GM-50-Overthinking?

2192 Kata
Tidak ada yang tahu, kalau seorang gadis yang kinu nampak tertawa di depan teman - temannya itu, ternyata menyimpan luka dan prasangka yang juga melukainya. "Tri? Kok kamu ngelamun? Kenapa? Lagi mikirin jawaban kamu tadi?" Kana bertanya seraya menatap sahabatnya itu dengan lembut. "Eng-gapa-pa kok, Na. Aku cuma lagi mikirin soal ujian Kimia besok, susah banget ga, ya?" dalih gadis itu seraya menatap sahabatnya dengan tersenyum. Memang benar, perempuan pandai sekali menutupi luka dan beban yang diganggungnya. Sejak saat ia melihat dua orang yang sangat ia kenal tengah berpelukan di sebuah parkiran mobil. Sejak itulah, hatinya tergores dan pikirannya melayang ke mana - mana. Apa yang terjadi? Kenapa mereka bisa melakukan itu di belakangnya? Bagaimana bisa mereka merahasiakan itu semua selama ini? Apa yang harus Tri lakukan? Marah? Kecewa? Benci? Atau ketiganya? Akan tetapi, tidak bisa ia pungkiri kalau ada hal yang membuatnya menahan diri untuk tidak meledak saat itu juga. Hati nurani dan secercah akal sehatnya membuat gadis itu berpikir dan mencoba menenangkan diri. Tidak bersikap meledak - ledak tanpa punya jawaban atau bukti dari semua pertanyaan dan praduganya selama beberapa hari ini. Untuk ukuran seseorang yang tengah terluka, merasa dikhianati, dan kepala yang penuh dengan pertanyaan. Tri cukup cerdas karena tetap bisa mengalihkan fokusnya pada ujian. Menjawab soal - soal dengan semampunya dan berusaha untuk tidak memikirkan hal lain saat waktu ujian dimulai. "Abis ini kamu langsung pulang ya, Na?" tanya Tri tiba - tiba pada sahabatnya yang duduk di sampingnya. "Iya Tri. Kenapa? Kamu mau main ke rumah aku?" tanya Kana seraya merapikan alat tulis dan buku catatan yang ia bawa untuk dimasukkan ke dalam tas. Tri nampak berpikir sejenak. Apa ia ke rumah Kana saja? Agar tidak perlu bertemu dengan kakaknya? Pikir gadis itu seraya ikut memasukkan beberapa pena dan alat tulis lainnya ke dalam wadah pensil berwarna biru. "Emang boleh?" tanyanya seraya menatap Kana. "Ya boleh lah. Masa gak boleh. Malah aku seneng banget apalagi ibuku, katanya ibu senang kalau ada teman anaknya main ke rumah. Itu berarti anaknya punya teman dan bisa sosialisasi." Untuk sesaat Tri merasa senang dan tersenyum girang karena ia tidak perlu pulang ke rumah. Atau setidaknya ia bisa menunda dan mengulur waktu agar tidak berhadapan dengan kakaknya. Namun, ... "Pulangnya kiita minta jemput sama abangku atau naik angkutan umum aja?" tanya Kana seraya menyampirkan tasnya ke bahu. Tri yang baru saja selesai memasukkan buku dan alat tulisnya, itu nampak terdiam sejenak. Seperti orang yang baru mnyadari sesuatu. Kalau ke rumah Kana, itu berarti aku bakalan ketemu sama Sian, kan ya? Gumam gadis itu seraya nampak melamun. Membuat Kana bingung dengan perubahan ekspresi wajah sahabatnya. "Trii?" Kana mengibas - ngibaskan telapak tangannya di depan wajah sahabatnya itu. "Kamu gapa-pa?" tanyanya, namun Tri, gadis itu masih setia dengan wajah sendu dan tatapan kosongnya. "Triii, kamu kenapa?" Karena tidak tahan, Kana mengguncang pelan bahu sahabatnya itu seraya bertanya dengan nada suara yang cemas. "Iya Na?" Tri nampak gelagapan seraya memalingkan wajahnya ke samping. "Kamu kenapa dari tadi melamun? Bikin cemas tau, gak? Kamu kayak orang mau kesurupan gitu." Benar saja, Kana sudah berpikir kalau - kalau sahabatnya itu kesurupan atau apa. "Eng - gapa-pa kok hehe. Yaudah, kita ke luar yuk!" ajak Tri pada Kana seraya bangkit dari posisi duduknya. Kelas di mana menjadi ruang ujian mereka hari ini nampak sudah terlihat sepi. Karena siswanya sudah pada pulang. Terang saja Kana cemas dan berpikir kalau - kalau sahabatnya itu kesurupan kan? Keduanya bergegas ke luar ruangan dan melangkah bersama di sepanjang koridor kelas dua belas yang nampak mulai lenggang. "Kita naik angkutan umum aja, gapa-pa ya?" Kana berujar seraya mengeluarkan benda berbentuk pipih itu dari saku celananya. Sepertinya bang Sian benar - benar sibuk sampai tidak membalas pesan w******p yang dikirimkannya. Tri menoleh ke arah Kana lalu menganggukkan kepala pelan. "Iya, gapa-pa kok, Na." Malah itu ide bagus ketimbang mereka harus dijemput oleh Sian. Pikir Tri seraya menghela napas panjang. Pandangannya tertuju pada jalanan yang ada di depan. Tatapan matanya kosong. Pikirannya mulai melayang ke mana - mana. Sampai suara seseorang yang familiar menulusup gendang telinga dan membuatnya terkesiap. "Kalian udah lama nunggunya?" Sian dengan dua helm berbeda warna yang ia gantungkan di kedua lengannya itu menyapa dua siswa berseragam yang kini berdiri di pinggir jalan. Kana nampak menghela napas lega. Karenanya ia dan sahabatnya tidak perlu menunggu dan mencari angkutan yang tidak sesak. Sebab memang hampir setiap akan pulang, angkutan umum akan dipenuhi oleh siswa -siswi Sekolah Menengah Atas Negeri Krypton itu. "Alhamdulillah abang datangnya tepat waktu. Kami baru aja mau nyari angkutan umum," ucap Kana seraya meraih helm yang diulurkan abangnya. Sementara kedua kakak beradik itu saling menyapa. Seorang gadis yang semula nampak melamun, kini nampak merasa kikuk dan ingin mengurungkan niatnya untuk main ke rumah Kana. Akan tetapi, mulutnya seolah dilem dan tidak bisa mengatakan kalimat itu. Sampai pria jangkung yang ada di hadapannya itu menyerahkan sebuah helm. "Tri?" Gadis dipanggl Tri itu menoleh. "Gak nyaman, ya kalo bonceng tiga gini?" tanya Kana seraya menatap sahabatnya itu dengan hati - hati. Tri, gadis itu nampak tergagap dan mulai mengerlingkan manik matanya dengan gelisah. Apa yang harus ia jawab. "Eng-gak kok," tukasnya seraya tersenyum kikuk. Sian nampak memperhatikan gerak gerik gadis yang ada di hadapannya itu dengan penuh tanda tanya. "Yaudah naik," celetuk Sian seraya mendekatkan helm di tangannya pada gadis yang nampak ragu - ragu untuk menerimanya. Gak sopan nolak di saat seperti ini Tri! Batinnya mengingatkan. Meski dengan hati yang berat dan cemas. Tri tetap menerima helm itu dan mengambil posisi duduk di belakang sahabatnya. *** Sesampainya di rumah. Sian memarkirkan motor maticnya itu dengan hati - hati dalam perkarangan halaman rumah. Kedua gadis di belakangnya turun dari motor dan melangkah lebih dulu menuju pintu rumah yang nampak terbuka lebar. "Assalamu'alaikum," ucap Tri dan Kana bersamaan seraya mengetuk pintu. Mereka melepaskan sepatu dan meletakkannya di rak yang tersedia di teras. Seorang wanita cantik ke luar menyambut kedatangan mereka dengan ramah seraya menjawab salam. "Wa'alaikumussalam." Bu Amina tersenyum ramah dan menyapa teman anak perempuannya itu dengan ramah. "Nak Tri apa kabar? Udah lama gak maen ke rumah," tanya bu Amina seraya mempersilahkan mereka berdua untuk duduk sebentar di ruang tamu rumah itu. "Alhamdulillah baik bu," jawab gadis itu seraya tersenyum. "Pas banget. Abis kalian ganti baju, ke meja makan aja ya. Ibu udah siapin makan siang. Kena sama Kuna juga lagi makan di dapur." celoteh bu Amina seraya mempersilahkan kedua gadis itu untuk segera berganti pakaian. Tri masih nampak melamun sesaat setelah ia dan Kana memasuki kamar. Entah apa yang dipikirkan sahabatnya itu, namun Kana merasa kalau Tri sedang punya beban pikiran yang mengganggu konstrasinya akhir - akhir ini. "Kamu gapapa?" Kana memberanikan diri untuk bertanya seraya menatap wajah sahabatnya itu dengan peduli. Tri nampak terkesia lalu menggelengkan kepala dengan ragu. "Gapa-pa kok, Na," bohong Tri seraya menampilkan senyuman palsunya. Setelah mendengar itu, entah kenapa Kana nampak tidak yakin dengan jawaban sahabatnya itu. Karena biasanya, setiap Tri bersikap lebih pendiam dari biasanya, itu saat ia sedang punya beban pikiran atau masalah yang belum ia temukan penyelesaiannya. Sama seperti sebelumnya. Saat di mana gadis itu masih bertengkar dengan kakaknya dan juga saat hubungan keluarga sedang tidak baik - baik saja. Gadis itu bersikap lebih tertutup dan juga pendiam. Bahkan saat mereka sedang menyantap makan siang pun, sahabatnya itu masih nampak melamun. "Nambah nak," ujar bu Amina seraya menatap Tri dengan tersenyum. Namun, gadis itu nampak diam dan tidak merespon. Yang ia lakukan hanya mengaduk isi piringnya srraya menatap piring itu dengan tatapan kosong. "Masakan ibu gak enak, ya?" Kana menyenggol lengan sahabatnya pelan. Membuat gadis itu terkesiap dan meringis tidak enak hati karena melamun saat makan siang bersama seperti ini "Masakan ibu kurang enak kah?" ulang bu Amina dengan pelan. Sontak gadis itu gelagapan dan langsung berujar dengan cepat, "Enak kok, bu. Enak banget malah. M-maaf Tri tadi ngelamun." Gadis itu meringis seraya menatap bu Amina dengan wajah bersalah. "Syukurlah kalau enak. Kalau mau nambah, nambah aja ya," ucap bu Amina dengan ramah dan lemah lembut. Setelah kejadian itu, Tri berusaha untuk tidak melamun atau terlihat sedang memikirkan banyak hal di depan orang - orang. Ia menghabiskan makan siang yang ada di piringnya dengan lahap. Karena memang masakan bu Amina seenak itu. Setelah selesai makan siang itu, ia ingin membantu Kana dan adik - adik sahabatnya itu untuk membereskan meja makan dan segera mencuci piring kotor agar tidak menumpuk. "Kakak mau ngapain?" tanya Kuna seraya menatap Tri yang sedang berdiri di dekat wastafel. "Mau bantu nyuci piring," jawab gadis itu seraya stand by berdiri di sana dan ingin mencuci piring kotor. "iih ga usah kaaak. Kakak ke kamar aja, istirahat. Biar Kuna sama kak Kena aja yang nyuci." Tri bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia ingin berlalu dari dapur karena Sian masih ada di sana. Akan tetapi, di sisi lain, ia tidak enak hati kalau tidak melakukan apapun setelah menadapatkan makan siang yang enak dari keluarga Kana. "Iya Tri, gak usah repot - repot. Khusu abis makan siang, mereka berdua yang nyuci." ujar Kana seraya meraih tangan sahabatnya itu. "Tapi, gak enak Na, aku tinggal makan aja gak bantu apa - apa," cicit gadis cantik itu merasa bersalah. "Kalau gitu, gimana bantuin saya aja?" celetuk Sian seraya menatap gadis yang nampak menghindarinya itu dengan serius. Tri terkesiap. Bagaimana bisa ia berhadapan dengan Sian sementara kepalanya depenuhi akan pertanyaan yang menyangkut lelaki itu. *** Lalu, di sini lah Tri berada. Di depan lemari pendingin seraya mengelap bagian - bagian kulkas dengan kain lap. Kana menolak mentah - mentah ide abangnya untuk menyuruh Tri membersihkan kulkas. Akan tetapi, Tri bisa apa? Saat ia memang merasa bersalah dan gak enaka karena tidak melakukan apa - apa. Di saat bersamaan Sian mengajaknya untuk membantu pria itu membersihkan badan kulkas dan menata kembali isinya. "Nak Tri ngapain?" Bu Amina bertanya dengan kaget saat mendapati gadis itu mengelap badan kulkas dengan kalin lap yang biasanya digunakan. Kana yang mendapati ibunya pulang dari warung, itu langsung memberikan kode kalau ini semua ulah abangnya. "Abang, kenapa nyuruh nak Tri ngelap kulkas begini?" Bu Amina mendekat seraya ingin meraih lap itu dari tangan Tri. Namun gadis itu menolak. "Gapa-pa bu, soalnya Tri gak enak gak ngerjain apa - apa. Tadi piring udah dicuci sama dek Kena dan Kuna. Gapa-pa Tri lap kulkas aja ya, bu." Bu Amina mendesah seraya menatap anak sulungnya itu dengan mendelik. Sian hanya nyengir kuda seraya ingin ikut membantu Tri untuk segera menyusun kembali isi kulkas. Bayangkan bagaimana perasaan Tri, saat ia harus berdekatan dengan lelaki yang ia sukai, namun ia tengah merasakan sakit hati dan kecewa karena ketidakjujuran lelaki itu padanya. Sebisa mungkin, ia menghindari kontak mata dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian berlalu mencuci tangan dan mengekori Kana melangkah menuju kamar sahabatnya itu. Sementata Sian, lelaki itu hanya bisa terpaku menatap punggung gadis mungil yang kini kian menjauh. Entah apa yang salah di antara mereka berdua, namun yang pasti, Sian merasakan perbedaan sikap yang ditunjukkan gadis itu padanya. Apa ini ada hubungannya dengan obrolan misterius di anatara ia dengan Diana, kakanya Tri? Sian mulai menduga - duga dan overthinking. Sepertinya, Sian memang harus melakukan sesuatu. Setelah menyelesaikan aktivitas bersih - bersih kulkasnya. Sian berlalu ke kamar. Kembali bersemedi dengan menghadap benda berbentuk kotak yang tengah terbuka namun layarnya gelap. Lalu diraihnya ponsel yang tergeletak di dekat laptopnya. Membuka obrolannya dengan Diana di w******p beberapa hari yang lalu. Membaca dan meneliti setiap kata yang ia kirimkan pada perempuan itu. Butuh waktu berjam - jam baginya untuk mengerti dan memahami setiap kata dan kalimat yang dikirim oleh Sian yang entah kenapa jelas sekali berbeda dengan gaya bahasa yang biasa ditulisnya. Di tempat lain, di dalam sebuah kamar dengan nuansa girly dan dihuni oleh tiga cewek yang biasanya suka adu mulut saat barang - barang mereka tertukar dan masalah sepele lainya. Kini nampak tentram karena kehadiran seorang gadis cantik di tengah - tengah mereka. "Ka Tri, aku boleh nanya gak?" Kuna membuka suara seraya menatap gadis cantik di hadapannya itu dengan antusias. Tri tersenyum seraya menganggukkan kepala dengan cepat. "Boleh dong. Mau nanya apa?" Kuna nampak tersenyum seraya menggigit bibirnya, entah karena gugup atau bingung kenapa seorang gadis secantik Tri mau dan betah berada di rumahnya. "Kak Tri pakai bodycare apa? Una juga pengen punya kulit cerah dan glowing kayak kakak," ungkap gadis kecil itu seraya tersenyum malu. Pasalnya, kulitnya nampak lebih gelap dan gak ada glowing - glowingnya sama sekali. Padahal, usianya belum genap empat belas tahun. Wajar saja kalau di usia segitu, belum bisa merawat kulit dengan baik. Akan tetapi, karena semakin modern dan majunya dunia terknologi, sains dan lainnya. Jadinya, anak seusia Una sudah banyak yang menggunakan skincare, bodycare dan perawatan untum tubuh dan wajah lainnya. Kana dan Kena yang sedang duduk seraya menatap adik bungsu mereka itu, kini berdecak secara bersamaan. "Gak penting banget Una. Pertanyaan Una tadi, bisa dicari di internet. Ka Tri ke sini gak cuma maen loh, tapi belajar juga." Padahal Una bertanya dengan kak Tri. Akan tetapi, entah kenapa kak Kena malah yang nyerobot menjawabnya dengan jawaban yang sama sekali tidak membantu. Tri terkekeh pelan melihat interaksi kakak-beradik yang ada di hadapannya ini. Interaksi yang jarang ia alami ketika ia berada di rumah. Meski ia juga punya dua kakak perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN