Hampir saja ia dianggap gila karena berbicara dengan udara hampa di hadapannya. Pasalanya, ia belum terbiasa berkomunikasi dengan sosok Arsen saat di tempat umum seperti ini. Jadi, salahkan saja Arsen untuk semua kekacauan yang terjadi akhir - akhir ini. Sian, pria itu nampak meringis saat beberapa pengunjung kafe menatapnya dengan aneh. Sontak ia menetralkan ekspresi wajahnya seolah ia tidak melihat sosok Arsen yang kini ada di hadapannya. Singkat cerita, mereka memesan makanan. Kalau saja bukan karena Sian peduli dan kasihan dengan nasib Arsen, mana mau ia diajak ke tempat ini dengan alasan ia menginap di rumah Rama. Tapi, untungnya ia tidak sepenuhnya berbohong. Karena setelah perbincangannya dengan Arsen selesai. Maka ia akan menuju rumah Rama dan menginap di sana. Pasalnya ia sudah menghubingi sahabatnya itu sebelum ia ke kafe ini. Kabar baiknya, Rama sendirian di rumah megahnya itu. Oke. Kembali ke pembicaraannya dengan Arsen. Sian nampak menikmati makanan yang direkomendasikan Arsen untuk ia cicipi dan ternyata memang seenak itu. Sian meletakkan ponselnya di hadapan Arsen. Membiarkan benda itu disentuh oleh arwah yang katanya ingin menceritakan. alasan kenapa ia menggunakan tubuh sian tanpa izin. Benda berbentuk pipih itu tetap tergeletak di meja. Namun layarnya menampilkan. keyboard yang tengah disentuh dalam waktu yang cukup lama. Sian yang baru saja menghabiskan menu makan malam keduanya itu, kini nampak menatap sosok yang ada di hadapannya itu dengan bosan. Nih arwah kok, lama banget ngetiknya. Ngetik novel kali nih! Sian mendumel dalam hati seraya meraih gelas air putih yang ia pesan dan meneguknya hingga setengah gelas. "EKHMMM!" Sian sengaja berdehem singkat agar Arsen sadar kalau ia sudah mulai bosan menunggu dan duduk sendirian di kafe yang mayoritas pengunjungnya bawa pasangan. Nasib jomlo! Arsen nampak menghela napas pelan. Lalu mengalihkan fokus tatapannya pada Sian. "Plissss. Maafkan aku kali ini dan jangan putuskan hubungan kerja sama kita," pintanya sebelum ia benar - benar menyerahkan benda berbentuk pipih itu kepada Sian. Sian yang sudah tidak sabar membaca apa yang Arsen tulis, hanya menatap arwah di hadapannya itu dengan jengah. Lalu ditariknya benda berbentuk pipih yang sempat ditahan Arsen. Benar - benar konyol memang. Tapi itulah yang terjadi. Pertama tama dan yang paling utama. Aku minta maaaaaaf sekali karena sudah meminjam tubuhmu agar aku bisa menemui kekasihku. Meski serindu apapun, tidak seharusnya aku melakukannya tanpa izin dan sepengetahuanmu. Sian, kaulah sahabat sekaligus rekan kerja samaku saat ini. Tidak ada yang bisa aku andalkan kecuali kamu sahabatku. Baiklah, Sian mulai merasa mual dan ingin berdecih saat ini juga. Kenapa gaya bahasa Arsen sangat - sangat kolot dan juga melankolis begini. Tapi karena ia sedang ada di tempat umum, Sian menahan diri untuk tidak muntah karena membaca cerpen yang ditulis si Arsen. Hari itu, kamu nampak kelelahan dan memutuskan untuk berbaring dan mulai tenggelam ke alam bawah sadarmu. Saat bersamaan, aku baru saja mengetahui kalau aku bisa saja merasuki tubuh seseorang kalau orang itu sedang dalam keadaan lemah dan lelah. Kau tahu? Aku tidak berniat menggunakan tubuhmu sebelumnya. Hanya saja, saat itu aku benar - benar ingin menemui kekasihku. Tidak ada niat untuk menyalahgunakan tubuhmu. Hanya saja, kesempatan yang ada membuatku khilaf dan ... semuanya terjadi begitu saja. Baiklah, Sian makin tidak sabar untuk berlalu dari kafe ini. Bagaimana bisa ia menahan diri untuk tidak mual dan pusing saat membaca cerpen yang ditulis oleh seorang arwah. Sian menghentikan aktivitas membacanya sejenak. Lalu mengalihkan atensinya pada sosok yang kini menatapnya dengan memelas. Sian menghela napas lalu melanjutkan bacaannya tadi. Manik matanya fokus mencari inti dari cerpen yang hampir dapat dijadikan novel yang ditulis Arsen. Karena waktu terus berjalan dan pengunjung kafe mulai meninggalkan meja satu persatu. Aku meminjam tubuhmu agar aku bisa menemui Diana, kekasihku. Aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa aku sangat merindukannya. Dan hari itu, aku mulai mencoba menghubunginya menggunakan ponselmu. Lalu mengajaknya untuk bertemu di sini, kafe favorit kami berdua. Setelah membaca pengakuan dari Arsen. Sian nampak menghela napas berkali - kali lalu menjauhkan layar ponselnya. Kalau memang Arsen sudah menggunakan tubuhnya untuk menemui Diana dan bahkan bertemu berdua di kafe ini. Itu artinya, hubungan Sian dengan perempuan itu sedang tidak baik - baik saja. Itulah kenapa ia mendapatkan pesan dari perempuan itu dan mendapati sikap Tri yang nampak berubah. Sian memutuskan untuk pulang, meski kemungkinan rumah sudah dikunci. Namun, setelah berpikir ulang, ia tidak mungkin menginap di kediaman Rama karena akan membahas masalah yang terjadi dengan sesosok arwah. "Kau yakin mau pulang jam segini?" tanya Arsen seraya buru - buru mengikuti Sian yang beranjak dari kursi setelah menutup diskusi akwardnya bersama Arsen. Sian tidak menanggapi karena ia sedang melangkah menuju parkiran motor yang di sana terdapat beberapa orang. Sian tidak pernah tahu, bagaimana cara Arsen berpindah - pindah tempat. Apakah terbang? Burung kali ah! Atau menghilang lalu tiba - tiba ada di tempat yang mereka mau? Tapi, Sian tidak memusingkan itu. Karena yang ia pikirkan sekarang, adalah bagaimana memahami situasi rumit yang tengah ia hadapi. Hubungannya dengan Tri dan Diana harus ia luruskan. Agar tidak jadi kesalahpahaman. Sebelum melajukan kendaraan roda dua yang ia naiki. Sian menyempatkan untuk menelpon adiknya dan meminta tolong, untuk tetap terjaga agar bisa membukakn pintu untuknya, tanpa membangunkan sang ibu. Untungnya, trio K masih terjaga karena mereka berencana untuk belajar bersama karena sama - sama dengan dalam masa ujian. Singkat cerita, Sian mengendarai kendaraan roda duanya dengan kecepatan sedang, hingga ia tiba di halaman rumah kurang dari pukul setengah dua belas malam. Ternyata ia menghabiskan cukup banyak waktu untuk mendengarkan penjelasan Arsen. Tapi tunggu! Sepertinya kata mendengarkan itu tidak tepat, karena yang terjadi adalah, Sian membaca curhatan si Arsen yang melankolis dan puitis serta alay gak ketulungan. Sian jadi ragu kalau Arsen bisa membantunya menyelesaikan naskah novel yang ia garap. Lalu di sinilah Sian berada. Di depan pintu rumah, setelah memarkirkan motornya di teras. Menunggu sang adik membukakan pintu seraya menatap layar ponselnya. Karena tidak ingin sendirian ke luar kamar, akhirnya trio K memutuskan untuk ke luar bersama. Mengendap - endap dengan langkah pelan, agar sang ibu tidak terbangun. Lalu Kana yang didorong oleh kedua adiknya untuk memeriksa sebelum mereka benar - benar membukakan pintu. Setelah memastikan kalau seorang pria tinggi yang nampak menunggu di depan pintu rumah mereka adalah sang abang. Barulah Kena dan Kuna yang didorong untuk membukakan pintu. "Abang kenapa pulangnya malam banget, sih?" tanya Kuna dengan berbisik, setelah pintu berhasil mereka buka dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang berisik. "Abang tadi ada diskusi mendadak sama temen," jawab Sian seraya melepaskan sepatu dan meletakkannya di rak. Lalu masuk ke dalam rumah. "Udah, kalian balik ke kamar dan segera tidur. Makasih udah bukain pintu buat abang, ya." Ketiga adik Sian nampak menganggukkan kepala bersamaan. Akan tetapi, satu di antara mereka nampak memasang ekspresi aneh. Sian berlalu setelah memastikan pintu rumah sudah ia kunci dengan rapat. "Jangan begadang ya," nasehat Sian sebelum ia benar - benar berlalu meninggalkan ruanga tamu. "Bang Sian ngapain coba, pulang - pulang bawa temen tapi kek gak dianggap gitu. Una kan, kasian liatnya," komentar gadis yang menyebut dirinya dengan nama Una seraya menatap punggung seorang pria yang nampak tidak asing di matanya. Apa jangan - jangan mereka pernah bertemu? Kana dan Kena sontak saling pandang seraya memasang wajah binging sekaligus aneh. "Lo ngingau dek?" tanya Kena skeptis seraya mengibaskan telapak tangan di hadapan Kuna. Gadis itu malah menatap kakaknya dengan memutar bola mata. "Apaan sih, kak. Emang kakak gak liat?" tanya gadis itu dengan polosnya. Kalian tahu, apa yang ada di pikiran Kana dan Kena setelah melihat respon adik bungsu mereka itu? Ya! Sangat manusia kalau mereka merasa ada yang janggal serta merinding. Bagaimana tidak, ini sudah mau tengah malam dan mereka tidak melihat siapapun yang masuk ke rumah, selain abang mereka. Lalu, Kuna dengan polosnya mengatakan kalau ia melihat abangnya membawa teman yang tidak diacuhkan. What the? Karena tidak ingin suasana bertambah memcekam dan menyeramkan. Kana dan Kena memutuskan untuk menarik adik bungsu mereka dan berlalu meninggalkan ruang tamu setelah mematikan lampunya. Di tempat lain. Sian sedang membersihkan tubuhnya karena ia mereka gerah setelah berdiskusi dengan Arsen yang berujung dengan Sian yang emosi. Setelah selesai, Sian berlalu ke luar kamar mandi dan menutup pintunya. "Kamu bener - benar marah besar ya?" Entah ini sudah ke berapa kali, Arsen terus saja bertanya dan Sian terus saja mengabaikannya. Karena memang, Sian merasa kelelahandan juga stres karena apa yang ia alami akhir - akhir ini sangat di luar nalar. "Pertanyaan yang seharusnya kamu tahu jawabannya apa!" ucap Sian dengan nada biacara yang dingin seraya melangkah mendekati nakas. Menyetel alarm pada jam beker yang ia letakkan di sana. "Apa aja yang udah lo katakan sama kak Diana?" tanya Sian tanpa repot - repot menatap lawan bicaranya saat ini. Ya. Pada kenyataannya Sian tidak pernah memanggil nama kekasih Arsen itu hanya dengan namanya saja. Karena memang Diana lebih tua beberapa tahun. Arsen nampak bingung harus menjawab apa. Pasalnya, Sian belum membaca curhatan hati yang ia ketik di ponsel pria itu. Di mana ia menceritakan kalau tubuh Sian ia gunakan untuk memeluk kekasih yang sudah sangat lama ia rindukan. "Saya bilang, kalau saya merindukannya. Saya juga..." Arsen nampak menjeda kalimatnya. Membuat Sian mendongak dan menatap sosok arwah itu dengan menunggu. "Juga apa?" tanya Sian tidak sabar mendengar semua penjelasan Arsen. Agar apa? Agar Sian bisa memposisikan bagaimana seharusnya ia bersikap dan bagaimana caranya agar kesalahpahaman yang terjadi bisa diluruskan. "Juga memeluknya karena tidak bisa menahan diri. Maafkan aku untuk itu Sian. Aku terlalu merindukannya, sehingga tidak bisa menahan diri." Sian mendesah seraya mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana tidak, situasi yang ia hadapi tentu saja tidak akan sesederhana kalau Arsen tidak melakukan skinship dengan Diana. Tapi, apa yang bisa Sian lakukan? Marah - marah dan mengusir Arsen? Tidak. Itu sama sekali tidak merubah apapun. Yang harus ia lakukan sekarang, adalah berpikir bagaimana meluruskan kesalahpahaman yang tengah terjadi di antara ia, Diana dan yang pasti Tri, gadis itu juga harus tahu yang sebenarnya. "Sian, kenapa kau hanya diam? Jujur saja, bagiku diammu lebih menakutkan daripada kau marah - marah, memaki atau meneriaki saya." Ya. Sian ingin sekali melakukannya, kalau saja setelah itu keadaannya akan membaik. Namun, bukankah keadaan tidak akan berubah hanya karena ia marah - marah, mengumpat atau berteriak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN